GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
23. Jasmin Diam


__ADS_3

Ren dan Joko masih terlibat perdebatan. Sebenarnya Joko sudah malas menanggapi, tapi ia tak punya pilihan lain sebab masih menunggu seseorang.


"Nah, itu dia datang!" Joko melambaikan tangan pada seorang yang baru datang. Tentu saja Ren kaget sebab itu adalah Jasmin.


"Kak Ren di sini juga?" Tanya Jasmin.


"Untuk apa kamu bertemu dengannya?" tanya Ren pada Jasmin. "Kamu bertemu diam-diam dengan lelaki lain tanpa izin dariku?" Ren tampak kesal. "Berani sekali kamu, harusnya kalau mau keluar dengan laki-laki kabari aku dulu."


"Kau sendiri apa izin pada istrimu saat bertemu dengan perempuan lain?" Joko balik bertanya, sehingga membuat Ren terperangah. "Istrimu tak tahu kalau aku yang menghubuinya, ia tahunya hari ini akan bertemu Mia. Aku menghubungi Jasmin atas nama Mia, kami berbincang juga atas nama Mia. Bukan begitu mbak Jasmin?" tanya Joko Jasmin.


"Ya. Ku kira yang akan datang adalah kak Mia." Kata Jasmin, ia masih belum mengerti apa yang sedang terjadi.


"Nah, sekarang bagaimana pertanggungjawabanmu. Mumpung di sini ada istrimu, bukankah yang kau tahu bahwa Mia lah yang menghubungimu.


"Katakan apa maksudmu?" Ren mulai geram, merasa dipermainkan. Sebenarnya Ren datang karena prihatin pada nasib Mia. Ia takut terjadi sesuatu hal yang fatal, bukan karena ada sesuatu dengan Mia.


"Kau ingin tahu semuanya? Baiklah. Sekarang ini Mia ada di rumah. Aku mengurungnya, ia tak boleh keluar sampai bisa patuh padaku, bahkan aku sudah menuliskan surat pengunduran dirinya di rumah sakit. Hpnya juga aku yang pegang. Ia tak bisa berkomunikasi dengan siapapun sampai aku yakin ia benar-benar berubah.


Kenapa aku melakukan semua ini, sebab aku ingin ia berubah. Aku tak mau pernikahan yang sudah kubangun di atas janji suci pada Allah hanya dijadikan permainan. Kau tahu Ren, Mia tak sebaik yang kau kira. Tapi semoga cepat atau lambat ia akan berubah. Kini aku sedang berusaha merubahnya.


Ren, kuminta mulai hari ini kau tak lagi ikut campur urusan kami. Aku tahu, Mia yang berusaha menarik simpatimu, tapi kau juga harus sadar bahwa ia melakukan itu semua bukan ganoa tujuan. Tapi kau adalah tujuannya, Ren!


Kau paham tidak, sejak di bangku SMA ia sudah menyukaimu, berbagai cara ia lakukan untuk mendapatkan hatimu, bahkan ia terus menguntit kemanapun kau pergi. Kau juga harus tahu, siapapun gadis-gadis yang mencoba mendekatimu maka akan disingkirkan olehnya, termasuk istrimu. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal buruk kada Jasmin.

__ADS_1


Mungkin kau bertanya dan butuh bukti, kenapa aku bisa tahu semuanya. Sebab aku adalah kaki tangannya. Akulah orang yang selalu membantunya melakukan semua aksinya.


Aku melakukan bukan tanpa sebab, tapi karena aku sangat mencintainya, hanya saja aku dibutakan oleh perasaanku sendiri sehibgga tega melakukan hal buruk pada istrimu.


Jasmin, kamu ingat, pernah terkurung di kamar mandi kampus? Selebaran yang mengatakan kalau kamu perempuan murahan hingga hampir ditabrak? Itu semua perbuatanku atas suruhan Jasmin!" ungkap Joko.


"Penjahat!" Ren berdiri dari duduknya, lalu meraih kerah baju Joko. Buk, semua tinju melayang ke pipi Joko. "Berani kau menyakiti istriku!" kata Ren lagi. Ia benar-benar ingin menghajar Joko sebab sudah berani berbuat jahat pada perempuan yang dicintainya.


"Tak mengapa, aku terima pukulan ini. Aku pantas mendapatkannya, tapi sekarang aku sudah bertaubat. Maafkan aku Jasmin." pinta Joko lagi. "Saat itu aku benar-benar khilaf, aku dibutakan cinta. Tapi sekarang aku sudah sadar, makanya minta maaf padamu."


"Berdiri, ayo kita berkelahi saja!" Tantang Ren.


"Nggak Ren, aku nggak tertarik berkelahi dengan suami yang tak bisa melindungi istrinya!" kata Joko. "Selama ini kau sudah membuktikan, kau ibu suami yang seperti apa. Kau bahkan tak benar-benar care oaravistrinu sendiri. Kau tak tahu kalau ternyata kau sendirilah yang mengundang masalah pada diri Jasmin.


Dan untuk kamu Jas, aku siap menerima hukuman apapun yang ingin kau berikan, bahkan jika dilaporkan pada polisi pun aku siap. Aku pantas mendapatkan semua itu!" tambah Joko.


"Nggak perlu, aku sudah memaafkan kamu. Yang terpenting kamu bisa menjaga Mia dengan baik sehingga tak ada suami perempuan lain yang harus mengkhawatirkannya." kata Jasmin dengan maksud menyindir Ren.


"Jas, kamu bicara apa?" Ren jadi tak enak hati.


"Terimakasih Jas. Sebenarnya lelaki yang mendapatkan kamu beruntung, tapi keberuntungannya hilang karena tidak peka!" Joko menambahkan sindiran untuk Ren. "Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu, Jasmin, sekali lagi terima kasih. Saya benar-benar berhutang Budi kepadamu. Saya hanya bisa berdoa semoga hidupmu bahagia selalu. Semoga di perjumpaan kita selanjutnya saya bisa membalas kebesaran hati kamu." Joko bangkit, ia menundukkan badannya ke hadapan Jasmin, lalu berlalu tanpa pamit pada Ren.


"Apa-apaan lelaki itu. Ia sama sekali tak menganggap aku ada. Pergi tanpa pamit." Ren menggerutu. "Oh ya, tadi kamu ke sini dengan siapa?" tanya Ren pada Jasmin.

__ADS_1


Jasmin diam. Ia menutup rapat mulutnya.


"Jas, kamu mendengarku?" Ren menjentikkan jarinya di hadapan Jasmin. "Oh ya, mau sekalian makan siang di sini? Mau pesan apa?" Ren menawarkan buku menu pada Jasmin.


Bukannya menjawab, Jasmin langsung bangkit, ia berlaku keluar dari cafe, mengabaikan panggilan Ren. Seolah suaminya tak ada di sana.


Apa yang terjadi hari ini bisa jadi pelajaran untuk Jasmin. Sejujurnya ia benar-benar kesal pada Ren sebab ternyata masih berhubungan dengan Mia. Padahal ia mengatakan sudah mengabaikan Mia.


"Aghhhh!" Jasmin mengoceh karena kesal.


"Jas ... Jas ... Jasmin. Tunggu dulu!" Ren mengejar kangiah istrinya. "Kamu mau kemana,kenapa diam saja? Aku tanya tapi tidak dijawab."


Jasmin masih diam. Sebenarnya ia begitu kesal. Bahkan kemarahan memuncak,hanya saja ia tak tahu harus bicara apa.


"Jas, demi Allah bicaralah. Aku ini suamimu. Kenapa diam saja. Kalau mau marah ya silakan, tapi janhan diam terus. Aku benar-benar bingung menghadapi kamu kalau terus tutup mulut begitu." kata Ren yang mulai frustasi.


Tapi Jasmin tetap diam, bahkan ia hendak melanjutkan langkahnya.


"Jas, kanu selalu bilang mencintaiku, kalau cinta tidak menyiksa seperti ini. Jawablah!" pinta Ren lagi.


"Cinta? Ya, kemarin memang banyak cinta untuk kakak. Tapi sekarang, perlahan perasaan cinta di hatiku untuk kakak mulai hilang." jawab Jasmin.


"Apa? Jas, jangan begitu." Ren mulai panik. "Kau tak boleh membiarkan perasaan cintamu padaku hilang. Tolong Jas, jangan!"

__ADS_1


Jasmin tak perduli dengan permintaan Ren, ia segera berlari kecil, menyeberang jalan, lalu menyetop taksi yang lewat. Setelah itu berlalu meninggalkan Ren yang tampak begitu panik.


__ADS_2