
Entah bagaimana cara kami menggambarkan tingkah lucu Riu dan Jasmin. Dua bayi yang hanya selisih satu tahunan itu tampak memperebutkan Yasmin. Mereka sama-sama ingin digendong oleh Yasmin, jika diletakkan maka akan menangis. Aku yang melihatnya benar-benar gemas, tapi tidak tahu harus berbuat apa selain tertawa kecil mendengar Riu mulai mengoceh dengan bahasa bayi sambil memperlihatkan ekspresi kesal.
"Riu, gendong sama paman saja." kataku, sambil menyodorkan kedua tangan, siap untuk menggendongnya yang didudukkan dalam stroller. Tetapi Riu langsung menolak dengan membuang wajah. "Wah, kau berani menolak pamanmu?" kataku, sambil mencubit pipinya yang cuby.
"Mas bantu aku membawa stroller Jasmin. Aku akan meletakkan mereka dalam ketlrera itu, tidak ada yang boleh digendong. Semua duduk yang rapi di sana sebab aku ingin bercerita. Kata Yasmin.
Pagi ini Riu memang tinggal bersama kami karena Riana menemani Deni berbelanja. Sementara paman Rudi sedang pulang ke kampungnya, sembari menjemput ayah Yasmin. Rupanya paman Rudi kesepian sejak di tinggal oleh ayah Yasmin. Hari ini rencananya mereka akan berangkat dari Surabaya ke Jakarta naik kereta api.
"Jasmin, Riu ... kalian berdua sama-sama anak ibu. Tidak boleh nakal. Kalian berdua harus saling sayang dan saling jaga. Kelak kalian akan seperti ayah Qret dan ibu Riana." kata Yasmin.
Aku tersenyum mendengar penuturan Yasmin yang memberi nasihat pada kedua bayi tersebut. Karena mereka berdua sudah tidak menangis dan sepertinya mendengarkan Yasmin dengan penuh hikmat, maka kuputuskan melanjutkan pekerjaan. Menyiapkan beberapa pesanan untuk hari ini.
Beberapa hari belakangan memang banyak pesanan yang harus ditilak karena kondisi tidak memungkinkan untuk bekerja. Jasmin masih sakit dan Yasmin terlihat kesulitan menghandle, sementara Riana kerepotan sebab paman Rudi tidak ada di rumah, praktis ia bertumpu pada Deni.
Deni dan Riana sampai saat seluruh pekerjaan selesai. Kini tinggal minta bantuan Deni menemani mengantarkan makanan.
"Kami berangkat dulu." kataku.
Dengan mobil Deni, kami berangkat menuju salah satu pelanggan tetap yang ada di salah satu perumahan mewah di Jakarta Selatan. Mereka cukup royal pada kami. Tidak pernah mematik harga atau minta potongan sebab mereka puas dengan hasil masakanku dan Deni.
"Ternyata tidak sia-sia kita jadi belajar masak saat masih remaja. Siapa sangka ternyata itulah sumber mata pencarian kita." kataku pada Deni.
"Iya. Padahal dulu aku sempat minder gara-gara harus mengerjakan pekerjaan dapur. Bayangkan saya, aku sampai bertengkar dengan ibuku sebab ia memaksa agar aku memasak. Kata ibu masakanku enak, ku kira itu hanya jualannya saja supaya aku tetap mau memasak." Deni terkekeh, mengingat masa mudanya.
Perbincangan kami terputus sebab ada telepon masuk. Dari nomor baru. Aku langsung mengangkat karena khawatir itu adalah pelanggan.
[Selamat pagi, apa benar ini dengan bapak Qret?] tanya seseorang yang meneleponku.
__ADS_1
[Iya, saya sendiri. Ini siapa?] tanyaku, sambil melirik Deni yang memperhatikan.
[Kami dari kepolisian daerah Surabaya mau mengabarkan bahwa orang tua bapak yang bernama bapak Rudi dan bapak Bimo yang pagi ini menjadi penumpang kereta api, mengalami kecelakaan ....]
[Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.] rasanya bagai mimpi buruk, entah apa yang dikatakan polisi selanjutnya, aku tak bisa mendengarkan lagi sebab kepalaku mendadak pusing. Untung saja Deni sigap meminggirkan mobilnya, setelah berhenti ia mengambil alih telepon.
***
Bagaimana cara mengatakan pada dua perempuan itu bahwa kedua ayah mereka telah meninggal dunia. Apa ini arti dari mimpi Yasmin semalam. Ia yang begitu gelisah sebab memikirkan ayahnya. Tetapi aku mengalihkan dengan mengatakan mungkin karena sebentar lagi ia akan bertemu ayahnya.
Air mata masih deras menetes di kedua pipiku. Paman Rudi, lelaki yang pernah menjadi sosok amat berjasa dalam hidupku. Ia sudah menghembuskan nafas terakhirnya saat jauh dariku. Teringat saat ia pamit ke Surabaya, paman mengaku sangat rindu dengan keluarganya, makanya ingin berkunjung. Bahkan lambat mengatakan mungkin ini akan jadi kunjungan terakhir.
Tanpa ada sedikitpun curiga, aku melepaskan paman yang berulangkali memelukku. Ia bahkan menitipkan Riana, Deni dan Riu padaku. Ya Tuhan ... Sampai di situ saja ternyata jodoh kami di dunia.
"Paman!" aku tak kuasa menahan air mata, Deni pun ikut menangis.
"Jangan tanya aku, akupun tak tahu." kataku.
Kini bayangan wajah pak Bimo muncul di hadapanku. Beberapa hari lalu ia berbincang cukup lama denganku. Aku mengira sebab ia sudah merindukan kami makanya minta berbincang lebih lama. Pak Bimo bahkan meminta dikirimkan foto Jasmin, padahal Yasmin sudah mengatakan kalau sebentar lagi mereka akan bertemu. Tetapi pak Bimo tetap memaksa hingga akhirnya foto Jasmin dikirimkan. Mungkin itu adalah pertanda bahwa memang tak akan pernah ada pertemuan antara Jasmin dengan kakeknya di dunia ini.
Ya Tuhan ... berat sekali rasanya. Kehilangan dua sosok ayah sekaligus. Dua orang lelaki yang punya sejarah dalam hidupku.
"Bagaimana Qret?" tanya Deni lagi.
"Aku tidak tahu." kataku, dengan suara nyaris tidak terdengar. Aku saja kaget, bagaimana dengan mereka berdua. Pasti sama.
"Tapi kita harus cepat menjemput jenazah ayah dan paman Bimo." kata Deni.
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan Deni, kami diminta oleh pihak kepolisian untuk mengurus jenazah paman Rudi dan pak Bimo untuk pemakaman.
Mobil Deni mulai melaju menuju rumah. Semakin dekat rasanya makin sedih. Entah bagaimana cara mengungkapkan semuanya.
"Mas, sudah pulang?" tanya Yasmin, sambil meletakkan Jasmin yang baru saja tertidur. "Kenapa, wajahnya kok sedih?"
"Kamu juga Den," tanya Riana pada Deni.
"Riana ... Yasmin," aku memanggil mereka pelan.
"Kau kenapa Qret? Aneh sekali? Mau mengerjai kami ya? Hahaha, tidak mampan. Aku tak tertarik bercanda. Aku ingin istirahat. Sekarang giliran kalian berdua yang jaga bayi ya. Aku ingin fresh saat ayah datang nanti." ungkap Riana.
"Den, kau saja yang mengatakan." kataku, lalu duduk di sofa sambil menangis.
"Mas kenapa?" tanya Yasmin lagi, ia sampai mendekatiku.
"Ayah dan paman Bimo mengalami kecelakaan. Kereta api yang mereka tumpangi bertabrakan dengan kereta api lainnya. Mereka berdua sudah meninggal dunia." kata Deni sambil berlinang air mata.
"Apa? Kau bicara apa Den, jangan sembarang bicara? Ini tidak lucu. Kau mau mati? Kau kita baik mencandai ayah mertuamu sendiri?" Riana langsung baik pitam. "Qret, bicara. Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Kau sedang tidak bercanda, kan? Ayo Qret, bicara!" kini Riana mencecarku.
Kami berempat sama-sama menangis. Deni duduk di lantai, dekat Riu. Yasmin duduk di sampingku, ia sama sekali tidak bicara apapun, hanya menangis. Sementara Riana terus saja marah sambil menangis.
"Qret, Deni ... bicaralah, apa yang sebenarnya terjadi? Kalian tidak sedang bercanda, kan? Ayahku dan paman Bimo baik-baik saja, kan? Bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi? Baru semalam ayah menelepon, ia bilang akan pulang pagi ini. Ayah juga memintaku jadi istri dan ibu yang baik. Ini tidak mungkin. Aku tidak mau kehilangan ayah, Qret. Kau tahu, hidupku tanpa ayah bagaimana? Aku tak bisa Qret. Aku tidak bisa! Aku sangat bergantung padanya. Tolonglah Qret, tolong katakan bahwa ini hanya lelucon.
Den, kau kan suamiku. Ayahku adalah ayahmu juga. Kenapa kau bisa bicara seperti itu? Tolong Deni, katakan bahwa kau hanya bercanda. Aku janji kali ini tidak akan marah asal kau mau mengaku. Aku tak akan memukul apalagi menendangku. Aku akan memaafkannya, Deni. Tolong bicaralah!"
Jakarta pagi ini terasa begitu sendu untuk kami. Tangis-tangis menyayat hati itu tersungkur terdengar bergantian dari kami yang sangat berduka.
__ADS_1