
Di ruang tamu sudah berkumpul ayah, ibu, paman Rudi, Riana, Jack dan istrinya. Tidak berapa lama datanglah Heri bersamaan dengan Deni. Kami langsung duduk membuat lingkaran, menjadi dua shaff. Laki-laki dan perempuan. Sementara Heri duduk di tengah-tengah dengan kursi yang lebih tinggi.
Kajian selalu rutin dilaksanakan tiap akhir pekan, Heri yang menjadi pembicaranya. Sekali sebulan juga ada kajian rutin, pembicaranya ustad lain hasil rekomendasi Heri. Ini merupakan pagar bagi kami agar tidak hanya memikirkan masalah duniawi saja. Agar kami juga ingat bahwa ada hal lain yang lebih kekal yaitu akhirat.
Semua orang memperhatikan Heri dengan penuh hikmah. Ia membawakan masalah sedekah. Banyak orang yang sayang terhadap hartanya. Tetapi ia tidak tahu bahwa harta mereka yang banyak itu bisa dibawa ke akhirat nanti ya. Caranya dengan disedekahkan.
Harta yang disedekahkan itu akan jadi harta kita sesungguhnya. Tiap harta yang disedekahkan akan bercabang. Jadi sebenarnya ketika kita berbagi pada orang lain maka kita tengah mengundang rezeki datang lebih banyak lagi. MasyaAllah.
Usai kajian aku mengajak Heri ke taman samping rumah. Tujuannya tentu saja ingin curhat tentang teror Yasmin dan Riana padaku. Ada permintaan mereka yang sulit untuk diwujudkan .
"Tidak ada salahnya ikut campur, mas. Barangkali mas Deni memang butuh motivasi dari mas Qret yang sudah lebih dulu membina biduk rumah tangga. Seperti yang dikatakan Yasmin, menikah itu adalah ibadah dan siapa saja yang ikut membantu maka akan Allah beri ganjaran yang besar." kata Heri.
"Tapi aku ingin mereka punya privasi." ucapku, mencari pembenaran atas pilihan sikapku. "Lagipula ada paman Rudi. Kenapa tidak meminta paman Rudi yang bicara pada Deni. Kenapa juga harus aku?"
"Mas Qret mungkin dipilih oleh Allah sebagai perantara mereka, ikut campur dalam urusan mereka. Selagi bukan masalah yang pribadi sekali, saya rasa tidak apa-apa. Toh mas juga sebelumnya ikut mencomblangi. Ingat lho mas, pahalanya besar. Lalu kenapa harus mundur? Selesaikan dong sampai mereka ke pelaminan." tantang Heri.
"Tapi ...,"
"Tidak pakai tapi, mas. Yang namanya niat baik itu memang suka dibalut jadi sulit oleh setan di mata kita."
"Baiklah. Aku akan membantu mereka. Terima kasih banyak ustad Heri."
Usai curhat aku mengantar Heri sampai depan rumah. Lalu menggaet Deni agar ia mau ikut denganku. Tentu saja tujuannya membicarakan pernikahan.
"Aku hanya ingin tahu, kapan kau akan melamar Riana?" tanyaku.
Deni tidak menjawab, ia langsung menghembuskan nafas panjang. Entah beban apa yang ia tanggung, tapi aku benar-benar tidak ingin membuatnya dalam posisi tak nyaman. Kalau saja tidak ada desakan dari Riana dan Yasmin, juga dukungan Heri, mungkin aku lebih memilih menjadi penonton saja.
"Kalau tidak mau bahas tidak apa, aku mengerti kok." kataku, sambil menepuk pelan pundak Deni. Sambil bangkit dari dudukku.
__ADS_1
"Ayahku akan menjalani operasi, Qret," jawabnya dengan suara pelan, namun sanggup menghentikan langkahku. "Kau tahu kan tentang ayahku."
Aku mengangguk, lalu kembali duduk. Kami berdua bernasib sama. Pernah dicampakkan oleh orang tua kami. Tetapi bedanya, Deni hingga sekarang tidak bersama dengan ayahnya sebab ayahnya punya istri baru. Ibu Heri memilih bunuh diri karena merasa dikhianati.
"Perempuan itu meninggalkan ayah, saat ayahku dalam kondisi struk dan tidak berdaya akibat serangan jantung. Sebenarnya aku tidak ingin peduli terhadap nasibnya, Qret. Masa bodoh dengan dia. Anggap saja itu karma atas perlakuannya padaku. Apalagi gara-gara perselingkuhannya itu, ibuku sampai menghabisi dirinya sendiri. Kejam sekali, bukan?
Tetapi aku menyadari satu hal, Qret. Bahwa setiap manusia apalagi orang-orang akhir zaman seperti kita tidak luput dari dosa. Termasuk aku dan ayah. Makanya aku memilih untuk memaafkan seperti yang kamu lakukan pada ayah dan ibumu.
Sekarang ayah tinggal dengan salah satu adiknya. Aku sudah berniat akan membantu biaya pengobatan sepenuhnya sebab membebankan pada om dan Tante rasanya terlalu memberatkan mereka sebab keluarga adik ayah juga bukan orang anggota mampu. Mereka mengizinkan ayah tinggal bersama saja rasanya sudah syukur.
Itulah mengapa aku memilih untuk diam, Qret. Bukan aku tak serius dengan Riana. Akupun ingin menikahinya secepat mungkin. Tapi aku dihadapkan pada pilihan untuk berbakti yang mungkin tidak akan ada kesempatan kedua. Sama dengan menikahi Riana. Hanya saja, hidup harus memilih Qret. Makanya dengan berat hati aku memilih mendahulukan ayah sebab ini lebih urgent menurutku." kata Deni, mengakhiri penjelasannya.
"Aku mengerti Den. Aku akan coba bicara padanya agar Riana bersabar." kataku lagi.
"Aku memang tidak boleh egois memaksanya menanti. Jika Riana sudah tidak mau menunggu, aku rela Qret. Maaf ...." Deni berlalu dari hadapanku, meninggalkan getir di dada.
"Bagaimana?" tanya Yasmin dan Riana bersamaan.
"Kalau kau sabar menanti, ia pasti akan datang untuk menikahimu. Jika tidak, ia sudah merelakanmu." kataku, sambil masuk ke dalam rumah. Tidak lagi mempedulikan reaksi mereka berdua.
"Mas," Yasmin sudah berada di kamar, sesaat setelah aku masuk. "Sebenarnya ada apa?"
"Ada hal penting yang harus diselesaikan oleh Deni."
"Hal sepenting apa sampai mengabaikan pernikahan?"
"Bakti!"
Yasmin terdiam. Ia menganggukkan kepalanya. Aku yakin ia lebih faham mana yang harus lebih dulu didahukukan.
__ADS_1
"Bisakan membunuh Riana agar lebih bersabar." pintaku.
"Iya, aku akan bicara padanya. Aku juga yakin Riana bisa memahami." ungkap Yasmin.
"Semoga saja demikian." kataku, sambil mengusap pelan kepala Yasmin.
Orang tua adalah salah satu pintu surga kita. Sekalipun mereka tidak baik, tetapi kita wajib untuk berbakti padanya. Tidak selamanya orang tua ada di sisi, jadi jangan melewatkan kesempatan untuk berbakti.
***
Langit sudah berwarna kemerahan, sebentar lagi azan Maghrib akan berkumandang. Dua orang datang ke rumahku. Salah satunya adalah Jack, sementara satunya adalah anggota rules. Yaitu Fian.
"Ini." Fian memberikan sebuah dokumen padaku.
Dadaku langsung panas menyaksikan foto yang ada di dalam amplop tersebut. Lalu terdapat beberapa tulisan juga.
"Jadi dia dalang semua ini?" kataku.
"Termasuk kedai di depan kita. Ia benar-benar belum melepasnya, Qret. Ia ingin menghabisimu sampai akhir." tambah Jack.
"Jahat sekali!" aku mengepalkan tangan.
"Lalu apa rencananya selanjutnya?" tanya Jack lagi.
"Besok aku akan menemuinya." kataku, bersamaan dengan azan Maghrib.
Jangan pernah memelihara kebencian dalam hatimu sebab jika kau melakukannya maka kau akan berakhir. Begitulah sebuah nasihat yang pernah aku baca.
Memelihara kebencian sama saja bunuh diri secara perlahan. Kau akan rusak. Penuh kemarahan dan setan menyukai itu semua.
__ADS_1