GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
104. Gagal Kemping


__ADS_3

Usai berbincang dengan Riana, Yasmin kembali mendekat, ia memberikan gelas berisi kopi padaku yang diraciknya sendiri, dari kopi hitam dengan gula aren yang menambah cita rasa kenikmatan kopinya. Kami berdua menyeruput kopi, ditemani dengan ubi rebus. Rasanya semakin nikmat.


Untuk acara kemah dadakan malam ini memang kami siapkan semaksimal mungkin sebab kamu berdua benar-benar ingin merasakan bagaimana rasanya tidur di kemah. Saat kecil kamu berdua sama-sama belum pernah ikut kegiatan kemping atau sejenisnya. Sebab masa kecil kami tidak sebaik anak-anak seusia kami kebanyakan.


"Yakin mau tidur di luar? Dingin sekali lho." kata ibu.


"Biarkan saja Bu, biar Qret dan Yasmin melakukan apapun yang mereka inginkan. Anggap saja balas dendam pada masa kecilnya."


Meskipun ayah dan ibu menganggap kelakuan kami aneh, tapi mereka tidak melarang. Justru ibu menyiapkan makanan dan minuman untuk kami agar tidak bosan berada di luar rumah.


"Kami keluar dulu ya, Bu ... ayah." Kata Yasmin, setelah aku memberitahu bahwa kemah yang kami beli dadakan sudah terpasang.


"Bagaimana menurut kamu?" Tanyaku pada Yasmin.


"Bagus, kerjaan mas rapi juga." puji Yasmin.


Untuk menambah hikmat acara kemping malam ini, kami membuat api unggun dari kompor kecil milik ibu yang dibiarkan terus menyala sebagai penerangan sebab lampu teras sengaja kami nyalakan .


"Yas," aku mendekat ke arah Yasmin.


"Hm," jawab Yasmin yang tengah menggosok-gosok tangannya di atas kompor kecil agar hangat.


"Dingin sekali."


"Iya,"


"Kamu kuat tidur di udara dingin seperti ini?" tanyaku lagi pada Yasmin mengingat sejak kami menikah Yasmin selalu menunjukkan ketidak sukaanku kalau aku memasang AC terlalu dingin. Ia akan membalut seluruh tubuhnya dengan selimut berlapis-lapis.


"Kita coba saja." kata Yasmin.


"Tapi makin lama udaranya makin dingin ya." kataku.


Hachim. Secara bersamaan kamu bersin berkali-kali. Sahut menyahut. Mungkin karena udara yang begitu dingin. Padahal sudah pakai jaket dan juga sarung, tapi tetap saja udaranya dingin.


"Yas, dingin sekali Ya," kataku.


"Iya mas." gigi Yasmin sampai terdengar bergetar.


"Kamu sudah pakai berapa kampus lainnya?"

__ADS_1


"Tiga. Ditambah jaket juga."


"Tidur di dalam saja yuk," ajakku.


"Ayuk!" sambut Yasmin. Kami berdua langsung lari ke dalam rumah bersamaan.


"Lho, Qret ... Yasmin. Kalian tidak jadi kemping? Katanya mau nyobain tidur di kemah?" tanya ibu yang hendak pergi tidur.


"Lain kali saja Bu, di luar dingin sekali." kataku, sambil berlalu ke kamar diikuti Yaamin. Sementara ibu tertawa melihat tingkah kami yang seperti anak kecil.


"Kan sudah ibu bilang, di sini dingin sekali." ungkap ibu dari luar kamar.


"Nah, di sini baru nyaman." kataku, dari balik selimut.


"Iya, hangat." ucap Yasmin.


"Berarti kita tidak jadi kemping nih?"


"Lain kali saja ya. Dingin sekali, aku tidak sanggup."


"Memang kalau lain kali enggak dingin?"


"Enggak tahu."


Yasmin sudah tidak menjawab panggilanku. Dari sebelah terdengar suara nafas yang teratur. Rupanya ia sudah tidur lelap. Aku tersenyum, memandang wajah Yasmin yang begitu teduh.


"Beban hidupmu pasti juga tidak kalah berat dariku, Yas. Makanya tidak pernah merasakan kesenangan di masa muda. Tapi tenang saja Yas, aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu. Sabar ya Yas!" kataku, sambil mengecup pelan keningnya.


***


Andai Yasmin tidak membangunkanku, mungkin sudah terlambat bangun salat Subuh sebab begitu ngantuk. Padahal ada alarm juga yang berbunyi nyaring tidak jauh dari tempat tidurku. Udara dingin di puncak sukses membuatku lelap dalam tidur.


"Mas sudah ditunggu ayah, lho." kata Yasmin lagi.


"Oh ya." aku menggeliat, lalu berlalu menuju kamar mandi di luar kamar.


Benar apa kata Yasmin, ayah sudah menanti di ruang tamu agar berangkat ke masjid sama-sama, aku lalu bergegas mengambil wudhu di kamar mandi. Baru saja memegang air, aku langsung bergidik, dingin sekali hingga membuat kantukku hilang seketika. Kalau begini mana kuat mandi.


"Brrrrrr," aku menuju kamar untuk berganti pakaian salat, Yasmin sedang asyik dalam zikirnya. "Yas, dingin sekali!" kataku.

__ADS_1


"Mas loncat-loncat, supaya enggak dingin." kata Yasmin.


Aku langsung menghampiri ayah, kami berdua menuju masjid yang letaknya tidak terlalu jauh, ada di lingkungan pesantren.


Udara yang dingin di pagi hari adalah ujian untuk para pejuang Subuh. Setan akan berbisik agar jangan bangkit dari tidur, tapi menarik selimut dan melanjutkan tidur.


Hanya saja bagi orang-orang yang sengaja meninggalkan salat maka akan mendapatkan ganjaran berat dari Allah. Nauzubillah.


***


Aku dan ayah sedang menikmati matahari pagi di depan rumah sambil menyiramnya tanaman. Tiba-tiba Yasmin memanggil untuk sarapan.


Baru masuk ke dalam rumah, sudah tercium aroma Ikan asin yang sukses membuat perutku keroncongan. Di meja terhidang ikan asing, lalapan, sambal tomat, juga telur mata sapi. Sajian sederhana tapi membuat kami makan sampai tambah berkali-kali.


"Enak sekali, Bu. Masakan ibu dan Yasmin memang tiada duanya." kataku, sambil mengacungkan ibu jari.


"Kalau gitu tambah lagi Qret," ibu menyodorkan tempat nasi ke hadapanku.


"Sudah Bu. Qret sudah kenyang." kataku.


"Katanya masakan ibu enak?" ungkap ibu.


"Tapi Qret sudah tambah sampai empat kali. Kalau tambah lagi perutnya sudah tidak muat. Kan makan tidak boleh berlebihan juga, Bu." aku mendorong tempat nasi ke tengah-tengah.


Selesai makan, kami berempat duduk-duduk di taman belakang sambil menikmati matahari terbit. Rasanya nikmat sekali saat sinar matahari menusuk kulit. Seperti dipijit-pijit. MasyaAllah.


Sedang berbincang-bincang, Hp milikku kembali berbunyi. Panggilan dari Riana lagi. Langsung saja kuberikan pada Yasmin sebab aku tahu Riana menghubungi aku karena tidak bisa menghubungi Yasmin. Hpnya memang ia simpan di dalam tas. Yasmin adalah jenis orang yang jarang memegang hp.


Yasmin sedikit menggeser duduknya, ia menjawab telepon dari Riana. Lalu tidak lama memberikan telepon pada ibu. Kemudian setelah berbincang, ibu mematikan panggilan.


"Mau apa Riana pagi-pagi sudah mengganggu?" kataku.


"Dia nanya bumbu." jawab ibu.


"Hah? Dia mau masak? Ibu tidak bilang siapa ia beli makanan di luar saja? Kalau dia masak bisa-bisa paman Rudi keracunan." kataku.


"Qret," ibu melirikku. Tidak suka dengan caraku mengolok Riana.


"Qret serius Bu. Riana itu tidak bisa memasak. Ia hanya akan membuat masalah saja." kataku lagi.

__ADS_1


"Mas, Riana sudah belajar dengan ibu, sedikit banyak pasti sudah bisa." Yasmin membela.


"Iya deh, yang selalu membela sahabatnya." kataku. Sebuah cubitan di layangkan Yasmin ke pinggangku.


__ADS_2