
Mia sudah membuat pengakuan pada Ren bahwa ia mendapatkan perlakuan tidak baik dari Joko, ada banyak luka fisik yang diterimanya. Sehingga membuat Ren bersimpati pada Mia yang masih menangis tersedu-sedu.
Prok prok prok. Tiba-tiba seseorang bertepuk tangan. Tentu saja membuat Ren dan Mia tersadar. Wajah Mia langsung memucat, tapi ia berusaha untuk biasa-biasa saja. Meski jantungnya berdetak tak karuan.
"Kalian berdua sedang apa? Kenapa ada adegan perempuan menangis seperti ini? Ckckck, apa ada cerita sedih yang diceritakan mbak ini. Siapa namanya? Oh ya, aku tahu, Mia. Benar begitu, kan? Apa kabar mbak? Senang bertemu kembali. Saya kira kita tak akan pernah bertemu, tapi ternyata jodoh kita masih panjang rupanya." cetus Riu.
"Eh, iya." Mia mencoba tersenyum, usai menghapus sisa air mata hasil bersandiwara di hadapan Ren.
"Mau apa kau ke sini? Masuk saja ke dalam, makan saja sepuasmu. Kalau sudah punya calon baru berbincang lagi denganku." kata Ren.
"Hei, syarat macam apa itu? Lalu bagaimana dengan temanmu ini, apa tidak dipersyaratkan yang sama juga?" Riu masih bertahan di hadapan Mia yang sudah tidak tenang.
"Mia sudah menikah, dia tak perlu lagi mencari pasangan." jawab Ren.
"Oh ya, secepat itu? Hahaha, ada apa ini? Kau yakin Ren?" Riu semakin ingin tahu semuanya.
"Ya. Aku dan Jasmin hadir di pesta pernikahannya. Apa kau puas sekarang? Kalau sudah, silakan pergi." Ren mengusir Riu yang menurutnya mengganggu pembicaraan dirinya dan Mia.
"Baiklah kalau begitu. Meski sebenarnya aku masih penasaran. Kalau sudah menikah kenapa datang sendiri? Mana suaminya? Kenapa tidak ikut sekalian? Apa suaminya tidak keberatan jika istrinya berdua dengan lelaki lain meski itu sahabatnya?
Hei Ren, kau itu suka melarang Jasmin dekat denganku, tapi kau sendiri tidak bisa menjaga jarak dengan perempuan. Ayolah, adil sedikit. Kalau kau boleh, harusnya Jasmin juga boleh. Kalau Jasmin tidak boleh, kau juga sebaiknya sama!" ungkap Riu.
"Itu bukan urusanmu. Sebaiknya pergilah!" Ren sudah tak sabar melihat tingkah polah Riu yang menurutnya tidak sopan. Lagipula apa haknya dia mengatur hidupnya dan Jasmin.
"Baik. Aku pergi." Riu melambaikan tangannya, lalu berlalu meninggalkan Ren dan Mia.
Seekah Riu pergi, Mia baru bisa bernafas lega. Setidaknya ia tahu kalau ternyata Riu belum memberitahu rekaman itu pada Ren. Kini tugasnya hanya harus memastikan bahwa Ren percayalah bahwa ia sangat mencintai Joko, meskipun Joko begitu jahat padanya. Jika hal itu sudah terjadi, maka ia akan dengan mudah menyangkal video rekaman suaranya yang dipegang oleh Riu.
"Aku pasti akan mendapatkan kamu, Re. Aku tak akan menyerah!" Mia bicara dengan penuh percaya diri dalam hatinya.
"Bagaimana, mau aku panggilkan kakek?" Ren kembali bertanya oad Mia.
"Tidak ... tidak usah. Aku belum siap, Ren. Lagipula aku tak akan bisa melihat Joko di penjara. Aku takut kehilangan dirinya. Aku sangat mencintai Joko. Jadi tolong jangan tawarkan aku sesuatu hal yang bisa menyakiti Joko." pinta Mia, ia kembali menangis. "Bahkan meski ia memukuliku hingga matipun aku rela, Ren. Sungguh aku tak mengapa. Rasa sakitnya tak akan seberapa dibandingkan dengan rasa sakit bila melihat lelaki yang aku cintai masuk penjara."
"Aghhh, kenapa kamu jadi sebucin ini sih Mia? Kamu itu pantas mendapatkan yang kebuh baik. Jadi jangan bodoh. Ayolah Mia!"
__ADS_1
"Nggak Ren, Joko adalah lelaki terbaik. Kamu pernah bilang padaku untuk mencari lelaki yang baik sebagai pendamping hidup dan kini aku sudah menemukan sosok yang aku harapkan. Aku takut kehilangannya Ren. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta dan rasanya tak ingin kehilangan."
"Ya Tuhan!" Ren geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir, kenapa Mia, sjaabatnya yang selalu dingin pada para lelaki jadi begini. Begitu bertekuk lutut pada Joko. "Apa aku harus menemuinya?" tambah Ren.
"Nggak. Nggak perlu. Bagaimana kalau ia menyakitiku lagi?"
"Nggak akan. Aku akan mengancamnya."
"Kau akan menyakitinya berarti. Ia akan kehilangan rasa oercaya dirinya."
"Lalu aku harus bagaimana menolongnya?"
"Tak ada Ren, cukup jadi orang yang mau mendengarkan ceritaku saja. Kamu tahu kan Ren, aku tak punya siapa-siapa untuk diajak bicara. Bahkan kedua orang tuaku pun tak pernah punya waktu untukku. Begitu juga dengan teman, aku tak memiliki mereka."
"Kalau begitu kau punya aku Mia."
Mia langsung tersenyum. Usahanya berhasil. Ia telah memasukkan Ren dalam perangkapnya. Kini, ia bertekad tak akan pernah melepaskan Ren.
***
"Aghhh, apa-apaan ini?" tanya Mia dengan suara keras. Ia menatap Joko dengan penuh kemarahan. Baru saja ia merasakan senang karena bertemu Ren, harus kesal lagi sebab Joko memaksakan masuk.
"Kau yang apa-apaan. Katanya tidak mau bertemu Ren lagi, kenapa masih menemuinya?" tanya Joko.
"Kau mengikutiku?"
"Ya!"
"Ouhhh, siapa yang mengizinkan kamu mengikuti aku? Katakan, hah!"
"Aku tak perlu izin untuk mengetahui kemana dan dengan siapa istriku pergi."
"Istri. Ahhh, sudahlah."
"Baik. Kalau kau mau begitu. Kenapa tak akhiri saja pernikahan ini?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Mia langsung kelimpungan. Ia memang tak mencintai Joko, bahkan sebenarnya tak Sudi jadi istri Joko, tapi bukan sekarang waktunya berpisah. Ia harus bisa mendapatkan simpati Ren dahulu.
"Kenapa kita tak bercerai saja seperti yang kamu mau?"
"Ti ... tidak. Aku tidak mau?"
"Kenapa? Untuk apa bersama kalau aku sebenarnya tak bisa memilikimu."
"Beri aku sedikit waktu untuk membuka hatiku. Aku masih belajar mencintai kamu, Joko."
"Hah, belajar? Bagaimana bisa kalau kamu masih berhubungan dengan Ren dan menjaga jarak dariku."
"Ya, itu kan ...."
"Ahhh sudahlah, aku akan ke pengadilan siang ini juga."
"Nggak, enggak Joko. Jangan lakukan itu. Apa kamu akan membuatku jadi janda dinusia pernikahan yang masih satu bulan? Tega sekali kamu?"
"Aku terpaksa sebab kamu juga tidak menginginkan pernikahan ini, kan?"
"Siapa bilang? Kan aku sudah bilang kalau aku masih belajar. Semua butuh waktu."
"Kalau begitu buktikan padaku."
"Ba ... bagaimana caranya?"
"Lakukan kewajiban kamu sebagai istri."
"Ti ... tidak sekarang Joko. Sabarlah dulu."
"Nggak. Sekrang atau kita berpisah saja."
Mia menggigit bibirnya dengan keras. Berharap agar punya ide brilian yang bisa meyakinkan Joko bahwa ia mencintainya tanpa melakukan hal-hal yang tak ingin dilakukannya sebab ia hanya menginginkan Ren.
Tetapi Joko sudah tak mau ditawar. Lelaki berkulit coklat itu langsung menarik tangan Mia menuju peraduan untuk mendapatkan apa yang jadi haknya. Ia bahkan tak peduli seberapa kuatnya Mia melawan. Baginya, semua harus dibuktikan sebab ia tidak ingin lagi dibodohi oleh Mia.
__ADS_1