GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
145. Harapan Yasmin


__ADS_3

Riu benar-benar merubah hidup Yasmin. Sementara ibunya cuek dengan bayinya, Yasmin yang maju untuk menyayangi Riu. Setiap pagi hari Riana sudah datang ke rumah untuk mengantarkan Riu. Lalu Yasmin yang akan memandikan bayi tersebut, kemudian memberinya asip, begitu terus ketika sore.


Malam hari, jika Riu tidak bisa tidur atau rewel, maka Riana akan memanggil Yasmin supaya ia bisa tidur nyenyak.


Awalnya aku biasa saja, menerima semua yang dilakukan Yasmin meski pada akhirnya ia jadi agak sedikit melalaikan pekerjaan rumah. Tetapi pagi ini aku tidak bisa diam lagi karena Yasmin terlihat lelah.


Tanpa sepengetahuan Yasmin, aku menyelinap ke sebelah untuk bicara pada Riana agar ia membawa Riu. Setidaknya hari ini agar Yasmin bisa istirahat.


Baru saja aku ingin menyelonong masuk sebab pintu tidak dikunci, tapi langkahku terhenti sebab mendengar nama Yasmin mereka sebut.


"Kau yakin tidak apa-apa jika Riu terus berada di rumah Yasmin dan Qret?" tanya Deni.


"Iya. Tidak apa. Aku melakukan itu semua agar bisa melihat Yasmin tersenyum. Lihatlah sekarang, ia begitu penuh semangat meski agak lelah mengurus Riu kita." ungkap Riana.


"Ayah sebenarnya juga masih belum puas bermain-main dengan Riu, tapi kalau dengan begitu Yasmin bisa kembali bersemangat hidup, ayah rela. Yang penting Yasmin dan Qret sehat dan bahagia. Perkara apakah Riu nanti jadi lebih dekat dengan Yasmin tidak masalah. Toh mereka sudah seperti anak sendiri bagi ayah." kata paman Rudi.


"Apa kau keberatan?" kini Riana bertanya pada Deni.


"Kau kan tahu, Qret itu temanku. Ia juga sudah seperti saudara sendiri, kenapa juga aku keberatan. Lagipula aku percaya bahwa Yasmin bisa menjaga Riu dengan sangat baik." kata Deni.


Apa yang mereka katakan benar-benar membuatku tersentuh. Perlahan aku meninggalkan rumah itu. Lalu berlalu ke taman. Baiknya Allah padaku, mengirimkan orang-orang terbaik di hidup kami.


Andai saja tidak banyak orang di sini, pastilah air mata sudah berlinang mengingat ternyata mereka pun rela berkorban untuk kebahagiaan kami. Ahhhh, ada perasaan malu sebab tadi hendak marah pada Riana.


Harusnya aku menyadari, bagaimanapun, meski Riana adalah perempuan yang tidak punya skill di rumah tangga, tapi ia adalah ibu Riu. Saat tahu hamil Riu ia terlihat begitu senang. Lalu kenapa juga aku harus menuduhnya tidak peduli pada anaknya hingga menyusahkan kami. Padahal kenyataannya, ia tengah berkorban demi kebahagiaan kami. Agar Yasmin kembali punya sembahyang hidup.


Langkah kakiku terhenti di depan rumah. Ada Yasmin yang sedang menggendong Riu, ditemani oleh Riana. Kini aku baru sadar bahwa Yasmin sebenarnya yang mendominasi Riu. Ia yang selalu ingin menguasai bayi itu.


"Mas dari mana?" tanya Yasmin.


"Keluar sebentar." kataku.

__ADS_1


"Mas marah?" Yasmin bertanya lagi.


"Tidak. Kenapa memangnya?"


"Sebab sejak pagi aku sudah sibuk dengan Riu."


"Yasmin Yasmin. Seperti yang kau katakan, bagaimana mungkin aku bisa marah dengan bayi yang begitu menggemaskan ini." aku langsung melihat Riu. Bayi itu masih tertidur. Harusnya Yasmin bisa meletakkannya saja di box bayi sebab sudah tidur, tapi karena kerinduan akan sosok bayi dan cintanya yang begitu besar pada Riu, makanya ia tetap saja menimang meski Riu sudah terlelap.


"Tuh kan, aku bilang juga apa Yas. Riu itu terlalu menggemaskan, siapapun tidak akan bisa marah padanya. Siapa dulu dong ibunya ... Riana!" ungkap Riana dengan penuh kebanggaan.


"Haihhhh, tapi ia benar-benar tidak mirip kamu. Seperti apa yang aku harapkan. Jangan sampai ada dua Riana dalam hidupku. Satu saja aku sudah kewalahan." kataku, sambil melengos masuk ke dalam sebelum Riana melancarkan tendangannya.


***


"Riu itu menggemaskan ya mas." kata Yasmin, saat kami sedang duduk-duduk sore menikmati segelas teh hangat dan gorengan buatan Yasmin.


"Ya," jawabku, sambil menyeruput tehnya.


"Apa mas tidak ingin punya anak seperti Riu juga?"


"Tentu saja aku ingin punya anak laki-laki seperti Riu."


"Kalau begitu banyak-banyak berdoa sama Allah."


"Mas,"


"Ya."


"Bagaimana jika kita tidak pernah lagi bisa punya anak karena trauma yang aku alami?"


"Jangan bicara seperti itu."

__ADS_1


"Tapi dokter yang mengatakan."


"Dokter bisa saja salah."


"Kalau ternyata benar?"


"Yas, minta sama Allah. Semua terserah Allah. Ingat bagaimana kisah nabi Zakaria dalam meminta anak? Padahal istrinya mandul. Tapi jika Allah sudah berkehendak maka lahirlah nabi Yahya. Kita juga tidak boleh putus harapan. Lagipula jika memang ditakdirkan tidak punya keturunan, toh kita sudah punya Riu sebagai anak angkat kita. Kan kau sendiri yang menyatakan bahwa Riu adalah anakmu. Masa sekarang lupa?"


Yasmin memaksakan senyum di bibirnya. Aku tahu apa yang kukatakan tadi tidak cukup untuk menghilangkan resahnya. Tetapi aku ingin ia tahu, bahwa apapun kondisinya, bagaimanapun takdir yang sudah ditetapkan Allah untuk kami, aku tetap menyayanginya seperti awal kami bertemu.


"Bagaimana kalau kita menjalani program saja?" aku mengajukan sebuah ide yang tiba-tiba muncul begitu saja di benakku. Mungkin itu petunjuk Allah, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas program bayi adalah salah satu cara yang bisa kami jalani untuk memperoleh keturunan.


"Program?" Yasmin mengerutkan keningnya.


"Iya Yas. Program agar kita punya bayi. Aku pernah melihat di televisi bahwa banyak juga orang-orang yang sulit mendapatkan keturunan tapi pada akhirnya bisa juga karena menjalani program tersebut. Kau mau mencobanya? Kita cari rumah sakit terbaik di Jakarta yang bisa membantu masalah kita."


"Tapi kan program bayi tabung itu mahal, mas."


"Masalah uang angan dipikirkan. Toh kita bekerja untuk dapat uang memang untuk dihabiskan."


"Tapi mas ...."


"Sudah. Sekarang jangan pikirkan apapun juga. Besok selesai kerja kita ke rumah sakit untuk konsultasi dulu. Selanjutnya baru kau yang memutuskan mau coba atau tidak."


***


Kehadiran buah hati memang salah satu hal yang sangat diharapkan oleh pasangan suami istri yang sudah menikah. Apalagi kalau pernikahan mereka sudah. Uskup lama sementara yang baru menikah sudah memiliki buah hati.


Tetapi balik lagi. Masalah rezeki, jodoh dan kematian adalah urusan Allah. Sekuat apapun kita berusaha jika Allah belum memberikan rezeki anak, hanya sabar yang bisa kita lakukan.


Entah sudah berapa kali Yasmin mengeluhkan tentang buah hati. Aku tahu ia ingin segera menimang bayi. Hal yang juga sebenarnya ingin sekali aku dapatkan, tetapi tidak pernah aku tampakkan sebab tidak mau Yasmun tambah sedih. Tetapi sikapku yang terkesan cuek masalah anak dianggap oleh Yasmin bahwa sebenarnya aku tidak sepertinya.

__ADS_1


Sebenarnya akupun sudah mencari tahu banyak hal agar kami bisa segera punya keturunan. Salah satu informasi yang aku dapatkan adalah dengan program bayi tabung. Sudah ada beberapa rumah sakit yang direkomendasikan untuk kami, tetapi aku harus mengajak Yasmin memutuskan apakah harus menjalaninya atau tidak.


Semula aku mengira dengan kehadiran Riu, Yasmin bisa terobati. Tapi ternyata harapan Yasmin masih sama.


__ADS_2