GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
36. Ibu Pulang


__ADS_3

Aku dan ibu masih terlibat perdebatan. Ibu bersikeras bahwa pelakunya adalah Riana, sementara aku tetap mengabaikan.


"Qret, tolong dengarkan ibu. Ini demi kebaikan kita." ibu masih berusaha membujukku.


"Bu, jika prasangka ibu salah bagaimana? Apa ibu memikirkan bagaimana nasib Riana kedepannya?"


"Ya Allah Qret, kamu masih memikirkannya sementara ia tega melakukan semuanya pada kita. Sungguh jahat sekali dia!"


"Bu, kalau kata-kata ibu tidak benar. Kitalah yang jahat!"


"Tidak Qret, ibu sangat yakin benar."


Sebelum terjadi pertengkaran, kuputuskan memanggil polisi yang sedang berjaga. Aku tidak bisa bersama ibu karena perdebatan ini tidak akan pernah berakhir.


"Pak polisi!" aku berteriak keras. "Pak polisi!"


"Qret, kamu mau apa?" tanya ibu.


"Qret mau keluar sebentar Bu."


"Qret, apa kamu mau mengatakan semuanya? Iya kan Qret?"


Seorang polisi datang menemuiku. Setelah kusampaikan bahwa aku ingin bertemu penyidik, pintu sel langsung dibuka.


"Qret, katakan semuanya. Ibu mohon!" pinta ibu, saat pintu selku dibuka. "Jangan sampai menyesal Qret. Tolong dengarkan ibu, ya."


Polisi tadi mempersilakan aku menuju ruang penyidik. Aku beruntung, polisi penyidiknya masih berada di sana.


"Pak, kondisi ibu saya tidak memungkinkan berada di tahanan. Beliau sudah tua, punya penyakit juga. Tolong bebaskan ibu saya. Masalah ini, saya yang bertanggung jawab sebab rumah itu adalah tanggung jawab saya!" kataku.


Polisi penyidik tersebut meminta penjelasan dariku. "Baiklah, kalau begitu kami akan membebaskan ibu Rahayu."


Setelah menyampaikan apa yang ingin kukatakan, aku minta izin memakai telepon sebelum kembali ke sel.


Beruntung aku masih ingat nomor ayah. Langsung saja kuhubungi lelaki yang pernah menjadi musuhku itu. Setelah pembicaraan singkat kami, aku langsung digiring ke dalam sel tahanan.

__ADS_1


"Qret, dari mana saja kamu, nak? Apa yang sudah kamu lakukan? Ayo bicara dengan ibu." pinta ibu. "Apa kamu sudah mengatakan semuanya pada polisi? Ayo Qret, jawab ibu. Jangan diam saja."


"Bu, kita tidak usah bicara apapun dulu. Qret mohon pada ibu untuk mengikuti semua yang akan Qret lakukan. Tugas ibu hanya mendoakan Qret." aku berusaha bicara selembut mungkin pada ibu. Saat seperti ini, emosi memang gampang terpancing. Tapi ibu tetaplah ibuku, aku harus tetap menghormati meski kami beda pendapat.


"Tapi Qret, ibu perlu tau apa yang terjadi."


"Tolong Bu." kutautkan dua tangan di depan dada, sebagai isyarat permohonan agar kali ini tidak ada perdebatan lagi.


"Apa kamu tidak percaya pada ibu, Qret?"


"Bu,"


"Qret, kalau yang di penjara ibu, mungkin ibu bisa rela. Tapi kalau harus kamu, ibu susah untuk merelakan sebab ibu tahu, kamu sudah jadi orang baik. Kamu tidak pantas menerima semuanya."


"Bu, maafkan Qret."


"Bukankah kamu bilang mau membahagiakan ibu? Kalau kamu mau nurut, itu adalah kebahagiaan terbesar untuk ibu."


"Ibu Rahayu!" panggil polisi penjaga.


"Mari Bu, ikut saya!" seru polisi itu.


"Qret, ada apa ini?" tanya ibu, padaku. "Kenapa ibu boleh keluar?"


"Ibu pulanglah. Ada ayah di luar. Untuk sementara ibu tinggal bersama ayah dulu, ya." jawabku, sambil berdiri di depan sel.


"Lalu kamu bagaimana, nak?"


"Qret nginap di sini dulu. Ibu tenang saja, kebenaran pasti akan terungkap. Ibu doakan Qret ya." sebelum ibu pergi, kucium punggung tangan ibu dengan takzim, berharap mendapatkan keberkahan.


"Qret, ibu ingin bersamamu, nak!"


"Maafkan Qret, Bu. Sekarang ayah yang akan menjaga ibu, ya."


"Qret, ibu tidak akan menyerah. Bersama ayahmu kamu akan mencari kebenaran agar kamu segera keluar. Ibu akan buktikan bahwa kata-kata ibu benar." ibu pergi sambil berlinang air mata.

__ADS_1


Sebuah keputusan sudah kubuat. Jika pelakunya tidak ketemu, maka aku akan menanggung sendiri. Biarlah ibu berada di luar karena tempat ini tidak cocok dengan ibu. Anak manapun tidak akan tega melihat ibunya tidur di atas lantai yang dingin tanpa alas apapun. Ibu tidak pantas menjalani hukuman untuk kesalahan yang tidak dia lakukan.


Tadi sengaja kutelepon ayah untuk menjemput ibu. Selama aku ada di sini, ayah yang akan menjaga ibu. Kuharap tidak ada masalah pada ibu dan ayah.


Lagipula jika ibu di sini terus, kami bisa benar-benar bertengkar karena ibu yang terus memaksakan pemikirannya.


Riana adalah gadis yang baik. Ia tidak pantas mendapatkan tuduhan seperti itu. Kali ini ibu salah, aku tidak bisa menuruti keinginan ibu


***


Malam sudah larut. Tapi mata ini belum juga dapat terpejam karena udara yang amat dingin padahal aku sudah merapatkan jaket ke tubuh. Ditambah hati ini yang masih gelisah.


Akibat tidak kunjung bisa memejamkan mata, kuputuskan untuk bangkit dan segera mengambil wudhu. Heri pernah bilang, salat adalah obat untuk kegelisahan. Seberat apapun masalahmu, kalau kau lari pada Allah maka akan kau temukan jalan keluarnya.


Sesungguhnya, ujian itu untuk menaikkan derajat kita di hadapan Allah. Untuk lulus ujian memang dibutuhkan kesabaran yang tidak berbatas.


Banyak yang setelah mendapat ujian justru mundur dari hijrah. Itu adalah gambaran


Air wudhu yang dingin membuat pikiranku sedikit jernih. Setelah itu, dengan beralaskan koran, aku mulai salat.


Banyak hal yang ingin kubicarakan dengan Allah. Tentang Rindu yang begitu besar padaNya. Tentang dosa-dosa yang teramat banyak. Dosa yang ku sengaja dan tidak sengaja. Juga tentang harapan kedepannya.


Meskipun bimbang dengan masalah ini, tapi aku tidak ingin mengeluh lagi. Mungkin inilah saatnya aku belajar ikhlas. Merelakan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah. Seperti yang kukatakan tadi pada ibu. Bukankah semuanya sudah diatur oleh Allah? Pasti ada hikmah dibalik ini semua.


Air mata ini masih mengalir deras. Ada banyak pinta yang membuatku tahan berlama-lama bicara dengan Allah lewat doa-doa. Ajarkan aku ikhlas ya Rabb. Ajarkan. Aku menerima semuanya dengan lapang dada.


Di masa lalu, dosaku teramat banyak. Aku menganggap inikah cara Allah untuk membersihkan dosa-dosa ku.


Lagi-lagi bayangan wajah Yasmin muncul. Dulu gadis itu juga harus mendekam di penjara karena perbuatanku. Kini dapat kurasakan bagaimana perasaan Yasmun saat itu. Ia pasti ketakutan, sedih dan marah. Tetapi Yasmin tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya dengan ikhlas.


Sungguh mulia hati Yasmin. Entah terbuat dari apa apa hatinya. Ia benar-benar calon istri idaman.


Malam semakin larut, kini aku mulai berbaring di atas koran yang kugunakan sebagai alas salat sambil memikirkan semuanya, sejak awal hingga akhir.


Bagaimana dulu aku yang berada dalam kubangan dosa, lalu Allah berikan jalan untuk kembali, meski harus melewati banyak cobaan, namun aku rela. Sampai mataku terpejam sempurna.

__ADS_1


__ADS_2