
"Ba ... bagaimana ini?" Mia menyadari bahwa ia dalam masalah besar sebab jika sampai Ren mendengarkan rekaman ini maka bisa dipastikan lelaki itu akan membencinya seumur hidup. Bisa-bisa Ren tak akan mau berteman lagi dengannya, bahkan akan sangat membencinya. Padahal Mia sangat mencintai Ren. "Bagaimana ini? Apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku bisa seceroboh ini, membiarkan bocah itu merekam semuanya. Ia menjebakku. Lalu bagaimana ini?" Mia benar-benar cemas, saking takutnya ia sampai meremas jemarinya hingga berdarah.
Buru-buru Mia berjalan menuju mobilnya. Sebab ia tak ingin orang-orang melihatnya dengan kondisi kacau. Tangannya masih gemetaran, tidak berani membayangkan jika Ren tahu semuanya tentang dirinya.
"Harusnya aku berusaha sendiri, tidak mengandalkan orang lain sehingga tak perlu ada masalah seperti ini. Ren pasti akan membenciku jika ia tahu sifatku yang sebenarnya." kini Mia benar-benar tidak tahan untuk tidak menangis, ia sampai membenturkan kepalanya ke stir mobil.
"Ya, aku harus menghubungi Joko. Ia harus membantuku." masih dengan tangan yang gemetaran, Mia memencet nomor lelaki yang mengaku jatuh cinta padanya.
[Segera ke sini, aku butuh kamu sekarang juga!] pekik Mia, dengan nada suara tinggi.
Setelah mengirim lokasinya sekarang, Mia langsung menutup Hpnya, membuang ke sembarang tempat. Lalu ia kembali menangis, tak tahu harus melakukan apa sebab saat ini hanya ada satu rasa, yaitu ketakutan. Bagaimana kalau Ren mendengarkan semuanya.
Sudah hampir satu jam Mia menanti, kini Joko sudah ada di sampingnya. Duduk di kursi mobilnya sambil memandang jauh ke depan.
"Kemana saja kamu? Kenapa lama sekali? Katanya akan selalu ada saat aku membutuhkan!" pekik Mia yang masih frustasi.
"Aku tadi di Tangerang, butuh waktu untuk sampai ke sini." jawab Joko dengan tenangnya, meski ia sebenarnya terganggu dengan panggilan dadakan Mia.
"Aku tidak peduli. Mau kamu di ujung dunia sekalipun, kalau aku panggil kamu harus datang."
"Ada masalah apa? Kenapa jadi semarah ini?"
"Lelaki itu, ia merekam pembicaraanku. Ia menjebakku dan mengancam akan memberitahu Ren!" dengan emosi Mia menceritakan apa yang barusan terjadi pada Joko. Sesekali ia menghapus kasar air mata yang turun ke pipinya. "Aku bisa tamat kalau Ren sampai mendengarnya. Kamu harus melakukan sesuatu agar rekaman itu tidak sampai ke tangan Ren!"
"Mia ... sudahlah. Kah sudah kukatakan, aku tak ingin lagi terlibat dengan kegilaan kamu itu. Obsesi kamu untuk mendapatkan Ren terlalu berlebihan. Sudahlah. Berhenti berharap padanya. Lupakan dia. Mengerti!"
__ADS_1
"Nggak, nggak bisa. Aku nggak bisa. Kamu harus tetap menolongku, Joko."
"Tapi semua sudah sangat kacau. Dan itu semua karena ulah kau sendiri. Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa sebab bisa saja sekarang Ren sudah mendengarnya. Iya, kan?"
"Apa? Tidak, itu tak boleh terjadi. Kamu harus menghentikan semuanya, Joko. Kamu harus buat Ren mencintaiku!"
"Bagaimana caranya? Aku bukan Tuhan Mia, kalau aku bisa, maka yang akan kuubah duluan adalah kamu. Akan kubuat kamu kembali waras agar bisa memahami mana yang baik dan yang buruk. Sudahlah, berhentilah mencintai Ren, mulailah kisah baru. Apa kamu tidak lelah Mia, mengejar-ngejar lelaki yang bahkan tidak menganggap kamu ada."
"Menyerah? Hei, berkaca dulu pada dirimu sendiri Joko, kamu saja tidak bisa move on dariku. Bagaimana mungkin kamu bisa berharap aku bisa melupakan Ren?"
"Kamu salah Mia, aku sudah merelakan kamu."
"Apa maksudmu, Joko?"
"Nggak ... Kamu nggak boleh melakukan itu, Joko!"
"Aku sudah melakukannya. Aku bahkan sudah membuka diri pada perempuan lain."
"Nggak. Jahat kamu Joko, jahat!"
"Sadarlah Mia. Ini terakhir kali aku memenuhi panggilan kamu. Setelah ini tak akan lagi. Selamat tinggal!" Joko melambaikan tangannya, lalu keluar dari mobil Mia setelah mengucapkan salam perpisahan.
Menanggapi sikap Joko tersebut, Mia langsung histeris. Ia tak bisa membayangkan bagaimana mungkin kehilangan dua orang lelaki yang berarti dalam hidupnya dalam waktu bersamaan.
"Tunggu dulu, kenapa aku harus panik, bahkan sedih ketika Joko pergi? Nggak, aku nggak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja. Aku hanya mencintai Ren, hanya Ren. Aku hanya tidak rela saja kehilangan seorang budak yang bisa ku perintah sesuai keinginanku. Hanya itu!" Mia menegaskan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
***
Mia membanting pintu kamarnya, lalu melangkah ke tempat tidur, menghempaskan tubuhnya dengan cukup keras. Dari luar terdengar suara ketukan pintu. Itu pasti ibunya. Tadi saat masuk, Mia memang melewatkan perempuan yang sudah melahirkannya begitu saja tanpa mengacuhkan panggilannya.
Sejak dulu, Mia memang tak pernah peduli dengan perempuan itu. Sama seperti sikapnya pada Mia sebelumnya. Hubungan ibubdan anak itu memang tidak baik-baik saja sebab perempuan itu pernah ketahuan beberapa kali berselingkuh, sementara ayahnya memaafkan perempuan tersebut karena pertimbangan nama baik keluarga dan juga masa depan Mia. Ayahnya tak ingin putri tunggalnya kehilangan kasih sayang seorang ibu yang nyata-nyata memang sebenarnya tidak pernah didapatkan olehnya.
"Mia ... Mia!" panggil ibunya lagi.
Mia tetap abai, bahkan ia menutup kedua telinganya dengan bantal hingga suara itu akhirnya tak terdengar lagi. Ya, seperti nya ibunya menyerah, lalu berlalu begutu saja.
"Heh, katanya sayang, ternyata segitu saja." ejek Mia, sambil melempar bantal ke arah pintu.
Ia memang selalu sanksi apakah benar ibunya menyayangi dirinya dan ayahnya sebab yang Mia yakini, ibunya bertahan di sini hanya karena takut kehikangan harta ayahnya.
"Malang sekali hidupku, punya ayah sibuk. Ibu yang tak mencintaiku." gumam Mia.
Tiba-tiba ia kembali terkenang Ren juga Joko. Terasa sesak sekali di dalam dada Mia sebab kini mereka akan meninggalkan dirinya sendiri.
"Tak akan ada yang menyayangiku." keluh Mia. "Joko ... lelaki miskin itu, berani-beraninya ia meninggalkan aku. Katanya ia cinta mati, ternyata ia mengkhianati ku. Untung saja aku tak memberinya kesempatan sedikitpun sebab ternyata cintanya palsu. Hahaha" Mia tertawa keras, sebenarnya menertawakan dirinya sendiri,sambil menahan perih di hatinya.
Teringat bayangan beberapa tahun silam, saat tiba-tiba Joko menghampiri Mia. Lelaki itu membawakan sekotak coklat murahan dan setangkai mawar merah. Lalu menyatakan cinta pada Mia. Tentu saja perempuan itu meradang, bagaimana mungkin ada seorang yang bukan tipikal dirinya menyatakan cinta. Berani-beraninya lelaki itu menyukainya secara diam-diam selama ini.
Tapi Mia tak langsung menolak Joko, ia memanfaatkan lelaki itu untuk mendapatkan hati Ren. Semula Mia tidak menyangka kalau Joko mau menuruti semua keinginannya tanpa meminta imbalan apapun, bahkan lelaki itu juga menjaga Mia dengan sangat baik. Hanya saja, lama-kelamaan Mia dibuat tergantung oleh Joko.
Kini, saat Joko memutuskan pergi, Mia benar-benar kelimpungan. Ia bahkan mulai menyadari, ternyata tidak ingin berpisah dengan Joko meskipun mulutnya enggan untuk mengakui itu semua.
__ADS_1