GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
42. Ketahuan Kepala Polisi


__ADS_3

Ini benar-benar gawat. Aku tidak menyangka ternyata Jimmi sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang. Bahkan ia sudah menyiapkan skenario agar kejadian ini dianggap orang-orang sebagai kecelakaan.


Sepertinya kebencian Jimmi sudah teramat besar padaku. Apalagi ditambah kejadian hari ini. Saat ia melaporkanku pada Yasmin, tetapi, bukannya bersikap seperti yang ia inginkan, Yasmin malah santai saja. Ia tetap percaya bahwa aku tidak bersalah.


Aku harus berpikir cepat untuk menemukan cara agar ia melepaskan senjata api tersebut. Atau bergerak lincah bila Jimmi memang benar-benar nekat. Tapi dengan empat peluru masih berada di dalam senapan api itu, apa aku bisa mengelak? Mungkin jika hanya satu, aku masih percaya diri.


"Kenapa Qret, kau takut?" tanya Jimmi, sambil mengembangkan senyum licik penuh kemenangan.


"Tidak. Aku hanya takut pada Allah!" kataku, dengan penuh keyakinan.


Kini sepertinya aku hanya bisa parah untuk segala hal yang mungkin saja terjadi. Hanya doa yang bisa kurapalkan agar ada keajaiban yang bisa menolongku.


Lagi-lagi ingat akan dosa-dosa yang jumlahnya mungkin lebih tinggi dari gunung Merapi. Andai aku tak punya beban dosa, mungkin tidak akan secemas ini. Sungguh, aku benar-benar takut mati dalam keadaan berlumur dosa.


"Qret, permainan kita mulai!" kata Jimmi.


Tiba-tiba pelatuk senapan ditariknya. Sebuah tembakan meledak hanya beberapa centimeter di sebelahku. Saat jantungku nyaris copot, Jimmi malah tertawa terbahak-bahak.


Ini benar-benar tidak lucu. Anak ini ingin menguji mental ku rupanya!


"Permainan baru saja akan dimulai, Qret. Kau tahu, dalam pistol ini ada lima peluru. Barusan adalah peluru pertama yang sengaja kumuntahkan tepat di sebelahmu. Tetapi empat lagi, bisa saja kutembakkan ke tubuhmu!" katanya dengan nada tinggi.


Aku tidak tahu lagi harus berkata apa selain pasrah dan merapalkan doa serta zikir. Sementara ada perasaan heran, kenapa tidak ada satu polisi pun yang datang, padahal sudah terdengar ledakan dari senjata api yang cukup keras. Apakah semua sudah diatur oleh Jimmi?


"Kau tahu Jim, setiap perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban!" kataku.


"Wah wah wah ... sekarang kau sudah jadi ustad? Boleh juga usahamu untuk memikat Yasmin. Dari penjahat berubah menjadi ustad dengan dalih hijrah? Cuihhh!" Jimmi meludah ke samping. "Aku geli padamu Qret. Tidak perlu pura-pura jadi orang salih, sementara kau banyak dosa. Bahkan, kau sendiri ada karena dosa!"


"Jangan ungkit apapun tentang ibuku lagi!" emosiku benar-benar terpancing. Dengan tangan terkepal, aku siap untuk menghantamnya. Tetapi tertahan oleh pistol yang kini diarahkan ke wajahku.


"Aku yang memegang permainan ini Qret. Semuanya aku yang mengatur. Kau faham! Sekarang, kau akan kuhabisi!" Jimmi kembali menarik pelatuk. Berbeda dengan tadi, kini ia menjadikanku sasarannya.


"Jimmi!" sebuah suara membuyarkan perdebatan kami. "Apa yang kau lakukan!" kata bapak tersebut yang ternyata adalah bapak yang mengajakku salat Subuh berjamaah.


"Komandan!" Jimmi langsung menurunkan senjatanya. Ia memberikan hormat.


Siapa sebenarnya bapak ini? Jika Jimmi terlihat takut padanya, berarti ia bukan polisi biasa. Pangkatnya pasti lebih tinggi dari Jimmi.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu mengacungkan senjata seperti itu?" tanya bapak tersebut.


"Siap pak. Saya hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada tahanan!" sahut Jimmi.


"Pelajaran apa?"


"Siap pak. Tadi tahanan ingin melarikan diri!"


"Itu tidak benar, pak!" kataku, spontan.


"Kau berbohong?" tanyanya pada Jimmi.


"Siap pak. Tidak!" jawab Jimmi.


"Sungguh pak, tadi Jimmi yang mengajakku ke sini!" aku berusaha menceritakan semuanya meski Jimmi terus mengintimidasi lewat tatapannya.


Sebenarnya aku masih takut, sebab pistol masih dipegang oleh Jimmi. Khawatir ia akan terpancing lalu menembak. Tetapi aku harus memberikan kesaksian sebab ia juga sudah menuduhku.


"Benar yang disampaikan Qret barusan?" tanya bapak tersebut.


"Siap pak. Tidak!" jawab Jimmi.


"Kalian punya masalah pribadi?" tanya bapak itu pada kami berdua.


"Tidak!" jawab Jimmi. "Iya!" kataku. Secara bersamaan.


"Qret, kamu.kenal Jimmi?" tanyanya.


"Siap, tidak pak!" jawab Jimmi.


"Siapa yang mengizinkanmu bicara?" polisi itu membentak Jimmi. "Berikan senjatamu!"


Jimmi Dian sesaat, ia menatapku dengan penuh kebencian, lalu memberikan senjata yang sedari tadi diarahkan padaku ke tangan bapak tadi. Setelah benda itu berpindah tangan, aku baru bisa bernafas lega.


"Maaf komandan!" ucap Jimmi.


Komandan? Berarti ia atasan Jimmi. Kupikir di kantor polisi ini Jimmi yang paling tinggi pangkatnya sebab ia tampak bisa melakukan apapun. Ternyata ada atasannya juga. Pantas saja ia begitu menurut pada bapak tersebut.

__ADS_1


"Qret, bicaralah!" katanya padaku.


"Dia membenci saya dan ibu saya, pak." kuceritakan bagaimana tadi Jimmi mendatangi sel tahanan tempat aku di penjara. Lalu dia membawaku ke sini untuk ditantang berkelahi. Semula aku menolak, tetapi karena ia mengancam atas nama ibu, makanya aku melawannya.


"Tidak ada anak yang rela ibunya disakiti. Saya lebih memilih masuk penjara dari pada ibu saya terus dilukai." kataku.


"Kau mengancamnya, Jimmi?" kini pertanyaan diberikan pada Jimmi.


Meskipun Jimmi bersikap biasa saja, tetapi terlihat nyata ia sangat resah. "Siap, tidak pak!"


"Dia bohong!" kataku.


"Jim!" kata bapak tersebut.


"Hanya permasalahan keluarga, pak!" kata Jimmi.


"Masalah keluarga jangan dibawa-bawa dalam urusan dinas. Kau itu adalah seorang aparat negara. Harus bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan. Lagipula siapa yang mengizinkanmu untuk bertindak seperti ini? Kau bisa mendapatkan hukuman. Kau mengerti, kan?" tanya bapak tersebut.


"Siap, mengerti pak!" kata Jimmi.


"Apa tugas yang kuberikan padamu sudah kau kerjakan?" tanya bapak tersebut.


"Siap, belum pak!" jawab Jimmi.


"Kau benar-benar mencari masalah. Aku memerintahkan untuk melaksanakan tugasnya, tetapi kau malah berkelahi dengan tahanan. Kalau ada orang lain yang tahu, itu hanya akan memperburuk citra polisi. Apa kau mengerti?" tanya bapak tersebut.


"Maaf pak. Tadi saya hanya ingin ...." Jimmi tidak melanjutkan kata-katanya.


"Apa?" bentak bapak tersebut.


"Maaf pak. Saya bersalah!" Jimmi menundukkan kepalanya.


"Kau sudah membuat dua masalah. Pertama, tidak mengerjakan perintahku. Kedua, membawa tahanan keluar lalu mengajaknya berkelahi. Kau ini aparat, bukan preman. Mengerti?" tanya bapak itu lagi.


"Siap. Mengerti pak!" jawab Jimmi.


"Kali ini kau mengecewakanku!" kata bapak tersebut. Selama ini Jimmi memang diketahui sebagai perwira polisi yang cerdas dan tidak pernah mengecewakan. Ia selalu bisa melaksanakan tugas-tugasnya dengan sangat baik.

__ADS_1


"Maaf komandan!" kata Jimmi.


Bapak polisi yang ternyata adalah komandan Jimmi tersebut memberikan arahan pada Jimmi. Sekarang aku jadi lebih tenang sebab sangat yakin, Jimmi tidak akan pernah bisa berbuat seenaknya kepadaku. Apalagi kepala polisi ini terlihat bijaksana. Ia akan bertindak adil, meskipun aku hanyalah seorang tahanan.


__ADS_2