
Orang-orang yang beriman itu menjadikan sabar dan salat sebagai penolongnya. Untuk apapun masalah yang ia hadapi. Begitu nasihat Heri ketika ujian mulai menghampiri hidupku.
Sabar itu memang tidak mudah, apalagi untuk orang yang belum terbiasa sepertiku. Tapi, jika kita mau mencoba, maka hati pun akan tenang.
Sedangkan salat, ini adalah salah satu cara untuk berkomunikasi langsung dengan Allah. Seberat apapun masalahnya, mengadu cukup oada-Nya. InsyaAllah akan dibukakan jalan keluarnya, jika belum tampak juga, maka kembali bersabar sebab pasti ada hikmah dari semua ujian yang Allah berikan.
Betapa nikmatnya orang-orang yang Allah karuniakan sikap selalu berprasangka baik pada Allah. Hatinya tenang dan selalu damai, sebab ia yakin, semua yang sudah Allah tetapkan adalah yang terbaik.
Seperti apa yang sudah dinasihati, akupun hanya mengadukan semuanya pada Allah. Dalam sujud panjang, kuceritakan semua pada Allah, sambil memohon petunjuk agar Dia memberiku banyak kesabaran dan jalan keluar terbaik.
"Akhirnya kau selesai juga salatnya!" ucap Jimmi. Entah kapan ia datang, kini anak itu sudah berada di dalam sel, berbaring tidak jauh dariku.
"Sedang apa kau di sini?" tanyaku.
"Kau khusyu sekali salatnya. Aku sampai mengantuk menunggumu. Bebanmu pasti banyak sekali. Tapi aku mulai sakit padamu, Qret, setidaknya ini jadi sedikit pengobatan atas ketidak sukaanku ketika tau kau adalah saudaraku. Kau lumayan berubah, sudah agak saleh. Tapi aku tidak menyebutmu benar-benar baik, bisa saja kan ini semua pencitraan!"
"Kau kira aku tertarik melakukan pencitraan?"
" Ya siapa tau, aku kan hanya menebak. Kau itu kan pernah menjadi ketua gengster. Pasti ide licikmu belum hilang. Iya, kan?"
"Terus saja berprasangka buruk pada orang lain. Kau kira itu tidak berdosa?"
"Kau pasti kebanyakan bergaul dengan si Heri, lama-lama bisa jadi ustad beneran kau Qret!" Jimmi terkekeh.
"Sudah jam segini kenapa belum pulang?"
"Aku sedang malas saja bertemu ibuku. Sudah kukatakan hari ini ada tugas dadakan."
"Kau berbohong?"
"Tidak. Aku memang punya tugas dadakan, yaitu menjagamu. Aku takut kau bunuh diri. Jadi malam ini aku tidur di sini, ya?" Jimmi menarik tikar yang biasa kupakai untuk tidur.
"Kau betah Qret, di sini?"
"Pertanyaan aneh,"
"Hahaha. Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Entahlah ...."
"Qret, kali ini aku bersimpati padamu. Tapi bukan berarti aku sudah menerimamu. Bagaimanapun juga kau melakukan dua kesalahan padaku, jadi aku belum bisa mengampuni sekarang. Tapi tidak tertutup kemungkinan kelak aku akan memaafkanmu."
__ADS_1
"Kesalahan apa yang kau maksud?"
"Kau sudah merebut ayah dan Yasmin dariku. Maksudku ibumu, tapi ia bagian dari hidupmu juga, kan. Makanya aku menyamakan."
"Aku tidak merebut Yasmin!"
"Making tidak akan pernah mengaku. Kalau mereka mengakui, bisa penuh penjara ini dan aku tidak akan bisa numpang tidur di sini denganmu!"
"Terserah apa katamu, tapi begitulah kenyataannya!"
"Qret, begitu kau keluar, persaingan akan dimulai!"
"Mungkin aku tak akan pernah keluar,"
"Kau mau menyerah? Hanya gara-gara gadis itu? Maksudku, adik angkatnya itu? Waw, aku makin penasaran dengan perasaanku padanya."
"Jangan berpikiran macam-macam, Jimmi."
"Sekarang aku malah merasa kaulah laki-laki hello Kitty itu,"
Aku menatap tajam Jimmi, sedangkan ia hanya tertawa kecil. Anak ini benar-benar menyebalkan.
"Kau harus keluar Qret. Aku tidak ingin mendapatkan Yasmin tanpa perlawanan. Aku suka kompetisi!"
"Begini saja, sekarang kau tidurlah. Sudah larut. Besok pagi akan kuberikan sesuatu. Tapi tidak cuma-cuma. Oh ya, malam ini berbuat baiklah agar aku tidak berubah pikiran. Caranya, kau tidur dan jangan banyak tanya. Mengerti!"
Seperti anak kecil yang mendengar perintah dari orang tuanya, aku mengikuti kata-kata Jimmi. Berbaring tidak jauh darinya. Usai membaca doa, tidak lama langsung terlelap.
***
"Qret, tolong aku Qret ... tolong!" Riana menggapai-gapai saat ia akan tenggelam.
"Riana ... Riana ... Riana!" panggilku. Aku berusaha untuk menjangkau Riana kecil, tapi sulit sebab jarak kami begitu jauh.
Ingin sekali segera berlari mencari bantuan, tetapi aku juga khawatir meninggalkannya, takut ia makin terjatuh dan hanyut terbawa arus sungai.
Tangan kecil kami hampir menyatu, sedikit lagi, hingga akhirnya aku bisa memegangnya. Sekuat tenaga aku menarik Riana, tapi tidak terlalu berat. Gerakan yang kami timbulkan membuat tanah semakin terkikis. Riana merasa ia akan semakin jatuh. Tiba-tiba gadis itu berusaha melepaskan tanganku.
"Riana, cepat pegang tanganku!" aku berusaha mengeratkan genggaman.
"Tidak Qret, jika seperti ini terus, kau pun akan terjatuh." Riana benar-benar melepaskannya, lalu terdengar suara byur. Riana jatuh ke sungai dan langsung terbawa arus.
__ADS_1
"Riana jangan!" aku menangis histeris melihatnya.
***
"Astagfirullah." peluh membanjiri wajahku, mimpi yang sangat menyedihkan. Semoga saja Riana tidak apa-apa. Perlahan aku bangkit, setelah membaca doa. Tampak Jimmi di sebelah masih tertidur pulas. Aku kembali berwudhu dan melaksanakan salat.
Subuh kali ini berbeda. Pak Bagus tidak datang ke kantor polisi. Berarti tidak akan ada yang mengeluarkanku supaya bisa salat berjamaah. Tetapi aku tidak habis akal, ada Jimmi di sini.
"Jimmi, bangun!" aku mengguncang tubuhnya. Ia menggeliat.
"Ini masih terlalu pagi, Qret," ucapnya.
"Salat subuh!"
"Aku mau salat berjamaah denganmu!"
"Ya Tuhan Qret, kau merepotkan aku saja!"
Jimmi bangun dengan ogah-ogahan. Ia berwudhu, lalu berdiri di belakangku sambil menggerutu sebab merasa terganggu aku bangunkan.
"Kau itu sudah besar, masa seperti anak kecil susah dibangunkan salat." kataku.
"Kau juga bisa kan salat Sendiri? Kenapa harus membangunkanku?" ia masih belum terima.
"Tahu kan pahala salat berjamaah dengan salat sendiri? Aku tidak mau rugi, makanya ku bangunkan kau. Harusnya kau bersyukur, bukannya mengomeliku!"
"Ahhhh banyak omong. Ayo segera salat!"
***
"Seperti yang sudah kukatakan padamu, Qret. Aku punya sesuatu untukmu." Jimmi memasang mimik wajah serius. "Sebenarnya aku tidak ingin memberikan karena kau sudah mengganggu tidurku, tapi ...."
"Aku tidak tertarik dengan apa yang ingin kau berikan," aku menjawab asal.
"Sungguh? Termasuk rekaman pembicaraan ibuku dan Riana?"
"Jim, apa maksudmu?" aku langsung bangkit hendak mengejar Jimmi.
"Hahaha, kau butuh ini kan Qret?" Jimmi memamerkan sebuah kaset handycam. "Ini hasil shooting Jamm, ia tidak sengaja merekamnya saat mamaku dan Riana bertemu. Kebetulan Jamm ada di lokasi yang sama."
"Ya Tuhan ...." aku nyaris melonjak mendengar apa yang disampaikan oleh Jimmi. "Berikan padaku, Jimmi." pintaku.
__ADS_1
Apakah ini jawaban atas doa-doaku? Inikah jalanku untuk keluar. Apa yang direkam oleh Jamm. Aku sungguh sangat penasaran. Ingin sekali melihat semuanya sekarang juga. Tetapi rupanya Jimmi masih ingin bermain-main. Ia mempersulit aku, padahal aku sangat yakin ia ingin memberikannya padaku, buktinya sampai mau menginap di dalam tahanan.