GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
120. Operasi Terakhir


__ADS_3

Cinta itu tidak selalu melihat fisik. Bisa saja hati tertawan oleh baiknya akhlak, sehingga meskipun wajah nan rupawan berubah menjadi buruk, atau fisik yang sempurna menjadi tidak sempurna, tidak mempengaruhi cinta tersebut. Justru semakin bertambah cintanya sebab sabar menghadapi ujian.


Hari ini, kembali kuuntai kata cinta untuk Perempuanku. Yasmin. Seorang wanita yang memiliki sepasang mata indah dan wajah yang dapat meneduhkan hatiku. Saat kami sedang berkeliling di taman rumah sakit. Sengaja ku bawa ia ke sini agar tidak terlalu suntuk di kamar terus.


Aku mengungkapkan apa yang terasa di hati, bahwa betapa aku mencintainya sebab ialah jalanku mendapatkan cinta yang lebih agung, yaitu cinta sang pemilik cinta.


Sepasang mata Yasmin berkaca-kaca, mendengar untaian kata yang sebenarnya sangat sederhana, namun menurutnya begitu masuk ke jiwa sebab diucapkan dengan sepenuh hati dari hati yang terdalam bahwa aku benar-benar mencintainya. Apa adanya.


Kehadirannya dalam hidupku adalah anugerah dari Allah yang aku syukuri. Apalagi Yasmin adalah istriku, seorang wanita yang sudah halal untukku. Sumber pahala jika aku memperlakukannya dengan baik.


Yasmin, dengan menyentuh tangannya saja adalah pahala. Mengungkapkan kata cinta adalah pahala. Bahkan memandang wajahnya yang teduh juga pahala untukku. Lalu bagaimana aku bisa berpaling dari salah satu bukti kebaikan Tuhan padaku.


"Apakah sekarang kau masih meragukan aku?" tanyaku.


"Tidak mas ... tidak. Aku sebenarnya tidak pernah meragukan mas. Aku tahu mas adalah lelaki terbaik yang tidak akan mempermainkan cinta. Namun begitulah lemahnya hatiku, hingga mau saja termakan bujukan rayu setan. Dengan mudahnya aku terbakar api cemburu. Aku sungguh salah satu contoh selemah-lemahnya manusia." ungkap Yasmin sambil berurai air mata.


"Yas, aku dan kamu sama. Kita sama-sama lemah. Itulah mengapa Allah menciptakan kita berpasangan agar kita bisa saling melengkapi. Saat aku khilaf, kaulah yang bertugas untuk mengingatkan. Begitu juga sebaliknya, saat kau lemah, akulah yang bertugas untuk menyemangati dan menasihatimu agar tetap berada dalam koridor yang sudah ditetapkan oleh Allah. Yang terpenting kita harus saling percaya agar mahligai pernikahan ini tetap terjaga."


"Ya mas. Aku akan mencoba untuk menata hatiku, aku tidak ingin terus-menerus mencurigai sesuatu hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi."


"Baiklah, sekarang senyum duku agar hatiku juga tenang."


Seutas senyum yang begitu manis dihadiahkan Yasmin untukku. Senyum yang dahulu selalu kucari-cari, tapi sulit kudapatkan karena Yasmin begitu pelit berbagi senyum pada sembarang lelaki sebab ia tipikal perempuan yang dingin, hanya mau berkomunikasi dengan orang-orang tertentu saja.


"Sudah sore, ayo kita kembali ke kamar. Kau harus banyak istirahat agar besok siap untuk operasi." kataku. Lalu aku mendorong kursi rodanya, berlalu menuju kamar tempat Yasmin di rawat.


***


Pukul delapan pagi waktu Singapura. Yasmin sudah bersiap menjalani operasi. Dua orang perawat mendorong tempat tidurnya menuju ruang operasi, sementara aku menunggu di luar, menanti dengan harap-harap cemas.


Entah sudah berapa kali aku berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar operasi sambil zikir dan berdoa. Juga begitu banyak pesan dan panggilan telepon yang masuk ke Hp, tapi tidak ada satupun yang kujawab sebab sekarang aku fokus pada Yasmin.


Tiga jam sudah berlalu ketika akhirnya pintu kamar operasi dibuka. Tampak dokter keluar, salah satunya dokter Irene yang menangani Yasmin.


"Operasi baru saja selesai. Istri anda masih di dalam untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Mari kita doakan sama-sama agar hasilnya maksimal!" ucap doker Irene dengan optimis.


Setengah jam kemudian, Yasmin keluar dari kamar operasi, kedua matanya masih terpejam. Perawat mengatakan bahwa Yasmin masih berada dalam pengaruh obat bius, makanya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Perawat tersebut mendorong kasur Yasmin menuju kamar, setelah memastikan semuanya sesuai, barulah perawat tersebut meninggalkan kamar Yasmin setelah berpesan padaku untuk menghubungi perawat jika terjadi sesuatu.


Pelan, aku memegang tangan kanan Yasmin, mengecup perlahan. Lalu membacakan ayat-ayat yang sudah kuhafal untuk menenangkan hati.


Ini operasi ketiga untuk kaki kanannya, setelah dua operasi sebelumnya gagal. Ku harap sekarang berhasil sebab Yasmin terlihat sudah sangat lelah menjalani rangkaian operasi, penyembuhan luka hingga kering. Ia juga sudah mengeluhkan tentang betapa sakitnya suntikan-suntikan yang diterimanya di tangan, juga beberapa butir obat yang harus dihabiskan setiap harinya.


"Yas, maafkan aku belum bisa menjagamu dengan baik. Aku begitu lemah Yas, maka padaNya aku menitipkan kamu, Yas. Semoga Allah selalu mwlindungimu."


***


"Ibu ... ibu ... ibu." pelan, Yasmin memanggil-manggil ibu, sementara kedua matanya masih terpejam.


Aku yang sedang larut dalam doa langsung mengakhiri, lalu menghampiri Yasmin. Berbisik di telinganya.


"Yas," kataku.


"Ibu." kata Yasmin lagi.


Ada kalanya, saat kita sedang berada di posisi yang paling terendah, akan selalu teringat dengan orang-orang yang begitu kita sayangi. Seperti Yasmin saat ini, ia mengigau memanggil-manggil ibunya.


"Yas, kamu sudah bangun?" tanyaku, saat kedua mata Yasmin terbuka.


"Ibu," panggilnya lagi.


"Ini aku Yas. Qret." kataku.


"Mas?"


"Iya. Bagaimana keadaanmu?"


"Baik."


"Aku mencintaimu, Yas!"


"Apa operasinya sudah selesai?"


"Sudah."

__ADS_1


"Apa aku sudah bisa berjalan?"


"Belum Yas. Sabar dulu. Tunggu sekitar dua bulan untuk membuka gipnya."


"Tapi aku sudah bosan."


"Kamu terlalu banyak aktivitas selama ini Yas, makanya Allah kasih ujian seperti ini supaya kamu tidak banyak bergerak. Supaya tubuhnya bisa istirahat dan supaya ...."


"Apa?"


"Supaya aku bisa menjaga dan melayani kamu."


"Kenapa begitu?"


"Sebab selama ini kan kamu yang selalu ngelayani aku. Kamu pasti lelah, iya kan? Mengurus bayi besar yang sedikit bawel tapi tampan seperti aku ini?"


Yasmin tertawa kecil, ia geleng-geleng kepala. "Mas ini ada-ada saja." cetusnya.


"Jadi, mulai sekarang izinkan aku membalas kebaikanmu agar akupun mendapatkan pahala seperti kamu."


"Kalau aku nurut, nanti aku enggak dapat pahala dong?"


"Kata siapa? Aku kan suami kamu, kamu wajib nurut sama aku dalam hal kebaikan. Nah, aku minta kamu nurut, ikutin saja apa yang aku katakan. InsyaAllah sudah ada pahalanya."


"Mas ini ada-ada saja!"


"Loh, kok ada-ada saja?"


"Baiklah, aku akan nurut."


"Nah, begitu baru pintar. Sekarang, ayo istirahat. Kita tidur agar besok bangun fresh. Aku mau mengajak kamu ke cafe. Kamu belum tahu kan, di sana ada yang menjual bakso."


"Bakso?"


"Iya Yas. Bakso! Kamu pasti kangen masakan Indonesia, kan? Nah, salah satu cafe itu menjual bakso. Besok kita ke sana, makan di sana. Jangan sampai perawat tahu supaya aku tidak kena marah. Aku akan mentraktir kamu seperti dulu."


"Baiklah!" Yasmin menuruti apa yang aku perintahkan, ia memejamkan matanya, lalu tidak lama sudah pulas dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2