
"Kau lihat?" aku hampir memekik kegirangan karena bisa membuktikan pada Deni bahwa Riana memang benar-benar punya perasaan pada Deni. "Kalau dia tidak menyukaimu, Riana tidak akan mungkin pergi dengan mata berkaca-kaca seperti tadi." ungkapku lagi. Dengan rasa bangga atas kebenaran pembuktianku.
"Lalu sekarang harus bagaimana, Qret?" tanya Deni. Ada semut merah di wajahnya yang terlihat cool.
"Ya ampun Den, kau polos sekali. Ya kejar dia. Bicara pada paman Rudi seperti yang sudah kukatakan."
"Berarti tidak perlu bicara pada Riana?"
"Kalau kau tabah mendengar omelannya, ya silahkan. Tapi jika kau ingin semua jelas, menjadi terang maka bicara pada paman Rudi!"
"Baiklah." tanpa harus mendapatkan aba-aba kedua kalinya, Deni langsung berlari kecil ke rumah Riana.
"Den, jangan lupa kabari aku!" pekikku lagi. Dari jauh Deni hanya mengacungkan ibu jarinya.
Kini aku dapat melenggang dengan santai menuju rumah sambil tersenyum. Rasanya tidak sabar menunggu berita dari Deni bahwa mereka akan segera menikah. Ku harap semua lancar.
***
[Qret,] sebuah pesan dari Deni masuk.
Aku yang semula sudah bersiap untuk istirahat lebih awal kembali membuka mata dan seketika kantukku hilang. Akhirnya Deni mengabari juga, setelah kutunggu dari siang.
[Bagaimana?] tanyaku.
[Pak Rudi sebenarnya tidak keberatan, tapi ada syarat yang harus aku penuhi sebelum mempersunting Riana.]
[Syarat apa?]
[Ia ingin aku bisa menghafal Qur'an awal dan akhir sebagai bekal sebagai imam untuk Riana.]
Hah? Aku hampir melompat membaca pesan yang baru dikirimkan oleh Deni. Syarat yang diajukan paman Rudi benar-benar berat bagi kami yang masih buta dengan ilmu agama.
Aku dan Deni sama-sama baru belajar, kami tidak punya pegangan apapun. Semua benar-benar dimulai dari awal. Jika paman ingin Deni menghafal awal dan akhir Al-Qur'an, pasti akan memakan waktu lama meskipun Deni tergolong cerdas.
[Apa tidak ada jalan lain?] tanyaku lagi.
[Tidak. Itu adalah syarat mutlak.] jawab Deni.
__ADS_1
[Ya Tuhan ... apa perlu aku bantu bicara dengan paman?]
[Tidak usah Qret. Aku akan mencoba memenuhi syarat itu. Tapi aku juga ingin pamit, Qret.]
[Pamit kemana?]
[Aku akan belajar secara privat dengan Heri. Maafkan aku Qret, mungkin tidak bisa membantu di kedai dalam beberapa waktu ke depan. Aku sudah mencarikan pengganti, ku harap mereka bisa membantumu, Qret.]
[Baiklah Den. Semoga perjuanganmu membuahkan hasil.]
Aku mematikan hp. Mencoba memejamkan mata, tetapi sulit sekali rasanya sebab membayangkan beban yang harus ditanggung oleh Deni.
Mengapa paman Rudi jadi seribet ini? Iya, memang benar bahwa Riana adalah tanggung jawab paman. Sebagai seorang ayah ia berhak menentukan siapa yang akan menjadi menantunya termasuk kriteria yang ia harapkan. Tetapi haruskah seberat itu?
Paman harusnya tahu sekali bagaimana Deni. Kami sama-sama pernah di dunia hitam. Sama-sama baru hijrah. Rasanya tidak adil sekali.
Dengan memberikan syarat seperti itu, sama saja memperlama pernikahan putrinya. Bukankah sebaiknya rencana yang baik dipermudah. Tetapi balik lagi, itu hak paman.
***
"Iya Bu," jawabku. Sambil menarik nafas panjang, melihat pantulan bayangan seorang pria berusia tiga puluh tahun dengan wajah putih dan sedikit jenggot tipis di dagu.
Orang-orang bilang, wajahku tergolong tampan, apalagi kalau sudah tersenyum. Banyak perempuan yang mencoba mendekati tetapi tidak ada satupun yang kuladeni, selain karena mereka memiliki latar belakang dalam tanda kutip, juga terlalu lebay.
Aku memang tidak suka perempuan dengan penampilan menor yang gampang berhahahihi dengan lelaki lain. Bagiku, perempuan adalah makhluk yang harus dihormati. Mereka adalah sebuah kehormatan yang harus dijaga sebaik mungkin. Makanya, aku selalu menjauh dari gadis-gadis itu hingga terdengar rumor bahwa aku tidak normal. Padahal tidak begitu, buktinya sekarang aku benar-benar merasakan tergila-gila pada perempuan bernama Yasmin Andriani Shalihah.
"Qret!" ibu mengulang panggilannya.
"Iya Bu, Qret segera turun." sebelum ibu kembali menggedor pintu hingga jebol, kuputuskan segera keluar, setelah yakin baju Koko dan celana hitam katun yang kupakai sudah rapi.
Di ruang tamu sudah menunggu; ayah, ibu dan paman Rudi. Kedua orang lelaki yang kuanggap seperti ayah memakai baju Koko, sementara ibu pakai gamis panjang.
"Ayo kita berangkat!" kataku. Sebenarnya agak grogi, membayangkan akan bertemu dengan Yasmin, lalu status kami naik menjadi sepasang tunangan. Tapi aku mencoba bersikap biasa.
"Aduh maaf, aku belum terlambat, kan?" tiba-tiba seorang gadis berkerudung biru muda dengan gamis bernada sama dilengkapi motif bunga-bunga berlari menghampiri kami sambil ngos-ngosan.
"Riana?" kata kami bersamaan.
__ADS_1
"MasyaAllah putriku, kamu cantik sekali!" puji ibu.
"Masa?" Riana tersenyum bangga. "Tapi ini panas sekali, rasanya kecekik!" ungkap Riana, sambil menunjukkan peniti kecil di leher.
"Eh eh eh, jangan dilepas. Kamu sudah cantik pakai hijab seperti ini nak." ungkap ibu, sambil menjauhkan tangan Riana dari kerudungnya.
"Tapi panas sekali," keluh Riana.
"Sebentar saja. Nanti lama-lama juga terbiasa." ungkap ibu.
"Benar Riana, kau cantik sekali. Persis ibu-ibu." aku meledek Riana.
"Qret!" ibu memasang wajah marah.
"Tuh kan?" Riana langsung menekuk wajahnya.
"Maaf Bu, cuma becanda. Riana bagus kok kalau pakai kerudung." aku mengacungkan ibu jari.
Usai meledek Riana, kami semua naik ke atas mobil, bersiap menuju rumah Yasmin.
Akhir pekan, jalanan selalu padat. Orang-orang keluar rumah untuk menghabiskan waktu usai lelah dengan aktifitas di hari Senin hingga Jumat.
"Qret, yakin tidak ada yang tertinggal?" tanya ibu, saat kamu berhenti di tempat biasa kau memarkir mobil jika ingin berkunjung ke rumah Riana. "Qret!" panggil ibu lagi.
"Qret, kau tidak apa-apa, nak?" paman Rudi yang duduk di sebelah tempat dudukku menepuk pelan pundakku.
"Hah? Kenapa paman?" tanyaku.
"Qret, kau melamun?" tanya Riana. "Oh, aku mengerti, kau grogi ya karena mau lamaran?" ungkap Riana. Ia tersenyum jahil, merasa dapat bahan untuk membalas olokanku tadi.
"Tidak, aku hanya ...." aku tidak melanjutkan pembicaraan sebab empat pasang mata itu menatapku.
"Hahaha," tawa Riana yang pecah duluan. "Mukamu kenapa jadi seperti tomat begitu?" ungkap Riana.
"Siapa yang kayak tomat? Tampan gini!" aku melihat dari kaca spion. Tampaklah wajahku memerah. Ya, tidak bisa aku pungkiri bahwa saat ini benar-benar grogi. Padahal biasanya aku selalu santai bertemu dengan gadis itu. "Apakah ini normal?" tanyaku.
Semua yang ada di mobil mengangguk, sambil memberiku semangat, kecuali Riana. Ia terus saja meledek hingga aku benar-benar tidak bisa bergerak karena kaku. Awas saja nanti, akan ku balas ia.
__ADS_1