GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
88. Salah Paham


__ADS_3

[Qret, apa ini kau?] dari seberang terdengar suara seseorang yang cukup familiar di telingaku.


[Jack?] kataku. Agak heran sebab kenapa Jack yang menerima panggilan teleponku, padahal ini nomor Deni. [Apa dia baik-baik saja?] tiba-tiba aku jadi mengkhawatirkannya. Takut terjadi sesuatu.


[Sepertinya tidak, dia ada di atas atap. Dari tadi hanya diam tanpa berkata apapun.]


[Apa? Kalian dimana?]


[Di tempat biasa.]


Tanpa menunggu penjelasan lanjutannya, aku segera berlari ke rumah, mengambil motor tanpa menjelaskan pada Yasmin yang kebingungan sebab aku terlihat buru-buru.


"Yas, nanti aku ceritakan. Tapi sekarang aku harus pergi segera sebab nyawa Demi dalam bahaya." kataku.


"Deni kenapa?" Riana langsung menghampiriku, ia tidak sengaja mendengar apa yang kukatakan pada Yasmin.


"Tidak apa-apa, aku harus segera pergi." kataku.


"Tidak bisa, jelaskan dulu apa yang sedang terjadi?" tanya Riana lagi sambil menari jaket kulit erat-erat.


"Riana tolong, kalau kau tidak mau sesuatu terjadi pada Deni maka lepaskan aku!" pintaku.


"Tapi Deni kenapa Qret?" Riana malah menangis, membuatku kebingungan.


"Nanti akan kuceritakan. Sekarang aku harus pergi untuk mencegahnya bunuh diri." kataku lagi sambil memberi isyarat pada Yasmin agar menenangkan Riana.


"Bunuh diri? Kenapa? Ada apa dengannya?" bukannya makin tenang, Riana justru makin histeris.


"Riana dengarkan aku!" terpaksa aku membentakknya. "Kalau kau bersikap begini, terus memahami, maka bersiaplah menerima kabar kematian Deni!"


"Kenapa begitu?" Riana menghentikan tangisnya.


"Makanya biarkan aku pergi supaya bisa mencegahnya!" pintaku lagi.


"Baik, pergilah. Tolong jangan biarkan dia mati." Riana memelas.


Aku segera berlalu, sementara Riana menangis dalam pelukan Yasmin. Untung saja ayah dan ibu sedang sibuk di rumah tetangga, kalau tidak bisa lebih heboh lagi.

__ADS_1


Motor kulakukan dengan kecepatan penuh. Tidak ku pedulikan lagi suara orang-orang yang merasa terganggu dengan caraku berkendara. Yang ada dalam pikiranku, bagaimana caranya bisa sampai di tempat Deni secepat mungkin. Semoga saja Jack bisa menghentikannya agar tidak melakukan hal yang nekat.


Motor mulai agak pelan ketika masuk ke area bangunan tua bekas gedung perkantoran yang sudah lama tidak terpakai. Dulu tempat ini adalah markas kamu, tetapi setelah rules bubar, aku tidak pernah lagi datang ke sini.


Ada banyak kenangan di sini yang tidak bisa kulupakan. Bagaimana kami saling menjaga satu dengan yang lain. Sudah seperti saudara kandung. Kalau ada yang punya uang atau makanan maka tidak akan segan dibagi.


Sebagai ketua, anak buahku akan memberikan miliknya dengan senang hati kepadaku terlebih dahulu, setelah itu baru mereka yang mengambilnya.


Di pojok sana, kami juga pernah makan sama-sama. Lima bungkus mie rebus yang diolah dalam mangkuk besar, kemudian dihabiskan ramai-ramai oleh anggota rules. Sungguh gambaran persaudaraan yang sangat indah sekali menurutku.


"Hai Jack, mana dia?" Tanyaku pada Jack yang sedang asyik menonton lewat gadgetnya Deni.


"Di atas." Jack menunjuk gedung bagian selatan.


"Ada siapa saja di sana?" tanyaku dengan nada khawatir.


"Deni sendiri."


"Kenapa kau biarkan dia sendiri?" aku menyesali sikap ceroboh Jack. Biasanya ia sangat bisa diandalkan, kenapa kali ini asal-asalan, padahal ini tentang nyawa Demi, orang kepercayaanku, sekaligus teman Jack juga.


"Aku sedang main game Qret,"


Kecewa sekali melihat sikap Jack barusan. Memang kata orang game itu bisa melenakan, tapi tidak seperti ini juga. Masa gara-gara asyik dengan gadget sampai mengabaikan nyawa orang lain.


"Den ... Deni!" langgilku, sambil memperhatikan sekeliling, mencari dimana Deni berada, kadang juga melihat ke arah bawah, khawatir ia sudah melompat.


Badanku langsung gemetaran saat melihat Deni duduk di ujung genteng lantai dua. Ia tamoak melihat ke bawah, mungkin bersiap terjun. Apakah ia segalau ini?


"Den," panggilku, pelan.


"Qret, kau datang?" Deni melihat ke arahku.


"Iya Den, aku datang. Tapi kumohon jangan melakukannya ya. Aku tahu kau frustasi, tapi aku sudah bicara dengan paman Rudi dan ternyata ...,"


"Sudahkah Qret, jangan bahas soal itu dulu, aku sedang pusing."


"Iya, aku mengerti, tapi kau harus tahu Dengan, semua tidak seribet yang kau bayangkan. Jadi kemarilah, jangan coba-coba melompat ya. Aku mohon. Kau tahu Den, kalau kau mencoba bunuh diri, kau sedang mencari masalah baru. Kalau kau mati akan masuk neraka, Den. Apa kau sanggup?"

__ADS_1


"Mati? Bunuh diri? Maksudnya apa, Qret?"


"Iya, kau mau bunuh diri, kan?"


"Enak saja. Kau kira aku tidak punya iman? Aku memang bekas anak buah gengster, tapi sekarang sudah taubat. Lagi pula kenapa aku harus bunuh diri? Aku belum menikah, belum punya anak. Kau kira aku gila apa?"


"Tadi kata Jack ...,"


"Apa?"


"Jack!" aku memanggil Jack. Butuh beberapa kali agar ia segera menghampiri kami.


"Ada apa sih Qret? Kenapa teriak-teriak segala?" tanya Jack.


"Kenapa kau katakan Deni mau bunuh diri?" aku memasang wajah marah sebab gara-gara informasi yang ia berikan aku harus melaju kencang menuju tempat ini, beberapa kali hampir menyerempet orang dan mungkin juga kena tilang elektronik. "Kau haus tanggung jawab."


"Siapa yang mengatakan Deni mau bunuh diri?" Jack menggelengkan kepalanya.


"Tadi kau katakan ia ada di atas atap!" aku masih menunjukkan sikap marah.


"Lho, memang benar, kan?" Jack masih tidak merasa bersalah.


"Jack, tapi orang yang ada di atas atap pasti mau bunuh diri, kan?" tanyaku pada Jack.


"Tidak juga!" ucap Jack dan Deni bersamaan.


"Aku tidak mau bunuh diri, Qret. Hanya ingin duduk di sini sambil melihat awan.


"Aghhhhh! Kalian ini!" aku langsung menyerang mereka berdua untuk melampiaskan rasa was-was yang tadi menghantui. Bagaimana tidak kaget mendapati kabar, meskipun kabar itu salah, kalau teman kita mencoba bunuh diri.


"Kau terlalu mendramatisir, Qret," ungkap Deni sambil memamerkan senyumnya.


"Jadi tadi Deni ke atas untuk menenangkan pikiran. Aku tidak ikut karena main game. Kebetulan Deni baru menginstal game baru, jadi aku meminjam hpnya. Lalu dimana letak salahnya?" tanya Jack.


"Tadi harusnya bukan kau yang mengangkat!" aku masih geram.


"Kan sudah kukatakan kalau aku meminjamnya untuk main game!" Jack tetap bertahan bahwa ia tidak bersalah. "Kau bertanya dimana Deni, makanya kujawab. Karena ia ada di atas genteng ya kukatakan ia di genteng. Lalu dimana salahnya Qret?"

__ADS_1


"Baiklah, aku yang salah!" kataku, menyerah dari perdebatan dengan mereka.


Kuakui aku memang tidak teliti mendengar berita dari Jack sebab sangat takut terjadi sesuatu pada Deni. Apalagi jika ia benar-benar ingin bunuh diri. Mengerikan sekali.


__ADS_2