GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
110. Ayah Dan Ibu Datang


__ADS_3

Acara kajian untuk persiapan pernikahan Riana Dan Deni tengah berlangsung. Kami mengundang ustad Habibi, gurunya Heri, sebab Heri tidak menyanggupi memberi nasihat pernikahan. Ia merasa ilmunya belum sampai untuk hak sakral seperti ini.


Banyak nasihat pernikahan yang disampaikan, sehingga menyadarkan bahwa pernikahan itu adalah ibadah yang usianya panjang. Harus selalu belajar dan belajar.


Aku melirik Yasmin dan saat bersamaan pun ia tengah menoleh padaku sambil melempar senyum. Aku berharap ia bisa jadi jalanku ke surga Allah, begitu juga sebaliknya, aku menjadi jalannya mendapat surga Allah


Sesungguhnya aku selalu Ridha padanya sebab ia adalah istri yang tidak pernah mengeluh juga selalu berusaha taat padaku.


Ketika seorang lelaki menikahi perempuan, maka ia mengambil alih tanggung jawab dari ayahnya. Segalanya ia tanggung. Termasuk dosanya. Itulah sebabnya mengapa seorang wanita diminta untuk memilih lelaki salah yang harus bisa membimbing dan bertanggung jawab atas ya. Tidak hanya tanggung jawab dunia saja, tapi juga akhiratnya.


Sedangkan para lelaki diminta untuk memilih perempuan dari agamanya. Carilah yang baik agamanya, maka akan selamat dan bahagia selalu.


Tangis Riana pecah saat ia sungkem pada paman Rudi, meminta izin untuk berumah tangga. Entah mengapa suasana haru mulai terasa. Aku tahu bagaimana ayah dan anak ini. Meski tidak selalu akur, bahkan mungkin lebih sering tidak akurnya sebab Riana tipe anak yang suka memberontak sementara ayah ya adalah pribadi yang cuek namun suka mengatur sesuai kehendaknya. Tetapi aku bisa merasakan kasih sayang mereka berdua itu begitu besar untuk satu dengan yang lainnya.


"Ayah, maafkan semua salah Riana. Tolong ridhai pilihan Riana." pinta gadis itu, sambil meneteskan air mata.


"Ayah sudah memaafkan semua salahmu, saat kau melakukannya. Tidak ada sakit hati ataupun kecewa padamu. Ayah juga ridha dengan pilihanmu. Kau harus jadi istri yang baik, nak." kata paman Rudi dengan suara terisak-isak.


Hidup dan membesarkan anak perempuan tanpa adanya sosok istri memang bukanlah hal yang mudah, maka saat paman Rudi sampai di gerbang ketika ia harus melepas putrinya, haru itu telah terasa. Begitu menyesakkan dada.


Memang banyak kekurangan paman Rudi dalam penjagaan Riana. Ia jadi sedikit tomboi, tidak terbiasa dengan pekerjaan rumah hingga kadang sikapnya agak sedikit keras. Itu semua sebab didikan ayahnya yang lebih mengutamakan pertahanan diri dari pada bagaimana menjadi wanita yang menahan lembut.


Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana sikap Yasmin dan Riana bisa begitu bertolak belakang. Padahal mereka sama-sama dibesarkan tanpa sosok ibu. Hanya oleh ayahnya saja.


"Sudah Riana, jangan menangis lagi. Kau kan tidak akan pergi kemana-mana. Toh setelah menikah kalian akan tetap tinggal bersama dengan paman," kataku, sengaja bergurau agar suasana haru ini segera berlalu. Aku tidak mau tiba-tiba harus meneteskan air mata. Bisa-bisa jadi bahan tertawaan Riana lagi.


"Kau benar-benar tidak punya perasaan ya," Riana menatapku dengan jengkel.


"Lho, aku kan bicara sesuai fakta!" kataku, dengan begitu santai. Saking santainya, sudah memancing emosi Riana hingga ia menendang perutku.

__ADS_1


"Aghhhhh, sakit!" seruku, sambil meringis memegang perut. "Dasar kau ini. Sudah mau menikah tapi masih juga kasar. Bagaimana nasib Deni nantinya? Bisa-bisa salah sedikit ia babak belur olehmu!" aku masih belum kapok bergurau.


"Kau mau lagi? Atau sekalian ku banting?" tanya Riana, siap dengan kuda-kudanya.


"Eh tidak ... tidak. Maafkan aku. Aku hanya bercanda." aku langsung mengangkat dua jari sebagai tanda damai.


Usai kajian kami segera lanjut menata rumah paman Rudi. Rencananya pesta akan diadakan di sini. Sebuah pesta sederhana dengan mengundang teman dekat saja.


Sedang beberes, ayah dan ibu datang, menambah ramai suasana di sini. Semua sibuk bekerja sambil sesekali berbincang-bincang.


***


Hari ini adalah pernikahan Riana. Yasmin dan ibu sedang menemani di kamarnya. Sedang aku menembak Deni yang agak sedikit Gugun sebab sebanyak lagi akad. Begitu petugas KUA datang, acara pun digelar. Deni dengan penuh percaya diri menjabat tangan paman Rudi hingga ijab kabul pun terucap.


"Saya terima nikah dan kawinnya Riana Juita binti Rudi Hakim dengan mas kawin tersebut. Tunai!" jawab Deni.


"Sah."


"Sah."


"Sah."


Usai ijab kabul, Riana keluar diiringi oleh ibu dan Yasmin. Ia mengenakan kebaya panjang putih dengan kerudung menutup kepalanya. Kata Yasmin, Riana memang sudah mantab ingin berjilbab. Ia tidak mau menambah dosa ayah dan suaminya sebab tidak menutup aurat.


"Qret, aku sudah menikah!" teriak Riana. Ia masih saja pecicilan.


"Hei, mulai sekarang jaga sikapmu. Kau adalah istri dari Deni, jadi jangan sembarangan lagi. Mengerti?" kataku, memberi nasihat untuk pengantin baru ini.


"Iya ... iya. Aku tahu!" ungkap Riana sambil bersungut-sungut.

__ADS_1


"Satu lagi, tolong jangan galak-galak pada temanku. Awas saja kalau ia mengadu apa-apa. Aku akan memarahimu!"


"Kenapa malah aku yang kau wanti-wanti. Harusnya kau menasihati Deni juga agar ia baik padaku."


"Aku sangat yakin bahwa Deni tidak akan macam-macam."


"Lalu aku?"


Aku tertawa kecil, lalu kabur sebelum ia melayangkan tinju atau tendangannya ke perutku. Sakit tau!


***


Sehari setelah acara pernikahan Riana dan Deni, ayah dan ibu pamit pulang ke Bogor sebab masih ada beberapa janji dengan pijat pesantren tempat kedua orang tuaku belajar ilmu agama.


"Kenapa buru-buru sih Bu. Kami kan masih rindu?" ungkap Yasmin, sambil menyender manja di bahu ibu.


"Lain kali ayah dan ibu datang lagi. Sebenarnya juga ingin menginap lebih lama lagi. Tapi kalian tahu kan, ada acara lain juga." kata ibu sambil mengusap pelan kepala Yasmin.


"Bibi ...." terdengar suara Riana menyongsong masuk ke dalam rumah. "Benar bibi pulang hari ini?" tanyanya.


"Iya Riana. Ada yang harus paman dan bibi lakukan." kata ibu yang sibuk menenangkan dua orang perempuan muda yang sudah dianggap layaknya anak kandung sendiri. "Lain kali kalian yang datang ke Bogor, sebentar lagi kami panen. Bibi akan masakkan masakan kesukaan kalian " Ungkap ibu.


"Jangan Bu, jangan ajak Riana." kataku.


"Memangnya kenapa Qret?"Tanya ibu.


"Ia itu merepotkan, selain itu suka menghabiskan makanan. Bisa-bisa bahan makanan ayah dan ibu habis olehnya." kataku.


"Dasar pelit!" Riana mencibir.

__ADS_1


"Sudah ... sudah. Jangan berkelahi lagi. Kau Qret, jangan sembarang mencandai Riana lagi. Sekarang ia sudah punya suami yang juga harus kau hormati. Jaga sikap kalian. Mengerti!" kata ibu.


Ayah dan ibu naik ke mobil, lalu setelah mengucapkan salam dan melambaikan tangan, mobil yang dikemudikan ayah melaju menuju puncak Bogor.


__ADS_2