
"Jimmi, berikan padaku!" pintaku lagi.
"Tidak sampai kamu berjanji satu hal." Jimmi tersenyum penuh kemenangan.
"Apa Jimmi?"
"Setelah bebas, kau harus memutuskan hubungan dengan Yasmin. Bagaimana?".
"Tidak akan pernah!"
"Kenapa? Kau kan butuh ini."
"Yasmin dan rekaman itu adalah dua hal yang tidak bisa dibarter. Kau kira perasaanku pada Yasmin hanya main-main saja? Aku tidak mau, Jimmi. Lebih baik di sini mencintai Yasmin selamanya dari pada melepas orang yang aku cintai."
"Aku tidak ingin mendengar curhatan mu. Terserah kau mau atau tidak."
"Aku tidak mau."
"Ahhhh kau ini payah sekali. Paling tidak lakukan sesuatu, kek. Seolah-olah kau tidak butuh bukti ini."
"Terserah kaulah!" aku kembali duduk, pura-pura sibuk dengan buku bacaan ku.
"Hei. Masa segitu saja perjuanganmu!" melihatku yang tidak menunjukkan kepedulian, akhirnya Jimmi menyerah. "Baiklah, kuberikan ini cuma-cuma. Tetapi bukan demi kau, tapi karena Yasmin. Aku tidak suka harus mendapatkannya tanpa adanya perjuangan. Aku butuh kau sebagai rival!"
Kaset itu berpindah tangan padaku. Tentu saja membuatku tersenyum puas, menang tanpa harus melakukan perlawanan. Alhamdulillah.
***
"Kau harus tahu apa yang kupunya, Alifa!" kataku, penuh semangat kepada Alifa, saat kami kembali bertemu.
"Apa Qret? Aku sangat penasaran sekali. Kemarin kau kusut sekali, sekarang berubah penuh semangat. Padahal tidak sampai dua puluh empat jam aku meninggalkanmu." ucap Alifa.
Kaset itu kuberikan pada Alifa. Ia memutarnya di ruangan pak Bagus. Kami bertiga menyaksikan bersama-sama saat Bu Rani bicara dengan Riana, di dalam mobil dekat rumah yang kutinggali. Sementara posisi Jamm ada di kursi belakang, merekam pembicaraan dua perempuan itu.
__ADS_1
"Kalau kau mau, aku bisa membantumu mendapatkan Qret." tawar Bu Rani.
"Aku tidak tertarik!" jawab Riana, ia terlihat ogah-ogahan.
"Aku tahu kau mencintai berandal itu. Hanya satu cara untuk membuat mereka berpisah."
"Bagaimana caranya?"
"Kau harus menjebaknya agar masuk penjara. Setelah itu, perempuan itu akan meninggalkan Qret, lalu kalian bisa bersatu tanpa hambatan lagi." Bungkusan itu diberikan Bu Rani pada Riana, lalu rekaman berakhir.
***
"Ini bukti yang sangat kuat!" kata Alifa, ia begitu yakin bisa memenangkan kasus ini. "Qret, kita panggil Bu Rani kemari."
"Tunggu dulu, Alifa!" kataku. "Apa ini bisa menjerat Bu Rani?"
"Sangat bisa. Ia akan masuk penjara."
"Lalu Riana?"
"Tidak ... kalau begitu aku tidak mau!"
"Qret,"
"Aku tidak bisa membiarkan Riana masuk penjara."
"Ini konsekuensinya, Qret. Siapa yang bersalah maka ia harus menanggung dosanya."
Aku menggelengkan kepala. Tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Riana nantinya, juga paman Rudi. Dua orang yang berjasa di hidupku. Riana memang melakukan kesalahan, tetapi perbuatannya itu tidak akan menutup kebaikannya yang sebelumnya padaku.
"Qret, kalau kau tidak mau masalah ini diselesaikan secara hukum, maka kaulah yang akan jadi tumbalnya. Persis seperti yang diinginkan oleh Bu Rani. Ia sangat pintar sekali. Memilih orang yang berarti di hidupmu sebagai tangannya. Kau benar-benar sudah masuk dalam perangkapnya, Qret." kata Alifa.
"Yang dikatakan Alifa benar mas Qret. Kalau mas Qret diam saja, maka kasus ini akan segera disidangkan. Tanpa bukti-bukti, maka mas Qret yang akan dijatuhi hukuman. Percayalah, hukumannya sangat berarti, paling tidak penjara seumur hidup. Apa mas Qret sanggup? Iba pada orang lain boleh, tapi harus adil juga pada diri sendiri." Pak Bagus menambahkan.
__ADS_1
"Beri aku waktu," pintaku.
"Tidak ada waktu lagi Qret. Berkasnya sudah hampir selesai. Kalau sudah masuk ke pengadilan, butuh waktu untuk menyelesaikannya. Kau mengerti?" Alifa terlihat gemas dengan sikapku yang masih ragu-ragu. Semua karena aku tidak tega pada Riana.
"Apa tidak ada jalan lain?" tanyaku.
Kami bertiga kembali melakukan diskusi. Alifa tetap bersikeras agar aku melaporkan kembali Bu Rani dan Riana sebab merekalah dalang semuanya. Tetapi setelah kukemukakan alasan Riana, juga surat yang ia kirimkan, membuat Alifa yang semula berapi-api mulai surut.
"Aku tidak tahu kalau masalahnya seperti ini. Tetapi sebenarnya, kita harus adil, Qret. Memaafkan Riana boleh, tapi tidak begitu saja meloloskan dari hukuman." ungkap Alifa.
"Lalu aku harus melakukan apa? Kau tidak tahu, Alifa, kalau tidak ada ayahnya, mungkin aku sudah mati di jalanan. Diapun sering berkorban untukku. Lalu apakah aku harus melupakan semua kebaikannya itu?" ungkapku.
Alifa dan pak Bagus saling melempar pandangan. Mereka seperti berbicara denvan isyarat.
"Baiklah kalau begitu. Aku punya cara agar kau bisa bebas dan Bu Rani mau mengakui semua perbuatannya." ucap Riana.
Ia menjelaskan rencana kami selanjutnya. Besok, semua orang akan bertemu di sini, dengan dimediasi oleh pak Bagus. Kedua orang tuaku, Bu Rani, Riana dan paman Rudi.
"Kau harus pikirkan baik-baik tentang apa yang kau inginkan, Qret. Inilah saatnya untuk membalas ibu tirimu. Aku juga akan memikirkan beberapa opsi cadangan jika perempuan itu mengelak. Aku yakin ia bukan lawan yang lemah." kata Alifa lagi.
Alifa mengaku dulu pernah hampir jadi pengacara Bu Rani. Tetapi ia menolak sebab pernah mendengar bagaimana kerasnya Bu Rani. Ia tidak suka mendengarkan kata kalah. Ingin selalu menang. Sikap itu tidak disukai oleh Alifa, meskipun sebenarnya Alifa tidak akan bekerja asal-asalan.
"Sekarang kau istirahat dulu, persiapkan dirimu untuk pertemuan besok. Sementara itu aku harus membuat surat panggilan untuk Bu Rani, Riana dan ayahnya." Alifa merinci pekerjaan yang harus ia lakukan sesegera mungkin sebab rencananya besok pertemuan itu akan dilakukan.
Entah apa yang harus kulakukan besok. Aku begitu grogi membayangkan pertemuan kami nantinya. Apakah Riana mau menemuinya? Apa yang harus kukatakan padanya? Lalu bagaimana dengan ayah dan ibu, apakah kedua orang tuaku sudah siap bertemu dengan Bu Rani, seseorang yang sangat membenci kebersamaan orang tuaku. Selain berusaha memisahkan.
"Mas Qret tidak boleh mengalah. Besok Alifa akan mendampingi hingga mas Qret mendapatkan keadilan sesuai dengan apa yang mas Qret inginkan." ungkap pak Bagus. "Tidak perlu takut, meskipun Bu Rani orang terpandang, tapi kamu ada di pihak mas Qret. Bapak dan Alifa akan selalu mendukung supaya mas Qret bisa segera bebas."
"Iya Qret. Kamu tidak perlu takut. Aku akan menemani. Kau yakin kan, aku akan memenangkan kasusmu?" tambah Alifa.
"Iya Alifa, aku sangat yakin!" jawabku.
Esok, pertempuran itu akan berlangsung. Antara aku dan Bu Rani. Sesuai petunjuk dari Alifa, aku harus membuatnya yakin bahwa ialah penjahatnya. Ia akan mendapatkan ganjaran dari perbuatannya.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan paman Rudi dan Riana. Apa mereka akan datang. Apa mereka sudah siap bicara dengan kami semua?
Ada banyak hal yang membuatku benar-benar khawatir. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada, tetapi tidak dapat aku mengerti.