
Langkah Yasmin terhenti di pojok taman rumah sakit, tempat yang cukup jauh dari jangkauan orang-orang. Ia lalu menghempaskan tubuhnya, mencoba mencerna kembali apa yang barusan terjadi. Sementara pikirannya semakin kalut, ia benar-benar merasa kacau, tapi tak tahu harus melampiaskan semuanya pada siapa, bahkan untuk mengadu pun ia sudah tak punya tempat sama sekali. Ia merasa benar-benar sendirian.
"Apa aku sudah tak berarti lagi untuknya?" Yasmin menggelengkan kepalanya. Ia merasa benar-benar buruk sebagai seorang ibu. "Bagaimana mungkin kami bisa seperti orang asing? Tak saling tahu apa yang kami lakukan. Seperti tak saling peduli. Ya Tuhan ...."
"Yas!" panggil Riana. "Hm, kalau mau menangis, menangislah. Walaupun aku tak sebaik Qret, tapi aku siap menjadi teman yang akan mendengarkan keluh kesahmu."
"Bagaimana bisa Jasmin merahasiakan semuanya dariku? Aku tidak bisa berkata apapun lagi. Aku merasa sangat gagal sebagai ibu. Harusnya ia dekat denganku, iya kan Riana? Tapi banyak rahasia di antara kami, sebagai bukti bahwa ternyata kami seperti dua orang asing, padahal ia ada dalam perutku selama sembilan bulan. Aku juga yang melahirkan dan membesarkan ... oh tidak, bukan aku Riana. Aku tak pernah ada saat ia masih kanak-kanak, remaja lalu sampai sebesar ini. Tidak ada sedikitpun kenangan menyentuh di antara kami. Pantas kan Riana, pantas ia asing padaku? Dia bahkan tak mau bercerita apapun, Riana. Sekarang kamu tahu bagaimana rasanya jadi aku? Kenapa aku begitu kesal padanya?"
"Yas, tenangkan dirimu."
"Bagaimana bisa? Aku ibunya, kan? Tapi kami seperti orang asing, Riana!"
"Ya."
"Tapi kami seperti orang asing. Ya Tuhan ... kami orang asing!"
Yasmin terus menceracau, ia tampak begitu kacau. Sementara air matanya terus mengalir, menandakan bahwa selain tak stabil, ia juga merasakan begitu sedih.
"Yasmin, memang ada yang salah pada hubungan kalian berdua. Ada beberapa penyebabnya, tentang ...."
"Apa?"
"Ada sesuatu hal yang dirahasiakan Qret darimu."
"Apa?"
__ADS_1
"Tentang memori dan mental kamu." Riana menuturkan tentang benturan yang terjadi saat kecelakaan itu yang membuat emosi Yasmin jadi labil. Ia jadi begitu gampang curiga, hingga membenci anaknya sendiri. Harusnya Yasmin menjalankan terapi dengan psikolog, tetapi belum dapat terlaksana, entah apa alasan pastinya, Riana tak terlalu paham.
"Tidak ... itu tidak mungkin. Aku nggak gila Riana!"
"Tidak seperti itu, Yas. Kamu hanya depresi saja. Tekanan dalam hidupmu membuat kamu akhirnya seperti ini. Dengan Jasmin tidak punya kedekatan sedikitpun. Padahal Jasmin sudah berusaha membangun jembatan antara kalian, tapi kamu selalu mematahkannya. Sehingga akhirnya terjadilah seperti ini. Kamu merasa Jasmin tak pernah bercerita apapun, padahal sebenarnya Jasmin selalu berusaha untuk bercerita padamu."
"Enggak! Kamu hanya berusaha membela dia saja, kan, agar kami tak jadi bertengkar? Riana, berhentilah bersikap seperti ayahnya Jasmin yang selalu memasang badan untuk menutupi kesalahan gadis itu "
"Yas, aku tahu kamu sangat menyayangi putrimu. Makanya kamu harus sembuh. Jasmin tidak seburuk yang kamu bayangkan!"
"Aku nggak sakit, Riana. Tidak ada yang harus disembuhkan!"
"Fisik kamu memang sehat, tapi tidak dengan mental kamu. Kalau dibiarkan, itu bisa bahaya."
"Kalau kamu tidak bertindak cepat, maka Jasmin akan semakin tersiksa dengan semua sikap kamu, Yas. Kasihanilah dia, juga diri kamu sendiri. Saat ini kalian adalah pelindung Qret, kalau kamu dan Jasmin tidak akur, saling menyakiti, maka Qret akan kehilangan semangat hidupnya. Ia tak akan pernah kembali untuk selamanya. Apa kamu mau semua itu terjadi?"
"Enggak. Jangan berkata begitu, Riana. Aku ingin suamiku kembali seperti semula. Aku tak bisa bayangkan jika tidak ada mas Qret. Hidupku mungkin akan berakhir."
"Aku hanya mencoba memberitahu apa yang seharusnya, Yas. Jangan bertindak bodoh. Ayo, pikirkan juga tentang Jasmin dan Qret. Kamu adalah kunci semuanya. Tidak ada yang mengatakan kamu gila. Kita berobat bukan berarti kamu sakit jiwa, tapi mental kamu sedang sangat kacau. Hanya itu saja."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Ikut aku."
Riana membawa Yasmin menuju sebuah ruangan yang berada dalam rumah sakit tersebut. Ia mendaftar ke bagian psikologi, meskipun Yasmin sudah berulang kali mengajak kembali ke ruangan Qret, tapi Riana tetap bertahan sebab ia sudah tak sanggup melihat pertikaian ibu dan anak tadi. Riana sudah bertekad, sejak melihat Jasmin menangis terakhir di rumah, ia tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.
__ADS_1
Bagi Riana, Jasmin sudah seperti putrinya sendiri. Ia sangat menyayangi gadis itu sebab ia merasa mereka memiliki banyak kesamaan.
Salah satunya adalah sama-sama diabaikan oleh ibunya. Meskipun kadang Yasmin membersamai Jasmin, tapi tetap saja, secara kejiwaan, sebenarnya Jasmin kekurangan kasih sayang ibunya. Pernah saat masih di sekolah dasar, Jasmin secara diam-diam minta dipeluk oleh Riana sebab ia begitu rindu pada ibunya, padahal ada di sekitarnya.
Hal lainnya, sebab ia merasa Qret dan Yasmin sudah seperti keluarganya sendiri.
"Aku tak tahu mengapa semua harus berakhir di sini?" lagi-lagi Yasmin berkeluh kesah.
"Ini bukan akhirnya, Yas. Tapi akan jadi awal saat kau dan Jasmin pada akhirnya akan menjadi seperti ibu dan anak seharusnya. Kalian akan saling menyayangi. Percayalah."
"Aku tak yakin."
"Yas, kau harus mulai membangun kepercayaan pada Jasmin. Ia sangat menyayanginya. Cobalah gunakan perasaan keibuanmu. Kau pasti akan merasakan betapa sebenarnya Jasmin itu seperti bayi kecil yang menyenangkan. Ia begitu menyayangimu. Ia selalu menunggu engkau kembali seperti ibu-ibu lainnya yang selalu sayang pada putri mereka."
Nama Yasmin akhirnya dipanggil. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan psikolog. Setelah berbincang sebentar, ada beberapa terapi yang harus dijalani agar kondisi emosi Yasmin stabil.
Ada banyak air mata yang mengalir saat Yasmin menceritakan semua kesedihannya. Riana sendiri, yang mendampingi Yasmin pun ikut menangis. Ia merasakan banyak kesedihan yang ditanggung oleh perempuan itu. Beban sejak kecil yang tidak semua orang bisa sanggup menanggungnya.
"Silakan, ungkapkan semua keluh kesah anda, Bu." Terapis kembali mempersilakan Yasmin untuk menceritakan segala hal yang menjadi beban nya.
Dari Yasmin lahir hingga akhirnya ia menikah, semua adalah beban baginya. Tak pernah ada kebahagiaan sedikitpun yang dirasa olehnya. Dua puluh dua tahun dilalui dengan penuh air mata. Ia begitu menderita.
Begitu menikah, Yasmin merasakan sangat bahagia sekali. Ia sampai menangis sambil tertawa menceritakan bagaimana luar biasanya Qret memperlakukan dirinya. Menyayanginya dengan sepenuh hati. Tetapi disanalah akhirnya penyakit itu masuk.
Yasmin mulai merasa takut kehilangan kasih sayang yang sudah lama ia rindukan. Ia bahkan selalu was-was. Khawatir Qret akan meninggalkannya. Ia berusaha melakukan apapun yang membuat Qret tetap bertahan di hidupnya. Salah satunya dengan memiliki keturunan.
__ADS_1