GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
25. Tangis Riana


__ADS_3

"Riana, sedang apa kau di sana?" aku hampir melonjak kaget melihat Riana berdiri di pojok rumah. Ia tampak ragu. Antara mau masuk dengan tetap menanti di luar. "Kenapa tidak masuk?" tanyaku lagi.


Beberapa saat Riana tetap diam. Ia berdiri bagaikan patung. Menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan. Yang jelas ada kesedihan yang mendalam dari kedua bola matanya.


"Riana!" panggilku lagi.


Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia terlihat mengambil nafas. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Ada yang ingin dibicarakan?" aku bertanya pelan. Sungguh, aku bingung dengan sikap Riana yang seperti ini. Ia penuh tanda tanya.


"Qret, kami akan pindah." ungkap Riana, saat kami sudah berada di ruang kerjaku.


"Maksudnya?" aku begitu kaget mendengar berita dari Riana.


"Ayah bilang, aku harus mengebas barang-barang. Kami akan pindah ke Surabaya, ke kampung halaman ayah."


"Tapi kenapa Riana? Paman Rudi juga tidak cerita apapun padaku?"


"Apa kau peduli, Qret?"


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku peduli. Kalian sudah seperti keluargaku sendiri,"


"Tapi kau membuat jarak dengan ayah, Qret,"


"Riana!"


"Ayah kecewa sekali dengan keputusanmu itu. Ia ingin memulai hidup baru jauh darimu, sebab jika ia melihatmu terus, ayah khawatir semakin larut dalam kesedihan. Ayah sangat menyayangimu Qret!"


"Kalau begitu tetaplah di sini,"


"Ayah tidak ingin menjadi setan yang tidak pernah lagi bisa bersama dengan malaikat. Padahal ayah sangat menyayangi malaikat itu,"


"Lalu kau setuju pindah bersama Paman?"


"Tentu saja tidak. Tapi aku bisa apa, Qrer?"

__ADS_1


Aghhh. Rasanya benar-benar pusing memikirkan ini semua. Apa aku benar-benar membuat luka yang begitu dalam untuk paman Rudi? Padahal aku sangat menyayangi paman.


Kenapa akhirnya jadi begini? Aku seperti pengkhianat. Benar yang Deni katakan, sekarang aku tidak ubah kacang yang lupa akan kulitnya.


"Lagi pula kau sudah berkumpul kembali dengan ayah dan ibumu. Kau tidak butuh kami lagi," ungkap Riana.


"Jangan bicara begitu Riana. Aku tetap membutuhkan kalian!" aku menyanggahnya. "Kau dan paman Rudi sangat berharga untukku."


"Tapi sudah terlambat, Qret!" Riana mulai terisak.


Pedih sekali melihat gadis itu begitu terluka. Tetapi aku tidak bisa meninggalkan Tuhan ku lagi. Bukan Dia yang membutuhkanku, tetapi akulah yang sangat butuh Allah. Bagaimana aku bisa hidup tanpaNya, padahal begitu banyak kebaikan yang Dia berikan untukku.


"Aku akan bicara pada paman!" tanpa menunggu persetujuan Riana, aku segera berlalu, menuju rumah Riana, di pintu keluar aku berpapasan dengan ibu yang baru kembali dengan Wijaya.


"Qret, mau kemana, nak?" tanya ibu.


Pertanyaan itu tidak kujawab. Aku terus berlalu menuju rumah paman Rudi. Tidak akan pernah kubiarkan paman berpikiran kalau aku tidak peduli pada mereka. Paman sudah seperti ayahku sendiri.


"Paman!" panggilku, sambil menerobos masuk ke dalam. Sama seperti mereka yang bebas keluar masuk ke rumahku. Di sini pun aku begitu.


Perlahan aku mendekat, mengecilkan AC yang begitu dingin. Lalu merapikan selimut paman. Aku tahu paman tidak suka dingin. Ini pasti ulah Riana yang selalu memasang AC dengan suhu terlalu dingin.


Tiba-tiba tanganku meraih foto dalam pelukan paman. Air mataku langsung meleleh melihat gambar kucing dengan paman sedang berdiri di depan rumah lamanya.


Foto ini diambil saat usiaku tujuh belas tahun. Riana sendiri yang memotonya. Saat itu paman memaksaku agar ikut ujian persamaan, tetapi aku menolak lantaran tidak terlalu suka sekolah. Aku masih trauma dibully saat masih duduk di bangku SD.


Tangis ku makin pilu hingga tersungkur di samping paman. Sedih dan sakit sekali rasanya melihat wajah paman yang tidak lagi muda terlihat sedih.


"Paman, tolong jangan tinggalkan aku ...." aku berbisik.


"Qret? Apa itu, kau? Ahh, apa aku bermimpi?" paman Rudi terbangun, ia mengucek-ngucek katanya sembari menatapku. Ternyata benar, kau!" ia tersenyum.


"Paman, jangan tinggalkan aku!" aku merengek sembari jatuh di pelukannya.


Paman Rudi menepuk pundakku. "apa Riana menemuinya? Ahhhh, anak itu. Sudah kubilang jangan bicara dulu denganmu tetapi ia tetap lancang. Nanti akan kuberi ia pelajaran agar menurut."

__ADS_1


"Paman tolonglah!" aku terus menangis.


"Ayah!" Riana ikut masuk.


"Kau ini," paman Rudi langsung menatap Riana. Sudah ayah katakan, jangan bicara dulu dengan Qret. Kau pikir mudah bagi ayah untuk meninggalkannya?"


"Kalau begitu jangan pergi, paman!" pintaku.


"Qret, paman tidak bisa. Paman sudah tua. Jika kita berada di satu tempat yang sama tapi tidak bisa lagi beriringan, maka paman akan sengsara," lembut paman Rudi membelai kepalaku. "Paman sangat menyayangimu, nak!"


"Tolong, tinggallah!" aku berlutut di hadapan paman Rudi.


"Qret, jangan begitu." pinta paman Rudi.


"Ayah, aku juga tidak ingin berjauhan dengan Qret. Ayah Taukan, Qret sangat berarti untukku. Kalau ayah tetap memaksa pindah, aku akan berhenti makan dan bicara. Aku akan diam saja hingga mati!" cetus Riana.


"Anak bo***!" paman Rudi menjentik telinga Riana hingga gadis itu meringis.


"Silakan pukul aku ayah. Pukul sepuas ayah, tapi tolong jangan pergi!" Riana memberikan telinganya yang sebelah lagi.


"Ahhhh kalian ini!" paman Rudi geleng-geleng kepala. "Sudah, duduklah di sini." paman Rudi mengajak kami duduk di sofa.


Paman Rudi yang duduk duluan, lalu aku duduk di sisi kanan, sedangkan Riana di sisi kiri. Kami duduk berjejer.


"Qret, kau bisa merasakan bahwa paman sangat menyayangimu. Kau sama seperti Riana meski dalam tubuhmu tidak ada arahku. Bahkan, kadang aku lebih menyayangimu ketimbang Riana. Kau tahu kenapa?" tanya paman Rudi. "Jalan hidup kita hampir sama. Dahulu, aku pun begitu. Semasa kecil hidup susah, ditinggalkan oleh orang tuaku. Aku berusaha sendiri. Makanya, saat pertama aku melihatmu, aku seolah melihat diriku sendiri."


Paman Rudi melanjutkan ceritanya, hingga kemudian ia bertemu istrinya dan menikah. Dahuku ia adalah orang baik, tetapi paman salah mengartikan ketiadaan Tuhan dalam dirinya. Sehingga paman memutuskan untuk tidak percaya siapapun termasuk penciptanya.


Di sini aku sadar, kami sudah berbeda. Sangat bertolak belakang. Aku tidak bisa lagi mengandalkan perasaan, bahkan harus mengabaikannya. Aku tidak bisa kembali dalam kegelapan. Aku ingin mencari jalan terang itu. Aku tidak akan pernah lagi mengganti Tuhanku dengan apapun di muka bumi ini.


"Qret, paman mengerti, jalan kita sudah berbeda!" ungkap paman Rudi.


"Ya paman," aku mengamini pernyataan paman Rudi.


Riana langsung menghampiri histeris. Berat memang, tetapi inilah pilihan yang harus kujalani. Mengikhlaskan kepergian mereka.

__ADS_1


Sejenak, aku meminta pada pemilik alam semesta ini agar Dia berikan hidayah untuk paman Rudi dan Riana. Aku mengharap mereka merasakan manisnya iman ini.


__ADS_2