
Pukul delapan pagi, usai sarapan di luar bersama ayah dan ibu, aku bersiap kembali ke rumah paman Rudi. Sebelum berangkat, di depan kaca kupantaskan diri, terpantul bayangan seorang lelaki dengan tinggi seratus tujuh puluh lima centimeter, memakai kaus merah tua dan celana jeans biru.
"Tampan," bisikku, sambil tersenyum.
"Qret," tau-tau ibu sudah ada di belakangku.
"Astagfirullah, ibu. Qret kaget nih." aku tersipu malu, berharap ibu tidak mendengar pujian untuk diri sendiri yang kulontarkan tadi. Malu juga jika ada yang tahu, ada sedikit narsisme dalam diri.
"Qret, kamu yakin akan ke sana?" tanya ibu lagi, dengan wajah masih uring-uringan.
"Ayah dan ibu ikut juga, kan?" tanyaku.
"Iya Qret. Tapi ibu ...,"
"Apa? Ibu belum rela? Ya sudah, kita tidak usah jadi berangkat saja. Qret tidak apa-apa, kok. Qret yakin, paman Rudi, Riana bahkan teman-teman rules yang sudah menyiapkan pesta penyambutan kedatangan kita juga akan paham. Mereka tahu, bagi Qret yang paling utama adalah ibu."
"Qret, jangan begitu dong. Ibu kan tidak enak."
"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting ibu nyaman."
"Ya sudah ... kita berangkat saja!"
"Benar? Ibu sudah ikhlas? Yakin?"
"Iya Qret, ibu rela. Ibu tidak apa-apa."
"Sungguh?"
"Iya Qret."
"Berarti nanti enggak akan cemberut. Akan bersikap seperti biasa?"
"Iya, tentu saja Qret. Ibu akan bersikap ramah pada teman-temanmu seperti biasanya. Sudah?"
"Pada Riana juga?"
"Iya, tentu saja!"
"Nah, kalau sudah begitu, Qret nyaman deh. Ayo kita berangkat!"
__ADS_1
Aku dan ibu melangkah keluar rumah. Di sana sudah ada ayah yang sibuk menata beberapa koper pakaian milik ayah dan ibu.
"Ayo berangkat!" ajakku, langsung menuju kemudi mobil ayah, sementara ayah duduk di sampingku, ibu di belakang.
Perjalanan dari Jakarta Barat menuju Jakarta Selatan agak sedikit kurang lancar karena jalanan keburu macet. Sampai di depan rumah paman Rudi, mobil kuparkir. Ayah ingin langsung turun, sementara ibu masih diam.
"Bu, ayo!" ajakku.
"Qret," ucap ibu lagi.
"Ya sudah, kalau makan ragu kita kembali saja." aku tersenyum pada ibu. Tidak ingin memaksa sedikitpun juga.
"Tidak Qret, kita turun saja. Lihat, teman-temanmu, mereka tampak tidak sabar ingin bertemu denganmu." ibu menunjuk dari jendela. "Ayo kita turun. Jangan sampai mereka kecewa!"
Ibu melangkah duluan bersama ayah, menyalami satu-persatu teman-teman anggota rules. Sementara aku menyusul di belakang. Anak-anak langsung memelukku penuh kebahagiaan. Bahkan ada yang sampai menitikkan air mata.
"Jack, terimakasih. Kau sudah membantu Alifa mencari bukti-bukti!" kataku pada Jack, sebagai wakil dari rules.
"Den, terimakasih sudah menjaga paman Rudi dan Riana." kataku pada Deni.
Kami bertiga berpelukan, sungguh aku merasakan persaudaraan yang sangat besar antara kami semuanya. Meski latar belakang kami berbeda-beda tapi untuk urusan kesetiaan, kami tidak mau kalah dari orang-orang kaya berduit. Kami siap berkorban demi teman-teman. Apalagi jika teman kami tidak bersalah. Itu adalah salah satu prinsip rules yang tertanam dalam diri masing-masing.
"Ayo kita mulai pestanya!" seru Jack.
"Qret, kau harus makan yang banyak. Aku tahu, di penjara makanannya tidak enak, makanya balas sekarang!" ungkap Gen, anggota rules yang paling sering keluar masuk penjara.
Hei, siapa bilang makanan di dalam penjara tidak enak. Aku termasuk yang paling beruntung, tiga kali dalam sehari makan dengan menu yang sangat enak-enak. Apalagi ditambah ibu dan Yasmin yang cukup rajin mengirimi makanan untukku.
Aku dan teman-teman rules sibuk berbincang sambil melempar guyonan. Sementara ayah, ibu dan paman Rudi duduk di meja paling pojok, entah membicarakan apa. Tapi dari tawa yang kadang-kadang lepas, tampak bahwa mereka sudah saling memaafkan.
"Qret," Deni mendekat ke arahku. "Ku dengar kau akan menikah?" tanyanya.
"Harusnya sudah menikah, tapi gagal gara-gara kasus kemarin." jawabku. "Kau sendiri bagaimana?" aku melirik ke kiri dan kanan. Sejak tadi memang sosok Riana tidak terlihat.
Entah kemana anak itu. Padahal aku sudah merindukannya. Tapi tidak ada yang menyinggung namanya. Apa ia masih belum berani menemuinya? Atau ia tidak ingin lagi bertemu denganku.
"Riana, bagaimana?" tanyaku.
"Ia ada di dalam," Deni menunjuk ke arah kamar Riana yang ada di ujung rumah paman Rudi. Aku memang tahu segala letak dalam rumah paman Rudi sebab selama ini bebas keluar masuk di dalamnya.
__ADS_1
"Ia tidak ingin menemuiku? Maksudku, apa ia masih ...,"
"Ia sudah baik-baik saja. Mungkin hanya butuh waktu. Kau tahu sendiri, perempuan itu aneh segala-galanya."
"Hahaha, kau benar. Semoga saja hubungan kami bisa membaik karena bagiku Riana sudah seperti adik kandung sendiri. Aku tidak ingin gara-gara kejadian kemarin semua jadi memburuk."
"Ia hanya butuh sedikit waktu, Qret."
"Baiklah.. aku mengerti. Tapi apa yang ingin kau katakan tadi? Katakanlah ...."
"Aku juga ingin menikah, tapi ...."
"Apa?"
"Aku ingin belajar dulu,"
"Belajar apa Den?"
"Aku ingin belajar jadi suami dan ayah yang baik. Kau bisa mengajariku, Qret?"
"Aku? Hei, aku belum menikah, belum punya anak juga. Bagaimana bisa mengajarimu." tawaku lepas.
"Maksudku, sebelum itu semua. Aku ingin mengenal Tuhan," ucap Deni, pekan.
"Kau?" aku menunjuk Deni, agak tidak percaya dengan apa yang kudengar tadi.
"Ya, aku ingin belajar salat, mengaji, puasa ... apa lagi? Aku ingin masuk surga. Bukannya kau yang bilang bahwa surga itu luas, sayang sekali kalau hanya masuk Sendiri. Bukan begitu?"
"Den," aku memeluk lelaki yang pernah menjadi orang kepercayaan dalam beberapa tahun. "Ya, aku mau. Kita belajar sama-sama!"
"Sungguh, Qret?"
"Sungguh! Aku tidak ingin masuk surga Sendiri. Aku ingin bersama kalian selama-lamanya di tempat yang kekal, tempat yang terbaik yaitu surga!"
Ada hari yang terasa saat Deni mengungkapkan harapannya. Aku pun ingin begitu. Ingin semua teman-temanku, tidak hanya Deni mau belajar bersama-sama. Rasanya sangat disayangkan sekali, jika hidup yang amat melenakan ini pada akhirnya tidak berujung surga.
Bukankah kita sudah sangat lelah dengan ujian yang kita dapat? Lalu, pasti kita ingin berharap mendapatkan hasil yang indah, yaitu surga.
"Kau tak akan sanggup masuk neraka, Qret. Kau tahu, kan, aku tidak kuat dibakar. Apalagi dibakar di neraka!" tambah Deni.
__ADS_1
"Ya, aku mengerti. Aku pun tidak sanggup," aku ikut mengangkat tangan, siapa yang sanggup bila harus masuk neraka yang bahan bakarnya adalah batu dan manusia. Nauzubillah.