GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
45. Ancaman Jimmi


__ADS_3

Senyumku masih terkembang, ketika tiba-tiba pintu sel sebelah terbuka. Lalu Jimmi masuk, sementara, polisi yang mengantarkannya menutup kembali pintu sel setelah memberikan hormat.


"Mau apa lagi anak ini ke sini? Belum puas dia membuat ulah barusan? Lalu, kenapa juga harus masuk saat aku sedang mengenang Yasmin. Sungguh mengganggu saja!" kataku dalam hati, sambil menyimpan kembali surat dari Yasmin sebab khawatir Jimmi tahu. Bisa-bisa anak itu kebakaran jenggot. Eh, aku baru sadar, ia tidak punya jenggot.


Aku masih memperhatikan Jimmi dengan seksama, sementara ia menjatuhkan tubuhnya di lantai, berbaring, lalu memejamkan mata. Seolah tidak terjadi apa-apa.


Tidak mungkin ia masuk ke dalam sel tanpa alasan apapun. Jika dia mau tidur, harusnya bisa tidur di mushalla kantor atau tempat lainnya. Anak ini benar-benar aneh. Lebih anehnya lagi, kami saudara!


"Kau lihat apa?" katanya, ketus. Sementara matanya masih terpejam.


Sakti juga anak ini. Dengan mata terpejam saja ia tahu kalau aku memperhatikannya. Pantas saja ia percaya diri bersaing denganku.


"Jangan tersenyum, kau kira aku suka berada di dekatmu?" ungkap Jimmi.


Wow, lagi-lagi ia bisa menebak. Jangan-jangan Jimmi punya mata yang lain selain kedua matanya itu. Aku langsung terkekeh, mencoba kembali menguji kesaktiannya.


"Kau tahu Qret, kalau bukan karena hukuman pak Bagus, aku tidak pernah sudi berada dalam sel yang bersebelahan denganmu. Paham!" ucap Jimmi, saat ia bangkit secara dadakan, lalu berdiri tepat di jeruji besi yang membatasi tempatku dan tempatnya.


Oh, jadi dia sedang dapat hukuman secara militer. Pantas saja anak manja ini tidak keberatan masuk sel. Tiba-tiba jiwa isengku langsung muncul.


"Jim, ibu dan keluarga besarnya tahu kau di penjara?" tanpa rasa bersalah, pertanyaan itu terlontar begitu saja.


"Itu bukan urusanmu!" ia menjawab ketus.


Sebenarnya aku agak kecewa dengan jawaban Jimmi, sebab aku mengharapkan jawaban lain. Tapi ya sudahlah, sepertinya ia sudah malas meladeniku. Mungkin ini waktunya untuk menyibukkan diri dengan urusan pribadi sebab Jimmi tidak akan menggangguku lagi selama di penjara sebab ada pak Bagus. Atasannya.


"Qret, ingat kata-kataku baik-baik. Kau tidak boleh memberitahu siapapun bahwa kau adalah anak papaku. Mengerti!" Jimmi kembali mengancam. "Kalau kau berani buka mulut, tahu sendiri akibatnya!"


"Kau ini, punya permintaan, bukannya diajukan baik-baik, malah marah-marah. Kau kira aku peduli denganmu. Tidak Jim. Terserah aku mau cerita pada siapapun. Toh beritanya juga sudah ada di televisi, kan?"

__ADS_1


"Kau memberitahu mereka?" Jimmi cepat-cepat bangkit, ia hendak menangkap kerah bajuku dari balik jeruji, tetapi aku lebih gesit, mengelak secepat mungkin.


"Kau benar-benar mau tahu?"


"Awas saja kau Qret. Lagi pula jika kau berani buka mulut maka karir papa akan hancur!"


"Ayah sudah tidak peduli dengan pekerjaannya. Bahkan ia ingin menjauh dari kehidupan orang-orang yang terlalu menyulitkan. Hanya saja, ibumu belum juga mau melepas ayahku!"


"Kau menganggap semua salah ibuku? Hei, dengarkanlah baik-baik. Papa, tanpa ibuku, bukanlah siapa-siapa. Ibuku yang mengangkat derajat ayahku sehingga jadi terkenal dan kaya raya seperti sekarang. Kalau ayahku tidak menjadi seorang pria kaya raya, apa ibumu mau dengannya?" Jimmi menyunggingkan senyum sinis penuh kemenangan.


"Sepertinya kau belum sadar juga Jim. Kau yang harus mendengarkanku. Apa kau tahu, saat ayah pergi dari rumah ibumu, ia tidak membawa apapun juga. Hanya sehelai baju yang kemudian ia kirimkan Kembali pada ibumu. Mengapa ayah melakukan itu? Sebab permintaan ibuku yang tidak ingin memulai hidup baru dengan embel-embel ibumu, meskipun sebenarnya ayah punya hak di sana, dia kan juga ikut bekerja keras di perusahaan. Selama puluhan tahun masa tidak dapat gaji sedikitpun?


Kau juga jangan pura-pura tutup mata. Bagaimana galaknya ibumu jika neraca keuangan perusahaan menurun. Iya, kan?


Ibuku tidak pernah peduli dengan uang ayah. Bahkan, mereka berencana hidup sederhana mulai dari nol, tanpa bantuan siapapun. Masih berani kau katakan ibuku matre seperti perempuan yang kau maksud?


Jimmi tidak menjawab, ia hanya menatapku tajam. Ku harap, apa yang kusampaikan tadi bisa membuka pikirannya. Setidaknya, jika ia menahan sayang ayah, ia harus membantu ayah keluar dari penyiksaan ini. Biarkan ayah bebas, memilih jalannya sendiri.


"Cinta seperti apa yang sebenarnya ingin dibangun oleh ibumu? Apakah itu benar-benar cinta? Aku tak yakin, Jim. Kau pasti juga pernah menyaksikan bagaimana ayah tidak nyaman dengan ini semua? Lalu, kau mau ikut-ikutan memenjarakan ayah di rumah besar kalian hanya demi agar kalian tidak jadi bahan omongan orang-orang?


Jim, kau tahu, ayah sudah tua. Apa ia tidak boleh merasakan bahagia?


Aku sebenarnya juga punya masalah dengan ayah. Aku sempat sangat membencinya. Bahkan ingin menghancurkannya sebab dosanya di masa lalu. Tetapi, aku menyadari Jim, semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Aku bukan Tuhan, Jim. Tugas menghukum itu tidak ada di tanganku." kataku, mencoba menyadarkan Jimmi agar ia mau mendukung ayah.


"Diam kau! Jangan coba-coba mempengaruhiku Qret, demi kepentingan kau dan ibumu!" ucap Jimmi dengan suara tinggi hingga lagi-lagi mengundang perhatian orang di sekitar kami.


"Aku tidak bermaksud begitu. Tapi coba kau pikirkan baik-baik!"


Aku memutuskan menjauh dari Jimmi, pindah ke pojok sebelah. Biarkan ia sendiri untuk berpikir. Kadang, ada orang-orang yang tidak ingin dipaksakan. Waktu yang akan membukakan hatinya.

__ADS_1


Dari pada memikirkan Jimmi, aku memutuskan untuk membaca kembali surat yang dikirimkan oleh Yasmin Hatiku yang tadinya kesal karena Jimmi, kembali berbunga-bunga. Sepertinya, tulisan Yasmin ini akan jadi obat yang ampuh untukku jika sedang tidak mood.


Kata demi kata kembali kubaca. Senyumku terkembang sempurna, seakan Yasmin benar-benar ada di hadapanku, membacakannya secara langsung untukku. MasyaAllah, indah dan nikmat sekali perasaan cinta ini.


Tetapi, kita harus berhati-hati sebab cinta pada makhluk dapat melenakan. Jangan sampai kecintaan kita pada hamba-Nya, mengalahkan cinta pada Allah. Nauzubillah.


"Hei, Qret, kau sedang apa? Kenapa ekspresi wajahmu begitu? Kau menertawakanku?" seru Jimmi, dengan suara sedikit keras dari balik jeruji.


"Bukan urusanmu!" jawabku.


"Kau!"


"Apa?"


"Awas saja kalau berani menertawakanku. Akan kuhabisi kau!"


"Memang kau kira aku peduli padamu? Meski kau saudara kecilku, tapi aku tidak peduli."


"Saudara?"


"Iya. Kita. Saudara. Aku kakaknya, kau adiknya. Iya, kan?"


"Aku tidak sudi!"


"Kau sudi atau tidak, tapi itu sudah ketetapan Allah. Berani kau melawan Tuhan? Hati-hati saudara kecil, kalau Tuhan marah, maka habislah kau!"


"Kau!"


"Apa, saudara kecil?"

__ADS_1


__ADS_2