
Jasmin menyerahkan daftar nilai pada ibunya. Ketika wajah itu menyunggingkan senyum, secara otomatis wajah Jasmin yang semula tegang berubah tersenyum. Ia benar-benar lega, akhirnya bisa membuat ibunya tersenyum. Jasmin bahkan berharap kelak ayahnya pun akan melihat semua ini. Ayahnya pun pasti akan sangat senang sekali ketika akhirnya istri dan anak perempuan satu-satunya akur
"Ibu senang, IP kamu tiga koma sembilan. Nilai yang sangat bagus." ungkap Yasmin.
"Alhamdulillah, Bu, ini berkat doa dan semangat dari ibu." kata Jasmin. "Berarti Jasmin boleh tetap jualan kue dan jadi penerjemah?" tanya Jasmin hati-hati.
"Ya, tapi tetap, nilai kamu harus tetap sebaik ini." ungkap Yasmin. "Satu lagi, begitu ayah kamu sehat, kamu nggak boleh kerja lagi. Fokus selesaikan kuliah saja. Mengerti Jasmin?".
"Iya Bu, terimakasih banyak!" Jasmin hendak memeluk ibunya, tetapi tidak jadi sebab ibunya segera berlalu, kembali duduk di samping tempat tidur ayahnya, meski sebenarnya Jasmin begitu berharap mendapatkan pelukan yang tak pernah didapatkan sebelumnya.
Bu, kenapa antara kita harus ada jarak yang begitu jauh? Jasmin hanya bisa berkeluh kesah di hatinya.
"Oh ya Jasmin, apa bibi Riana sudah mengatakan padamu kalau Riu akan pulang akhir pekan ini? Ahad pagi ia sampai di Jakarta. Kemungkinan besar kuliahnya akan transfer ke Jakarta."
"Sudah Bu. Bibi sudah cerita. Bahkan bibi mengajakku untuk menjemput Ren."
"Kalau begitu kamu harus ikut Jasmin. Ibu mau kamu menyambut kedatangan Riu. Kamu harus tahu bahwa ia banyak berkorban untuk keluarga kita."
"Oh, iya Bu."
"Jasmin, ada hal lain juga yang ingin ibu sampaikan."
"Apa Bu?"
"Kamu tahu, Riu sampai rela segera kembali ke Jakarta sebab ia peduli dengan kondisi keluarga kita. Bahkan ia menyatakan ingin membantu keluarga kita terutama dalam hal perekonomian. Tetapi ibu belum bisa menerima sebab secara darah, ia bukankah Keluarga kita. Ibu tidak bisa menjadi beban untuk orang lain. Ibu juga tidak sanggup jika harus berhutang budi.
Sebelum kamu lahir, ibu dan bibi Riana punya kesepakatan untuk menjodohkan kalian. Ibu harap hak tersebut terwujud. Riu akan jadi suami yang baik untukmu. Kalian sudah saling kenal sejak kecil, bahkan sudah begitu dekat. Bisa kan kamu mewujudkan harapan ibu?"
"Bu, aku harus keluar sebentar." tanpa menunggu jawaban, Jasmin segera keluar. Ia berjalan secepat mungkin, tujuannya hanya satu, menjauh dari ibunya. Ia tak sanggup membayangkan apa yang diharapkan ibunya.
Sejujurnya Jasmin sudah sering mendengar tentang perjodohan antara dirinya dan Riu, tetapi kali ini Jasmin benar-benar kaget sebab ia merasakan bahwa ibunya benar-benar serius, tidak hanya gurauan seperti yang sering dilontarkan ibu dan bibinya bila ia berada dekat dengan Riu.
Bagaimana mungkin ia harus bersama Riu. Membayangkan saja rasanya Jasmin tak mau. Baginya Riu adalah sosok seorang kakak meskipun mereka tidak punya hubungan darah. Jasmin tahu cerita tentang kebaikan hati kakeknya Riu yang membesarkan ayahnya. Juga bibi Riana yang sudah seperti adik kandung sendiri.
"Aku tidak mau!" Jasmin menggelengkan kepalanya.
Hati ini, bukankah ia sudah ada yang menghuninya. Ren. Dokter Renan. Kakak kelasnya di kampus. Lelaki itulah yang membuat Jasmin benar-benar jatuh cinta. Tetapi kini ibunya malah meminta Jasmin dengan Riu.
__ADS_1
"Nggak, aku harus bertindak cepat sebelum ada acara perjodohan lalu kemudian semuanya semakin rumit!" Jasmin bergegas menuju IGD, ia tahu persis, jam segini, orang yang dicarinya ada di sana.
Bruk. Lagi-lagi Jasmin menabrak seseorang, orang yang sama dan sudah jutek pada Jasmin karena sikapnya yang teledor.
"Kamu lagi. Kalau jalan pakai mata dong!" bentak Mia yang semakin kesal saat tahu bahwa pelaku yang menabraknya adalah Jasmin. Sebenarnya, selain marah, ia ingin melakukan hal yang lebih keras lagi. Tapi ini tempat umum, Mia masih punya akan sehat. Ia tak mau nama baiknya sebagai gadis cantik yang anggun rusak hanya karena marah-marah pada orang yang sudah menabrak padahal ia tidak sengaja.
"Maaf kak." kata Jasmin.
"Mau apa kamu ke sini?"
"Aku kau ketemu kak Ren."
"Ren nggak ada!"
"Masa? Aku tahu kak Ren ada di IGD, jam segini kan dia lagi belajar. Iya, kan?"
"Nggak ada! Kamu mata-matain Ren ya."
"Kak Ren yang cerita kok."
"Kamu!"
"Dia ada di lab."
"Oh, kalau begitu terima kasih ya kak." Jasmin buru-buru menuju lift terdekat, begitu pintu terbuka, ia segera masuk dan memencet lantai sembilan rumah sakit, tempat lab berada. Jasmin tahu dimana lab yang dimaksud Mia sebab beberapa kali pernah ke sana untuk urusan kuliahnya.
Suasana lantai sembilan sudah lengang. Tidak ada seorang pun yang dilihat oleh Jasmin. Kalau jam segini biasanya memang lab tidak dipakai. Sebab hanya dipergunakan untuk kebutuhan praktek mahasiswa atau calon dokter.
Ada dua puluh ruangan lab yang biasanya dipakai. Jasmin menggaruk kepala, menyesal sebab tidak bertanya pada Mia, Ren berada di lab ruangan berapa.
Tidak ada pilihan lain, gadis itu terpaksa memeriksa satu-persatu ruangan hingga kakinya benar-benar letih. Bayangkan, harus keluar masuk dua puluh ruangan yang ukurannya tidak kecil.
"Huh, baiklah. Aku menyerah. Aku sudah nggak sanggup. Kak Ren entah ada di ruangan mana!" Jasmin ngos-ngosan, ia berusaha mengatur agar nafasnya teratur. Jasmin hendak kembali ke bawah, tetapi naas, lift mati semuanya.
"Aghhh, apa ini? Jangan bilang aku harus turun ke bawah dengan tangga. Oh tidak, aku ingin terjun bebas saja!" Jasmin menggerutu. Dengan terpaksa ia menuruni anak tangga hingga tiga lantai. Rasanya kakinya sudah tidak sanggup, saat Jasmin keluar menuju lorong, ia melihat lift hidup.
"Apa ini? Liftnya hidup? Oh tidak, aku sudah membuang banyak tenaga!" Jasmin terus menggerutu, lalu melanjutkan perjalanan dengan lift.
__ADS_1
Begitu pintu lift terbuka, Jasmin mendapati sosok Ren bersama seorang dokter koas lainnya. Sepertinya mereka mau naik ke atas.
"Kak Ren!" panggil Jasmin. "Aku mau bicara!"
"Kamu duluan saja, nanti saya susul." kata Ren pada temannya. "Kenapa?" Ren bertanya pada Jasmin saat mereka sudah berdua.
"Bagaimana kakak bisa turun secepat itu?"
"Maksudnya?"
"Tadi kakak di lab, kan? Lalu kenapa bisa turun secepat itu? Oh, atau jangan-jangan yang membuta lift macet itu kakak? Mau mengerjai aku ya?"
"Kamu bicara apa sih?"
"Tadi kakak di atas kan?"
"Nggak. Dari tadi aku di IGD."
"Apa?"
"Iya."
"Jadi aku dibohongi?"
"Nggak tau!"
"Aaaaaaa ... kesal!" Jasmin berteriak. Untung saja tidak terlalu kencang sehingga tidak menarik perhatian banyak orang. "Sekarang kita harus bicara."
"Bicara apa?"
"Penting. Ikut aku sebentar saja."
"Aku sibuk."
"Please!"
"Nggak bisa."
__ADS_1
"Kak, aku mau dijodohkan!"