GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
180. Insiden


__ADS_3

Ren duduk di bawah kaki ibunya. Ia terlihat benar-benar kebingungan sehingga ibunya ikut bingung. Ren sebenarnya bahagia sebab perasaannya sama dengan Jasmin, tapi berat membayangkan kalau ternyata gadis itu dijodohkan.


"Kasihan sekali kamu nak, padahal ini pertama kalinya kamu jatuh cinta tapi akhirnya malah seperti ini. Tapi Ren, jika dia juga mencintai kamu, perasaan kalian sama, itu berarti kamu harus memperjuangkan gadis itu. Jangan menyerah begitu saja Ren, ibu akan selalu mendukungmu. ungkapAlifa, memberikan semangat untuk putranya.


"Begitukah, Bu?"


"Bagaimana kalau kita bertemu orang tua gadis itu. Siapa tadi namanya?"


"Jasmin, Bu."


"Nah Jasmin. Kita bicarakan baik-baik. Yang namanya orang tua, pasti berharap kebahagiaan untuk anaknya. Kalau kamu bisa membahagiakan Jasmin, ibu yakin orang tuanya tak akan keberatan. Bagaimana?"


"Tapi Bu, bagaimana dengan kuliahnya?" Ren bercerita tentang kondisi Jasmin, tidak lupa ia menceritakan ulang nasihat dari Mia pada ibunya.


"Ya ampun Ren, kamu percaya pada kata-kata Mia? Gadis itu tidak baik. Ibu berani mematikan. Sebaiknya jangan bicarakan apapun lagi dengannya. Cukup bicara dengan ibu. Kau mengerti!"


"Lho, memang kenapa Bu?"


"Ren, ibu yakin Mia menyukaimu. Dia tak ingin kamu dekat dengan Jasmin, makanya meminta kamu melakukan hal tersebut. Kasihan sekali Jasmin, ia harus jadi korban Mia."


"Ibu bicara apa?"


"Ren ibu tahu maksudnya Mia. Kamu terlalu naif Ren!"


"Bu, Mia itu sudah jadi temannya Ren sejak masih di bangku SmA. Kalau dia benar-benar suka sama Ren, dia pasti akan bicara. Tapi dia tidak pernah melakukannya. Jadi tolong jangan mengatakan hal itu lagi."


"Tapi Ren,"


"Bu, percayalah sama Ren."

__ADS_1


"Oke, baiklah. Kalau kamu masih percaya dengan persahabatan aneh seperti itu. tapi tetap ibu minta jangan ceritakan apapun lagi tentang Jasmin padanya. Apapun yang terjadi. Kamu mengerti kan Ren? Oh ya, satu lagi, tidak perlu juga mengikuti apapun saran yang ia berikan. Mengerti kan Ren?"


Meskipun Ren sebenarnya bingung, akhirnya ia menyanggupi apa yang dikatakan oleh ibunya. Kini Ren harus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menyampaikan isi hatinya seperti yang disarankan oleh ibunya.


Ren benar-benar menyesal, harusnya tadi ia menjawab ia saja. Bagaimana kalau Jasmin menyerah dan menyetujui perjodohan yang diinginkan orang tuanya.


"Aghhhhh ... kenapa kamu jadi bodoh sekali Ren!" gerutu Ren sambil menendang guling di sampingnya. Kini ia bingung, bagaimana caranya agar bisa menyampaikan perasaannya pada Jasmin.


***


Mia melajukan mobilnya dengan kencang air matanya terus saja berurai. Ia merasa benar-benar kacau. Di ujung taman dekat komplek rumahnya, Mia memarkir mobilnya, lalu mengirim pesan pada Joko.


[Kamu dimana? Aku sudah di lokasi. Segera ke sini!] Mia memang sudah menyusun janji dengan Joko. Ia ingin mengadukan semuanya pada lelaki yang sudah menjadi pelindungnya selama hampir enam tahun.


"Maaf kalau aku agak lama." kata Joko saat naik ke atas mobil Mia. "Hei queen, kamu menangis?"


"Aku kesal. Jasmin menyatakan cinta pada Ren."


"Lakukan sesuatu agar mereka tidak bisa bersama."


"Kau mau aku melakukan apa lagi?"


"Culik dia atau bunuh sekalian!"


"Ya ampun Mia, kenapa kamu jadi sadis seperti itu?"


"Aku kesal, Joko. Apa kamu nggak tahu bagaimana hancurnya hati ini saat tahu lelaki yang kita cintai ternyata malah mencintai perempuan lain!"


"Aku tidak bisa menyakiti perempuan itu lagi!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Sudahlah mau seperti apapun tindakanku, nyatanya Ren tak melihat kamu, Mia. Mau ada perempuan itu ataupun tidak. Jangan keras kepala lagi. Kalau aku harus menghabisi orang lain, tidak ada yang pantas kuhabisi selain Ren itu sendiri."


"Apa maksudmu? Ingat Joko, jangan melakukan apapun di kita perintahku. Sekali saja kamu menyentuh Ren-ku, maka aku tak akan tinggal diam. Kau akan habis saat itu juga."


"Dasar gadis bodoh! Mau sampai kapan kamu seperti ini. Sudahlah Mia, lupakan Ren, kalau kau memberiku kesempatan maka aku akan sangat membahagiakanmu. Kau mengerti!"


"Tak akan pernah Joko. Kamu hanyalah pesuruhku. kita sudah sama-sama membuta kesepakatan saat itu, jadi jangan coba-coba curang padaku. Kau mengerti!"


"Aghhhhh, kenapa aku harus jatuh cinta pada gadis mengerikan sepertimu! Mia, tolonglah, setidaknya kau harus mengasihi dirimu sendiri. Jangan ganggu gadis itu lagi. Biarkan dia bersama dengan Ren. Toh mereka sama-sama saling mencintai."


"Kenapa kamu jadi ribet sekali? Dulu kau tak pernah ambil pusing jika aku berusaha mendapatkan cintanya Ren?"


"Sebab dulu Ren tidak mencintai siapapun. Sekarang beda sekali Mia. Aku tidak bisa menyakiti perempuan itu lagi." Joko keluar dari mobil Mia, ia mengabaikan panggilan gadis yang amat dicintainya itu. Ia benar-benar menyesal sudah mencintai seorang perempuan berhati iblis seperti Mia, tapi cinta itu begitu dalam, mungkin seperti cinta mati yang sering disebut-sebut banyak orang.


"Ku harap kau akhiri semua kegilaanmu, Mia." begitu harapan Joko.


Sementara itu dalam mobil, Mia tampak semakin frustasi sebab satu-satunya tangan untuk mendapatkan Ren jutsru berlepas diri. Lelaki itu tak ingin membantunya lagi.


"Tidak ... kamu nggak boleh meninggalkan aku sebelum aku mendapatkan Ren, Joko. Kamu harus ikut berjuang bersamaku!" ucap Mia sambil memikirkan cara selanjutnya agar Joko kembali mematuhi dirinya.


***


Sudah dua jam menanti, belum juga ada tanda-tanda bahwa Joko akan datang. Mia benar-benar merasa frustasi. Ia menenggak lebih banyak lagi minuman alkohol. Padahal biasanya, kalau Mia sudah mengirimkan pesan, tidak butuh banyak waktu maka Joko akan datang tapi kali ini berbeda, lelaki itu belum juga muncul. Kemana dia?


"Joko, kamu kemana? Kamu harus segera datang menghampiri aku. Kamu itu adalah budakku, kamu harus menuruti semua keinginanku. Joko .... Kamu dimana?" Mia melanjutkan botol kedua. Sehingga ia benar-benar kehilangan kesadarannya. Ia terus bicara sambil jalan sempoyongan mengelilingi apartemennya.


"Ren, aku sangat mencintai kamu. Kamu adalah lelaki yang diharapkan. Jadi pendamping hidupku. Jangan pernah mencintai perempuan lain selain aku ya Ren!" kata Mia pada foto Ren yang terpampang di dinding. "Ren, janji ya, hanya aku yang boleh kamu nikahi, tidak wanita lain!"

__ADS_1


Cekrek. Suara pintu dibuka. Masih dengan sempoyongan, Mia mencoba mendekat ke pintu. Ia tersenyum saat melihat yang datang adalah Ren.


"Ren sayang, kemarilah. Aku benar-benar rindu sama kamu. Kamu tahu tidak, aku begitu mencintai kamu. Iya,Ren cinta banget. Sejak kita masih SMA. Aku berharap kita bisa menikah Ren. Kamu mau kan menikah denganku?" tanya Mia, sambil memeluk erat Ren. "Apa kurangnya aku Ren, aku janji, kalau kamu mau memberiku kesempatan maka aku akan membahagiakanmu. Mau ya sayangku. Ren ...."


__ADS_2