GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
127. Dibesuk Alifa


__ADS_3

"Kita mau kemana?" Yasmin kembali bicara setelah hampir satu jam kami hanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Keliling-keliling dulu." kataku.


"Pulang saja."


"Kenapa Yas?"


"Aku lelah."


"Baiklah kalau begitu. Tapi aku mohon Yas, jangan terus-menerus larut dalam kesedihan. Kau tahu, kau sangat berarti bagiku meski keadaanmu seperti ini. Aku menikahimu karena kamy adalah wanita shalihah."


"Tapi pada akhirnya sekarang aku hanyalah perempuan lemah yang tidak bisa mengendalikan emosiku sendiri."


"Itu karena kamu sedang berada dalam keadaan tidak stabil. Tugasku untuk mengingatkanmu, saling menasihati agar tetap berada dalam koridor yang sudah ditetapkan oleh Allah. Makanya aku tidak ingin kamu jauh dariku, Yas."


Yasmin tidak menjawab lagi. Ia memilih menatap jalanan Jakarta yang selalu ramai meski ini akhir pekan. Dari pantulan kaca di jendela mobil, bisa kulihat hatinya belumlah tengah dari raut wajah yang memancarkan keresahan.


Yas ... kau harus percaya, aku menerimamu apa adanya. Bagiku, engkau yang duku cantik dan sempurna adalah bonus dari Allah. Sedangkan engkau seutuhnya adalah karunia-Nya yang selalu aku syukuri. Tetapi kenapa kau malah lebih mendengarkan penilaian orang lain? Kau tahu Yas, aku rela terlilit hutang asalkan kau bisa sembuh. Tidak mengapa Yas, aku harus bekerja lebih keras lagi, asalkan Yasmin yang dulu bisa kembali lagi. Yasmin yang memiliki sepasang mata teduh yang bisa menenangkan hatiku. Cepatlah kembali, Yas!


Sampai di depan rumah, ada sebuah mobil terparkir. Aku tidak mengenali hingga Riana muncul bersama Alifa.


"Yasmin ... Qret ... kalian darimana saja? Alifa sudah menunggu dari tadi." kata Riana.


"Maaf Alifa, aku tidak tahu kau datang. Lagipula kenapa tidak mengabari?" tanyaku pada Alifa dan Riana.


"Aku sudah mengirim pesan padamu dan Yasmin. Juga sudah menelepon Yasmin beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Teleponnya sibuk terus." ungkap Riana.


"Oh maaf, dari tadi kami tidak memegang Hp." aku segera membukakan pintu untuk Yasmin, menggendongnya ke atas kursi roda. Lalu Riana mengambil alih, mendorong Yasmin masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum Yas, bagaimana kabarmu?" tanya Alifa, ia merangkul Yasmin, mereka saling bertukar kabar.


Kini tiga wanita itu sudah duduk di ruang tamu. Sementara aku bertugas membuatkan minuman. Entah apa yang mereka bicarakan hingga aku datang, masih saja ramai.


"Qret, aku sudah mengirimkan pesan ke emailmu." kata Alifa, lalu ia menyeruput tehnya.

__ADS_1


"Iya, nanti aku cek." jawabku.


Tanpa ku sadari, sepasang milik Yasmin mengawasi kami berdua. Entah apa yang ia pikirkan hingga Alifa dan Riana pamit pulang barulah ia memuntahkan semua kecurigaannya.


"Ada rahasia apa lagi antara mas dan Alifa?" tanyanya.


"Tidak ada apa-apa, Yas. Ini tentang kasus kecelakaan yang menimpamu." jawabku. Meski nada bicara Yasmin penuh dengan kecurigaan, tapi aku tetap bersikap wajar.


"Lalu?"


"Lalu apa?"


"Kenapa tidak dibahas tadi saja? Kenapa harus dibincangkan berdua dalam forum yang orang lain tidak bisa tahu."


"Ya Allah Yas, tolong berhenti mencurigaiku seperti itu. Sikapmu yang seperti ini membuatku tidak nyaman. Kau terlalu posesif sekarang!"


"Aku tidak posesif."


"Posesif Yas. Aku sudah katakan tidak ada apa-apa dengan Alifa tapi kau tetap saja mencurigai. Bahkan kami hanya membahas masalah kecelakaan yang menimpamu. Kalau kau tidak percaya silakan buka pesan-pesan yang ia kirimkan!"


"Kalau begitu silakan saja berprasangka terus tapi hanya akan berujung pada hancurnya hubungan kita."


"Apa maksudnya?"


"Yas, kalau dalam suatu hubungan rumah tangga sudah tidak bisa saling menghargai dan tidak bisa saling percaya, itu adalah awal dari kehancuran."


"Mas mau rumah tangga ini hancur? Baiklah, pulangkan saja aku mas. Tolong telepon ayah, beritahu padanya bahwa kita sudah berakhir."


"Astagfirullah Yas. Sudahlah. Jangan memperburuk keadaan. Bagiku kau segalanya. Kau istriku, satu-satunya. Perempuan pertama dan insyaAllah selamanya yang aku cintai. Aku tahu kau sedang tidak stabil, tapi jangan memperturuti semua keinginan mu. Batasi Yas, supaya hubungan kita baik-baik saja."


Perdebatan ini terpaksa kubatasi sebelum kami semakin saling menyakiti dengan perkataan masing-masing. Aku mengajak Yasmin tidur, berharap esok emosinya mereda.


Sungguh, rumah tangga yang tenang, tanpa adanya perdebatan dan penuh cinta itu adalah salah satu berkah yang tidak ternilai harganya.


***

__ADS_1


Kedatangan Riana begitu tiba-tiba saat aku dan Yasmin duduk di meja makan dalam diam, menghabiskan roti bakar dan segelas susu.


"Yas ... Qret!" teriak Riana. Ia masih belum bisa berubah juga.


"Ada apa Riana? Jangan katakan kau akan numpang sarapan di sini? Kapan kau akan berubah?" tanyaku, sambil melahap potongan roti terakhir.


"Ihhhhhh kau ini, prasangka buruk saja padaku. Aku hanya ingin mengabari kalian." katanya.


"Apa?" aku dan Yasmin begitu penasaran. Berita apa yang ia bawa hingga wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan.


"Aku hamil Yas ... Qret!" ungkap Riana.


"Alhamdulillah!" aku mengucap syukur, kemudian memberikan selamat pada Riana dan Deni yang baru datang menyusul. "Akhirnya aku akan jadi paman juga." kataku, sambil memeluk Deni.


Suka cita langsung terdengar dari rumah. Kami benar-benar bahagia dengan berita yang dibawa oleh Riana. Lalu mulai membayangkan tentang makhluk mungil yang insyaAllah akan jadi anggota baru di keluarga ini.


Celotehan Riana terus ku jawab. Seperti biasa, kami sesekali bisa bersatu, tapi lebih banyak larut dalam perdebatan. Termasuk tentang bagaimana Riana nantinya menjadi seorang ibu. Aku memang masih menyangsikan sebab sekarang saja semua urusan rumah tangga dihandle oleh Deni.


Mulai dari memasak, beberes rumah, mencuci bahkan sekedar berbelanja urusan dapur pun Deni yang melakukan.


"Kau harus berubah Riana. Apa kau tidak malu nantinya punya anak tapi masih Deni yang melakukan semuanya." kataku.


"Tidak masalah Qret. Bukankah wanita adalah ratu?" ungkapnya dengan rasa percaya diri.


"Ya Tuhan, tapi tidak semua juga harus dikerjakan oleh Deni. Ia kan laki-laki." aku masih tidak terima.


"Hei, sejak kapan di kamusmu ada pemahaman bahwa yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga haruslah perempuan? Selama ini kau kan juga ikut terlibat. Lalu apa salahnya jika Deni membantuku." kata Riana lagi.


"Bukan membantu Riana, lebih tepatnya ia yang mengerjakan semuanya." sanggahku.


"Aku tidak akan memikirkan, toh Deni tidak keberatan. Kalau ia sudah protes, baru aku akan berpikir. Bukan begitu suamiku?" kata Riana lagi pada Deni.


"Yang penting kau dan calon bayi kita sehat-sehat." kata Deni, sehingga membuat Riana merasa menang dibatas angin.


Sebelum hamil saja Deni begitu memanjakan Riana, apalagi setelah sekarang ini, aku yakin Riana akan jauh lebih bahagia lagi. Deni bahkan siap menjadi pesuruhnya kapanpun Riana membutuhkan. Tetapi sebenarnya itu tidak masalah asalkan mereka berdua menjalankan dengan happy, tanpa adanya paksaan.

__ADS_1


__ADS_2