
Perbincangan antara kami berakhir setelah Alifa mengantongi seluruh informasi dariku. Ia akan langsung memprosesnya. Tentunya setelah dapat surat ijin yang langsung ditandatangani ayahnya untuk menggeledah kembali rumah yang jadi TKP (tempat kejadian perkara).
Aku langsung kembali ke dalam sel, tentunya dengan membawa kantong berisi makanan dari Yasmin.
"Dari mana, kau?" tanya Jimmi.
"Kau ini, bukannya menyambut saudara besarnya dengan ramah malah marah-marah!" kataku, asal.
"Apa itu?"
"Ini? Makanan. Dari Yasmin!"
"Kau?"
"Apa? Mau? Tidak akan kubagi!" aku menjulurkan lidah. Sebenarnya geli juga harus berkelahi seperti anak kecil dengan Jimmi. Tapi melihatnya membuatku sangat gemas. Mungkin alam bawah sadarku bertidak begitu sebab memahami ia adalah adikku.
Makanan dari Yasmin langsung kugelar. Aromanya langsung memenuhi ruangan penjara. Dari sebelah, Jimmi melihatku dengan tatapan kesal.
"Norak!" serunya.
"Biarin!" aku kembali mencibir.
Melihatnya duduk sambil bertekuk lutut membuatku jadi iba. Satu rantang nasi beserta lauknya kusodorkan lewat terali besi pada Jimmi. Tanpa banyak kata, anak itu langsung mengambilnya.
"Hmm, dari dulu sampai sekarang, masakan Yasmin memang tiada duanya!" seru Jimmi.
"Hei, kau harus tahu diri. Yasmin itu calon istriku!" kataku, mengingatkannya tentang status kami.
"Hahaha, kalau kau dihukum mati, Yasmin pasti akan mencari laki-laki lain. Kau jangan bangga dulu pernah berstatus sebagai calon suaminya sebab nanti akulah yang akan menjadi suaminya setelah kau tiada!"
"Kata-katamu tidak sopan sekali!" aku langsung mengejar Jimmi, tetapi ia gesit mengelak. "Kemari, kau!"
"Tidak mau!"
"Sudah kuberi makan malah tidak sopan seperti ini!"
"Dulu, makanan lezat buatan Yasmin ini lebih dulu kunikmati. Bahkan setiap hari aku memakannya. Kau beri segini tidak akan berpengaruh padaku!"
"Kalau begitu kembalikan!"
__ADS_1
"Ckckck, pelit sekali kau. Katanya aku adik kecilmu. Tapi mengapa sikapmu memprihatinkan sekali. Oh, aku tahu, kau kan seorang penjahat. Preman. Mana mengerti yang namanya persaudaraan. Kau itu barbar!"
"Hai, Jim. Lama-lama mulutmu bisa kurobek!"
"Coba saja kalau kau bisa!" giliran Jimmi yang mencibir. "Qret, malam ini nikmatilah, kau bisa ngobrol denganku semalaman sebab besok aku akan keluar."
"Kenapa tidak sekarang saja? Aku sudah bosan melihat wajahmu. Esok jangan muncul-muncul lagi di hadapanku. Mengerti!" kami berdua tertawa bersamaan.
***
Pukul tiga dini hari aku terbangun, lalu beesegera menunaikan salat malam. Dua belas rakaat tahajjud, lalu ditutup witir tiga rakaat. Setelah itu aku lanjut membaca Qur'an hingga azan Subuh berkumandang.
Usai salat Sunnah dua rakaat, pak Bagus sudah menanti, ia mengeluarkanku agar bisa salat di mushalla kantor polisi.
Tiap pagi, pak Bagus memang datang ke kantor untuk salat berjamaah. Rumahnya tidak jauh dari kantor polisi. Hanya jarak beberapa rumah. Pak Bagus tidak tinggal di area rumah dinas.
"Mas Qret, terimakasih ya." kata pak Bagus, saat kami jalan beriringan kembali ke sel.
"Terimakasih untuk apa, pak?" tanyaku. Harusnya kan aku yang mengucapkannya sebab pak Bagus banyak memberiku bantuan.
"Gara-gara berbincang dengan mas Qret, akhirnya putri saya mau menjemput kembali putranya. Ia satu-satunya cucu saya. Mas Qret tahu berapa berharganya ia untuk kami. Tetapi bapak juga tidak bisa menyalahkan Alifa sepenuhnya.
Perbincangan antara aku dan pak Bagus memberiku sedikit pengetahuan tentang pernikahan. Aku tidak tahu betapa besar trauma yang dirasa oleh Alifa, tetapi aku tetap berharap ia menjemput putranya.
***
Jimmi masih tertidur meski matahari sebentar lagi akan bersinar. Aku mencoba membangunkan sebelum waktu salat habis.
"Hai adik kecil, malaikat keburu pulang, bangun dan segeralah salat!" kataku.
"Uuhhhh," Jimmi mengelak, masih dengan mata yang terpejam.
"Kau malas sekali!" aku memercikkan air mineral ke arahnya hingga ia bangkit karena wajahnya kena cipratan air.
"Kau!"
"Bangun!" kataku.
"Kenapa kau bawel sekali, Qret!"
__ADS_1
"Harusnya kau bersyukur karena aku membangunkanmu. Kalau kau tidak salat maka kau akan dibakar di neraka!"
"Terserah aku!"
"Ya sudah, terpenting aku sudah membangunkanmu. Nanti aku akan bersaksi di hadapan Allah bahwa kau tidak mau bangun, malah marah-marah sebab aku menyuruhmu salat!"
"Iihhh!" dengan langkah kesal, Jimmi pergi ke kamar mandi yang ada di selnya. Lalu menunaikan salat subuh secepat kilat. Persis anak SD yang ogah-ogahan salat tetapi tidak bisa mengelak sebab ibunya mengawasi sambil memegang lidi.
***
Jimmi akhirnya selesai menjalani masa tahanan bersamaan dengan kunjungan ayah dan ibu.
"Jim," panggil ayah, saat berpapasan. Tetapi anak itu bukannya menjawab malah melengos begitu saja.
"Qret, ada apa dengan wajahmu?" tanya ibu, sambil memegang bekas luka di bibirku.
"Sedikit terluka, Bu. Tapi Qret baik-baik saja." kataku, sambil tersenyum agar i u tidak khawatir.
"Apa berkelahi dengan Jimmi?" tanya ayah.
"Hanya bercanda, bahkan semalam ia menemani Qret tidur di penjara." kataku.
"Qret, benar tidak apa-apa?" ibu masih terlihat panik.
"Kami hanya butuh sedikit waktu, Bu. Biarkan Jimmi sendiri dulu. Pada dasarnya ia anak yang baik meski sedikit menyebalkan. Tapi Jimmi perlahan akan menerima semuanya." kataku, yakin.
"Jimmi memang sebenarnya baik. Ia terkadang bersikap di luar batas karena terlalu banyak tekanan dalam hidupnya. Ibunya selalu memintanya sempurna. Termasuk ketika ia memilih jadi polisi, ibunya punya syarat yang teramat sulit, ia harus menjadi jenderal di usia muda. Sebab ia satu-satunya harapan di keluarga!" kata ayah, mencoba menjelaskan karakter Jimmi.
"Lalu Jamm?" tanyaku.
Ayah dan ibu saling pandang. Lalu ibu mengangkat bahu, menyerahkan penjelasan pada ayah.
"Jamm istimewa, Qret." jawab ayah.
Istimewa? Aku belum memahami betul maksud ayah, tetapi dari raut sedih itu bisa kubayangkan ada yang tidak beres. Aku mencoba mengingat foto keluarga di rumah ayah, ada anak laki-laki satunya lagi. Ia tampak gagah juga, sepertinya itu adalah Jamm.
"Maksudnya?" tanyaku, pelan.
"Jamm autis. Ia sebenarnya tidak dianggap oleh ibunya. Tapi aku dan Jimmi sangat menyayangi Jamm, kami selalu melindunginya bila ibunya menjadikan Jamm sebagai samsak kemarahannya. Jamm sempurna di mata kamu berdua. Kini, setelah aku pergi, Jimmi satu-satunya yang akan melindungi Jamm." ungkap ayah.
__ADS_1
Jadi begitu kondisi Jamm. Pantas saja Jimmi begitu marah saat aku menyinggung Jamm, bahkan ia menunjukkan sikap berlebihan. Kini aku menyadari satu lagi sikap Jimmi, selain menyebalkan sebenarnya ia saudara yang baik. Terbukti dari sikapnya pada Jamm yang begitu melindungi. Ahhh Jamm, entah kenapa aku jadi penasaran dengan anak itu.