GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
153. Menanti Kelahiran


__ADS_3

Pagi ini, usai salat Subuh, harusnya aku bersiap bersama Deni berbelanja untuk kebutuhan besok. Ada pesanan besar. Tetapi rencana keberangkatan harus diundur sebab Yasmin mengeluhkan sakit pada perutnya.


"Apa ini tanda bahwa kau akan melahirkan?" tanyaku padanya.


"Sekarang, mas?" Yasmin balik bertanya. Kami berdua sama-sama belum berpengalaman, jadi saling tanya. Akhirnya kami memutuskan mencari informasi lewat buku panduan yang diberikan dokter dan juga lewat internet. Tetapi kami belum mendapatkan apa yang kami inginkan.


"Mungkin. Untuk pastinya, sebaiknya sekarang siap-siap. Kita berangkat ke rumah sakit." ajakku pada Yasmin.


"Tapi jangan beritahu siapapun ya." pinta Yasmin.


"Kenapa?"


"Aku tidak mau seheboh saat Riana melahirkan. Aku malu. Nanti saja memberitahunya kalau sudah pasti. Supaya tidak perlu rombongan datangnya."


"Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang. Kau siap-siap dulu. Setelah itu kita berangkat. Nanti sesampai di rumah sakit baru aku kabari Deni bahwa belanjanya diundur duku, atau ia berangkat sendiri saja."


Setelah siap, aku dan Yasmin segera ke rumah sakit tempat Yasmin biasa check up. Tidak lupa kami bawa perlengkapan lahiran.


Benar saja, setelah melakukan rangkaian pemeriksaan, dokter mengatakan kalau Yasmin sudah pembukaan tiga. Kemungkinan, nanti sore ia akan lahiran. Kami benar-benar deg-degan.


"Kau sudah siap, Yas." tanyaku, sambil menyentuh pekan tangannya.


"Agak deg-degan mas," kata Yasmin.


"Wajar. Tapi harus tenang ya."


"Mas temani aku ya."


"Kita kabari ayah dan ibu ya." kataku.


Dengan cekatan aku mengabari ayah Yasmin, lalu mengabari ayah dan ibu. Kata ibu, sekarang juga akan berangkat ke Jakarta untuk menyusul kami. Jadi kemungkinan akan ada di rumah sakit saat bayinya lahir.

__ADS_1


"Kalau Riana bagaimana?" tanyaku.


"Kabari saja." kata Yasmin. "Kalau tidak nanti dia bisa marah."


"Iya juga. Sahabatmu itu kan agak-agak aneh."


"Mas!".


Benar saja, hanya dalam waktu tiga puluh menit, Riana sudah sampai di rumah sakit dengan segala keanehannya. Ia masuk sendiri sebab paman Rudi dan Deni disuruh menunggui Riu di depan.


"Bagaimana Yas? Apa kau takut?" tanya Riana.


"Tidak." jawab Yasmin dengan sesantai mungkin meskipun aku tahu sebenarnya ia deg-degan.


Dua jam kemudian ayah dan ibu sudah sampai di Jakarta. Dengan setia ibu menunggui Yasmin. Menemani saat Yasmin mulai merasakan sakit karena bayi yang ingin keluar.


Ba'da Maghrib, dokter mempersilakan aku untuk masuk menemani sebab pembukaan sudah lengkap. Semua orang diminta menanti di luar sebab tindakan akan dilakukan.


Yasmin menggenggam erat tanganku. Ia berusaha keras hingga akhirnya suara tangis terdengar memecah ruangan. Suara yang sangat indah di telingaku. Akhirnya putri kecil kami lahir, putri yang telah lama kami idamkan.


"Iya. Kita namai siapa?" tanya Yasmin.


"Bagaimana kalau Jasmin? Agar ia seperti ibunya?"


Aku dan Yasmin tersenyum bersama-sama, menikmati suara tangis bayi kamu hingga akhirnya ibu bidan yang membantu Yasmin memberikan bayi tersebut pada kami untuk didekatkan. Pada Yasmin.


Rupanya adalah perpaduan antara aku dan Yasmin. Wajahnya oval, hidung yang mancung seperti ibunya, serta bibir tipis yang begitu merah. Selebihnya, bayi ini mirip denganku.


Selesai didekatkan pada Yasmin, bidan kembali membawa Jasmin untuk diletakkan di box bayi. Aku kembali memeluk Yasmin, mengucapkan terima kasih sebab ia sudah berjuang untuk kelahiran bayi kami. Keturunan pertamaku.


"Kau tahu Yas, sejak awal kita bertemu, aku begitu yakin, akan ada kisah antara kita. Seperti apa yang selalu kuharapkan selama ini. Ternyata benar, betapa baiknya Allah padaku, Dia tidak hanya memberiku seorang istri yang cantik, tetapi juga seorang malaikat kecil yang tak kalah mempesona. Dua bidadari yang begitu kucintai." perlahan, air mata itu menetes. Aku tak bisa menyembunyikan haru saat ini. Aku sudah jadi ayah. Ya, kini aku tak hanya bertanggung jawab atas diriku sendiri dan juga Yasmin, tetapi juga pada Jasmin. Bayi kecil yang menambah kelengkapan di keluarga kami. Ia akan jadi sumber kebahagiaan baru di hidup kami.

__ADS_1


"Aku juga sangat bersyukur, akhirnya Allah berikan kita amanah, seorang bayi yang cantik rupanya, semoga juga akhlaknya kelak." kata Yasmin, ia pun ikut menangis.


"Mulai sekarang, ayo kita sama-sama bersepakat untuk bahagia bersama."


"Iya, mas."


Usai berbincang dengan Yasmin, aku membiarkannya istirahat agar tenaganya segera pulih usai lahiran. Kini waktunya memperkenalkan Jasmin pada semua orang yang sudah menanti di luar.


"Bayi yang sangat cantik sekali. Lihat Riu, jodohmu sudah lahir!" ungkap Riana sambil membelai lembut pipi Jasmin. "Qret, bagaimana kondisi Yasmin, apa dia sudah baikan?"


"Masih istirahat. Sekarang sedang tidur." kataku.


Kini Jasmin berada dalam gendongan ibu. Ayah dan ibu bergantian mengajak bayi yang baru beberapa jam itu lahir untuk bicara. Dari mata kedua orang tuaku terlihat benar binar-binar kebahagiaan sebab apa yang mereka impikan akhirnya terwujud. Cucu pertama yang begitu diharapkan.


***


Sejak semalam Yasmin demam. Paginya ia banyak menangis, bahkan sampai mengigau yang tidak-tidak. Aku sampai khawatir, apalagi dokter mengingatkan agar aku selalu siaga di samping Yasmin untuk menghindari baby blues.


Kata dokter, baby blues itu kondisi dimana seorang ibu akan .erasa sedih yang begitu berat hingga merasa tidak bisa mengurus bayinya. Pantas saja, dari kemarin Yasmin menolak menyusui Jasmin hingga bayi yang masih merah itu menangis berkali-kali.


"Aku nggak mau, mas. Bawa jauh-jauh bayi itu. Aku enggak mau. Aku cuma mau Riu!" ungkap Yasmin.


"Yas, ini Jasmin, anak kita." kataku.


"Aku nggak mau, mas. Nggak mau!" teriak Yasmin, lalu ia menangis menyaingi suara tangis Jasmin.


"Ya Tuhan, kamu kenapa sih?" kesabaranku benar-benar habis. Aku geram sehingga lupa akan nasihat dokter. Makanya keributan terjadi di kamar kami. Untung saja ada perawat yang segera masuk, mereka membantu menenangkan Yasmin dan Jasmin.


"Maaf pak, sepertinya ibu Yasmin belum bisa menyusui bayinya. Apa bapak mau mencarikan ibu Susi atau memberikan formula pada bayinya sebab bayi bapak sudah menangis.. sepertinya sudah sangat kehausan." kata perawat senior padaku.


"Berikan sufor saja buk, tidak apa-apa. Sebab saya tidak punya calon ibu susu untuk bayi saya." jawabku.

__ADS_1


Rasanya benar-benar bingung luar biasa menghadapi semua ini. Apalagi saat ini hanya aku yang menunggui Yasmin dan Jasmin sementara ibu mempersiapkan untuk kepulangan Jasmin besok pagi.


Sepertinya banyak hal yang harus aku pelajari tentang kondisi Yasmin saat ini. Juga stoknsahar yang harus aku siapkan sebab ternyata, kami belum benar-benar selesai dengan masalah. Akan ada masalah baru yang siap tidak siap, tapi harus aku hadapi.


__ADS_2