GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
170. Tuduhan


__ADS_3

Plak. Tiba-tiba setumpuk lembaran merah senilai seratus ribu melayang ke hadapan Jasmin. Gadis itu kaget, ia hendak marah, tapi bingung sebab yang melempar uang tersebut terlihat lebih marah lagi padanya.


Dito nama lelaki itu. Mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Kalau Jasmin tidak salah ingat, lelaki itu juga sedang menjalani koas. Tetapi ia cukup sering berkeliaran di kampus, entah mengurus apa.


Lelaki itu, kakak kelasnya yang pernah menyapa Jasmin beberapa kali dengan sangat manis. Bahkan selain mengajak berkenalan, lelaki itu juga minta nomor wa Jasmin, hingga mengajak makan dan menawarkan bantuan sekedar mengantar pulang atau meminjamkan diktat. Entah sudah berapa kali juga ia mengirimkan hadiah atau seikat bunga yang wanginya membuat perut Jasmin keroncongan.


Tetapi Jasmin menolaknya. Sebab ia ingin fokus pada kuliahnya. Jasmin merasa terlalu sibuk dengan kuliah dan bekerja, sehingga untuk sekedar hahahihi dengan orang lain rasanya tidak diperlukan. Apalagi Jasmin tahu, modus lelaki itu mendekat sebab ia menyukai Jasmin. Gadis itu sudah punya incaran sendiri, yaitu Ren, makanya ia tak memperdulikan atau sekedar memberikan peluang pada siapapun.


"Apa ini?" tanya Jasmin, pada Dito.


"Uang." jawabnya, masih dengan tatapan marah pada Jasmin.


"Iya, aku tahu itu uang. Tapi kenapa mas Dito melemparnya ke hadapanku? Mas Dito tahu sopan santun, nggak? Meskipun uangnya mas Dito banyak, tapi enggak perlu juga buang-buang duit di hadapan saya, apalagi dengan cara melempar. Nggak sopan!"


"Kenapa? Kurang? Memang kamu butuh berapa? Ayo sebutkan. Seratus juta, dua ratus, tiga ratus, atau satu miliar?"


"Astagfirullah. Heh, tuan muda yang sok kaya. Saya enggak butuh yang anda. Sopan dong. Percuma kuliah kalau nggak tahu adab!"


"Kamu nggak punya harga diri!"


Plak. Sebuah tamparan dilayangkan Jasmin tepat di pipi kiri Dito. Ia paling tidak suka dikatakan tidak tahu diri oleh lelaki asing yang tak dikenalinya.


"Seenaknya saja kamu mengatakan saya tidak tahu diri. Memang kamu siapa? Apa hak kamu mengatakan saya seperti itu? Kenal juga enggak! Jangan mentang-mentang ajakan kamu untuk pacaran saya tolak lalu kamu bisa seenaknya menghina saya, ya!" Jasmin naik pitam.


"Memang kamu tidak tahu diri. Sudah saya ajak ke derajat yang lebih tinggi malah lebih memilih cara hina. Dasar perempuan murahan!" ungkap Dito.


Kini kesabaran Jasmin benar-benar habis. Ia langsung mencekal lengan Dito, memelintir, kemudian membantingnya hingga terjatuh ke lantai. Orang-orang yang berada di sekitar langsung melihat keributan itu dan semakin menjadi sebab ternyata seorang lelaki yang cukup tajir di kampus ini dibanting oleh mahasiswi baru yang tertutup.


"Kenapa ini?" Ren yang baru datang, langsung menghampiri.

__ADS_1


"Laki-laki ini nggak sopan. Ngatain aku perempuan nggak benar hanya karena aku menolak tawarannya jadi pacar. Dikiranya pacaran itu nggak hina. Ngaji yang benar. Pacaran itu haram. Ingat ya, haram karena dilarang agama. Enggak perlu juga aku uraikan semua dalilnya. Kalau mau tahu cari tahu sendiri!" Jasmin masih marah.


"Ckckck," Ren geleng-geleng kepala.


"Ini bukan tentang pacaran. Sudahlah, kamu mengaku saja!" ungkap Dito. "Justru aku mau menyelamatkan kamu. Masa kamu nggak tahu. Kalau kamu butuh uang katakan saja. Berapapun akan aku berikan, tapi kenapa kamu malah milih jadi ayam kampus!" sentak Dito.


"Ayam kampus?" kata Jasmin dan Ren bersamaan.


"Siapa yang ayam kamus?" Jasmin langsung menarik Dito, ia merasa ada sesuatu yang salah yang harus diluruskan.


"Kamu. Iya, kan Jas? Tapi kenapa? Aku itu cinta sama kamu. Aku bisa lakukan apapun untuk kamu, asalkan kamu jujur saja. Kedua orang tuaku tajir, harta mereka nggak akan habis tujuh turunan, kalau kamu mau kehidupan mewah, aku bisa berikan Jasmin. Asalkan kamu mau menikah denganku. Jadi tolong jangan jual diri lagi!" pinta Dito.


"Kamu ini!" Jasmin ingin menonjok untuk kedua kalinya, tapi ditahan oleh Ren.


"Lu juga Ren, gue nggak nyangka kalau lu itu laki-laki nggak berakhlak. Gue kira lu Soleh, tapi ternyata lu manfaatin Jasmin!" kini Dito beralih pada Ren.


"Lo kan yang menyewa Jasmin. Lu bayar dia untuk jadi perempuan simpanan. Iya, kan?" tuduh Dito lagi.


"Astagfirullah!"Ren geleng-geleng kepala. "Ini salah paham."


"Dengar baik-baik ya, ini pertama dan terakhir aku ngejelasin. Setelah ini kamu berani nuduh lagi maka akan aku patahkan tangan dan kaki kamu.


Aku dan kak Ren nggak ada apa-apa. Tuduhan kamu kalau aku jadi perempuan panggilan dan kak Ren yang memakai jasaku itu tidak benar. Aku memang kerja sama dengan kak Ren, tapi bukan yang seperti itu. Aku jadi penerjemah untuk diktatnya. Nggak hanya kak Ren, aku juga diminta menerjemahkan beberapa buku punya konsumen yang lain.


Aku melakukan semua itu sebab butuh uang untuk biaya berobat ayahku. Sekarang beliau koma di rumah sakit. Meskipun aku sangat butuh banyak dana, tapi aku nggak akan melakukan hal yang terlarang karena aku diajarkan orang tua tentang halal dan haram.


Jadi tolong, jangan menuduh yang bukan-bukan atau aku bisa memenjarakan kalian semua yang berani mengatakan seperti itu.


Kenapa aku nggak mau berteman dengan mahasiswa lain atau dekat dengan kamu, karena aku terlalu sibuk untuk menyelesaikan kuliah dan juga bekerja. Paham!" kata Jasmin.

__ADS_1


"Lalu berita-berita itu?" tanya Dito lagi.


"Berita apa?" tanya Jasmin.


"Itu, di mading!" Dito menunjuk masing yang berada tidak jauh dari tempat kami.


Buru-buru Jasmin berlari menuju papan pengumuman yang berada tepat di depan taman. Di sana ia melihat fotonya bersama Ren, serta beberapa mahasiswa dan juga dosen sedang bertransaksi. Mereka memberikan uang pada Jasmin.


"Jahat!" Jasmin langsung merobeknya, dibantu Ren ia membersihkan semua kliping dan foto tentangnya. Setelah itu ia berlari menuju taman belakang kampus.


"Jahat ... jahat ... jahat!" Jasmin menyeru sambil meneteskan air mata. Rasanya ia benar-benar sakit membaca semua tulisan singkat yang ada di sana. Pantas saja saat datang tadi banyak lelaki yang melihatnya dengan tatapan menyebalkan. Seolah-olah mereka seperti kucing yang melihat setumpuk daging. "Aku benar-benar malu. Siapa yang tega melakukan semua ini?" kata Jasmin.


"Kamu jangan menangis. Aku akan cari tahu pelakunya." kata Ren.


"Aku bukan perempuan seperti itu!"


"Aku tahu."


"Tapi kenapa mereka tega memfitnah seperti itu. Apa mereka tidak tahu kalau selama ini aku bekerja sambil kuliah. Pantas saja teman-teman perempuan menjauhiku!"


"Aku akan bicara pada mereka."


"Tidak perlu "


"Kenapa Jasmin?"


"Aku mau berhenti kuliah saja!"


"Jasmin!" Ren memanggil Jasmin yang pergi berlalu sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


__ADS_2