GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
81. Pengganggu


__ADS_3

Turun dari mobil, semua orang membawa seserahan sesuai dengan pesanan ibu. Saking banyaknya yang dibawa, bahkan para lelaki harus memegang lebih dari dua. Tangan kanan dan kiri penuh, sementara ibu dan Riana hanya membawa satu nampan. Sangat tidak adil sekali.


Kami semua kini duduk di ruang tamu Yasmin yang tidak terlalu besar. Aku, diapit ayah dan ibu. Riana disampingnya ibu, sedangkan paman Rudi di sebelah ayah. Lalu Yasmin dusun di hadapan kami.


Saat baru datang, kami menyerahkan buah tangan pada Yasmin dan ayahnya. Seperti dugaaanku, makanan terlalu banyak. Bahkan sangat banyak sekali untuk tamu yang cuma lima orang dan dua tuan rumah. Apalagi ditambah Yasmin juga sudah masak dan menyiapkan kudapan untuk kami.


"Langsung saja, maksud kami datang ke sini untuk melamar putri pak Bimo Prasetyo, yaitu Yasmin Andriana Shalihah untuk putra kamu, Qret Putra Wijaya. Apakah lamaran kami diterima?" tanya ayah, usak menyampaikan lamaran pada pak Bimo.


"Bagaimana Yas?" tanya pak Bimo pada Yasmin yang masih menundukkan kepalanya.


"Terserah ayah saja." jawab Yasmin.


"Baiklah, kalau ayah yang menentukan. Bismillah, kami menerima lamaran mas Qret untuk putri saya sendiri yaitu Yasmin." jawab pak Bimo.


Lalu ibu maju untuk menyerahkan cincin emas yang dibeli sebelum kejadian penangkapan, kepada Yasmin. Cincin itu sangat pas di jari manis gadis itu.


"Alhamdulillah." ucap semua yang hadir, usai cincin disematkan.


"Mari disambi makan dan minumnya." ajak pak Bimo pada semua yang hadir.


Aku bisa tersenyum lega sambil sesekali mencuri pandang pada Yasmin yang kini akrab berbincang dengan ibu dan Riana.


Hari ini ia terlihat jauh lebih cantik dari biasanya dan aku bangga akan hal itu. Apalagi setelah bisa menyaksikan senyum yang ia berikan pada ibu dan Riana.


"Ahhhh, Yas. Kamu juga harus sehangat itu bicara denganku. Satu lagi, senyum itu tidak boleh lagi kamu sembunyikan dariku!" bisikku dalam hati, sambil tersenyum malu-malu.


"Yas ... Yasmin ... Yas ... Yas!" suara seseorang memanggil nama Yasmin.


Sontak kami semua secara spontan keluar dari rumah menuju sumber suara tersebut dan betapa kagetnya mendapati Jimmi berdiri tepat di depan rumah Yasmin dengan kondisi oyong, seperti mau ambruk.


"Yas, akhirnya kamu keluar juga. Hei, ada kamu Qret! Eh ada papa juga!" panggil Jimmi sambil melambaikan tangan. "Kalian sedang apa berkumpul di sini? Oh ya, aku tahu, Qret mau melamar Yasmin, kan? Papa ikut mengantarkan juga. Dasar jahat kalian semua, sudah tahu aku mencintai Yasmin malah kalian tikung. Dasar penjahat!" umpat Jimmi sambil sempoyongan.

__ADS_1


"Jim, kamu kenapa?" Ayah mengampiri Jimmi, ia dengan lihat menangkap tubuh Jimmi yang hampir jatuh.


"Papa ... apa salahku? Kenapa papa berkhianat? Papa kan tahu, Jimmi suka sama Yasmin. Tapi kenapa papa melamar Yasmin untuk Qret? Harusnya kan untuk Jimmi, pa!" bentak Jimmi.


"Jim, kamu mabuk ya?" kata ayah. Aroma alkohol tercium jelas dari mulutnya.


"Enggak, Jimmi enggak mabuk pa. Jimmi cuma minum sedikit, seperti Mama!" Jimmi kembali hampir terjatuh, tapi ia tetap memaksakan untuk berdiri sendiri.


"Jimm, sudahlah. Berhenti melakukan hal bodoh seperti ini!" pinta ayah dengan nada suara pelan namun terdengar tegas.


Dari raut wajah ayah terlihat jelas bahwa ia merasa bersalah namun tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sementara Jimmi tetap tidak mau mengerti dan terus menerus menyerang ayah.


"Hal bodoh? Ahhhh papa, yang bodoh itu papa. Eh bukan. Papa tidak bodoh, tapi jahat. Iya, jahat! Jahat sekali!" Jimmi mencoba melepaskan diri dari pegangan tangan ayah.


Sementara Jimmi mengoceh dengan nada suara agak tinggi, para tetangga Yasmin mulai keluar untuk melihat kenapa ada suara ribut-ribut.


"Hai Yas, kamu kenapa jadi ikut-ikutan jahat? Kau kan tahu, aku sangat mencintaimu. Tapi kenapa kau pilih Qret? Ia kan saudaraku. Iya, saudaraku Yas. Hahaha. Aneh sih sebenar. Tapi mau bagaimana lagi. Kami memang saudara. Ibunya, merebut ayahku dari ibuku dan ...," belum selesai Jimmi bicara, aku sudah membungkam mulut anak itu.


"Diam kamu. Kan sudah kukatakan untuk tidak sembarang bicara!" aku benar-benar dibuat emosi olehnya.


"Jim, sudahkah cukup!" bentak ayah.


"Hei, papa membentakku? Papa menganggap aku yang bersalah? Harusnya papa instrospeksi diri, siapa papa hah? Hanya seorang lelaki pengecut!" bentak Jimmi.


"Jim!" aku sudah tidak tahan lagi, dengan kasar ku seret tubuhnya yang sempoyongan karena mabuk.


"Qret, mau diapakan?" tanya ayah sambil menahan agar Jimmi tidak jatuh ke tanganku.


"Dia sudah keterlaluan, yah." kataku, sambil menahan emosi.


"Tenang Qret. Aku kan bicara seusai fakta!" tambah Jimmi.

__ADS_1


"Aku sudah muak Jim. Selalu itu yang kau katakan. Apa keuntungannya mengungkit itu terus?" kataku.


Sebenarnya tidak ada gunanya bicara dengan orang mabuk, tapi sikap dan perkataan Jimmi sukses memancing emosiku.


"Kenapa Qret, kau malu? Hahaha. Yas, lihat nih calon suami kamu. Eh bukan, dia bukan calon suamimu Yas. Kau tidak boleh menikah dengannya. Kau hanya boleh menikah denganku. Kau milikku Yas, selamanya!" tiba-tiba Jimmi berjalan ke arah Yasmin, sekali tangkap ia sudah menarik tangan Yasmin.


"Lepas!" teriak Yasmin.


"Jim!" aku membentak Jimmi, berusaha melepas cengkraman tangan Jimmi di tangan Yasmin.


"Jimm sakit." pekik Yasmin.


"Hei lepaskan!" Riana ikut membantu. "Tukang mabuk, lepaskan calon kakak iparmu atau aku akan menendangmu!"


Kami semua terlibat dalam tarik-menarik. Yasmin yang terlihat paling menderita sebab ia dicengkeram kuat oleh Jimmi.


Bukan. Sebuah tendangan mengenai perut Jimmi. Pelakunya adalah Riana. Ia sudah tidak sabar menarik Yasmin dari genggaman Jimmi.


"Aghhh." Jimmi berteriak kesakitan, ia melepas cengkraman tangan Yasmin, kamu terduduk memegang perut, menahan rasa sakit.


"Ayo berdiri. Akan kuberi kau satu tendangan lagi yang tidak bisa kau lupakan!" ungkap Riana.


Jimmi tidak bisa bangkit, ia malah jatuh ke tanah sebab pingsan. Paman Rudi dan kak Bimo langsung mengangkat Jimmi dari tanah. Sementara ayah dengan sigap menelepon seseorang yang tidak kami ketahui.


Sementara Yasmin menangis, mungkin ia syok, apalagi ditambah tangannya yang terluka sebab cengkraman Jimmi yang cukup kuat.


"Kau tidak apa-apa?" tanyaku.


Yasmin menggelengkan kepalanya. Tetapi merah di tangan dan sedikit goresan karena kuku sudah membuatku yakin ia tidak sedang baik-baik saja.


"Bagaimana dengan Jimmi?" tanya paman Rudi.

__ADS_1


"Sebentar lagi akan ada yang datang menjemputnya." kata ayah.


Benar saja, lima belas menit kemudian, datanglah dua orang memakai pakaian seragam security..mereka dengan sigap menggendong Jimmi lalu membawanya pergi sesuai apa yang dititahkan


__ADS_2