GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
117. Saat Yasmin Curigaan


__ADS_3

Aku dan Yasmin sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa kami ke Singapura, kami duduk di kursi bisnis. Aku sengaja memilih agar Yasmin nyaman.


Tadi ayah Yasmin, ayah, ibu dan Riana ikut mengantar sampai bandara. Banyak nasihat yang disampaikan oleh ibu untuk kami. Ini adalah ujian dalam pernikahan, saat pasangan kita sakit, ada banyak pahala yang bisa kita raih jika bersabar.


"Yas, kau sedang memikirkan apa?" tanyaku, sambil menggenggam tangannya sebab aku tidak ingin Yasmin larut dalam kesedihannya. Aku sudah bertekad akan melakukan yang terbaik untuk Yasmin.


"Aku takut." jawabnya.


"Takut apa?"


"Bagaimana kalau operasinya tidak berhasil? Bagaimana kalau aku tidak bisa berjalan lagi? Lalu tidak bisa punya anak sebab ada trauma. Bagaimana mas?" tatapan Yasmin terlihat begitu khawatir, bukan tanpa sebab, hal ini sudah diutarakannya beberapa kali saat kamu baru pulang dari rumah sakit.


"Kau bicara apa sih? Kan sudah kukatakan untuk tidak membahas ini lagi. Semuanya yang terjadi atas izin Allah. Kau bisa berjalan atau tidak nantinya dari Allah itu adalah yang terbaik. Tidak ada takdir yang lebih baik dari pada apa yang Allah tetapkan untuk kita.


Suka atau tidak suka, semuanya sudah tertulis jelas di Lauful mahfudz. Kita hanya tinggal menjalankan saja. Segala yang sudah ditetapkan oleh Allah.


"Tintanya sudah kering, Yas. Sudah selesai dari awal hingga akhir." kataku.


"Bila ternyata kita tidak bisa punya anak, bagaimana? Bukan ... bukan kita. Maksudku, aku!" ada penekanan di kata-kata terakhirnya.


"Yasmin ... Yasmin. Jangan memikirkan sesuatu hal yang belum tentu terjadi, masih ghaib bagi kita. Kan sudah kukatakan, jangan banyak berandai-andai. Kau akan lelah sendiri. Hidup itu simple, jalani apa yang ada di hadapanmu dengan sebaik-baiknya. Perkara lalu ya sudah berlalu. Perkara esok, belum tentu juga kita sampai ke sana. Sementara kau sudah pusing setengah mati." aku terkekeh.


"Apa mas benar-benar setenang itu menghadapi semuanya? Tau kan apa yang akan kita hadapi?"


"Saat kita benar-benar pasrah ... maka ketenangan itu akan kita dapatkan."


"Mas!" tiba-tiba Yasmin memelukku erat, ia menangis tersedu-sedu. Untung saja kamu berada di kursi bisnis, jadi tidak terlalu mengganggu penumpang lainnya. "Aku benar-benar iri pada mas yang bisa jauh lebih baik dari hari ke hari. Sementara aku rasanya semakin memburuk "


"Mungkin kau sedang futur. Tapi jangan jadikan itu semua alasan membenarkan perbuatan yang tidak baik. Diri kita ada di bawah kendali kita sendiri." kataku lagi.


Perbincangan kami terhenti ketika pramugari menyajikan makan siang. Aku dan Yasmin mulai disibukkan dengan menu makan siang kami. Ku kira Yasmin sudah tidak tertarik membahas kembali sebab setelah makan, ia memilih untuk istirahat.


***


Pesawat baru saja mendarat. Setelah mendudukkan Yasmin di kursi roda, aku membawanya menuju tempat pengambilan barang. Lalu langsung keluar. Di pintu kedatangan sudah ada orang suruhan dokter Irene, yang akan menangani Yasmin, menunggu kedatangan kami.

__ADS_1


Mobil yang kami kemudikan melaju menuju salah satu rumah skait terbesar di Singapura. Namanya rumah sakit Queen. Di sini cukup banyak pasien yang datang dari Indonesia sehingga kami berdua tidak terlalu asing.


Usai menjalani pemeriksaan, Yasmin dibawa ke ruangannya. Sebuah kamar yang cukup nyaman. Selain tempat tidur untuk pasien, ada sofa panjang yang bisa kugunakan untuk istirahat, lemari pendingin, kamar mandi dan AC. Sama persis dengan kamar kelas VIP di rumah sakit Indonesia.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanyaku pada Yasmin yang sudah memakai infus sebab ia lemas usai perjalanan. "Zikir Yas, supaya hati tenang." kataku lagi sebab ia tidak kunjung menjawab.


"Mas, maafkan aku." pintanya.


"Maaf untuk apa? Kau tak ada salah sedikitpun padaku. Kalaupun ada, aku sudah memaafkannya." kuusap pelan kepala Yasmin, berharap ia tenang.


Dokter di Indonesia mengatakan padaku, dalam kondisi seperti ini, Yasmin bisa saja mengalami krisis kepercayaan diri. Ia kehilangan semangat hidup sebab terjadi banyak perubahan pada dirinya.


Tidak bisa berikan, sakit, juga perasaan sedih dan kecewa karena kehilangan calon bayinya. Ini tidak mudah bagi ibu muda sepertinya.


Tetapi aku sendiri tidak mempermasalahkan semua itu. Aku hanya ingin fokus pada kesembuhan Yasmin. Bagaimana ia bisa kembali seperti sedia kala.


Hp milikku berbunyi. Sebuah pesan dari Alifa.


[Tadi pagi, tersangka bebas. Entah bagaimana permainan mereka, tapi aku sudah membuatnya kembali masuk.] kata Alifa.


[Bagaimana kondisi Yasmin?]


[Ia masih saja menyalahkan diri sendiri. Kau tahu, sama seperti ketika di rumah sakit. Menganggap dirinya cacat dan tidak berguna lagi. Juga belum menerima kepergian calon bayi kami.]


[Ya Tuhan, semoga Yasmin bisa segera pulih seperti sedia kala.]


"Pesan dari siapa?" tanya Yasmin. Rupanya dari tadi ia memperhatikan ku.


"Alifa." jawabku, sambil meletakkan kembali Hp.


"Oh. Dia sekarang rajin mengirimi pesan ya."


"Tidak juga. Hanya pesan biasa."


"Biasa tapi sering."

__ADS_1


"Yas, kau kenapa?"


"Tidak apa. Aku hanya tidak suka saja."


"Pasti ada alasannya."


"Tidak ada."


"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita istirahat saja."


"Mas Qret, apa kau akan menikah dengan Alifa?"


Sepasang mata yang selalu bisa menenangkan aku kini terasa asing. Entah apa maksud perkataannya barusan. Menikah dengan Alifa? Apa-apaan ini. Tuduhan yang sangat tidak mendasar.


"Kau kenapa Yas?" tanyaku.


"Mas akan menikah dengan Alifa. Iya, kan?" tanyanya lagi.


"Pertanyaan seperti apa itu. Aneh sekali."


"Aneh? Jadi sekarang menurut mas aku aneh? Iya? Ya, aku sadar diri, aku sudah tidak bisa berjalan, bahkan mungkin tidak bisa memberikanmu keturunan. Makanya mas mulai meladeni Alifa. Iya, kan?"


"Yas, istighfar. Apa yang kau katakan itu tidak mendasar."


"Mas, aku tahu bagaimana perasaanmu padanya. Mas kagum padanya kan? Sebab ia perempuan yang pintar dan saliha. Ia sehat, cantik dan sekarang statusnya janda."


"Apa-apaan sih Yas?"


"Kalau mas memang mau menikahinya, aku tidak apa-apa. Kalian memang cocok. Sangat cocok sekali. Kalian akan jadi pasangan paling sempurna. Kalian akan punya anak-anak yang lucu, tidak kalah lucu dan menggemaskan dari pada Ren. Iya, kan?"


"Astagfirullah Yas. Kau mengada-ada."


"Tidak perlu sungkan, mas. Katakan saja. Aku tidak akan marah!"


"Ahh sudahlah. Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Sekarang aku keluar dulu agar kesalah fahaman ini tidak berlanjut." aku meninggalkan Yasmin di dalam kamarnya. Bermakna menyusuri koridor rumah sakit untuk melihat-lihat sekitar.

__ADS_1


Sebenarnya dokter dan psikolog yang menangani Yasmin di rumah sakit sebelumnya sudah mewanti-wanti bahwa Yasmin mengakami stres berat. Ia butuh dukungan moril dariku, sebagai orang terdekat. Selain fisiknya yang sedang bermasalah, Yasmin juga sedang labil emosinya. Aku harus banyak bersabar. Ia memang akan jadi lebih sensitif, curigaan dan lebih egois.


__ADS_2