
Pekan pertama Yasmin bekerja, sebenarnya ia sudah menyalahi aturan yang aku buat. Hari kedua ia pulang larut malam. Sampai di rumah jam sembilan malam. Hari ketiga malah lebih malam lagi, sampai di rumah pukul sebelas malam. Begitu terus hingga hari kelima.
Seharusnya hari keenam dan ketujuh ia libur, tetapi Yasmin malah mengambil pekerjaan hingga benar-benar tidak ada hari libur sama sekali. Dalam sepekan penuh semuanya.
Selain itu, sampai di rumah, meski sudah lembur penuh di kantor, ia masih membawa pekerjaan ke rumah. Sehingga tiap harinya Yasmin tidur hanya satu sampai dua jam sehingga tampak betul bahwa ia sangat kelelahan.
"Yas, aku mau bicara." kataku, saat kami sedang sarapan.
"Enggak sekarang ya mas." pinta Yasmin, sambil buru-buru menghabiskan roti dan segelas susu yang kubuatkan.
"Kenapa, ini kan masih jam enam."
"Tapi jam delapan aku ada presentasi mas. Jadi harus mempersiapkan semuanya. Nanti saja ya kalau aku sudah pulang."
Yasmin segera bangkit dari kursinya. Lalu memberikan isyarat padaku bahwa ia sudah siap berangkat ke kantor.
"Mas tolong jangan marah ya. Aku tahu mas enggak suka dengan jadwalku yang padat, tapi percaya deh, setelah semuanya selesai, aku akan bekerja dengan normal. Sekarang tolong dukung aku ya mas." pintanya sambil menautkan dua tangan di depan.
Melihat wajahnya yang sudah memancarkan kelelahan, akhirnya aku memilih menahan rasa kesal ini. Lalu beranjak bangkit untuk mengantar Yasmin ke kantor.
Sampai di depan kantornya, Yasmin buru-buru pergi. Saking tergesa-gesa, ia sampai lupa pamitan padaku.
Ya Tuhan, kenapa ia jadi gila kerja seperti itu? Padahal kan janjinya hanya kerja untuk mengisi waktu luangnya sebab ia merasa bosan di rumah tanpa harus melakukan apapun. Entah mengapa, aku jadi tidak tenang memikirkannya.
Baru beberapa meter motorku melaju meninggalkan kantor Yasmin, tiba-tiba ada panggilan dari nomor Alifa.
[Qret, kau dimana?] tanya Alifa.
[Aku baru di dekat lampu merah. Kenapa?] tanyaku, setelah meminggirkan motor.
[Kau bisa ke sini sekarang? Yasmin pingsan.]
__ADS_1
Tanpa menjawab apapun, aku segera berbalik arah menuju kantor Yasmin. Di depan meja resepsionis, Alifa sudah menungguku. Rasanya bercampur baur, antara sedih, takut, kecewa dan pastinya sedikit marah sebab Yasmin sudah benar-benar melanggar apa yang sudah ku tetapkan.
"Untung saja kau tidak terlalu jauh Qret. Yasmin ada di atas, di ruang kesehatan." Alifa membawaku menuju ruang kesehatan, di sana tampak Yasmin berbaring tidak sadarkan diri ditemani dua orang rekan kerjanya yang sedang membalur minyak di beberapa bagian tubuh Yasmin agar ia sadarkan diri.
"Ya Tuhan Yasmin!" kataku, sambil menggenggam tangannya.
"Aku tidak menyangka Yasmin pingsan." ungkap Alifa. Tadi saat bertemu ia memang terlihat lesu, tapi tertutupi dengan semangatnya.
"Ia masih belum stabil. Sebenarnya dokter melarang untuk bekerja, tapi ia keras kepala. Tetap saja memaksakan dirinya. Jadilah seperti ini." aku mengungkapkan kekecewaan pada Yasmin.
"Ya Tuhan," Alifa geleng-geleng kepala. "Maaf ya Qret, ini gara-gara proyekku."
"Apa lagi beberapa hari ini selain lembut ia juga membawa pulang pekerja. Jadi benar-benar kurang istirahat. Seharusnya tidur hanya satu hingga dua jam."
"Aku benar-benar minta maaf Qret. Tidak tahu kalau Yasmin memborong semuanya. Yang mengatur masalah pembagian adalah bawahanku, aku hanya menerima laporan jadi saja sebab masih fokus dengan tugasku sebagai lawyer.""
"Tidak apa, Alifa. Ini bukan salahmu. Aku saja yabg teledor mengawasi Yasmkn. Dia berubah jadi gila kerja. Aku juga tidak menyangka ia akan memaksakan diri seperti ini. Sampai benar-benar diluar batasnya."
"Sebaiknya Yasmin cuti saja Qret. Aku tidak masalah. Ia harus memulihkan kesehatannya dulu. Kalau mau masuk kerja lagi, aku dengan senang hati menerimanya." kata Alifa.
"Terimakasih banyak Alifa. Maaf jika kami sudah mengacaukan semuanya. Aku janji akan mengawasi Yasmin lebih ketat lagi."
Peristiwa Yasmin pingsan hari ini membuatku lebih ketat mengawasi Yasmin. Ada banyak larangan yang kubuat untuknya, demi kebaikannya juga. Sampai aku merasa yakin bahwa ia baik-baik saja maka tidak boleh ada desain ataupun jahitan. Bahkan pekerjaan rumah pun semaksimal mungkin aku yang menghandle sambil menyelesaikan pekerjaan aku sendiri.
Tentu saja Yasmin tidak menerima begitu saja. Bahkan sampai detik ini ia masih saja protes. Tidak mau menjalankan apa yang sudah ku tetapkan.
"Tapi aku harus tetap mengerjakan proyekku, mas." ungkap Yasmin.
"Tidak Yas. Kau harus banyak istirahat!" aku berkata tegas.
"Proyek itu adalah tanggung jawab aku. Tidak mungkin ditinggalkan begitu saja. Bagaimana letak pertanggungjawabannya nanti?"
__ADS_1
"Alifa sudah mengatakan bahwa kau bisa cuti hingga waktu yang tepat untuk kembali lagi bekerja. Yaitu saat kau sudah sembuh betul. Bukan sembuh seperti kemarin. Aku tidak mau lagi ada acara pingsan seperti kemarin, Yas."
"Alifa berkata begitu karena ia segan pada mas. Iya, kan? Sebagai seorang karyawan aku harus bersikap profesional, setidaknya menyelesaikan apa yang jadi tanggung jawab aku. Apalagi sekarang kondisiku sudah lebih baik setelah seharian istirahat."
"Tidak Yas!"
"Mas ... ayolah. Aku tidak mau dicap sebagai pegawai yang tidak tahu tanggung jawab. Mereka sudah menbayarku cukup mahal. Harusnya aku bekerja secara baik untuk kantor."
"Tidak ya tidak. Kau paham kan!"
Kali ini kami tidak bisa mengelakkan pertengkaran sebab Yasmin tetap memaksakan kehendaknya. Bahkan ia nekat berangkat tanpa seizin ku.
"Aku akan tetap berangkat, mas." katanya.
"Aku tidak mengizinkan." jawabku lagi.
"Ini adalah tanggung jawab aku."
"Aku juga tidak akan mengantar kamu!"
"Kalau begitu aku pergi sendiri!" Yasmin pergi keluar rumah. Di depan pintu ia sempat melirik ke arahku, entah apa yang ia pikirkan, tapi kemudian ia pergi setelah mengucapkan salam.
Astagfirullah. Aku benar-benar dibuat kesal olehnya. Sekarang selain gila kerja, Yasmin juga berani melawan peraturan yang sudah kutetapkan. Sebuah pesan ku kirimkan ke Hpnya. Memintanya segera pulang sekarang juga, tetapi Yasmin hanya membaca, lama kutunggu, ia tidak kunjung menjawabnya.
Sepertinya kami masih harus melalui ujian pernikahan. Setelah kehilangan calon buah hati, lalu melewati hari-hari ketika Yasmin kecelakaan, koma, hingga pengobatan dan terapi yang menguras emosi dan air mata, kini kami diberikan ujian yang tidak kalah membuat emosiku diaduk-aduk. Ketika seorang perempuan yang aku yakini adalah gadis saliha, yang akan menaati suaminya tetapi ternyata bisa membangkang juga.
Aku benar-benar emosi dibuat olehnya. Seperti tidak dihargai lagi. Apalagi ketika tiga pesanku tidak kunjung dibalasnya. Tidak kupungkiri bahwa aku sangat marah sekali.
Faktor utamanya adalah ekonomi. Salah satu penyebab terbesar kasus perceraian di negeri ini. Dimana ketika seorang lelaki berada di titik ekonomi terendah, tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga lalu akan menjadi penyebab pertengkaran.
Memang benar Yasmin tidak mendebatnya karena kini penghasilanku tidak tetap. Tetapi saat ia mengemukakan pendapat bahwa ingin bekerja karena berharap bisa membeli kembali tanah dan kedai, maka bisa dipastikan ia kecewa dengan pendapatan ku saat ini sebagai penjual makanan online dengan penghasilan tidak tetap.
__ADS_1