
Aku tidak punya pilihan lain selain memaksa Yasmin ke rumah sakit sebab khawatir dengan kondisi kesehatannya, meski Yasmin sangat menolak. Tetapi aku adalah suaminya, jadi punya kuasa untuk memaksa agar ia mau berobat.
Kini kami berdua sudah berada di IGD, setelah mendaftar, Yasmin berbaring di salah satu kasur pasien yang masih tersisa, lalu dokter datang menghampiri.
"Sekarang apa yang terasa?" kata dokter perempuan yang berjaga malam ini.
"Lemas, kepala pusing, batuk-batuk dan sedikit mual." kata Yasmin.
Lalu dokter tersebut memeriksa Yasmin, tidak lama ia kembali mengajukan pertanyaan. Barulah kemudian menjelaskan apa yang sedang terjadi pada Yasmin.
"Selamat ibu, saat ini ibu sedang hamil. Menurut hasil pemeriksaan, usia kandungan memasuki pekan kelima. Nanti untuk lebih detailnya lagi bisa periksa di poli kandungan atau ke bidan." saran dari dokter tersebut.
Karena kondisi sakit Yasmin adalah pengaruh dari kehamilannya, maka tidak ada obat yang diresepkan. Yasmin hanya diminta untuk segera merujuk pada dokter kandungan atau bidan.
Aku dan Yasmin sempat terpana sesaat mendengarkan penjelasan dokter tersebut bahwa kami kembali diberikan kesempatan amanah seorang anak.
Tetapi yang membuat kami terheran-heran adalah karena ingat perkataan dokter sebelumnya yang menjelaskan bahwa akan sulit bagi Yasmin untuk mendapatkan keturunan tanpa menjalani program sebab kondisinya yang masih trauma pasca kecelakaan.
Lalu tentang program bayi tabung yang pernah aku infokan akhirnya tidak jadi kami pilih sebab Yasmin khawatir dengan biaya yang cukup besar. Ia takut kami akan kembali terjerat dalam hutang, makanya setelah diskusi kami memilih untuk bersabar dan tawakal pada Allah.
"Mas, dengarkan, kita akan punya anak!" kata Yasmin dengan mata berkaca-kaca.
Aku mengangguk. "Iya Yas, akhirnya Allah mempercayai kita lagi. Ayo kita jaga calon bayi kita baik-baik ya." Aku menggenggam erat tangannya.
Cinta itu terasa makin membuncah. Aku dan Yasmin sama-sama tersenyum, kami menatap haru satu sama lain. Tanpa terasa, bulir-bulir bening itu kini menetes dari pipi Yasmin.
"Apa aku bisa?" tanya Yasmin. "Aku takut, bagaimana kalau kejadian dulu terulang lagi? Aku takut mas." suaranya semakin lama semakin mengecil.
"Kita jaga sama-sama. Tapi harus tetap yakin dan berserah pada Allah sebab Dialah yang paling tahu mana terbaik untuk hamba-Nya. Hanya Allah Yas, sebaik-baiknya penjaga." aku membisikkan di telinganya.
Sambil bergandengan tangan, aku dan Yasmin melangkah meninggalkan rumah sakit. Ada banyak rasa yang hadir di dada kami. Senang, haru, tapi juga sedikit takut.
***
__ADS_1
Setelah salat Subuh, Yasmin kembali berbaring di atas tempat tidur. Kondisinya masih sangat lemah. Setelah selesai beberes rumah, aku mendatanginya ke kamar membawa serta segelas susu dan semangkuk bubur ayam kesukaannya.
"Sarapan dulu ya." kataku.
Pelan-pelan aku.menyuapi bubur yang masih hangat, memastikan aman untuk masuk ke dalam mulut Yasmin.
"Bagaimana, enak?" tanyaku.
"Hmm," jawab Yasmin sambil menghabiskan bubur yang sudah masuk dalam mulutnya. "Aku jadi merepotkan mas." katanya.
"Tidak ada yang namanya merepotkan. Kau ini kan istriku."
"Tapi kan harusnya yang melayani itu adalah istri, bukan suami."
"Kata siapa?" ku jelaskan padanya tentang kewajiban seorang suami pada istrinya.
"Apa mas sudah memberitahu ayah, ibu dan ayah di Bogor?" tanya Yasmin.
"Oh iya, aku lupa."
Selesai bicara dengan ibu, aku menutup telepon. Bersiap untuk kembali berjualan. Sebentar lagi aku akan jadi ayah, banyak persiapan yang harus kulakukan, salah satunya mempersiapkan dana. Aku harus Semangat memberikan yang terbaik untuk istri dan anak-anakku kelak.
***
Sejak mengetahui kehamilan Yasmin, semua orang begitu senang dan bertekad akan ikut menjaga hingga Yasmin melahirkan nanti.
Kini aku tengah mempersiapkan pesanan makanan dari pelanggan bersama Deni. Sementara Riana dan Yasmin berbincang-bincang. Riana sambil menimang Riu.
Sebenarnya sejak tadi Yasmin ingin sekali menggendong Riu, tetapi Riana tidak memberikan karena khawatir dengan kondisi Yasmin.
"Yas, bagaimana kalau kita buat kesepakatan." ucap Riana.
"Kesepakatan apa?" Yasmin menatap penuh semangat.
__ADS_1
"Bagaimana kalau nanti bayimu lahir perempuan, kita jodohkan anak-anak kita." ungkap Riana.
"Ide yang bagus, aku setuju!" kata Yasmin. "Bagaimana mas?" Yasmin menatapku penuh harap.
"Aku tak suka perjodohan, biarkan semuanya berlaku secara alami. Kalau mereka saling suka, maka kita nikahkan. Kalau tidak ya biarkan saja mereka tumbuh seperti saudara." kataku.
"Kenapa begitu?" Riana tampak tidak setuju, ia lebih senang jika kami mengadakan perjodohan. "Siapa tahu dengan begini maka kita benar-benar menjadi keluarga sesungguhnya."
"Iya mas, apa salahnya menjodohkan anak-anak kita. Aku ingin jadi besannya Riana. Kamu juga kan RI?" tanya Yasmin.
"Iya." jawab Riana.
"Aku tidak ikut-ikutan dengan perjodohan yang kalian buat." kataku.
Selesai menyiapkan seratus kotak makanan. Aku dan Deni segera pergi mengantarkan pesanan makanan. Di jalan, kami berdua membahas apa yang jadi perbincangan Yasmin dan Riana.
"Ide Riana boleh juga." kataku.
"Iya. Aku juga ingin anak-anak kita dijodohkan supaya kita benar-benar jadi saudara." tambah Deni.
"Tapi jangan katakan pada para perempuan itu, kau tahu kan mereka sangat bersemangat sekali dalam masalah ini. Aku takut kalau-kalau nanti ternyata anak kita tidak berjodoh malah jadi masalah."
"Iya, kau tenang saja Qret. Aku mengerti apa yang ada dipikiranmu. Aku juga ingin menjalankan semuanya secara santai. Kita lihat nanti, bagaimana kekuatan doa yang kita panjatkan agar anak-anak kita berjodoh. Kalau tidak ya sudah."
Aku dan Deni saling berjabat tangan. Lalu kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Jika Yasmin melahirkan anak perempuan, maka akan ada pernikayantara Riu dengan putriku. Pasti sangat menyenangkan sekali. Kami bisa terus bersama anak-anak kami. Aku tidak akan pusing memikirkan calon keluarga baru putriku nantinya sebab aku sangat kenal betul dengan Deni dan Riana.
Jika itu benar-benar terjadi, akan jadi salah satu hadiah terindah dari Tuhan. Tanpa aku sadari senyum itu terukir. Begitu juga dengan Deni.
"Apa kau berpikir yang sama denganku?" tanyaku pada Deni.
"Sepertinya iya. Saat kita sudah tua dan menjadi kakek, lalu kita akan sama-sama mengasuh cucu kita. Bukan begitu?" tanya Riana.
"Tepat sekali. Sepertinya kita sudah cocok jadi besan!"
__ADS_1
"Hahaha, semoga saja Qret. Kita langitkan doa-doa terbaik untuk anak-anak kita!"