GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
166. Samsak Kemarahan Ibu


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Jasmin beradu mulut dengan ibunya, Yasmin. Kalau tidak ingat i i salah rumah sakit dan ayahnya sedang terbaring tidak sadarkan diri, mungkin ia sudah memilih untuk segera pergi meninggalkan ruangan ini agar ibunya tidak lagi marah-marah.


"Apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu untuk ayahmu selain membuat ibu pusing, Jas?" tanya Yasmin, pada putrinya.


"Ibu kenapa, sih? Selalu saja aku yang disalahin?" Jasmin sudah tidak kuat, ia tak ingin kemarahannya pecah, segera ditinggalkan ruangan tersebut untuk meredam emosi. Sampai di luar siapa sangka ia bertemu dengan kakek dan nenek yang baru datang dari Bogor.


"Ada apa, Jas. Kenapa menangis?" tanya nenek.


Bertiga mereka menuju taman rumah sakit. Lalu Jasmin menceritakan apa yang terjadi pada orang tua ayahnya sebab ia merasakan sudah tidak tahan. Jasmin takut pada akhirnya hanya akan menjadi masalah yang besar.


"Jasmin, boleh nenek bercerita tentang tiga milliar? Sesuatu hal yang menyebabkan ayah dan ibumu bisa bertemu?" tanya nenek.


"Boleh, nek." kata Jasmin.


"Ayah dan ibumu itu dulu adalah dua orang yang berbeda dalam segala hal. Ibumu adalah perempuan Solehah yang sudah mencuri hati ayahmu. Sedangkan Qret, adalah seorang ketua gengster. Yasmin yang membuat Qret bertekad hijrah. Ia juga yang menjadi jembatan penghubung kembali kami dengan ayahmu.


Begitu luar biasanya Yasmin bagi kami. Ia adalah seseorang yang sangat kamu sayangi. Tetapi semua berubah saat kecelakaan itu terjadi. Ketika ia akhirnya kehilangan calon anak pertama mereka.


Jasmin berubah jadi labil. Emosinya kadang naik turun. Ia juga sering merasa tidak percaya diri. Mungkin karena beberapa waktu Yasmin tak bisa berjalan. Juga faktor masa lalu, Jasmin. Semua saling berkaitan, menambah rumit kisah hidup mereka.


Tetapi Qret memilih tetap setia sebab apa yang sudah dilakukan Yasmin padanya sebelumnya membuat Qret begitu mencintai Yasmin. Ia merasa, kini waktunya ialah yang berjuang untuk Yasmin.


Untuk mengobati Yasmin, Qret rela berhutang pada seorang rentenir yang akhirnya membuta mereka kehilangan kedai yang jadi sumberdaya rezeki mereka. Pertengkaran semakin sering terjadi. Emosi Yasmin kembali labil, tetapi Qret dengan sabar menghadapi hingga akhirnya kamu hadir dalam kehidupan mereka.


Tetapi itu belum akhirnya, Yasmin mengalami baby blues. Qret sempat kesulitan menghandle kalian berdua, apalagi saat bayi kamu harus dirawat di rumah sakit karena kuning. Sejak itu kami menyadari ada yang salah dengan Yasmin. Ia jadi labil. Sering marah atau bahkan berbuat tidak adil padamu, putri kandungnya sendiri.


Tetapi kami sangat yakin bahwa sebenarnya Yasmin sangat mencintaimu. Ia hanya kesulitan saja mengontrol emosinya. Ia belum mendapatkan momen yang kada akhirnya bisa mencintaimu seutuhnya, nak.

__ADS_1


Penyakit psikologis yang diderita Yasmin ini tergolong langka. Tetapi yakinlah, kalau kau sabar maka kau akan mendapatkan kembali ibu yang begitu kau rindukan.


Jasmin, saat ini Yasmin berada dalam posisi labil. Ia pasti gamang dengan ayahmu yang seperti itu. Bagi Yasmin, Qret adalah separuh hidupnya. Ia menyalahkan kamu karena ia sudah bingung di tambah takut, terjadi sesuatu pada Qret.


Kau bisa kan bantu kami? Jadilah teman setia untuk ibumu. Dengarkan keluh kesahnya. Apa yang dilakukan oleh Yasmin, terkadang bukan sesuatu hal yang benar-benar ingin ia lakukan. Percayalah, hatinya sebenarnya sangat lembut. Tapi Yasmin sedang berada dalam titik terendahnya." ungkap Nenek.


"Nenek, aku tidak tahu kalau ibu sedang sakit. Aku menyesal sudah menganggap ibu tidak adik. Aku berharap bisa memperbaiki hubungan dengan ibu." ungkap Jasmin pada ibunya. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?"


"Kau hanya perlu melakukan sesuatu hal yang membuatnya nyaman." kata nenek.


"Baiklah " Jawab Jasmin.


Usai berbincang-bincang, mereka bertiga kembali ke kamar Qret..tidak ada lagi air mata di wajah Jasmin, ia berusaha tetap tersenyum meskipun terkadang ibunya membuat jengkel.


***


"Coba Jasmin lihat, Bu." Jasmin mengambilnya dari tangan ibunya. Lalu ia menotal jumlah tagihan rumah sakit.


"Ayah dan ibu sudah tidak punya tabungan sebab habis untuk membayar uang pendaftaran sekolahmu. Pemasukan juga tidak ada sebab sekarang ibu dan ayah tidak berjualan roti lagi."


"Ibu tenang saja. Biar semua ini Jasmin yang urus."


"Memang kamu mau melakukan apa, Jas?"


"Jasmin akan jualan kecil-kecilan supaya bisa membayar biaya perawatan ayah."


"Bagaimana mungkin, bisa. Kamu kan juga harus sekolah."

__ADS_1


"Rotinya bisa Jasmin titipkan di kantin atau toko-toko.


Tampak Yasmin begitu berat dengan ide putrinya, tetapi ia tidak punya ide lain yang bisa mengalahkan ide anaknya, apalagi sekarang ia punya tanggung jawab baru menemani Qret di rumah sakit. Kalau ditinggalkan, bagaimana nantinya jika terjadi sesuatu pada Qret.


***


Saat matahari sudah kembali ke peraduannya dan malam semakin gelap, Jasmin mulai beraksi membuat konten untuk rotinya. Sementara ibunya sudah terlelap di sofa rumah sakit.


Setelah selesai, Jasmin mulai melakukan promo di media sosialnya yang memiliki cukup banyak follower. Hanya dalam hitungan menit, roti yang ia tawarkan sudah banyak diperbincangkan. Bahkan ada yang memesan. Pesanan pertama seratus buah untuk acara ulang tahun.


Rasanya Jasmin sudah tidak sabar menunggu hari esok. Segera pulang dan mulai berjualan. Tetapi Jasmin akan merahasiakan dari ibunya sebab ia ingat nasihat neneknya bahwa ibunya tidak bisa merasakan sesuatu hal yang tidak enak sebab akan membuta emosinya labil.


"Sekarang waktunya tidur, supaya besok fresh kerjanya!" ungkap Jasmin, sambil melirik jam di dinding rumah sakit yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


***


"Jasmin ... Jasmin ... Jasmin!" suara panggilan yang semula pelan berubah jadi kemarahan sebab Jasmin belum juga membuka matanya, ia malah menepis pelan tangan Yasmin agar tidak mengganggu tidurnya. "Kenapa sih kamu sudah sekali dibangunkan? Kamu kira yang lelah cuma kamu, Jasmin? Kamu itu anak perempuan, harusnya biasa bangun pagi. Apa yang kamu lakukan, sehingga selalu terlambat bangun!" Yasmin mulai mengomel sehingga Jasmin bangun.


Ia sebenarnya masih sangat mengantuk, tetapi teringat nasihat nenek agar tidak menambah tingkat stres ibunya sebab akan memperburuk kondisi kesehatan ibunya. Jasmin tak ingin itu semua terjadi. Meski sudah sangat mengantuk, ia buru-buru bangun, lalu berwudhu.


"Ibu sudah salat?" tanya Jasmin, sambil membentangkan sajadah di samping sofa.


"Kamu kira ibu sepertimu, yang bangunnya selalu siang. Kamu itu salat Subuh atau Dhuha, sih?" sindir ibunya.


Bukannya marah, Jasmin malah nyengir. Ia tak ingin memperburuk keadaan, segera salat, kemudian mencarikan sarapan untuk ibunya.


Jasmin teringat semua nasihat neneknya kemarin bahwa kondisi psikologis ibunya tidak sedang baik-baik saja. Makanya begitu sensitif pada dirinya. Sebenarnya Jasmin agak tenang meski kadang dongkol juga jadi samsak kemarahan ibunya sebab yang paling tidak disukai ibunya adalah dirinya sendiri. Itu tandanya, emosi ibunya bisa dikontrol dengan baik oleh Jasmin jika ia bersikap sesuai apa yang diinginkan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2