GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
185. Tantangan 3 M


__ADS_3

Yasmin tak bisa lagi menbiarkan persaingan antara dua pemuda yang sama-sama berjasa pada suaminya. Riu, adalah cucu dari lelaki yang sudah membesarkan suami Yasmin. Ia juga yang memberikan rumah tempatnya tinggal, bahkan banyak membantu saat mereka benar-benar di titik terendah.


Sementara Ren, pemuda itu adalah putra dari perempuan yang sudah menyelematkan suaminya dari penjara. Kakeknya juga banyak membantu suaminya ketika masih mendekam di balik jeruji besi. Yasmin ingat benar bagaimana suaminya mengulang-ulang jasa Alifa saat itu hingga membuat Yasmin cemburu buta.


Tetapi sekarang ia menghadapi masalah berbeda. Putrinya disukai dua pemuda tersebut. Sebenarnya jika harus memilih, Yasmin ingin putrinya berjodoh dengan Riu sebab mereka sudah lama saling kenal dan sangat akrab sekali, terapi Jasmin sudah mengajukan pilihan lain padanya.


Setelah kedua pemuda itu berada di hadapan Yasmin, perempuan itu mengemukakan tantangannya. Siapa yang bisa memenuhi maka itulah calon menantunya.


"Ibu mau menjadikan taruhan?" Jasmin tidak terima.


"Tidak ada yang berniat seperti itu Jasmin. Lagipula kamu sendiri yang memberikan ibu pilihan berat sebab keduanya adalah putra sahabat ayahmu. Ibu tidak mau saat ia bangun nanti maka ayahmu akan komplen karena tidak adil kepada mereka." ungkap Jasmin.


"Tapi tiga milliar bukan uang yang kecil, Bu!" Jasmin masih protes. Kali ini ia meragukan kedua pria di hadapannya. Mereka belum punya pekerjaan yang mapan. Satu masih proses mengambil profesi, satu lagi baru pindah kampus. Padahal ibunya melarang mereka berdua meminta bantuan orang tua masing-masing.


"Kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Ibu tidak memaksa. Tetapi tiga milliar itu ada filosofinya. Bagi ayah dan ibu, itulah yang menyatukan kami!" kata Yasmin.


"Baik, kalau begitu saya terima!" seru Ren.


"Saya juga." Jawab Riu.


"Hei, jangan mau mengikuti permainan ibu. Dengan apa kalian akan membayar tiga milliar tersebut? Dulu ayahku punya tiga milliar karena ia adalah ketua gengster dan juga punya usaha judi. Sementara kalian masih berstatus mahasiswa." Jasmin berusaha mempengaruhi mereka.


"Sudahlah Jasmin, biarkan kami berjuang!" kata Riu.


Jasmin geleng-geleng kepala. Sementara kedua pemuda itu pamit. Mereka siap melaksanakan tantangan tersebut. Mengumpulkan tiga milliar dalam waktu secepat mungkin agar bisa menikahi Jasmin.


***

__ADS_1


Riu masih berpikir keras, bagaimana caranya mendapatkan tiga milliar secepat mungkin. Ayah dan ibunya sudah memberikan ide agar ia menjadi pengusaha atau bermain saham. Tapi Riu menolak sebab ia tak punya modal sementara bibi Yasmin melarangnya memakai modal dari ibunya. Selain itu ia juga ragu dengan kebolehan bermain saham meski ia merasa itu adalah salah satu cara bisa dapat uang besar dengan waktu singkat.


"Kalau kamu terus menerus menolak ide ibu, maka kamu akan kalah nak," ungkap Riana.


"Apa ibu akan kecewakan jika aku kalah?" tanya Riu.


"Tidak juga. Kau menikah atau tidak dengan Jasmin, ia tetap putriku."


"Tapi aku mencintainya Bu."


"Riu, kau tahu, seseorang pernah melakukan kebodohan hanya karena cinta, pada akhirnya ia tak mendapatkan apapun selain kesengsaraan. Aku tak mau kau seperti itu, jadi aku bersikap netral."


"Bu," Riu memeluk ibunya.


***.


"Aku tak menyangka kau bertindak sejauh ini Ren. Bukankah menjadi dokter adalah impianmu?" ungkap Mia, ia yang paling terkejut sebab Ren memutuskan untuk cuti tanpa ada aba-aba sebelumnya.


"Aku butuh banyak uang dalam waktu dekat Mia." kata Ren, ia hanya menjelaskan sedikit tentang betapa banyak uang yang dibutuhkan dalam waktu singkat tanpa menjelaskan bahwa itu adalah tantangan ibunya Jasmin agar dapat menikahi putrinya.


Ibunya Ren sudah mengingatkan putranya agar berhati-hati pada Mia sebab mencium adanya gelagat tidak baik dari perempuan tersebut. Meskipun tidak terlalu yakin, tapi Ren tak keberatan menuruti. Apapun itu demi kelancaran hubungannya dengan Jasmin akan dilakukannya.


"Tiga milliar. Jumlah yang cukup besar. Mungkin aku bisa mengusahakan meminjam pada ayahku." ungkap Mia.


"Tidak Mia, aku sudah janji pada ibu untuk mencari secara tunai. Demi kehidupan kami." kata Ren, mengungkapkan alasannya.


Mia mengerutkan keningnya, ia prihatin dengan kondisi Ren meski sebenarnya ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ren tapi melihat pengorbanan yang dilakukan Ren membuatnya ingin membantu diam-diam.

__ADS_1


Mia masih menatap Ren sambil berpikir keras, apa yang bisa dilakukannya agar Ren bisa mendapatkan uang sejumlah tiga milliar dengan cepat. Meski ia sendiri juga belum tahu dari mana akan mendapatkan uang sebanyak itu.


***


Sudah hari ketujuh. Jasmin tahu betul, dua lelaki yang mencintainya tersebut tengah berjuang untuk mendapatkan hatinya. Dan entah kenapa dua pemuda tersebut sama-sama membuka usaha yang sama. Yaitu usaha makanan. Hanya saja, bonus yang mereka berikan sesuai dengan kemampuan masing-masing.


Ren menjual makanan dengan bonus cek kesehatan secara gratis. Sementara Riu membuka usaha makanan dengan bonus belajar bahasa Arab secara singkat.


Tentu saja kedai kedua pemuda itu selalu laris manis. Selain karena bonusnya, sebab dua pemuda itu sama-sama berwajah rupawan sehingga membuat banyak akhwat tergila-gila.


Jasmin bahkan merasa cemburu saat beberapa akhwat sengaja makan di sana untuk mendekati Ren. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan dari jauh.


"Apa yang membuat dia istimewa di matamu?" tiba-tiba Riu sudah berada di belakang Jasmin, pertanyaannya itu membuat Jasmin tersadar akan perbuatannya memperhatikan Ken.


"Aku tidak tahu." jawab Jasmin, asal-asalan sebab ia tak ingin menyakiti perasaan Riu meski sebenarnya dia masih kesal. "Kamu sendiri, kenapa mengkhianati perasaan sendiri?"


"Maksudnya?"


"Bukankah dulu kita berjanji akan jadi saudara. Lalu kenapa sekarang malah jatuh cinta?"


Sesaat Riu terdiam. Ada perasaan bersalah dalam hatinya sebab yang dikatakan Jasmin benar, tetapi ia ingat, bukankah mereka bukan saudara sedaah atau tidak ada alasan syar'i yang melarangnya menyukai Jasmin, jadi ini bukanlah sebuah dosa.


"Gara-gara kamu mencintai aku, kini hidupku jadi sulit sebab ibu memberikan syarat yang begitu berat agar kami bisa menikah." cetus Jasmin.


"Ini bukan dosa, Jasmin. Anggap saja aku sekalian mengujinya, apakah dia benar-benar pantas menjadi suamimu." kata Riu dengan entengnya, meski sebenarnya ia mulai tersentuh dengan kata-kata Jasmin.


"Kamu menghalangi dua orang yang sama-sama jatuh cinta untuk menikah, dengan mempersulitnya, itu namanya dosa!" ungkap Jasmin, sambil berlalu meninggalkan Riu yang masih diam mematung, merenungi kata-kata Jasmin barusan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, apakah aku salah?" tanya Riu dalam hatinya.


__ADS_2