GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
26. Mulai Dari Nol


__ADS_3

"Assalamualaikum Yasmin!" sapaku.


Gadis itu hampir saja terperanjat karena kaget. Ia memang tidak menyadari kedatanganku yang tiba-tiba. Aku sengaja tidak memberitahunya sebab aku hanya akan menyapa sebentar kemudian pergi.


"Tuan?" tanyanya. Lalu menjawab salamku.


"Kau sedang menyiram kembang ya?"


Tanyaku pada Yasmin yang tadinya aktif menyiram pot kecil yang ditanami mawar terhenti karena kaget olehku. Sampai sekarang pun ia masih terlihat kaget.


"Sudah lama kita tidak bertemu?" aku kembali bicara. Ini waktu terlama aku tidak melihat gadis itu, sejak kuputuskan untuk memulai hijrah. Mungkin sekitar tiga pekan lalu. "Kalau mau melanjutkan pekerjaanmu, silakan. Aku hanya sebentar, setelah ini langsung pulang." Sejenak, netraku menatap sepasang mata yang selalu bisa membuat hatiku tenang.


Yasmin, maafkan aku mengambil keuntungan darimu. Aku butuh menenangkan diri sebentar saja setelah rangkaian peristiwa yang ku lalui.


"Aku pergi. Assalamualaikum." kataku. Lalu melangkah meninggalkan rumahnya.


"Tuan," ia memanggilku.


"Hmm?" aku berbalik.


"Anda tidak ingin mampir?" tanyanya.


"Sekarang tidak dulu. InsyaAllah nanti saat melamarmu!"


aku berbalik, terus melangkah menjauh. Kunikmati getaran-getaran kerinduan padanya. Maafkan aku diri, harus menjaga jarak dengannya sebab ia belum halal untukku. Biar kupantaskan diri dulu, agar punya bekal menjadi imamnya. Kini, aku ingin merayu sang pemilik hidup dan mati.


Setelah masuk dalam mobil, aku tidak langsung tancap gas. Tapi memilih menenangkan diri dari pertemuan singkat yang lebih dari cukup untuk menahan rindu tidak bertemu lagi dalam beberapa waktu ke depan.


"Nak Qret tadi datang kenapa tidak mampir?" sebuah pesan masuk dari pak Bimo, ayah Yasmin.


"Cuma mau menyapa Yasmin sebentar, pak." balasku.


"Lalu kapan mau mampir?"


"InsyaAllah nanti saat melamar anak bapak,"


"Hahaha, benar ya. Saya tunggu!"

__ADS_1


Aku tertawa kecil membaca pesan dari pak Bimo. Rasanya hidup ini lucu sekali. Dulu aku sangat membencinya karena ia menipuku. Tetapi sekarang aku mencoba berteman dengannya karena jika aku dan Yasmin berjodoh, maka pak Bimo akan jadi mertuaku.


Hp kembali berbunyi. Kuputuskan tidak membukanya. Aku tidak ingin terlalu larut dalam rindu ini. Kini biar aku mengejar-ngejar cinta pemilik diri ini.


Mobilku mulai melaju, menyusuri jalanan Jakarta Selatan Sudah mulai macet karena sekarang jam kerja dan anak sekolah berangkat.


Mobil kupunggirkan tepat di samping tukang bubur yang dulu jadi langganan saat masih menjadi anggota gengster. Ada sedikit urusan dengan bapak penjualnya yang harus kuselesaikan.


"Bapak, masih ingat aku?" tanyaku, pada penjual bubur ayam yang usianya sudah agak sepuh.


Matanya memicing, mencoba mengingat. "Masnya bukan artis, kan?"


"Bukan," aku tertawa mendengar pertanyaan bapak tersebut. "Aku dulu sering makan di sini, tapi enggak bisa bayar karena nggak ada uang. Bapak tidak mempermasalahkan, malah memberi gratis. Padahal teman-teman gengku sering membuat masalah dengan bapak."


"Oalah, mas Qret kan?"


"Iya pak."


"Ya bapak ingat. Mas Qret ini kan sopan dan jujur, enggak suka malak seperti teman-teman mas. Makanya bapak nggak keberatan memberikan mas Qret bubur gratis. Nah, sekarang mas Qret mau bubur lagi?"


"Benar ini untuk bapak, mas Qret? Ya Allah, bapak bersyukur sekali. Ternyata mas Qret adalah jawaban untuk doa bapak." bapak penjual bubur tersebut pun bercerita tentang kondisi istrinya yang tengah sakit keras sejak enam bulan lalu. Sakit kanker yang masih harus menjalani perawatan hingga sekarang.


Tetapi, bapak tersebut kebingungan sebab sudah tiga hari ini pihak rumah sakit meminta pembayaran rumah sakit dilunasi agar perawatan bisa tetap dilaksanakan. Tetapi bapak tersebut sudah tidak punya tabungan, bahkan uang untuk makan pun sudah tidak ada.


Memang sudah tiga bulan ini ia tidak lagi berjualan, hanya fokus menunggui istrinya karena bapak itu tidak punya siapa-siapa lagi selain istrinya. Mereka memang hidup berdua di Jakarta ini.


Sebetulnya hari inipun bapak tersebut masih berat untuk berjualan karena tidak ada yang menunggui istrinya. Tetapi ia harus bergerak agar pengobatan istrinya tetap berjalan.


"Kalau begitu sebaiknya sekarang bapak pulang saja. Aku berdoa semoga istri bapak bisa segera pulih." sebelum berpisah, tidak lupa kutinggalkan nomor telepon agar bapak tersebut bisa menghubungi ketika butuh bantuan.


Menuju jalan pulang, hp milikku terus bergetar. Saat ku periksa, ada banyak panggilan tidak terjawab dari nomor ibu, paman Rudi dan Riana. Tumben sekali mereka kompak menghubungiku.


Aku tidak percaya saat membaca pesan yang masuk dari Riana. Ia mengabari kalau rumahku kebakaran. Padahal tidak sampai dua jam kutinggalkan. Dari gambar yang dikirim, tampak rumah berwarna merah oleh bara api. Jalan mobil yang tadinya pekan mulai kupacu dengan banyak tanya di benakku.


***


"Qret!" ibu menyambut dengan tangisan histeris.

__ADS_1


"Ibu tidak apa-apa?" tanyaku, sambil memastikan kondisi ibu.


"Ibu tidak apa-apa, Qret. Tadi saat kebakaran, ibu dan mbaknya sedang ke warung. Saat kami kembali, tiba-tiba api sudah menyala, besar sekali." cerita ibu sambil menangis histeris.


Lemas sekali kaki ini melihat bangunan rumah dua lantai yang sudah hangus terbakar api. Tidak ada yang tersisa, hanya puing-puing yang tidak berharga. Sementara petugas pemadam masih berusaha menjinakkan sisa kobaran api


"Ada apa ini?" tanyaku pada dua orang pembantu yang bekerja di rumah.


"Maaf tuan, kami tidak tahu apa-apa," ucap dua orang pembantu tersebut sambil menangis terisak-isak.


"Qret, kita bicara di rumah," panggil paman Rudi sebab ia khawatir masih ada mata-mata di sekitar kami.


Aku mengikuti langkah paman Rudi, sementara Riana memapah ibu diikuti dua pembantuku. Ibu benar-benar terlihat sedih.


Paman Rudi membawaku ke ruang kerjanya. Ia memintaku untuk menenangkan diri. Tetapi tetap saja aku tidak bisa tenang. Hanya sekejap mata, semua hilang begitu saja. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi.


Dalam rumah ada uangku, benda-benda berharga, surat-surat tanah dan masih banyak berbeda berharga lainnya.


"Sepertinya ada yang sengaja membakarnya!" kata Paman Rudi.


"Siapa paman?" aku langsung bangkit dari duduk.


"Tadi, satpam perumahan mengatakan ada tiga orang mencurigakan mondar-mandir di sekitar rumahmu, Qret,"


"Tapi siapa paman?"


"Paman juga belum tahu. Kemungkinan ia orang yang sakit hati padamu. Mungkin saja ayahmu, istrinya, Jack atau Deni."


"Tapi tidak mungkin,"


"Semua bisa saja terjadi, Qret."


Aku berusaha berpikir keras. Satu-satunya yang bermusuhan denganku adalah Wijaya. Tapi kami sedang dalam proses berdamai. Aku tidak yakin ia melakukan semua itu sebab kami sudah tidak ada masalah. Lagipula ada ibu di rumah, Wijaya tidak mungkin melakukan perbuatan yang dapat melukai ibu.


"Sambil menyelidiki, untuk sementara waktu kamu tinggal di sini saja dulu, Qret." kata Paman Rudi.


Saran dari paman Rudi tidak dapat ku tolak karena saat ini aku tidak punya apa-apa lagi selain mobil yang tadi kupakai. Semua benar-benar sudah habis. Aku berada di titik nol. Entah bagaimana hidupku ke depan nantinya. Kepalaku semakin pusing memikirkan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2