GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
19. Sandiwara Mia


__ADS_3

"Riu, yang dikatakan kak Ren benar. Lalu kapan kamu akan mengundang kami makan-makan. Ahhh, sejujurnya aku juga sudah tidak sabar ingin makan enak di pesta pernikahanmu. Tak mengapa jika aku disuruh jadi seksi sibuk, asalkan bisa makan rendang dan ayam kecap dua kali. Hahaha." Jasmin tertawa, ia merasa senang sebab membayangkan makan dengan porsi besar dua menu kesukaannya Tersebut, terutama rendang yang tidak bisa disantapnya setiap hari. Sebenarnya banyak yang berjualan rendang di rumah makan, tapi rasanya tak akan seenak makan rendang di pesta pernikahan orang. Apalagi ini pesta pernikahan Riu yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung sendiri.


"Iya juga yah. Sekarang Riu sudah dua puluh tiga tahun. Ahhh nak, kau cepat sekali dewasa. Padahal dulu kau masih bayi. Aku dan bibi Yasmin yang menjagamu. Ahhh tidak, lebih tepatnya bibimu yang paling banyak merawatmu.


Jadi kapan kau akan memberikan kami menantu? Tolonglah Riu, jangan terlalu lama melajang. Jangan seperti ayahmu, usia tiga puluh tahun baru mrnikah. Lihat, sekarang ia sudah tua, padahal anak semata wayangnya belum menikah." umpat Riana.


"Kenapa aku?" Deni menatap Riana heran. Padahal ia tak melakukan apapun, tapi malah disudutkan. Padahal Riana juga salah satu penyebab ia lama menikah. Andai dulu ia tidak banyak tingkah. Meski begitu Deni memilih tak memperpanjang perdebatan, ia merasa lebih baik diam dibandingkan nanti jadi sasaran bulan-bulanan Riana yang kalau kesal sikapnya sudah untuk dikendalikan.


Melihat perdebatan orang-orang dan mendesak Riu, Ren jadi puas. Jika Riu benar-benar sudah menikah maka ia akan lebih tenang lagi.


"Iya Riu, kalau sudah ada calon, katakan saja. bibi sangat ingin punya menantu perempuan." Yasmin ikut bicara.


"Aihhh bibi ini, jangan ikut-ikutan meledekku." Riu langsung cemberut.


"Hehehe, ini keinginan bibi, nak." Tambah Yasmin.


"Assalamualaikum." kata seseorang di depan pintu masuk, membuat orang-orang dalam rumah langsung diam menyaksikan siapa yang datang. Mia, ia berdiri sambil memegang kado berukuran besar.


Wajah Jasmin yang semula tersenyum langsung cemberut. Sementara Ren buru-buru menghampiri Mia, mereka memilih untuk berbincang diluar.


"Kenapa mereka harus keluar?" tanya Jasmin.


"Mungkin ada hal penting yang harus dibicarakan." jawab Riana, ia tahu betapa tidak senangnya Jasmin pada perempuan pembuat masalah itu.


"Sepertinya suamimu itu memang tak bisa untuk tidak meladeni perempuan itu. Siapa namanya? Oh ya, Mia. Ngomong-ngomong aku punya rekaman pembicaraan dengannya." ucap Riu.


"Kamu mengenali kak Mia?" Jasmin penasaran. Ia tak habis pikir."Kalian ketemu dimana? Membicarakan tentang apa? Kau ini sebenarnya mendukung aku atau dia? Kok bisa ada pembicaraan? Riu, ayo ceiat jelaskan padaku!"


"Tidak. Aku tak ingin tahu tentang dia." jawba Riu dengan santai.


"Aaahhhh." Jasmin semakin kesal. Ia berjalan menuju meja makanan, lalu menyantap hidangan apa saja di hadapannya.


"Jas," panggil pak Bagus.


"Eh kakek." Jasmin langsung berdiri, menarikkan satu kursi untuk lelaki yang juga pernah menolong ayahnya. Jasmin sangat senang berbincang dengan pak Bagus. Ia tahu banyak tentang kakek mertua lewat cerita ayahnya. Siapa sangka, setelah dewasa ia malah berjodoh dengan cucu lelaki yang sudah menolong ayahnya. "Kakek sudah makan? Mau aku ambilkan makanan atau minuman yang mana?" tanya Jasmin, dengan sopan.


"Tidak. Kakek sudah kenyang. Kakek hanya ingin berbincang saja. Sudah lama kita tidak bertemu. Iya, kan?"


"Iya Kek. Sebenarnya aku ingin berkunjung ke rumah kakek untuk menyapa, tapi kak Ren mengatakan kakek sibuk dengan usaha baru kakek. Lagipula kak Ren juga sibuk praktik, makanya belum jadi berkunjung juga."

__ADS_1


"Hehehe, tidak apa-apa. Yang penting kamu dan Ren baik-baik saja."


"Iya Kek, kamu baik-baik saja."


"Jasmin ... Kakek juga ingin mengucapkan terima kasih."


"Untuk apa, Kek?"


"Sebab kamu sudah susah payah menjodohkan putriku satu-satunya dengan Jimmi. Kamu tahu, Alifa begitu bahagia sekali dan aku belum pernah melihat ia sebahagia ini. Itu semua berkat kamu, nak."


"Ahhh kakek, tidak aku tidak melakukan apapun. Paman dan ibu mertua saling mencintai. Aku hanya memberikan sedikit dukungan agar mereka bisa bersama. Hanya itu."


"Hehehe, kamu memang anak yang baik. Beruntung Qret punya putri sepertimu. Tapi wajar, Qret juga laki-laki yang baik. Kau mendapatkan keberkahan sebab kenaikan ayahmu."


"Syukurlah kalau begitu Kek." Jasmin dan kakek mertuanya melanjutkan perbincangan tentang ayahnya, smenetara di sisi lain rumah tampak Riu dan kedua orang tuanya sedang mojok sambil makan.


***


"Riu, apa yang dikatakan nak Ren itu benar. Menikahlah. Ibu sangat ingin melihatmu jadi pengantin." pinta Riana. Sebenarnya ia bukan tipikal orang yang bodoh untuk memahami situasi. Riana tahu betul kenapa Ren bicara seperti itu sebab ia cemburu dengan kedekatan Jasmin dan putranya.


"Kenapa tiba-tiba?" tnaya Riu, sambil menyendok ketoprak ke mulutnya.


"Aku tidak punya calon."


"Bagaimana dengan gadis cantik bernama Kiara itu?"


"Hah? Ibu bicara apa? Aku tidak suka perempuan yang berisik dan asal-asalan."


"Masa?"


"Masa apanya, Bu?"


"Apakh Jasmin menurutmu tidak berisik?"


"Sangat."


"Lalu?"


"Ibu, sudahlah." Riu bangkit dari kursinya, lalu berlalu keluar.

__ADS_1


***


Di luar, Ren duduk di taman yang dikelilingi bunga mawar. Taman kecil namun sangat indah sebab ditata sendiri oleh ibunya dengan sentuhan cinta. Aroma mawar begitu wangi, membuat siapapun yang duduk di sana betah berlama-lama.


"Maaf aku datang terlambat. Tadi sebenarnya tak bisa pergi, tapi aku ingin menghormati Tante Alifa." ujar Mia.


"Tidak apa-apa. Ibuku pasti mengerti." jawab Ren.


"Aku lelah Ren."


"Kenapa?" Mia mulai menangis, iabteridak sehingga membuat Ren kebingungan. "Kamu kenapa? Hei, Mia, katakan apa yang terjadi? Apa ada masalah? Ceritakan supaya aku bisa membantu."


"Apa boleh?"


"Tentu saja. Selama ini kamu juga selalu jadi teman yang baik untukku. Sekarang biarkan aku yang membantumu. Katakan!"


"Ini." Mia menunjukkan lebam di tangannya yang semula tertutup lengan baju.


"Astagfirullah, apa ini?"


"Joko yang melakukan." Mia kembali terisak.


"Apa? Bajing**, berani-beraninya ia melukai perempuan. Kita harus laporkan pada polisi."


"Tidak Ren, aku mencintainya."


"Apa? Mia, dia sudah menyakitimu, bagaimana mungkin kamu bisa membiarkannya begitu saja. Aku tahu polisi, kebetulan ada kakekku juga di sini, ia pensiunan kepala polisi, punya banyak kenalan polisi yang baik dan akan membantumu mendapatkan keadilan. Ayo kita ke dalam dan temui kakekku."


"Tidak Ren,"


"Kenapa?"


"Aku mencintainya. Meski ia memukuliku, bahkan seluruh tubuhku diinjaknya, aku mencintainya Ren!"


"Astagfirullah. Mia sadarlah!"


"Aku butuh dia Ren, aku tak bisa hidup tanpanya, biarkan saja aku menderita seumur hidup asalkan bisa tetap bersama dengannya.


"Ya Tuhan ...." Ren mengutuk cinta. Kenapa jadi seribet ini?

__ADS_1


__ADS_2