GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
169. Ayah, Bangunlah


__ADS_3

"Sudah lama kita di sini. Apa mas tidak rindu pulang? Aku sangat rindu sekali, mas. Rindu tiap pagi mas selalu membangunkanku salat Subuh. Rindu membuatkan sarapan untukmu dan Jasmin. Rindu jualan juga. Bangunlah mas. Aku mohon, bangunlah.


Aku sangat takut kalau-kalau mas enggak mau bangun lagi. Aku takut tak ada penengah antara aku dan Jasmin. Bangunlah, mas. Tolong dengarkan aku." dari balik jendela kamar rumah sakit tempat ayahnya di rawat, Jasmin mendengar suara ibunya menangis bicara pada ayahnya yang tengah terbaring.


"Ayah," bisik Jasmin. Ia pun merasakan hal yang sama, rindu akan ayahnya. Rindu mendengar kata-kata penuh semangat. Perlahan, air mata Jasmin mengalir, ia segera beranjak ke taman rumah sakit sebelum ibunya menyadari keberadaannya.


Kaki Jasmin terhenti di mushalla rumah sakit, tempat yang menurutnya paling aman untuk menumpahkan semua keluh kesahnya, tentu saja kepada yang selalu mendengarkan dan Yang Maha menenangkan, yaitu Allah.


Dua rakaat sudah ditunaikan Jasmin. Matanya pun sudah basah. Jasmin menutup dengan doa. Sebelum keluar dari mushalla, ia membasuh wajah terlebih dahulu agar guratan kesedihan itu tak lagi terlihat.


Bruk. Jasmin menabrak seseorang yang berlawanan arah dengannya. "Aduh," gadis itu meringis sambil memegang kepalanya, saat mengangkat kepala, ia melihat sosok Ren di hadapannya. "Dokter koas!" ucap Jasmin.


"Jalan nggak lihat-lihat, main tabrak seenaknya!" kata Ren. "Kamu pasti habis menangis lagi?"


"Hah, enggak."


"Kamu bisa bohong juga ya. Itu, matanya merah. Kenapa?"


"Nggak kenapa-napa."


"Kata psikolog, adakalanya, dengan berbagi cerita pada orang lain maka kesedihan kita akan hilang. Jadi, ceritalah. Aku masih punya waktu sepuluh menit untuk mendengarkannya. Ayo!"


"Apasih?"


"Ayo cerita. Supaya kamu enggak strees. Kan nggak lucu nantinya di berita, seorang mahasiswi kedokteran stress."


"Ih, seram sekali."


"Kalau begitu, ceritalah!" Ren berjalan ke taman, ia memberikan isyarat agar Jasmin mendekat. Mereka hanya duduk dengan berbatasan meja taman.


"Aku rindu ayah." kata Jasmin.


"Sabar!"


"Iya, aku tahu. Aku juga berusaha sabar. Tapi, aku rindu!"


"Kau masih punya ibu, kan?"


"Masih. Tapi ...."


"Tapi apa?"


"Aku dan ibu tidak akur. Maksudku, kami sebenarnya baik-baik saja. Tapi nenekku mengatakan secara emosional ada yang salah pada ibuku, entah apa itu. Ia selalu saja memandang buruk padaku. Mungkin seperti orang tua yang toxic. Tetapi aku yakin ia sangat menyayangiku.


Duku, setiap kami bertikai, ayah yang selalu jadi penengah. Kalau ibu marah, maka ayah akan pasang badan atau bahkan menguatkan bahwa aku sebenarnya tidak salah.


Itulah kenapa aku sangat sedih sekali dengan kondisi ayah seorang. Aku terlalu takut kehilangan ayah. Aku tak ingin terjadi apa-apa padanya."

__ADS_1


"Kau tak punya keluarga yang lain? Maksudku, selain kakek dan nenek di Bogor, ada Keluarga lainnya?"


"Tidak ada. Ayah dan ibu adalah anak tunggal."


"Apa ibumu punya trauma?"


"Bukan sekedar trauma, kehidupan di masa lalunya cukup sulit. Ia kehilangan sosok ayah dan ibu. Kakekku baru ada untuk ibu menjelang kedua orang tuaku menikah."


"Toxic memang. Tapi kau tak boleh menyerah, apalagi sampai stres."


"Ya, aku tahu itu. Banyak hal yang berusaha aku jaga."


"Misalnya?"


"Tentang keuangan keluarga kami. Ibu tidak suka jika aku bekerja, tetapi sebenarnya kami tak punya pilihan lain sebab setelah ayah sakit, tidak ada lagi yang mencari nafkah karena ibuku pun dua puluh empat jamnya di rumah sakit ini."


"Kau harus sabar."


"Ya, aku sedang berusaha untuk selalu sabar."


"Kau tahu Jasmin, kadang setiap orang mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan dalam hidupnya, tapi kita tak pernah tahu apakah itu musibah atau anugerah. Begitu juga sebaliknya, untuk setiap kebaikan yang kita dapatkan, entah itu adalah anugerah atau malah musibah."


"Kau bijak sekali?"


"Apa maksudmu?"


"Jasmin, aku sedang berusaha berempati denganmu, jangan berpikiran yang aneh-aneh."


"Tidak, aku tidak berpikiran apapun, selain ...."


"Selain apa?"


"Kakak kelas, apa kau menyukaiku?"


"Apa maksudmu?"


"Kenapa kau perhatian sekali padaku? Tidak mungkin kan karena aku adik kelasnya? Atau semua adik kelasnya kau perlakukan seperti ini?"


"Jasmin!"


"Hehehe, kena kau kakak kelas!"


"Enak saja. Aku tidak menyukaimu. Jangan berpikir aneh-aneh ya. Aku bisa marah atau bahkan tak Sudi lagi mengenalmu!"


"Terserah, kita lihat saja nanti."


"Jasmin!" panggil Ren. "Hei, berhenti. Jangan berpikir aneh-aneh!"

__ADS_1


Tanpa peduli, Jasmin meninggalkan Ren sambil tertawa-tawa. Ia merasa menang dengan keyakinan yang dibuatnya, sementara Ren memasang tampang cemberut.


Bruk. Untuk kedua kalinya Jasmin menabrak orang. Tentu saja bukan dokter koas Ren, tapi dokter koas yang lain. Dokter Mia, ia yang sering bersama Ren, Jasmin beberapa kali melihatnya.


"Maaf kak, aku nggak sengaja." kata Jasmin, sambil menautkan kedua tangannya di depan.


"Kalau jalan lihat-lihat!" jawabnya dengan nada sinis. "Kau sudah menabrak ku sangat keras. Lagian seperti anak kecil saja main lari-larian!"


Jasmin sebenarnya ingin membalas, tapi ia teringat dengan komitmen bahwa akan menjadi orang baik, makanya ia langsung mengabaikan.


"Kirain anaknya baik dan lembut, seperti wajahnya. Ternyata judes dan kasar." cetus Jasmin, sambil berlalu menuju kamar tempat ayahnya dirawat.


Di depan pintu kamar, Jasmin menarik nafas sebentar, lalu ia memasang senyum, barulah masuk ke dalam.


"Dari mana saja kamu, Jasmin. Kenapa baru muncul sekarang?" tanya ibunya.


"Maaf Bu, tadi aku salat dulu." ungkap Jasmin.


"Salat atau kelayapan?"


Jasmin tidak menjawab, ia mendekati ayahnya. Lalu seperti biasa, ia menyapa dengan cerita. "Hai ayah, apa kabar. Apa saja yang ayah lakukan saat aku meninggalkan ayah selama lima jam? Apa ayah merindukanku? Kalau aku sangat rindu pada ayah, makanya buru-buru pulang.


Ayah, hari ini sudah musim mangga. Banyak sekali pedagang mangga yang berjejer di trotoar depan rumah sakit. Apa ayah mau mangga? Ayah kan suka mangga. Biasanya sekali makan bisa habis tiga buah yang besar-besar. Iya, kan?


Yah, aku juga ingin ditraktir. Ada banyak buku yang ingin ku beli. Ayah bangun dong. Temani aku ke toko buku, setelah itu kita nonton. Tapi jangan ajak ibu ya." kata Jasmin, sambil pura-pura berbisik.


"Jasmin, apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku sedang berbincang dengan ayah."


"Aneh sekali. Kau tau kan bahwa ayahmu sedang tidak sadarkan diri?"


"Iya ibu, aku tahu. Tapi aku yakin kalau ayah pasti mendengarkan aku."


"Masa?"


"Iya. Ayah itu seperti tidur, tapi bukan tidur. Ayah mendengar, Bu. Tapi samar-samar."


"Teori apa itu?"


"Teori Jasmin."


"Kau ini pintar mengada-ada."


"Memang ibu tak pernah berbincang dengan ayah?"


"Aku? Tentu saja tidak. Aku hanya berdoa untuknya."

__ADS_1


"Oh ya, tapi tadi aku mendengar ibu berbincang dengan ayah." tentu saja Jasmin mengucapkan dalam hatinya, sambil tertawa geli.


__ADS_2