GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
39. Yasmin Bertemu Ayah dan Ibu


__ADS_3

Baru hendak pergi, langkah Yasmin dan ayahnya tertahan sebab kedatangan ayah dan ibu. Aku langsung memperkenalkan Yasmin pada kedua orang tuaku.


"Ayah, ibu ... ini Yasmin dan pak Bimo, ayahnya." kataku.


Reaksi ibu pertama kali melihat Yasmin, langsung memeluknya, seperti seorang ibu yang sudah lama tidak bertemu dengan putrinya.


"Ibu selalu berdoa, bisa segera bertemu denganmu, nak. Akhirnya kita bisa bertemu!" ungkap ibu dengan penuh haru. "Kau ternyata jauh lebih cantik dari yang kubayangkan. Hatimu juga pasti lebih cantik lagi. Aku sampai terpesona padamu."


"Terimakasih ibu," Yasmin tersenyum malu.


"Maafkan kami ya nak, sebab musibah ini, rencana baik kita harus tertunda. Ibu harap kau mau menanti hingga kasus ini selesai. Percayalah, Qret tidak bersalah. Ibu selalu bersamanya. Ibu tahu ia melakukan apa saja. Qret sudah berubah. Ia benar-benar ingin menjadi orang baik." kata ibu.


"Iya Bu, Yasmin percaya." kata gadis yang memiliki wajah teduh itu.


Dari lisan ibu langsung mengalir cerita tentang kejadian malam penangkapan kami. Bagaimana kami kebingungan, sebab barang haram itu ada di dalam rumah.


"Ibu pasti sangat bingung saat kejadian itu?" Yasmin mengusap pekan punggung tangan ibu.


Ketika ibu dan Yasmin saling berpegangan tangan seperti saling menguatkan, sedangkan ayah dan ayahnya Yasmin saling berbincang akrab layaknya sahabat dekat, ini sebuah pemandangan yang sangat indah di mataku. Saat orang-orang yang aku sayang pun dekat dan terlihat jelas saling menyayangi.


"Entah siapa yang tega memfitnah kami. Padahal kami baru kehilangan rumah. Qret juga harus memulai dari nol dengan bekerja sebagai seorang manager di bengkel. Tapi semua kami jalani dengan ikhlas untuk meraih Ridha Allah." kataku.


"Semoga permasalahan ini segera menemukan titik terangnya, ya, bu." ungkap Yasmin dengan mata berkaca-kaca.


Ada kesedihan yang tertangkap jelas dari sepasang mata Yasmin. Apalagi setelah ia bertemu dengan ibu. Dia perempuan yang sangat berarti bagiku itu berusaha saling menguatkan.


"Lalu sekarang ibu tinggal di mana?" tanya Yasmin.


"Ibu dan ayahnya Qret tinggal di rumah lama kami untuk sementara waktu sebab rumah yang kami tempati bersama Qret sedang dalam penyidikan." ucap ibu.

__ADS_1


"Bu, Yasmin mengerti, ibu pasti sangat sedih sekali. Tapi Yasmin harap ibu tetap bersemangat, jaga kesehatan agar bisa terus mendoakan mas Qret." ucap Yasmin.


"Lalu bagaimana dengan rencana lamaran kalian?" ibu menatap Yasmin dan ayahnya bergantian. Terlihat ada kekhawatiran terpancar dari sepasang mata perempuan yang telah melahirkanku.


Siapa yang tidak khawatir, dengan imej sebagai orang yang diduga pengedar, tentulah menjadi momok buruk di lingkungan masyarakat sekarang.


Ada rasa sedih melihat ibu seperti ini. Padahal aku sudah berjanji akan membuat ibu bahagia. Dulu, mengapa aku berusaha memisahkan ibu dari ayah sebab kulihat ibu sangat tertekan sekali. Resah dan sedih dengan teror dari istri sah ayah, tetapi setelah denganku, ibupun harus merasakan hal yang sama.


Apakah ini pertanda aku telah gagal?


Bagaimana aku bisa meraih surga jika jalan untuk mendapatkannya saja tidak bisa ku bahagiakan.


"Pak, Yas ... kalian tidak akan membatalkannya, kan?" tanya ibu dengan nada cemas.


"Bu," ayah memegang pundak ibu, untuk mengurangi sedikit rasa cemasnya. Namun ibu masih terlihat sedih.


Ujung kerudung ibu yang sedikit berantakan terlihat makin lusuh karena terus dipilin-pilin oleh ibu.


"Tentu saja tidak, pak, bu. Yasmin dan Qret insyaAllah akan tetap menikah. Kami memang sedih dengan ujian yang menimpa Qret, tapi itu tidak akan merubah keputusan kami untuk menyatukan mereka berdua.


Penilaian kami untuk Qret masih sama seperti dulu dan Yasmin juga sudah memutuskan untuk bersabar menanti hingga Qret bebas." kini giliran pak Bimo yang menjelaskan.


"Alhamdulillah. Syukurlah." ucap ayah dan ibu bersamaan.


"Segala hal tentang lamaran dan rencana pernikahan, nanti saja kita bicarakan. Yang penting kita sama-sama komitmen untuk fokus pada masalah ini dulu. Saya dan Yasmin selalu berdoa agar Qret sabar melalui semuanya dan segera jelas apa yang sebenarnya terjadi." doa pak Bimo.


"Terimakasih banyak pak, nak Yasmin." ayah mengungkapkan rasa terima kasih mewakili aku dan ibu atas kebesaran hati Yasmin dan ayahnya.


Meskipun masalah ini belum selesai, setidaknya aku lega. Yasmin dan ayahnya tidak berubah sedikitpun. Mereka mau memahami keadaanku yang saat ini sedang menjadi pesakitan.

__ADS_1


Ayah dan ibupun jadi agak lega karena ketakutan mereka tidak terwujud.


Walaupun begitu, aku tidak bisa berpangku tangan, pasrah tanpa usaha. Aku harus segera menemukan cara terbaik agar bisa bebas dari penjara. Tapi entah bagaimana caranya membuktikan bahwa itu bukan barangku.


"Qret, sudah ada kabar dari pengacara?" tanya ayah, padaku.


"Tadi sudah ada penyidikan lanjutan. Qret didampingi pengacara. Tetapi hingga sekarang belum ada kabar lanjutan. Qret hanya diminta menunggu." kataku.


"Apa tidak sebaiknya kita tambah pengacaranya, Qret?" ayah menjelaskan padaku pentingnya punya pengacara yang sudah lihai berurusan dengan hukum. Pengacara yang sepak terjangnya tidak perlu lagi diragukan. "Ayah Carikan pengacara baru, ya?" usul ayah.


"Benar kata ayahmu, Qret. Jangan hanya terpaku pada satu pengacara saja. Apalagi yang menyediakan pengacara itu ...." kata-kata ibu terhenti oleh isyaratku.


"Bu," panggilku. "Qret akan pikirkan semuanya, yah. Beri Qret waktu." pintaku.


"Berapa lama lagi kamu harus menunggu, Qret? Ibu tidak tahan melihatnya di penjara untuk kesalahan yang tidak kamu lakukan sama sekali. Kamu tahu, kan, Qret, berapa lama hukuman untuk pemilik ganja sebesar dua kilogram?" ibu kembali berapi-api.


"Qret mengerti, Bu. Qret hanya berusaha agar tidak salah langkah." ucapku.


"Kalau begitu percayakan semua pada ayahmu. Ia punya koneksi dengan beberapa petinggi polisi dan juga punya kenalan pengacara yang hebat. Ayah dan ibu sudah berdiskusi. Sungguh Qret, ibu tidak bisa tenang karenanya." kata ibu.


"Bu," Aku menggeleng lemah. "Ibu doakan Qret ya."


"Doa dan seluruh hidup ibu akan ibu berikan untukmu, nak." Akhirnya air mata ibu pecah. Mungkin karena terlalu sedih membayangkan nasibku kedepannya.


"Qret, kali ini menuturkan, ya. Demi ibumu, kasihan ia. Sejak keluar dari penjara tidak mau makan dan istirahat. Hanya menangis. Lihatlah mata ibumu yang bengkak serta wajahnya yang tampak lesyi." ucapku ayah.


Sepasang mata ibu memang sangat bengkak sebab menangis semalaman. Tampak juga ibu begitu lelah. Sangat berbeda dari biasanya. Tetapi ibu tetap berusaha kuat agar tidak menambah beban pikiranku.


"Baiklah yah, Qret bersedia." kataku. Demi menghilangkan resah di hati ibu. Walaupun sebenarnya agak tidak nyaman sebab paman Rudi sudah menyediakan seorang pengacara untukku.

__ADS_1


"Alhamdulillah." ucap ayah, ibu, pak Bimo dan Yasmin secara bersamaan.


Aku berharap semoga tidak ada kesalahpahaman yang timbul nantinya. Tetapi benar yang dikatakan ibu, aku butuh pengacara hebat yang bisa mengungkapkan ini semua.


__ADS_2