
"Bagaimana ini?" dari dalam terdengar suara Yasmin berteriak panik.
Aku dan Deni yang baru selesai membereskan peralatan masak saling pandang. Karena takut terjadi sesuatu pada Yasmin meski ia sedang bersama Riana, tetap saja membuatku buru-buru masuk untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.
"Yas, kenapa?" aku menghambur ke dalam. Lalu tampaklah pemandangan yang membuatku langsung melotot. Entah berapa jumlah mangkok berisi sisa makanan, lima gelas sisa minuman yang kuperkirakan adalah jus serta tiga piring yang juga sudah makanan. Masih ada dua lagi, bungkus nasi Padang yang sudah kosong semuanya. "Apa ini?" tanyaku, heran.
"Mas, bagaimana ini?" tanya Yasmin, ia memegang pipinya yang memang bertambah cuby sejak hamil.
"Kenapa?" tanyaku.
"Yasmin pusing." ungkap Riana.
"Pusing? Memangnya apa yang baru kau lakukan, Yas. Kalau pusing istirahat. Ayo berbaring, jangan duduk di situ." aku hendak membantu Yasmin agar pintar ke atas sofa, tapi ia menolak.
"Aku tidak mau tiduran." katanya.
"Lho, katanya pusing." ucapku.
"Tapi kalau aku tiduran, nanti bisa jadi ulat segede bantal." ia menolak.
"Ulat? Bagaimana bisa? Kau kan bukan jenis ulat-ulatan yang bisa berubah jadi kepompong lalu kupu-kupu." aku geleng-geleng kepala. Apa orang hamil juga bisa berubah jadi menggemaskan seperti ini?
"Jadi begini Qret, Yasmin sudah menghabiskan tiga mangkok bakso, dia mie ayam, nasi Padang, rujak, jus serta es krim. Semua ini. Dia melakukannya tanpa sadar saat kami sedang ngobrol. Tahu-tahu habis." kata Riana.
"Oh begitu." aku menjawab enteng.
Awal mula aku memang kaget dengan perubahan nafsu makan Yasmin yang berubah drastis. Ia jadi hobi makan. Makanya berat badannya naik drastis. Sehingga dokter menyuruhnya untuk diet karbohidrat.
Tetapi makin ke sini aku mulai memahami bahwa itu akibat kehamilan. Semua hormonnya berubah. Makanya aku tidak terlalu tercengang, tapi juga tidak mempermasalahkan selagi tidak membahayakan kesehatannya dan calon bayi kami.
Sekarang Yasmin menggendut tidak masalah. Kalau ia mau nanti bisa diet. Kalau ia nyaman ya aku tak akan menggugat apapun darinya. Aku menerima Yasmin apa adanya. Bagiku, ia langsung atau gendut tetap saja menggemaskan.
"Kok cuma begitu, mas. Bagaimana kalau aku semakin gendut. Ibu saja sudah naik banyak." Yasmin terus mencubit kedua pipinya.
"Tidak apa-apa, Yas." kataku.
__ADS_1
"Tapi aku enggak mau. Jadi jelek mas. Pakaianku juga jadi banyak yang tidak muat." ungkap Yasmin.
"Ya sudah, kalau begitu kurangi makannya. Atau kalau perlu banyak gerak ringan." Aku memberikan ide yang masuk akal menurutku.
"Banyak gerak?" Yasmin dan Riana mengulangi bersamaan. Lalu tiba-tiba mereka berbisik-bisik, hingga menyisakan senyum di wajah mereka masing-masing.
Ada apa ini? Apa ada yang salah dari kata-kataku. Atau aku sudah membuat jebakan untuk diriku sendiri?
Yasmin dan Riana kemudian menyatakan keinginan mereka untuk jalan-jalan ke mall dengan alasan sudah agak bosan di rumah saja. Yang membuatku melongo, mereka tidak mau ditemani sebab ingin membeli beberapa keperluan perempuan.
"Kalian mau membawa Riu juga?" aku geleng-geleng kepala. Membayangkan riuhnya jalan-jalan membawa bayi meskipun ada stroller.
"Tentu saja tidak. Kan ada ayahnya." cetus Riana.
"Apa? Kau tega sekali meninggalkan bayi dengan ayahnya. Apa kau tidak kasihan. Bagaimana kalau Riu rewel atau haus." aku tak habis pikir dengan cara berpikir Riana.
"Tenang saja. Ada Asip. Riu tak akan kehausan. Lagipula kalau Deni kewalahan, kan ada pamannya yang baik hati. Aku memintamu ikut menjaga Riu ya. Aku titipnya di sini." lalu Riana segera berlalu ke luar, menyampaikan idenya pada Deni.
Entah apa tanggapan Deni, tapi dari dia masuk ke dalam tanpa perlawanan sambil menggendong Riu, jelas sekali kalau ia menuruti keinginan gila istrinya itu.
"Mau bagaimana lagi, kau tahu kan Riana. Kalau aku tidak mengikuti keinginannya, bisa-bisa selama satu tahun ia akan mengacuhkan aku. Padahal aku sangat mencintainya." kata Deni dengan raut menyebalkan.
"Dasar bucin!"
***
Sudah satu jam berlalu. Riu yang semula tidur kini terbangun. Bayi itu, meskipun terkenal sangat baik dan tidak merepotkan, kali ini mulai bertingkah. Mungkin karena ia menyadari tidak ada ibu dan Yasmin di sisinya, melainkan dua ayah yang sejak tadi asyik ngobrol dengan suara keras.
Riu mulai menangis. Tentu saja membuta ku dan Deni yang tidak terbiasa mengurus bayi langsung panik. Kami langsung menyodorkan dot ke mulutnya. Tapi bayi itu menolak, lalu menangis sekeras-kerasnya.
"Kau sih, bicara terlalu keras. Lihat Riu jadi bangun dan menangis. Sekarang apa yang harus kita lakukan agar ia diam. Riu juga tidak mau minum." kataku, menyalahkan Deni yang tertawa terpingkal-pingkal.
"Kau juga salah Qret, sudah bercerita lucu. Coba kau tidak menceritakannya, aku tak akan tertawa terbahak-bahak." Deni membela diri.
Tentu saja aku tidak terima disalah-salahkan karena sejak awal tidak ada perjanjian tidak boleh bercerita lucu.
__ADS_1
"Lalu sekarang bagaimana?" Deni bertanya. Ia tampak frustasi, menggerakkan stroller yang ditumpangi Riu.
"Kau angkat!" kataku.
"Kau saja."
"Kenapa aku. Kan kau ayahnya. Lagipula aku tidak bisa menggendong bayi."
"Ya ampun Qret, kau harus belajar sebab sebentar lagi kau akan punya bayi. Kau mau Yasmin memarahimu setiap hari karena tidak bisa menggendong anakmu sendiri."
"Nanti aku akan belajar."
"Tidak bisa. Kau belajar sekarang. Mumpung ada Riu dan tidak ada dua ibunya yang cerewet itu."
"Kau mengatakan Yasmin cerewet?"
"Kau tidak terima?"
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku juga sadar kalau ia memang agak cerewet belakangan ini." kami berdua terkekeh, tetapi kembali sadar dengan tangis Riu yang makin melengking. "Bagaimana ini?" tanyaku lagi.
"Angkat Qret!"
"Baiklah akan ku angkat."
Aku mulai komat-kamit, membaca doa. Khawatir salah cara menggendong Riu. Sebenarnya beberapa waktu lalu aku pernah hendak menimang Riu, tapi malah diomelin oleh Yasmin karena menurutnya caraku salah. Entah karena tanganku yang salah pegang atau karena terlalu kaku. Pokoknya salah baginya. Lelah dimarahi, akhirnya aku tidak jadi belajar menggendong bayi.
"Bismillahirrahmanirrahim." aku mengangkat tubuh Riu. Sebenarnya takut sekali, tapi benar yang dikatakan oleh Deni, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat. "Oh tidak!" aku menatap kesal Deni, lalu meletakkan kembali Riu hingga ia kembali menangis.
"Kenapa Qret?" tanya Deni.
"Bayimu pup. Kau cium tanganku, bau!"
"Hahaha, kau beruntung Qret. Aku yang ayahnya Riu saja sampai detik ini belum pernah dipup-in. Kau sungguh beruntung!" seru Deni, mengulang-ulang perkataannya.
Kesal sekali rasanya. Keberuntungan apa itu namanya? Mana ada memegang kotoran adalah sebuah keberuntungan. Menyebalkan!
__ADS_1