GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
51. Kiriman Makanan Dari Yasmin


__ADS_3

Jarang sekali aku menemukan orang-orang berpangkat yang seperti pak Bagus. Sangat hamble. Menyapa tanpa gengsi seorang tahanan. Bahkan, menawarkan bantuan sebab ia yakin aku tidak bersalah. Ini benar-benar kebaikan dari Allah padaku yang wajib untuk terus kusyukuri.


Alhamdulillah ... Alhamdulillah ... Alhamdulillah.


Pembicaraan kami terus berlanjut mengenai kasus yang sedang kuhadapi. Alifa berusaha meminta keterangan dariku. Ia juga menyiapkan surat kuasa baru sebagai pengacaranya. Setelah ini, kasus hukum yang aku hadapi akan ditangani oleh Alifa.


"Sore ini juga aku akan ke tempatmu, Qret. Ada seseorang yang masih tinggal di sekitar sana, yang kau percayai bisa untuk kutanya-tanya?" tanya Alifa.


"Ada. Paman Rudi dan Riana. Rumahnya tepat di sebelah rumah yang kutinggali. Sebenarnya, rumah itu juga milik mereka." kataku.


"Berarti mereka bisa mengakses keluar masuk rumahmu?"


"Iya, bisa."


"Apa kau dan pak Rudi atau Riana ada masalah?"


"Tidak. Kami baik-baik saja. Mereka sudah seperti saudara ku sendiri."


"Kalau begitu mereka tidak termasuk dalam lingkaran yang harus kita curigai?"


"Tidak."


Pertanyaan selanjutnya diajukan oleh Alifa. Termasuk keberadaan ayah dan ibu. Tidak lupa kuberikan juga nomor ayah dan ibu yang bisa dihubungi.


"Alifa, aku agak khawatir kalau kau pergi sendiri," kuutarakan kekhawatiran terhadap musuhku yang benar-benar belum bisa kutebak. Bagaimanapun, keselamatan Alifa juga sangat penting. Ia seorang perempuan, rasanya cukup berbahaya kalau ia harus menyelidikinya sendiri.


"Hahaha," tawa Alifa langsung pecah. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Qret. Kau tahu, aku sudah sabuk hitam, jago bela diri. Di Australia akupun biasa melakukan semua sendiri. InsyaAllah aku akan baik-baik saja!" Alifa meyakinkanku.


"Tapi kau tidak terlihat seperti orang yang jago bela diri?"


Sekilas, penampilan Alifa yang terlihat ayu dengan balutan gamis dan kerudung lebarnya rasanya tidak ada jiwa-jiwa jago bela diri.


"Kau mau mengujiku?" Alifa langsung berdiri, ia memasang kuda-kuda di hadapanku.


"Oh tidak. Ampun. Baiklah aku percaya kau jago bela diri!" kataku.


Alifa langsung terkekeh, sementara aku senyum-senyum tidak enak, juga kaget dengan reaksinya barusan.


"Nah gitu dong. Aku pengacaramu, jadi mulai sekarang kau harus mempercayaiku. Jangan pernah meragukan kemampuanku. Aku tidak suka itu." Alifa tertawa lagi.

__ADS_1


"Baiklah, ibu pengacara. Aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Sungguh!" kataku, sambil mengangkat tangan.


Kami melanjutkan pembicaraan, saat tiba-tiba seorang polisi masuk bersama seorang gadis yang tidak asing bagiku. Yasmin. Ada apa? Bukannya tadi pagi kami sudah bertemu?


"Mas Qret, maaf kalau aku mengganggu," ia menundukkan kepala pada Alifa, sambil melempar senyum.


Alifa langsung berdiri, mengulurkan tangan pada Yasmin. "Aku Alifa, pengacara baru Qret!"


"Yasmin," gadis itu tampak canggung. "Maaf kalau kehadiran saya mengganggu." ia menunduk, terlihat tidak nyaman.


"Oh tidak apa-apa," jawab Alifa. "Kami hanya membicarakan kasus Qret. Ada informasi yang harus aku selidiki. Oh ya, mbak Yasmin siapanya Qret?" tanya Alifa.


Aku dan Yasmin saling pandang. Lalu Yasmin menundukkan kepalanya. Sedangkan aku tidak bisa menjawab apa-apa sebab tatapan gadis itu, meski hanya sesaat selalu bisa membuatku tersihir. Oh Tuhan. Baru tadi aku sedih sebab surat darinya disobek oleh Jimmi, tapi langsung terobati kesedihan itu dengan kedatangannya.


Tiba-tiba aku ingat surat itu. Apa sebaiknya kukatakan padanya bahwa surat itu disobek Jimmi agar ia bisa membuatkan kembali. Sungguh aku sangat suka dengan kata-kata yang ditulisnya. Aku begitu tersihir dengar rangkaian syair yang mampu mengaduk-aduk perasaanku.


"Itu ...." jawab Yasmin.


"Oh maaf, maaf sekali kalau aku lancang. Tidak seharusnya bertanya seperti itu." ungkap Alifa. Lalu berulangkali mengucap maaf pada Yasmin.


"Maaf, aku cuma mau mengantar ini," Yasmin menyodorkan kantong yang cukup besar padaku. Isinya makanan. "Ayah yang menyuruh." tambah Yasmin.


"Terimakasih Yas." jawabku, sambil mengambilnya. Aroma masakan di dalamnya langsung membuatku lapar.


"Kalau begitu aku pamit." Yasmin segera undur diri setelah menundukkan kepalanya pada Alifa sebagai isyarat ia akan pergi. Usai mengucapkan salam, ia benar-benar pergi. Tanpa bicara sepatah katapun padaku.


Anak ini sungguh terlalu. Apa salahnya berbasa-basi sedikit. Dari dulu tetap saja dingin. Aku jadi penasaran, kalau kami menikah nanti, apa sikapnya juga akan begini?


"Tadi itu calon, kan?" tebak Alifa.


"Hm," jawabku.


"Gadis itu pasti sangat baik sekali."


"Aku harus berkorban tiga milliar untuk mendapatkannya!"


"Hah?"


"Tapi, lebih dari itupun tidak masalah. Aku rela mengeluarkan lebih banyak lagi, bahkan hidupku juga. Asal bisa menikahinya."

__ADS_1


"Wow!"


"Hahaha," tawaku lepas, diikuti oleh tawa Alifa. "Tapi susah memahaminya." ungkapku.


"Kenapa?"


"Dia dingin sekali. Mungkin lebih dingin dari kulkas. Lihat kan, sikapnya tadi."


"Hahaha," kini giliran Alifa yang tertawa lebar hingga seluruh giginya yang rapi terlihat. "Tadi, aku menafsirkan, sepertinya ia cemburu."


"Siapa? Yasmin? Cemburu? Yang benar saja!"


"Sungguh. Lihat saja. Ia begitu kaget melihat kita."


"Oh ya. Aku tidak yakin. Dia memang begitu, dingin."


"Sungguh Qret. Aku perempuan dan sangat yakin sekali dengan sikap Yasmin tadi."


"Hahaha, andai ia tahu, kalau kau sudah menikah, punya suami dan anak. Ia pasti akan malu sekali sudah cemburu padamu!"


"Qret,"


"Ya,"


"Aku sudah bercerai."


Diam. Aku tidak bisa berkata apa-apa, sedangkan Alifa terlihat memaksakan senyumnya.


"Aku kembali ke Indonesia sebab stress dengan perceraianku. Aku ingin menghindari mantan suamiku. Tetapi bodohnya, aku malah meninggalkan putraku satu-satunya!" wajah yang tadinya ceria itu terlihat mendung.


Aku pernah mendengar bahwa salah satu kelemahan wanita yang sudah menikah adalah anaknya. Entah mengapa, aku bisa merasakan bagaimana perasaan Alifa saat ini. Ia pasti serba salah.


"Putramu pasti akan memahaminya." ucapku, mencoba menyemangatinya.


"Semoga saja. Sebab saat kutinggalkan, ia begitu terpukul. Menangis memanggil-manggil. Ia tampak sangat kecewa. Tapi aku tidak bisa berbuat apapun selain pergi. Padahal ia masih lima tahun, Qret!" Alifa menundukkan kepalanya, mencoba menutupi mendung di hatinya.


"Kalau boleh aku memberi saran, baiknya jemput ia Alifa. Aku pernah berada di posisi yang sama seperti putramu. Usiaku kala itu tujuh tahun saat ibu meninggalkanku. Aku tumbuh penuh dengan kebencian, benar-benar membenci diri sendiri hingga akhirnya aku bertemu Yasmin dan ia yang membuatku kembali bisa menerima ayah dan ibuku."


"Qret,"

__ADS_1


"Apapun yang terjadi antara ayah dan ibunya, setiap anak berhak mendapatkan kebahagiaan. Jangan sampai mereka mendapatkan efek dari segala keburukan yang kita buat!"


"Ya Qret, aku pasti akan menjemputnya!" Alifa menganggukkan kepalanya.


__ADS_2