
Jack menghentikan mobilnya tepat di hadapan Deni yang menggendong Riana. Yasmin dan Lisa masuk duluan, mereka tersungkur ke kursi belakang, lalu Deni menaikkan Riana di kursi tengah.
"Hai, kalian semua apa kabar?" tanyaku, membuyarkan ketegangan.
"Kau mau aku yang menghabisimu atau kau habisi diri sendiri?" tanya Riana dengan nada suara datar tapi mengandung tekanan.
"Hahaha, kau kenapa Riana?" aku pura-pura biasa saja.
"Kenapa kalian lama?" tanya Riana, ia mulai mengintrogasi. Aku harus menjawab hati-hati atau bisa celaka nantinya.
"Itu ... tadi," aku melirik Jack.
"Jawab jujur atau aku patahkan leher kalian. Kau tahu kan Qret bahwa aku sabuk hitam. Kau dan Jack, kalian berdua bisa kusingkirkan sekarang juga. Aku masih punya banyak tenaga sebelum lahiran." Riana bicara penuh intimidasi.
"Rumah sakit." aku menjawab pelan, berharap tidak ada yang mendengar.
"Ngapain kalian ke rumah sakit? Kan yang mau melahirkan Riana, kenapa pergi duluan?" tanya Lisa.
Respek Riana menjambak rambutku dan Jack sekarang bersamaan. Kami berteriak kesakitan, tetapi Riana tidak peduli. Sepertinya ia benar-benar murka.
"Den, lakukan sesuatu atau aku akan botak oleh istrimu." pintaku.
"Maaf Qret, kau dan Jack juga membuatku kesal. Apa kau tahu betapa beratnya Riana. Tanganku sampai kebas menggendongnya. Tapi kalian bukannya cepat malah sempat-sempatnya bercanda ke rumah sakit duluan." ungkap Deni.
"Siapa yang bercanda?" tanyaku.
"Hei, apa kau bilang?" Riana melirik Deni. "Aku berat?"
"Tidak tidak istriku sayang. Kau tidak berat. Yang membuatnya berat itu anak kita. Bukan karena kau jadi gendut." ungkap Deni.
"Awas kalau kau bohong akan kujambak juga rambutmu!" ancam Riana.
"Riana sakit!" aku dan Jack berteriak.
"Yas, tolong aku." pintaku pada Yasmin.
"Lisa, aku juga." Jack ikut-ikutan meminta bantuan istrinya.
"Riana," panggil Yasmin.
"Yas, aku sahabatmu kan? Aku butuh melakukan ini semua untuk menyalurkan amarahku." ungkap Riana.
"Oh, kalau begitu lakukan saja." kata Yasmin. "Sabar ya mas, demi bayinya." pintanya padaku.
__ADS_1
"Ya ampun Yas. Apa-apaan ini!" aku berteriak kesakitan. "Kau ini istriku, masa lebih mementingkan dia."
Jack mengemudi mobil lebih kencang lagi meski kepalanya dijambak oleh Riana dari belakang. Ia sampai beberapa kali mau menabrak orang, tetapi Riana tidak peduli. Baginya yang terpenting emosinya tersalurkan. Agar tidak menjadi satu-satunya korban Riana, aku pasrah jika ia menjambak Jack yang berarti membahayakan nyawa kami semua sebagai penumpang.
Sampai di depan lobi rumah sakit barulah ia melepaskan tangannya. Aku dan Jack berasa mau botak dibuatnya. Deni segera menggendong Riana menuju IGD, diikuti Yasmin dan Lisa.
"Kau mau turun?" tanyaku pada Jack.
"Terlalu banyak drama, aku takut." ungkap Jack.
"Sama. Aku juga. Ini saja masih sakit. Konon perempuan yang melahirkan juga akan lebih agresif dan galak. Apa benar begitu?"
"Iya. Tapi kalau itu aku yakin adalah bagian Deni."
"Maksudmu?"
"Yang boleh masuk ke ruang persalinan hanya suami. Kalau laki-laki lain tidak boleh."
"Meskipun lelaki itu adalah calon pamannya?"
"Ya iyalah. Kau kira calon paman itu spesial bagi dokter kandungan? Tidak Qret! Kalau calon paman boleh masuk, bisa-bisa kamar bersalin penuh dengan calon kakek, calon Abang, calon om dan lainnya."
"Hahaha, benar juga. Aku belum pernah mengalaminya Jack. Jadi harap maklum jika aku agak sedikit kebingungan."
"Apa kau grogi?"
"Hahaha, aneh ya. Padahal kita bukan siapa-siapa Riana, hanya teman ya Deni, tapi ikutan grogi. Apa itu artinya kita akan jadi paman yang menyayangi calon bayi ini?"
"Entahlah Jack. Tapi apa kau benar-benar tidak mau turun?"
"Untuk apa Qret?"
"Misalnya, untuk melihat Deni disiksa Riana."
Aku dan Jack tertawa bersamaan. Tentu saja dengan tawa jahil. Kami membayangkan ia akan jadi sasaran empuk Riana. Ya hitung-hitung membayarkan sakit hatiku setelah apa yang ia lakukan tadi.
Deni sama sekali tidak membela kami. Ia membiarkan saja istrinya menjambak padahal kami hanya melakukan sedikit kesalahan saja. Lagipula siapa suruh Riana terlalu histeris hingga membuat yang lain juga jadi gugup. Andai saja Riana bersikap biasa-biasa, aku dan Jack juga akan tenang.
"Kalau begitu ayo Qret, kita turun dan lihat pertunjukan menarik Riana dan Deni!" Jack menarik tanganku.
Kami segera menuju ruang bersalin. Rupanya Riana dan Deni sudah masuk ke dalam. Hanya ada Lisa dan Yasmin di depan pintu kamar menunggu dengan wajah tegang.
"Kalian dari mana saja, kenapa baru muncul?" tanya Lisa.
__ADS_1
"Oh, itu tadi kami parkir dulu." Jack mencari aman, tidak ingin dimurkai oleh istrinya yang mudah sekali ngambek.
"Apa bayinya sudah lahir?" tanyaku.
"Baru pembukaan lima." ungkap Lisa.
"Berapa lama lagi lahirnya?" aku kembali bertanya.
"Entahlah." jawab Lisa.
"Lalu bagaimana dengan perlengkapan Riana?" aku jadi ingat tentang satu masalah yang tadi diributkan Riana bahwa ia tidak ingin melahirkan sekarang sebab belum membawa perlengkapan persalinan.
"Aku sudah menelepon paman Rudi, dia akan segera datang." jawab Yasmin.
Sudah satu jam menunggu, tiba-tiba Deni keluar. Aku dan Jack langsung menghampiri, mempertanyakan kelahiran bayinya. Tetapi Deni mengatakan bahwa Riana belum melahirkan.
"Kalau belum lahir, lalu untuk apa kau keluar?" tanyaku heran.
"Riana ingin bertemu Yasmin." jawab Deni.
"Untuk apa?"
"Entah. Sebaiknya Yasmin masuk dulu. Kau tahu kan kalau keinginan dia tidak dipenuhi maka akan langsung main tangan."
"Eh, kalau begitu aku ikut masuk. Aku tidak ingin Yasmin diapa-apakan." aku memaksakan diri untuk ikut ke dalam.
"Mas, aku enggak akan apa-apa." jawab Yasmin.
"Tidak bisa. Tetap saja aku tak percaya!" ungkapku.
"Benar kata Qret, sebaiknya ia ikut. Orang mau lahiran kadang suka aneh-aneh. Iya kan sayang?" tanya Jack pada istrinya.
Mungkin karena tidak mau membuat Riana lama menunggu, akhirnya Deni mengizinkan aku masuk ke dalam untuk menemani Yasmin. Aku memaksakan kehendak hanya untuk melindungi istriku saja.
Sampai di dalam kamar bersalin, seperti yang dikatakan oleh Deni, Riana langsung mengomel saat melihatku. Ia meminta agar aku keluar, tetapi aku menolak sebab harus menjaga Yasmin agar ia baik-baik saja.
"Kau kira aku segalak itu? Kalau orangnya normal seperti Yasmin dan Lisa, tidak mungkin kukasari. Tapi kalau aneh seperti kau dan Jack ya kalian pantas mendapatkannya." ungkap Riana.
"Enak saja kau bilang aku dan Jack aneh. Yang benar kaulah yang aneh!" aku membela diri.
"Mas sudahlah. Kalau ikut masuk hanya untuk membuat emosi Riana jadi buruk lebih baik keluarlah." Pinta Yasmin.
"Yas, kau mengusirku?"
__ADS_1
"Bukan begitu mas."
"Kan sudah kukatakan Qret, aku dan Yasmin itu adalah sahabat!" Riana tertawa penuh kemenangan.