GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
25. Jasmin Menyendiri


__ADS_3

Kadang kita baru merasakan betapa berartinya seseorang setelah ia tak lagi berada di samping. Begitulah yang mungkin dirasakan oleh Ren saat ini, ketika Jasmin memutuskan untuk menghilanh sejenak. Sebenarnya ia tak benar-benar menghilang, ia sudah mengabari Ren tentang kepergiannya. Hanya saja semua terjadi tiba-tiba, Jasmin pamit hanya lewat pesan pendek, tidak memberi tahu kemana ia pergi dan dengan siapa. Tentu saja Ren benar-benar kacau, apalagi di rumah tak ada siapa-siapa.


Ia tahu dan sangat yakin Jasmin tak akan melakukan hal terlarang, hanya saja perasaan bersalah dalam hatinya membuat Ren ingin segera bertemu Jasmin, ia benar-benar berharap mendapatkan permohonan maaf, bahkan apapun yang diminta Jasmin sanggup diberikannya, asal Jasmin segera pulang.


[Jas, sebenarnya kamu kemana? Aku tahu salah, maafkan aku. Tolong bicaralah, atau paling tidak balas pesanku.] sepuluh menit Ren sabar menanti, tapi tak juga ada balasan, akhirnya ia kembali mengirimkan pesan. [Baiklah, aku mengerti, kamu butuh waktu untuk sendiri. Aku benar-benar minta maaf Jasmin, aku berharap kita bisa memperbaiki semuanya. Maksudku, aku yang memperbaiki semua kesalahanku. Jas, aku memang suami yang masih banyak kurangnya. Belum ada satu kebaikan pun yang bisa kuberikan untukmu, tolong beri kesempatan untukku ya Jas. Sekarang aku kembali ke rumah ibu dulu, kalau kamu ingin pulang atau ingin dijemput, segera kabari aku, kapanpun itu aku akan selalu menanti kedatangan kami.] pesan kembali dibalas.


Setelah itu Ren segera mengambil beberapa lembar pakaiannya. Ia memasukkan ke koper kecil. Lalu pergi keluar dari rumah.


Tak ada seseorang pun yang ditemui oleh Ren, ia benar-benar merasa sendiri. Ibu mertuanya masih di puncak bersama bibi Riana, mengunjungi Riu yang sedang tugas mengajar..sementara paman Deni sibuk dengan toko kuenya, pergi pagi pulang malam.


Ren segera naik kenal dalam mobil, memacu kendaraan sport miliknya menuju perumahan di bilangan Jakarta Barat.


Lagi-lagi Ren menemukan rumah kosong. Tadi Ren sudah mengabari akan datang ke rumah ibunya, bahkan akan tinggal beberapa malam di sana hingga Jasmin pulang, tapi ternyata ibunya sedang berada di rumah paman Jimmi. Setelah menikah ibunya memang mengatakan akan tinggal bersama di rumah suaminya.


Ren tidak enak menyusul ke sana, meski hubungan mereka sudah baik, Ren sudah menerima Jimmi sebagai ayah tirinya, tapi mereka tak terlalu akrab, baru tiga kali berbincang secara langsung dan sebagai orang yang tipe introved, sulit bagi Ren segera mengakrabkan diri dengan orang lain. Ia butuh waktu yang lebih lama.


Ren langsung masuk ke rumah dengan kunci cadangan yang ada padanya. Ia memutuskan langsung mengurung diri di kamar. Sebenarnya Ren ingin langsung tidur sebab sudah sangat rindu pada Jasmin yang hanya beberapa jam tidak bertemu, tapi kedua netranya menangkap sebuah buku catatan berwarna gold.

__ADS_1


Ren membuka lembarannya sambil tersenyum. Menatap foto-foto yang ada di dalamnya. Gambar wajah Jasmin yang ia foto secara diam-diam ketika pertemuan pertama mereka di rumah kakek Jasmin. Ada juga foto-foto Jasmin ketika di kampus.



Diam-diam Ren memamg suka mengambil foto perempuan yang sudah menjadi istrinya tersebut sebelum mereka menikah. Segala hal yang ada pada Jasmin sebenarnya adalah magnet yang selalu menarik perhatian Ren.


Perempuan berkerudung yang ceplas-ceplos tapi begitu menjaga penampilan dan pergaulannya. Gadis cerdas yang selalu bersemangat mengejar-ngejarnya. Tidak perduli meski Ren sering marah-marah.


Poin Jasmin yang suka mengejar-ngejar Ren lah sebenarnya yang membuat abai pada istrinya tersebut. Secara tidak sadar Ren mengira bahwa Jasmin akan selalu ada di dekatnya, tak akan pernah pergi meski ia bersikap acuh tak acuh. Ren terlalu percaya diri, bahkan ia lupa kalau Jasmin juga punya perasaan dan harga diri.


Seseorang yang punya banyak cinta untukmu pun jika terus menerus diabaikan maka ia akan meninggalkanmu. Menyerah, mungkin ini adalah jalan yang dipilih Jasmin saat ini.


"Maafkan aku, Jas. Maaf!" pekik Ren.


Dengan tangan bergetar ia kembali mengetik pesan. [Jas, aku sudah di rumah ibu. Tapi ternyata masih sama tidak nyamannya sebab tidak ada kamu di sampingku. Jas, aku mohon, kembalilah. Aku janji, nggak akan banyak tanya kalau kamu belum mau bicara. Bila perlu aku akan jaga jarak, sampai kamu mau menerimaku kembali. Atau kalau kamu tak ingin melihatku dulu, aku bisa tidur di luar. Yang terpenting aku bisa tetap melihat kamu.


Aku sungguh-sungguh tidak tahu harus melakukan apa lagi, Jas. Bahkan untuk sekedar tidur pun rasanya tak bisa. Sedih sekali Jas, diabaikan olehmu.] Ren mengirim kembali pesan tersebut. Lalu duduk sambil bertekuk lutut, menanti balasan dari Jasmin.

__ADS_1


***


Tring. Lagi-lagi Hp Jasmin berbunyi. Masih uring-uringan, ia mengintip. Ternyata pesan dari Ren. Jasmin mendengus kesal, bagaimana ia bisa bersembunyi dengan tenang jika suaminya terus saja mengirimkan pesan-pesan menyedihkan.


Sebenarnya Jasmin tak benar-benar pergi. Untuk menghindari fitnah, Jasmin juga bersembunyi di rumah paman Jimmi, sekalian menemani ibu mertuanya di rumah baru mereka. Saat ini ia sedang berbaring-baring di kamar sembari membaca majalah.


Tok tok tok. Pintu kamarnya diketuk. Ibu mertuanya masuk. Melihat Jasmin masih seperti semula saat baru datang, Alifa kembali menawarkan, mengajak Jasmin jalan-jalan agar suasana hatinya bisa sedikit membaik, tetapi ia menolak dengan berbagai macam alasan.


"Kalau kamu begini terus, lama-kelamaan malah kamu ikutan pusing seperti Ren. Sudahlah sayang, bawa santai saja, biarkan Ren berpikir dimana letak salahnya agar kelak ia tak mengulangi kembali kesalahannya." Kata Alifa.


"Bagaimana aku bisa mengabaikan kalau tiap sepuluh Menik kak Ren terus menerus mengirimkan pesan. Mana pesannya mengiba lagi." Jasmin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tak ingin membayangkan wajah Ren sebab takut semakin galau. "Bu, apakah kak Ren akan berubah. Apa ia benar-benar peduli padaku?" tanya Jasmin lagi.


"Ibu sangat yakin kalau Ren itu mencintai kamu. Jas, ibu sebenarnya juga tak terlalu paham isi hati Ren sebab sebenarnya ia sudah menjaga jarak dengan ibu sejak kami membawanya ke Indonesia. Ren punya harapan besar agar ayah dan ibunya bisa akur, meski sebenarnya ia juga tidak tega melihat ayahnya terus menerus menyakitiku. Mungkin karena Ren tahu, ayahnya begitu mencintaiku, bahkan Ren pernah bercerita, setelah aku kabur meninggalkan mereka, ayahnya pernah beberapa kali mencoba bunuh diri. Menakutkan sekali, bukan?


Untuk pertama kalinya ia bisa luwes bicara denganku, ya saat membicarakan kamu. Sepasang matanya menunjukkan cintanya untuk kamu, Jas. Aku yakin sekali itu!


Kenapa ia bersikap peduli pada Mia, sebab Mia satu-satunya teman pelariannya. Gadis itu selalu ada untuk Ren, ia memposisikan diri menjadi tempat bercerita yang nyaman. Makanya Ren merasa berhutang Budi, sehingga ketika Mia butuh bantuan, ia mencoba selalu ada sebab ia ingin balas Budi.

__ADS_1


Sementara kamu ... Ren mengira setelah menikah perjuangan cinta selesai. Kamu jadi milik Ren selamanya tanpa pernah terlibat memupuk cinta kalian. Tapi kuharap sekarang ia sadar bahwa rumah tangga itu tak bisa berjuang sendiri. Tapi harus sama-sama!"


__ADS_2