GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
72. Jamm Sianak Istimewa


__ADS_3

"Awas kau Riana!" aku bersiap mengejar Riana, hendak membalasnya karena pukulannya benar-benar sakit. Pantas sekali ia dapat sabuk hitam.


Tiga kantong barang belanjaan yang ada di tangan membuatku kesulitan mengejarnya yang melesat dengan cepat sebab tidak punya beban apapun. Ia hanya tertawa sambil.mengejekku yang terlihat kepayahan.


"Kau benar-benar sudah tua, ya Qret. Mengejarku saja kau sudah tidak mampu!" tawa Riana lepas. Ia kembali berlari dengan cepatnya.


"Hei, awas kau bocah nakal!" aku bersusah petahana mengerjarnya.


"Yeyeye!" seorang pemuda yang lebih pendek dariku bertepuk tangan sambil melompat-lompat kecil melihat ulahku dan Riana. Ia berdiri tepat di depan rumah.


"Aneh sekali. Kenapa ia melompat-lomoat seperti anak kecil, padahal ia sudah dewasa," celetuk Riana.


"Aneh?" aku menatap Riana sekilas, lalu beralih pada anak itu. Dengan refleks aku berlari ke arahnya, melepaskan tiga kantong belanjaan yang semenjak awal begitu kujaga layaknya harta Karun berharga.


Tepat di depan anak itu, aku berhenti sejenak, kemudian memeluknya erat. Perasaanku saat ini, seperti bertemu kembali dengan seseorang yang sangat kita sayangi setelah lama tidak bertemu.


Anehnya, anak itu juga membalas pelukanku. Ia bahkan menepuk-nepuk pundakku yang lebih tinggi darinya.


"Qret," panggil Riana.


"Jamm, ia Jamm!" pekikku.


"Jamm siapa?" Riana mengerutkan dahinya.


"Jamm ya Jamm." sahut anak itu sambil bertepuk tangan.


"Ya, aku ingat. Anak ini ... anak aneh yang duduk di kursi belakang." tiba-tiba Riana menunjuknya. "Hah, kau anak ibu itu, kan?" tanya Riana.


Jamm tidak menjawab pertanyaan Riana, ia hanya tersenyum sambil kembali bertepuk tangan dengan begitu senangnya.


"Jamm!" aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan anak ini secepat ini. Sianak istimewa yang sudah menyelamatkan diriku. "Ayah ... ibu!" aku memekik, memanggil kedua orang tuaku.

__ADS_1


"Hai Qret, kau kan melarangku berteriak-teriak kalau memanggil orang tua. Tapi kenapa sekarang kau yang berteriak seperti itu?" tanya Riana.


"Aku tahu ... maaf, aku salah. Tapi aku terlalu senang!" jawabku penuh dengan keharuan. "Ayah ... ibu!" kembali aku mengulang memanggil ayah dan ibu hingga membuat Riana geleng-geleng kepala.


"Ada apa Qret?" ayah dan ibu keluar bersamaan, menyongsong panggilanku.


"Lihat ini, lihat siapa yang datang!" aku menunjuk ke arah Jamm.


"Siapa?" tanya ayah, sambil menoleh pada seseorang yang kubelakangi. "Jamm," panggil ayah. Lalu bergegas mendekati Jamm dan membawanya dalam pelukan.


"Papa." panggil Jamm. Ia memeluk ayah, lalu menepuk punggung ayah seperti saat kupeluk tadi.


"Jamm?" ibu menatap tidak percaya, sambil menutup mulut dengan kedua tangan. "Dimana kamu menemukan, Jamm?" tanya ibu padaku.


"Di depan sini. Saat aku dan Riana baru pulang dari pasar, ia sudah berdiri di sini." aku menunjuk tempat Jamm berdiri.


"Oh Jamm," ayah masih belum melepaskan pelukannya. "Papa sangat rindu kamu, nak!" ungkap ayah dengan sangat antusias.


"Siapa yang membawamu ke sini? Jimmi mana?" tanya ayah.


Lagi-lagi Jamm tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil mengacungkan ibu jari. Seolah mengatakan ia tidak apa-apa. Tetapi membuat kami semua bertanya-tanya, kenapa Jamm bisa sampai di sini mengingat jarak antara rumah kami dengan rumah Jamm sangat jauh sekali dan rasanya mustahil bisa ditempuh oleh Jamm sendirian tanpa ada teman sebab Jamm anak istimewa.


"Sudah, lebih baik bicara di dalam. Ayo bawa Jamm ke dalam." ajak ibu.


Ayah segera membimbing Jamm ke dalam, sementara; aku, ibu dan Riana mengikuti dari belakang.


Sampai di dalam rumah, ayah langsung mengajak Jamm duduk di ruang tamu, sementara ibu segera ke belakang untuk membuatkan Jamm minuman.


"Kau pasti kehausan, ayo minum." ibu menyodorkan air dingin ke hadapan Jamm, dalam hitungan detik, anak itu sudah mengosongkan gelasnya.


"Jamm, siapa yang membawamu ke sini?" tanyaku. Anak itu diam sebentar, lalu ia menunjuk wajahku. "Aku? Tidak Jamm. Aku tidak membawamu ke sini. Aku hanya menemukanmu di halaman depan." ungkapku.

__ADS_1


"Jamm," panggil ayah. Ia mengusap kepala Jamm. Anak ibtu diam sejenak. Entah mengapa ayah meneteskan air mata melihat Jamm. "Papa rindu Jamm." ucap ayah. "Apa Jamm rindu papa?" tanya ayah lagi.


"Jamm, papa!" Jamm menautkan jarinya dengan jari papa. Lalu ia mengacungkan ibu jarinya.


"Terimakasih Jamm. Papa sangat sayang Jamm!" ungkap ayah. Mereka mulai berbincang dengan segala keterbatasan pada diri Jamm.


Aku dapat melihat cinta yang begitu besar di dalam diri ayah untuk Jamm. Ibu memang pernah mengungkapkan bagaimana ayah begitu menyayangi Jamm. Itulah mengapa ayah pernah melepaskan ibu, demi Jamm. Tapi ternyata kebersamaan dengan Bu Rani tetao tidak bisa memberikan sesuatu yang baik untuk Jamm.


Sikap Bu Rani tidak pernah baik pada Jamm. Selalu menganggap Jamm sebagai sebuah masalah yang memalukan namanya ataupun nama keluarga besar.


Itulah mengapa Jamm diletakkan di bagian belakang rumah besar mereka. Setiap ada yang datang, Jamm tidak boleh keluar. Butuh waktu lama hingga akhirnya Jamm bebas berkeliaran di seluruh rumah.


Padahal, anak istimewa itu adalah sebuah anugerah untuk orang tuanya. Andai dirawat dengan penuh kasih sayang maka akan menjadi jalan pahala dan akan memberikan. Syafaat untuk orang tuanya kelak.


Tidak ada yang memalukan dari anak tersebut. Mereka lahir dan tumbuh tanpa dosa. Hati mereka pun sangatlah bersih.


"Jamm, makan ya!" ibu datang membawa semangkuk bubur ayam hangat dan segelas jus alpukat.


Jamm buru-buru mengambil gelas jus, sebelum meminumnya, ia memberikan isyarat pada ibu sebagai bentuk permohonan izin. Setelah ibu mengangguk, batu Jamm meminumnya.


Perlahan, ibu menyuapi Jamm bubur. Jamm memang tidak bisa memakan makanan dengan tekstur keras, ia harus makan bubur dan jus sebab pencernaan Jamm tidak sebaik yang lainnya. Ia punya masalah pencernaan sejak lahir.


Rupanya ibu sudah banyak tahu tentang Jamm sebab ayah sering membicarakan Jamm. Meski baru bertemu beberapa kali, tetapi aku bisa melihat bahwa ibupun sangat menyayangi Jamm. Ia memang manis sekali, dengan keistimewaan yang Allah berikan padanya.


"Jamm lapar, ya?" tanya ibu. Jamm mengangguk sambil mengusap perutnya. "Makan yang banyak agar Jamm kuat dan sehat." ungkap ibu.


"Terimakasih Rahayu," ungkap ayah pada ibu dengan mata berkaca-kaca, sambil mengusap kepala ibu dengan penuh cinta.


"Aku menyayangi semua yang kau sayangi." jawab ibu.


"Oh Tuhan, ini benar-benar romantis sekali, meskipun banyak bawang di sini." ungkap Riana.

__ADS_1


Ayah dan ibu tertawa mendengar pengakuan Riana, tapi Jamm segera menarik tangan ibu, agar segera menyuapinya. Rupanya anak ini suka dengan bubur buatan ibu.


__ADS_2