GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
155. Jasmin Kuning


__ADS_3

Pikiranku benar-benar kalut saat melihat Jasmin yang masih tertidur di pangkuan Yasmin. Padahal aku sudah memanggil-manggil namanya. Membunyikan suara-suara berisik agar ia terbangun. Tapi tetap saja ia tidak bergeming. Lanjut tdur dengan sangat lelapnya.


"Yas, tolong pencet hidungnya Jasmin." pintaku pada Yasmin yang sibuk menatap jalanan lewat jendela meski di pangkuannya ada Jasmin.


"Kenapa?" ia melirikku sekilas.


"Supaya Jasmin bangun."


"Mas itu benar-benar aneh. Sejak ada Jasmin aku tidak paham jalan pikiran mas. Kemarin-kemarin mas yang menyuruh aku untuk menidurkan Jasmin. Kalau aku tidak mau, mas akan marah padaku. Sekarang ia tidur, mas malah menyuruhku membangunkan. Untuk apa, mas? Biarkan dia tidur, jangan diganggu dulu. Kalau tidurnya sudah puas pasti akan bangun sendiri."


"Yas, badan Jasmin itu kuning. Aku takut ia kenapa-napa."


"Mas terlalu mengkhawatirkan dia."


"Yas," aku tak habis pikir dengan Yasmin. Kenapa ia begitu terlihat cuek terhadap putri kandungnya sendiri. Kalau saja Riu yang sakit, pasti Yasmin akan kalang kabut. Ia bahkan pernah menyebut Riana ibu yang tidak becus hanya karena kelupaan memberikan Riu obat. Lalu sekarang apa namanya?


Apakah Yasmin tidak menyayangi Jasmin? Tapi kenapa? Jasmin kan anak kandungnya, darah daging yang kelahirannya kami nantikan. Lalu kenapa sekarang sikapnya seperti itu?


Bahkan Yasmin terlalu acuh terhadap Jasmin. Sejak kembali dari rumah sakit, bisa dihitung jari ia memegang Jasmin. Untuk menyusui pun ia sudah tidak mau.


Sampai di rumah sakit, aku segera mengambil alih Jasmin dari gendongan Yasmin. Memeluknya erat, lalu berlari ke IGD diikuti oleh Yasmin.


"Tolong putri saya, dok." kataku pada dokter jaga.


"Kenapa dengan bayinya, pak?" Tanya seorang dokter jaga.


"Kuning, pak." jawabku.


"Sudah berapa hari ia kuning?" tanya dokter lagi.


"Sejak dua hari lalu ia tidur dengan sangat pulas. Susah sekali dibangunkan. Beberapa jam lalu saya baru menyadari sepertinya badannya menguning." kataku, menjelaskan semua hal yang terjadi pada Jasmin.


"Asinya lancar?" tanya dokter lagi.


"Sudah tidak asi. Tapi susu formula." aku kembali menjawab.


"Kenapa?" pertanyaan itu tidak kujawab. Aku tidak mau Yasmin histeris nantinya. Biarkan sajalah, sekarang yang terpenting Jasmin baik-baik saja. "Bayi bapak kuning, mungkin kurang baik atau kurang dijemur. Sebaiknya sekarang kita cek bilirubinnya."

__ADS_1


Dokter memberikan surat untuk menjalani tes bilirubin dan tes darah untuk mengetahui bagaimana kondisi Jasmin saat ini.


"Jasmin, bertahanlah nak. Ayah akan selalu ada untukmu. InsyaAllah. Jasmin anak yang kuat!" aku membisikkan di telinga bayi itu. Ia hanya merespon dengan menggeliat kecil.


Rasanya hati ini luluh lantak saat melihat Jasmin melakukan serangkaian pemeriksaan. Setelah menunggu, akhirnya dokter memberitahu bahwa bilirubin Jasmin tinggi. Harus disunat agar kondisinya membaik.


Aku berulang kali menyegarkan diri sendiri saat melihat bayi mungil yang baru hitungan hari sudah harus di sinar dengan mata tertutup. Ia hanya menggeliat kemah pertanda menahan sakit.


"Yas, apa kau tak ingin menyusuinya?" tanyaku dengan suara pelan.


"Hah?" Yasmin tampak kaget. Sejak


"Kau tak kasihan padanya? Ia bayi yang kita nantikan." Aku tak sanggup lagi mengatakan apapun. Yasmin pun sepertinya begitu, dengan air mata berurai, ia mengambil Jasmin, menyusuinya hingga Jasmin kembali tidur, kemudian ia memasukkan Jasmin kembali dalam kotak tempat Jasmin disinar.


"Apakah aku ibu yang buruk?" pertanyaan itu dilontarkan oleh Yasmin.


"Tidak. Kita berdua harus sama-sama belajar jadi orang tua yang baik untuk Jasmin." kataku.


"Aku takut."


"Takut apa Yas?"


"Yas ... aku tak meminta apalagi menuntutmu jadi ibu sempurna. Aku hanya ingin kau ada untuk Jasmin. Menjadi orang yang paling dekat untuknya. Layaknya seorang ibu pada umumnya."


"Ya. Aku akan berusaha melakukan apa yang mas mau."


"Bukan aku Yas, Tuhan yang menyuruh kita untuk menjaga amanah ini. Bukankah selama ini kita menangis agar diberikan Jasmin? Sekarang kita buktikan, atas izinNya kita bisa menjaga bayi ini."


"Aku akan menjaganya mas."


Selama empat puluh delapan jam Jasmin berada dalam penyinaran. Pelan-pelan kulitnya yang menguning sudah mulai berubah. Kini waktunya Jasmin keluar. Melihat bayi itu mulai membuka matanya, aku jadi agak tenang.


"Alhamdulillah bayi Jasmin sudah lebih membaik. Kami menyarankan untuk diberi ASI yang banyak. Minimal setiap dua jam sekali. Jangan lupa tiap pagi dijemur supaya tidak kuning lagi." kata dokter sebelum kami pulang.


Sepanjang perjalanan, aku terus mencandai Jasmin. Sementara Yasmin hanya tersenyum sambil sesekali mencubit lembut pipi Jasmin.


***

__ADS_1


Pagi ini aku mulai bersiap untuk kembali berjualan. Sebenarnya masih khawatir harus menbiarkan Jasmin berdua dengan Yasmin. Sebab aku takut emosi Yasmin kembali memburuk karena lelah. Apalagi sejak semalam Jasmin agak rewel. Mungkin karena kebutuhan asinya masih kurang, sementara kami sepakat tidak lagi memberi Jasmin susu formula karena Yasmin ingin kembali menyusui anaknya.


"Yas, kamu yakin bisa menghandle Jasmin?" aku bertanya hati-hati.


"Bisa mas. Percayalah aku akan jaga Jasmin sebaik mungkin." ungkap Yasmin.


"Kalau ada apa-apa, bicara padaku ya. Aku ada di sebelah kok." kataku.


Sebenarnya, sehari sebelumnya aku sudah menawarkan pengasuh untuk membantu Yasmin. Setidaknya untuk membantunya menjaga Jasmin bila bayinya mulai rewel. Tetapi Yasmib menolak. Ia merasa tidak enak sebab seluruh pekerjaan rumah sudah aku handle.


Aku sengaja bangun lebih pagi, mengerjakan semuanya, termasuk memasak, mencuci dan mengepel agar Yasmin hanya fokus pada bayi kami saja. Ku harap dengan begitu emosinya akan stabil.


Kini aku berada di ruang sebelah. Mulai mengaduk adonan sambil menajamkan pendengarannya, kalau-kalau Jasmin menangis dan terdengar suara Yasmin marah. Aku sudah putuskan akan menghentikan pekerjaan dan menemani Yasmin. Aku tidak ingin ia mengurus bayi kamu dalam keadaan tertekan ataupun lelah.


"Kau sedang apa, Qret?" tanya Deni, sambil menatapku heran.


"Aku sedang mendengarkan, siapa tahu Jasmin menangis." jawabku.


"Akhirnya kau merasakan juga bagaimana bucinnya sama bayi sendiri." kata Deni sambil terkekeh.


Ahhhh Den, kamu belum tahu apa yang terjadi di dalam rumah tangga kami, makanya bicara dengan sangat enteng. Aku benar-benar khawatir dengan kondisi Jasmin. Setelah sempat dicuekin ibunya hingga badannya kuning, aku tak ingin ia mengalami untuk kedua kalinya. Aku ingin Jasmin tumbuh dalam kasih sayang yang cukup.


Kini aku bisa bernafas lega saat seluruh pekerjaan selesai. Aku bisa menemui Jasmin di dalam tanpa harus nguping-nguping sebab mengkhawatirkannya.


Saat masuk, aku melihat dua orang perempuan yang kucintai telah tertidur berdekatan. Jasmin dalam boksnya, sementara Yasmin duduk di bawah dengan kepala menopang boks Jasmin. Ia pun sudah terpejam.


Pelan-pelan aku mengangkat tubuh Yasmin, baru saja hendak kubaringkan di atas sofa, ia sudah terbangun.


"Jasmin, jangan menangis nak. Ibu di sini, kok." ia mencoba bangkit.


"Yas, Jasmin lagi tidur." aku menunjuk tempat tidur bayi dimana Jasmin tertidur pulas.


"Ya ampun, rupanya aku bermimpi, tadi aku kita Jasmin bangun."


"Kamu pasti lelah."


"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya sedikit mengantuk. Palingan mas yang ngantuk."

__ADS_1


Aku geleng-geleng kepala, lalu melempar senyum padanya. "Terimakasih ya Yas, sudah jadi ibu yang baik untuk anak kita."


"Mas ...." Yasmin memelukku erat.


__ADS_2