GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
94. Gagal, Coba Lagi!


__ADS_3

Persis seperti dugaan Deni, kedai di depan kami sukses menjadikan dirinya saingan berat atau bisa dibilang mengalahkan kami. Kalah Telak.


Baru sehari buka, ia sudah berhasil menjaring semua pelanggan hingga tidak satupun pengunjung datang ke sini. Bahkan, seluruh karyawan milik kami pun ikut direkrut oleh mereka sehingga membuat Riana naik darah.


Marketing yang mereka gunakan sungguh luar biasa. Mereka menjual dengan separuh harga, cita rasanya pun tidak diragukan lagi sebab seluruh karyawan kami kini menjadi bagian mereka. Aku jadi penasaran, siapa dibalik ini semua? Pastilah bukan pengusaha baru. Ia sudah tahu ilmu marketing dengan sangat detail.


"Luar biasa, apa kita masih harus tetap bersabar Qret. Lihatlah, bahkan mereka menjual ayam bakar madu yang jadi resep andalan di kedai ini!" Riana tampak kesal sekali, ia masih belum bisa membendung emosinya. "Mereka sudah mencuri resepnya, Qret!" ungkap Riana.


"Tapi resep itu belum didaftarkan atas nama Qret, jadi kita tidak bisa melakukan apapun." ucap Deni, mencoba menengahi. Sebab jika didukung, Riana bisa melakukan hal-hal ekstrim.


"Apa? Jadi kita hanya bisa diam saja sambil menonton?" Riana makin berang. "Kalau kalian mau melakukan itu, silakan. Tapi aku akan memberi mereka pelajaran. Lihat saja, akan ku obrak-abrik kedai mereka!" Riana hendak melangkah keluar kedai, tapi dengan sigap Yasmin menghalanginya.


"Tenang dulu Riana," pinta Yasmin. "Menghadapi masalah apapun jangan kedepankan emosi. Tenanglah. Pasti ada jalan keluarnya." tambah Yasmin.


"Benar Riana. Kalau kau melabrak mereka, yang rugi kamu sendiri. Bisa-bisa kamu dilaporkan ke polisi karena membuat keonaran serta perbuatan tidak menyenangkan!" tambah Deni lagi.


"Ahhhh, terserah, aku tidak peduli!" ungkap Riana.


"Den, bantu aku menutup kedai." pintaku pada Deni.


Aku melangkah duluan, menutup kedai, lalu Deni mengikuti. Sementara Yasmin dan Riana hanya memperhatikan kami. Setelah selesai, aku kembali ke rumah, diikuti mereka bertiga.


"Apakah ini artinya kita sudah finish?" tanya Riana. "Qret, jawablah!" lagi-lagi Riana memaksaku untuk buka suara.


"Apa kau mengenalku sebagai pribadi yang gampang menyerah seperti itu?" tanyaku pada Riana. "Kau sudah mengenalku sejak usiaku sepuluh tahunan. Aku kira kau sudah hafal tentangku Riana."


"Tidak. Aku tahu kau tak akan menyerah begitu saja. Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Riana.


"Hmm, lihatlah nanti." aku meraih tangan Yasmin, bergandengan tangan kamu jalan beriringan menuju rumah. "Hei, kalian berdua jangan ikuti kami bergandengan tangan ya. Ingat, kalian berdua belum halal!" seruku, sambil tertawa-tawa. Sementara dua orang itu tampak malu-malu, bahkan berubah jadi kikuk.


"Mas usil sekali," pelan, Yasmin berbisik padaku, sambil mencubit lembut pinggangku.

__ADS_1


"Biarkan saja. Sesekali tidak apa mencandai mereka supaya tidak spaneng." jawabku.


***


Apakah aku benar-benar tenang menghadapi masalah kedai? Tentu saja tidak, aku benar-benar dibuat pusing. Bayangkan, baru kemarin menghitung laba yang jumlahnya selalu naik setiap harinya, tapi kini, benar-benar tidak ada yang masuk.


Mungkin kini waktunya untuk berpikir langkah apa yang harus kulakukan selanjutnya?


"Mas," Yasmin masuk ke ruang kerja, setelah selesai menyiapkan makanan di dapur bersama ibu. "Masih memikirkan masalah kedai?" tanya Yasmin, ia ku j duduk di sofa yang ada di kantor.


Aku langsung menghampiri Yasmin, berbaring dan meletakkan kepala di atas kakinya.


"Yas, kalau aku tidak punya uang bagaimana?" tanyaku.


"Maksudnya mas?" Yasmin mulai mengusap lembut kepalaku.


"Kalau kita bangkrut, bagaimana?"


"Benar?"


"Mas tidak percaya padaku?"


"Tentu saja aku sangat percaya." bagiamana mungkin aku bisa melupakan kesetiaan Yasmin kala menanti hingga aku bebas dari penjara. Saat itu bisa saja ia memutuskan hubungan kamu atau menjauhiku agar terhindar dari masalah, tetapi Yasmin tidak melakukannya. Ia memilih setia. Itu juga yang membuatku sangat bersyukur memilikinya.


"Sebenarnya ada beberapa cara yang ingin aku lakukan, tapi ini masih coba-coba dulu," aku menunjukkan catatan ke hadapan Yasmin.


"Bagus ini, mas." ungkap Yasmin.


Kami akan tetap berjualan, tetapi padanya akan dirubah. Tidak lagi berharap pada pengunjung yang datang langsung, tapi mulai membuka outlet online.


"Kita mulai dari sini, ya." aku menarik laptop ke hadapan kami. Lalu mulai membuka kedai makanan online. Menuliskan menu yang kamu sediakan lalu mulai mengunggahnya.

__ADS_1


"Kita tunggu, apakah besok akan banyak pembelinya, atau ...," aku sebagian menggantung pembicaraan.


"Atau apa?" Yasmin mengerutkan keningnya.


"Atau kita cari strategi yang lain."


***


Sudah dua jam sejak kedai online dibuka, tidak ada satupun pembeli. Begitu terdengar bunyi tring dari aplikasi yang kami buat, kamu berempat langsung mendekat.


"Ada yang pesan masakan jadul." ungkap Riana.


Dengan cekatan Yasmin langsung meracik, sementara aku dan Deni sibuk mencari ancang-ancang lokasi pengantaran.


"Aku saja yang mengantar!" kataku, sambil mengambik satu porsi makanan yang sudah disajikan oleh Yasmin.


Dengan naik motor, aku mulai melaju menuju lokasi pembeli. Dalam hati ada rasa bahagia pada akhirnya ada juga pembeli setelah kemarin benar-benar tidak ada pemasukan. Meskipun ini tidak bisa mengembalikan modal belanjaan kemarin, tapi sudah membuatku cukup senang.


Hatiku terasa kukuh lantak saat melihat lokasi pembeli. Sebuah rumah yang jauh dari kata kayak, bahkan sudah mau roboh. Seorang ibu paruh baya langsung menghampiri saat aku mengetuk pintu.


"Saya mau mengantarkan pesanan, Bu," Kataku, sambil menyodorkan makanan.


"Oh ya, tunggu sebentar ya. Makanan ini untuk ibu saya." ucap ibu tersebut. Ia masuk, dari balik pintu terlihat jelas seorang nenek tua berbaring hanya beralaskan kasur tipis. Tiga orang balita duduk melingkar di sekeliling nenek tersebut.


"Ibu saya sedang sakit, kami hanya tinggal berlima. Saya sendiri janda. Sehari-hari harus bekerja sambil mengurus ibu dan tiga anak saya. Senang sekali waktu ada yang jualan makanan kamipng secara sederhana. Kebetulan ibu saya pengen sekali makan menu tersebut, tapi saya belum sempat bikin karena padatnya pekerjaan." kata ibu tersebut, sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan.


"Tidak usah Bu, ambil saja." kataku, lalu berangsur pergi, sebelum air mata ibu benar-benar tumpah.


Sedih sekali melihat kondisi keluarga itu. Saat seorang anak yang sudah tidak muda lagi harus mengurus ibu dan tiga balitanya. Semtara ia harus menanggung beban hidup yang cukup berat.


Motor kini melaju dengan kecepatan tinggi sambil menahan haru atas apa yang aku lihat barusan. Kuta memang harus benar-benar belajar bersyukur agar bisa menikmati bagaimana beruntungnya hidup kita. Di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi, di bawah tanah masih ada lapisan tanah yang lebih dalam lagi.

__ADS_1


__ADS_2