GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
47. Kunjungan Heri


__ADS_3

Qret, apa kau tidak mencurigai seseorang? Misalnya ...." Jack memancingku.


"Tidak ada." Seluruh masalah di masa lalu rasanya sudah usai saat aku membubarkan rules. "Oh ya, tolong salah satu dari kalian kunjungi paman Rudi. Sejak pertama di tahan, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku sudah mencoba menghubungi Paman Rudi maupun Riana, tapi tidak ada hasilnya. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya. Tolong ya, lihat paman dan Riana!" pintaku lagi.


"Kau tenang saja, nanti kami akan langsung mengunjungi paman Rudi. Atau jangan-jangan menghilangnya paman Rudi dan Riana ada kaitannya dengan masalah ini?" kata Jack.


"Aku juga takut, jika penjahat itu juga mengincar paman Rudi dan Riana. Sungguh, tolong lihat mereka. Pastikan mereka baik-baik saja." pintaku lagi.


Kau tenang saja Qret, masalah ini akan segera menemukan jalan keluarnya. Kami akan selalu bersamamu!" ucap anak-anak rules secara bersamaan.


Tiba-tiba seseorang datang membesuk ku. Ialah Heri. Ia datang membawa buah tangan dan buku-buku untukku.


"Sepertinya kami harus pamit dulu, Qret." Jack dan teman-temannya langsung pamit pulang. Setelah kami saling bersalaman.


"Mas Qret beruntung sekali punya teman-teman yang sangat setia kawan!" ungkap Heri.


"Alhamdulillah," jawabku.


"Maaf ya mas Qret, saya baru dikabari Yasmin tentang musibah yang menimpa mas Qret. Makanya langsung meluncur ke sini." Heri menyodorkan makanan buatan istrinya, juga beberapa buku.


Kedatangan Heri sebenarnya sangat kutunggu. Aku perlu berbincang beberapa hal dengannya. Terutama untuk ketenangan hatiku.


"Mengapa Tuhan mengujiku seberat ini, Her? Eh, maksudku, ustad Heri. Apa karena dosaku yang begitu banyak dimasa lalu? Tapi kan aku sudah menyayanginya. Aku benar-benar menyesali semuanya. Tidak bisakah aku mendapatkan kesempatan?" aku mulai memberikan pertanyaan yang menjadi penyebab keresahan hari ini.


"Santai saja mas Qret. Mas Qret tahu, semua makhluk Allah itu akan mendapatkan ujian yang diberikan bukan hanya pada yang tidak Tuhan sukai. Tapi, kepada yang Dia suka suka, pun, ujian bisa diberikan.


Mas Qret tahu, untuk apa Tuhan memberi kita ujian? Sebagai salah satu jalan penentuan, apakah kita pantas naik kelas atau harus mengulang kembali.


Bagaimana caranya agar kita naik kelas? Dengan Ridha terhadap ujian-Nya. Jangan mengeluh dan ikhlas menjalani.


Sedang jika kita terus mengeluh, bahkan tidak terima, merasa Allah tidak adik, itu yang membuat kita tidak bisa naik kelas. Mas Qret ingin naik kelas, kan? Mas harus tahu, siapa saja yang Allah berikan ujian dan ia sabar, kelak akan dibangkitkan dalam keadaan berbahagia sebab bekalnya yang banyak.


Bagaimana mas Qret? Mau seperti apa?" tanya Heri.

__ADS_1


Tentu saja aku ingin naik kelas. "Lalu apa taubatku diterima?"


"Hanya Allah yang tahu, mas Qret. Saya hanya manusia biasa. Tugas kita hanya terus melakukan kebaikan, berharap Ridha Allah. Itu saja!"


"Ustad, jika nanti ternyata aku tidak bisa membuktikan kebenarannya, apa yang harus kulakukan?"


"Ikhlas mas. Ikhlas!"


Allah ... Bisakah hati ini ikhlas? Ya Allah, masih dan masih, diri ini merasa takut bila ujian datang bertubi-tubi.


"Ajari saya untuk bisa ikhlas."


"InsyaAllah mas,"


Heri mulai memberikan nasihat-nasihat penyejuk jiwa agar bisa ikhlas dengan semua ujian Allah. Kadang, kita lihat, orang yang ingin menjadi baik, tetapi ujian hidupnya tidak habis-habis. Itulah cara Allah untuk menghapuskan dosanya dimasa lalu.


Mana yang lebih baik, diuji sekarang dengan sedikit kesusahan, dibandingkan nanti di akhirat mendapatkan balasan untuk menggugurkan dosa-dosa kita?


Andai kita tahu, betapa beratnya pertanggungjawaban di akhirat nanti. Kita akan rela bersusah-susah di dunia. Kita akan rela mendapatkan ujian yang tidak berhenti-henti. Kita bahkan selalu berharap susah, agar kelak di akhirat ya lancar.


Jika dunia harus ditukar dengan akhirat, tentu aku lebih memilih untuk menang di akhirat saja nantinya. Bismillahirrahmanirrahim. Aku rela. Rela dan ikhlas dengan ujian-ujian Allah.


Bulir bening itu kembali menetes, entah mengapa hari ini rasanya begitu syahdu. Aku merasakan rindu, rindu yang sangat besar. Rindu pada Allah. Sangat rindu sekali.


"Bagaimana mas Qret?" tanya Heri.


"Sudah ustad, aku akan belajar untuk ikhlas." jawabku, penuh keyakinan.


"Kalau masih sesak, adukan saja pada Allah. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita di dunia ini, selain Dia. Jangan pikirkan hal lain. Cari cara untuk mendapatkan ridhaNya. Semua demi ketenangan kita."


Sebuah pelukan diberikan Heri untuk menguatkan ku. Pelukan dari seorang saudara sekaligus guru. Pelukan yang sangat berarti sebab ia telah mengajarkanku untuk ikhlas.


Lega. Hati ini benar-benar lega. Hanya berisi tentang kerinduan. Rindu pada Allah. Sangat rindu padaNya.

__ADS_1


"Saya pamit dulu ya mas Qret. InsyaAllah saya akan mampir ke sini lagi. Kalau ada apa-apa, hubungi saja saya kembali." Heri menepuk pundakku, perlahan.


Ketika kembali ke sel, Jimmi sudah duduk di tepi. Begitu penjaga pergi, ia langsung menodongku dengan pertanyaan.


"Dari mana saja kamu? Ketemu siapa? Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya.


"Hmmm, posesif sekali kau saudara kecil. Kalau mau bertanya, satu-satu dong." kataku.


"Jawab!"


"Mulai lagi,"


"Qret! Kenapa kau pergi begitu lama?"


"Aku tidak mau jawab, saudara kecil."


"Kau harus jawab aku, Qret. Aku harus tahu apa yang kau lakukan tadi? Jawab Qret!" Jimmi sampai berdiri, berusaha menggapai dari balik jeruji.


Ya Tuhan, Jimmi. Mengapa kau begitu ingin tahu semuanya? Kau sangat kepo sekali. Itu sungguh membuatku malas menghadapinya.


Aku segera menuju kamar mandi, mengambil wudhu. Air yang menyentuh wajah dan anggota wudhu terasa segar.


Rindu ... rindu ... rindu. Aku ingin berbincang dengan Allah. Banyak hal yang ingin kusampaikan. Banyak hal yang ingin kucurhati. Banyak hal yang ingin ku taubati.


"Hei Qret!" Jimmi kembali memanggil.


"Pstttt!" aku memberi isyarat, jari telunjuk di bibir agar ia tidak bicara lagi. Lalu membentangkan sehelai sajadah yang dibawakan Yasmin. Bersiap untuk salat, berbincang denganNya.


"Kau mau salat apa?"


"Salat karena rindu," jawabku.


Allahuakbar. Dengan terbata-bata, ayat demi ayat kubaca. Rasanya sendu, ketika bicara langsung dengan pemilik jiwa dan raga kita. Bukit bening itu tidak dapat ku tahan, meluncur satu-persatu, lalu berubah jadi deras, tanpa bisa kubendung hingga terisak-isak sebab merasa sangat perih sekali. Kenapa baru sekarang aku menyadari bahwa aku punya Tuhan, mengapa aku harus melewati jalan panjang penuh kemaksiatan? Aku rindu ya Allah. Rindu, sangat rindu.

__ADS_1


__ADS_2