GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
21. Salat Pertama


__ADS_3

"Kamu itu harus salat Qret, itu ibadah yang pertama kali Allah hisab. Kalau salatnya baik, maka baik semuanya." nasihat Nek Yani, saat usiaku tujuh tahun.


"Kalau buruk, bagaimana?" tanyaku.


"Ya buruk segala-galanya. Lihat, ada yang salat tapi dia masih suka bohong, bertengkar, pelit, bahkan menyakiti orang lain. Itu tandanya salatnya belum beres. Kalau sudah beres, ndak akan menyakiti makhluk Allah manapun."


"Kalau begitu Qret akan salat!"


Saat itu, aku mulai berlatih salat dibantu nek Yani. Ia menghadiahkan sebuah sarung yang sudah lusuh sebab aku sudah tidak perlu lagi dibangunkan untuk salat subuh. Aku benar-benar sudah menjaga salat.


Hingga kejadian itu kembali menimpa. Saat teman-teman mengolok-olok. Bahkan sampai melarangku mengaji dan salat di mushalla kampung. Hasilnya, aku tidak salat lagi. Tapi nek Yani tidak menyerah begitu saja, ia tetap memaksaku untuk salat.


Aku bersedia asal tidak disuruh ke mushalla. Salat di gubuk kamu saja. Hari pertama dan kedua nek Yani setuju. Tapi hari ketiga, beliau kembali menyuruhku ke mushalla. Katanya, anak laki-laki itu salat di masjid, bukan di rumah. Yang di rumah itu anak perempuan.


Tentu saja aku menolak. Siapa yang mau dijadikan bahan olokan lagi. Dihina habis-habisan. Dikatakan anak buangan. Bahkan sampai dipukuli. Perlakuan yang membuatku enggan untuk berteman dengan siapapun. Aku menghabiskan waktu hingga usia sepuluh tahun hanya dengan nek Yuni. Beliau adalah nenekku, orang tua angkat, guru, teman, bahkan teman bertengkar saat kamu sama-sama dilanda sikap keras kepala.


Barulah sepeninggalan nek Yani, aku berteman dengan Riana. Ia teman keduaku. Setelah itu aku tidak berteman dengan siapapun lagi.


"Kamu sudah salat, Qrer?" suara Nek Yani, membangunkanku dari tidur


Masih mengantuk, ku lirik jam dinding, sudah pukul enam pagi, matahari sudah bersinar cerah. Segera aku berlari ke kamar mandi, mengambil wudhu sesuai ingatanku, lalu membentangkan sajadah.


"Iya, Qrer akan salat nek!" ucapku, lirih.


Masih bisakah aku kembali, meski dosa ini teramat banyak? Masih terbukakah pintu taubat itu, padahal aku begitu hina? Bolehkah Tuhan, aku mengecap iman itu? Beri aku kesempatan sekali lagi.


Bismillahirrahmanirrahim. Allahuakbar. Perlahan, aku mulai salat. Melakukan gerakan yang aku ingat, tanpa membaca apapun karena aku benar-benar sudah lupa semuanya.


Selesai salat Subuh, aku lanjut salat taubat dua rakaat. Saat itulah air mata kembali berderai. Ya, aku menangis sejadi-jadinya. Biarlah ini menjadi saksi bahwa aku benar-benar sungguh-sungguh ingin bertaubat. Aku ingin menjadi suci lagi, kembali pada fitrahku.


Usai salat, aku tak langsung bangkit. Ku tengadahkan tangan ke atas, lalu mulai merapalkan doa-doa. Begitu banyak yang ku insafi. Juga permintaan pada Tuhan pemilik segalanya.


Setelah selesai, barulah aku bangkit, sambil menyeka sisa air mata di pipi. Apakah taubatku sudah di terima? Kini pertanyaan itu muncul, bersamaan dengan ketakutan, bagaimana bila tidak diterima? Tuhan, berat sekali perjalanan taubat ini?


***


"Sudah bangun, Qrer?" tanya Riana, saat aku baru keluar dari kamar.

__ADS_1


"Sudah dari tadi. Sudah salat juga. Kamu?" aku balik bertanya.


"Qret, apa kau benar-benar serius?"


"Tentang apa Riana?"


"Salat, taubat, dosa-dosa?"


"Sangat serius."


"Kenapa begitu?"


"Karena aku tidak mau mati masuk neraka."


"Qret,"


"Riana, coba bayangkan, hidupmu di dunia sudah susah, tapi ketika kau mati, kau juga tidak dapat apa-apa selain di bakar di neraka?"


"Qret,"


"Pikirkan baik-baik Riana. Ingat, kau tidak akan hidup selamanya. Bisa saja esok Mario, lusa, atau bahkan satu jam lagi?"


"Aku berdoa hal-hal yang baik untukmu. Sungguh."


"Qret, aku bingung."


"Tidak apa-apa. Yang penting kau harus memikirkannya. Sesegera mungkin Riana!"


Aku segera berlalu ke meja makan, menemui ibu yang sudah menyiapkan makanan. Bubur ayam dengan kerupuk melinjo, ditaburi bawang goreng. Aromanya sungguh menggoda.


"Masakan ibu pasti lezat," ungkapku.


"Qret, ibu hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk kami." Sebelum kamu mulai makan, tidak lupa ibu memanggil Riana dan Deni yang ternyata tidak pulang dari semalam. Aku tidak tahu kalau ia menginap.


Usai makan, ibu mengajakku berbicara. Kami ke ruang kerja. Rupanya ibu mau menyampaikan keberatannya jika Riana menginap di rumahku.


"Qret mengerti bu, tapi ini hanya sementara saja. Paman Rudi sedang ke luar kota. Qret tidak tega jika Riana harus tinggal sendiri. Dia kan anak perempuan," kataku. Mengingat rumah Riana yang hanya berjarak dua rumah dari rumahku. lagi pula ada ibu dan dua orang pembantu yang juga tinggal bersamaku.

__ADS_1


"Baiklah. Setelah ayahnya pulang, kamu harus tegas padanya Qret. Jangan izinkan ia masuk ke kamarmu. Kalau ke ruang kerja, jangan berdua-duaan. Ibu khawatir. Apalagi ibu lihat dia menyukaimu!"


"Bu, Riana itu sudah seperti adik sendiri. Makanya kami tidak canggung."


"Tetap saja Qret. Bukannya kamu sudah memutuskan untuk hijrah?"


Ibu benar, aku tidak bisa membiarkan Riana bebas berkeliaran di rumah ini. Nanti, akan kubicarakan lagi dengannya meski sebenarnya berat.


Pembicaraan kami terputus sebab Wijaya datang. Aku memang sudah membebaskannya datang ke sini meski kami belum sepenuhnya berdamai, tetapi aku tidak bisa melarang karena ia dan ibu masih sah sebagai suami istri. Jika aku melarang maka bisa jadi dosa untukku.


"Nak, ayah ingin bicara sebentar," pintanya, usai bertemu ibu.


"Ada apa?"


"Ibumu bilang kau ingin membuka usaha baru. Kalau kau tidak keberatan, aku akan memberimu sedikit uang untuk modalmu."


"Anda mau menyuap saya?"


"Bukan nak, ini adalah bantuan dari seorang ayah untuk anaknya."


"Tidak perlu. Saya sudah terbiasa hidup yatim dari kecil. Jadi tidak perlu membantu saya!"


"Setidaknya pikirkanlah, ini demi ibumu juga. Ia tidak ingin engkau pusing dengan masa depanmu."


"Tidak perlu. Saya masih punya modal." jawabku. Meskipun sebenarnya butuh dana, tapi aku lebih suka mengandalkan diri sendiri.


Selembar cek berisi yang sebesar tiga puluh milliar ku kembalikan. Aku masih ingin berusaha sendiri tanpa bantuannya. Bagaimanapun aku belum bisa menerima sosoknya. Meski sebenarnya ia sudah berusaha untuk mengambil hati.


"Baiklah kalau begitu. Tapi ingat, kalau kau butuh apa-apa. Katakan padaku, nak. Sebab seorang anak biasa melakukan itu pada anaknya."


"Tapi saya tidak terbiasa punya ayah,"


Jawabanku membuat sepasang matanya berkaca-kaca. Berulang kali ia mengucapkan kata maaf. Aku menyadari sudah membuatnya terluka, tetapi berat untuk meminta maaf.


"Ternyata aku masih harus memikul dosa akibat perbuatan ku sendiri," ucapnya. "Maafkan aku, nak. Aku sungguh menyesal untuk masa kecilmu yang tidak bahagia!" ia berlalu dari pandanganku.


Sebelah hatiku ingin sekali mengejarnya. Memeluk tubuhnya yang sudah mulai menua. Ingin sekali merasakan bagaimana pelukan seorang ayah. Tetapi sebagian lagi menolak sebab kebencian yang masih terasa nyata.

__ADS_1


Dosakah aku? Beri aku sedikit waktu lagi untuk membunuh kebencian ini. Tolong, jangan lagi berbuat baik padaku. Biarkan aku bertahan sendiri. Toh selama ini seperti itulah aku, tanpa didampingi siapapun.


__ADS_2