GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
182. Bertemu Calon Ibu Mertua


__ADS_3

Jasmin berjalan tergesa-gesa menuju taman rumah sakit, sebenarnya ia tak berani bertemu, tapi Ren agak mendesak, makanya ia buru-buru keluar. Saat melihat Ren, ia tersenyum, lalu mendekat.


"Lho, ibu?" kata Jasmin, sambil menunjuk Alifa yang duduk di dekat Ren.


"Lho, kamu?" Alifa menunjuk Jasmin. "Kamu yang tadi, kan?" Alifa meyakinkan bahwa gadis yang di hadapannya adalah gadis yang sama dengan di kedai rumah sakit tadi.


"Ibu sudah tahu Jasmin?" tanya Ren, melihat ekspresi dua perempuan yang dikasihinya.


"Jadi ini yang namanya Jasmin, Ren?" tanya Alifa pada putranya.


"Iya, Bu." jawab Ren.


"Ya ampun, kalau ini sih ibu iya aja, Ren." ungkap Alifa, meninggalkan semu merah di wajah lelaki blasteran tersebut. Sementara Jasmin masih bingung, iya untuk apa?


"Bu," Ren memberikan isyarat agar ibunya menahan diri sebab ia masih malu jika harus mengungkapkan sekarang, tapi tetap saja ibunya tak peduli, terus mendesak Ren agar bicara.


"Baiklah, kalau kamu nggak mau ngomong, biar ibu saja yang biara, Ren." kata Alifa. "Jadi nak Jasmin, sebenarnya Ren juga menyukai nak Jasmin. Kamu adalah cinta pertama anak Tante dan Tante harap kalian bisa bersatu sebab Tante juga menyukai kamu."


"Hah?" Jasmin menggigit bibirnya, ia merasa ini seperti sebuah mimpi. Baru kemarin ia menyatakan cinta, tapi tak ada tanggapan dari lelaki yang dicintainya sehingga membuta Jasmin merasa lalu, bahkan saat tadi diajak bertemu pun Jasmin sudah malas, ia masih malu. Tapi kini, tiba-tiba seorang ibu yang ternyata adalah ibu lelaki yang disukainya menyatakan bahwa putranya mencintai Jasmin. Benarkah ini? Atau jangan-jangan Ren hanya mempermainkan perasaan yang saja. Tapi Jasmin tidak pernah tahu kalau lelaki cool seperti Ren bisa bercanda juga. "Ini beneran?" tanya Jasmin dengan polosnya.


"Ya, tentu saja benar. Memangnya nak Jasmin nggak percaya sama ibu?" tanya Alifa pada Jasmin. "Kemarin, Ren pulang, ia menceritakan semuanya pada Tante dan ini untuk pertama kalinya dalam hidup Ren."


"Tapi kak Ren nggak menjawab kemarin," ungkap Jasmin.


"Itulah Ren, karena ini pertama kalinya Ren merasakan jatuh cinta, makanya dia bingung harus menjawab apa sebab dalam hidup Ren, ia percaya bahwa seharusnya lelakilah yang mengungkapkan cinta. Nak Jasmin percaya sama ibu, kan?"


"Percaya Bu, tapi ...." Jasmin masih merasa ini semua seperti mimpi. Lagipula jika Ren punya perasaan sama, kenapa nggak menjawab hal yang sama saat ia mengungkapkan kemarin? Tetapi separuh hatinya juga bersorak, berarti ini pertanda bahwa ia adalah cinta pertama Ren.


"Kalau Ren nggak usah ditanyakan lagi, dia memang kaku seperti kanebo kering, dingin seperti kulkas." kata Alifa. "Tapi yakin deh, Ren benar-benar suka sama nak Jasmin."

__ADS_1


"Tapi Jasmin sudah dijodohkan, Bu." kata Jasmin, hati-hati.


"Lho, kamu kan sudah janji nggak akan menerimanya dulu. Iya, kan?" kini Ren yang maju.


"Kakak tidak bilang kalau kakak juga suka. Jadi menurut aku nggak ada alasan untuk mempertahankan perasaan sendiri." jawab Jasmin dengan santai.


"Apa maksudnya? Jangan bilang kamu sudah nggak cinta sama aku " Ren mulai panik.


"Mungkin." kata Jasmin.


"Jangan begitu Jasmin. Ini nggak lucu, kamu nggak boleh suka sama orang lain selain aku!" Ren mulai menunjukkan sikap posesifnya.


"Hm," Jasmin geleng-geleng kepala. Ia dan Alifa saling melempar pandangan.


"Kenapa diam? Jasmin, ayo jawab!" Ren mendesak Jasmin.


"Apa, calon ibu mertua? Hei, PD sekali kamu." Ren malah terlihat gugup.


"Oh, berarti tadi itu tidak benar. Ya sudah, aku terima tawaran ibu untuk dijodohkan saja." ungkap Jasmin.


"Eh, enak saja. Jangan sembarangan. Kata Ren yang semakin gugup, sementara ibunya dan Jasmin malah tertawa terbahak-bahak sebab berhasil menggoda lelaki dingin seperti kulkas tersebut yang ternyata bisa berubah jadi kolokan.


"Sekarang, mumpung ibu di sini, ayo kita bertemu dengan ibu kamu, Jasmin." kata Alifa.


"Ketemu ibu?" Jasmin berpikir, sebenarnya ia masih berat, tapi setelah dipikir-pikir, memang sebaiknya semuanya dijelaskan. "Ayo!" ajak Jasmin.


Mereka bertiga menuju ruangan tempat ayahnya Jasmin di rawat. Yang pertama masuk adalah Jasmin, ia meminta izin pada ibunya sebab ada yang akan bertemu.


"Siapa Jasmin?" tanya Yasmin.

__ADS_1


"Teman Bu, ia dan ibunya ingin membesuk ayah. Mereka juga ingin bicara dengan ibu." kata Jasmin, hati-hati. Ia sebenarnya khawatir kalau ibunya tidak mau bertemu dengan Ren dan ibunya.


"Ya, suruh masuk."


Tidak lama, Ren dan ibunya masuk. Yasmin dan Alifa tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Diani begitu sempit, mereka yang sempat putus komunikasi selama beberapa tahun ternyata akhirnya bertemu kembali.


"Yasmin!" panggil Alifa.


"Alifa," kata Yasmin. Dua orang yang saling kenal itu saling berpelukan untuk melepas kerinduan. Sementara kedua anak mereka saling diam, sebab terkejut. Sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh Jasmin bahwa ibunya mengenal ibu Ren.


"Ibu kenal ibu Alifa?" Tanya Jasmin.


"Ya Jasmin, bahkan ibu juga tahu Ren. Dulu, waktu dia kecil, Ren pernah main beberapa kali ke kedai kita. Ren juga senang kalau ayahmu mengajaknya masak. Kamu masih ingat, Ren?" tanya Yasmin, pada pemuda bermata biru yang dahulunya masih sangat kecil dan begitu menggemaskan karena wajahnya yang rupawan. "Tidak menyangka kalau sekarang kamu sudah sebesar ini. Masih suka masak, Ren?" kata Yasmin lagi.


"Ren sudah tidak pernah memasak lagi, Yas. Dia sekarang sedang belajar menulis obat." kata Alifa.


"Oh ya, Ren calon dokter atau sudah jadi dokter?" tanya Yasmin.


"Masih koas. Ini mau selesai, akan dilantik. Tapi dia berencana akan menyelesaikan hingga jadi dokter spesialis bedah, seperti cita-citanya dulu." ungkap Alifa, sambil menceritakan masa kecil putranya yang dahulunya suka masak, tapi karena mereka sempat pindah ke Bandung, maka tak ada lagi yang mengajak Ren memasak, makanya kegemarannya itu lama-lama terlupakan. "Dunia ini sempit sekali ya, tidak menyangka kalau kita bisa bertemu di sini. Apa yang terjadi pada Qret, mengapa ia bisa seperti ini?" tanya Alifa, sambil mendekat pada tempat tidur Qret.


"Mas Qret kena serangan jantung, juga hipertensi. Sudah sebulan lebih ia tak sadarkan diri. Kami benar-benar mengkhawatirkan keadaannya." Yasmin menceritakan awal mula semua kejadian yang menimpa Qret. Suaminya itu memang terlalu bekerja keras, sampai-sampai abai terhadap kesehatannya.


"Ya, aku hafal betul Qret, ia pekerja keras. Kalian berdua beruntung memilikinya." kata Alifa. "Oh ya Yas, apa kamu tahu, ternyata putrimu dan putraku menjalin. Hubungan."


"Hubungan apa?" Yasmin melirik Jasmin yang terlihat salah tingkah.


"Mereka sama-sama saling mencintai." ungkap Alifa.


"Hah?" Yasmin tampak kaget, raut wajahnya berubah jadi agak tegang, tapi mungkin karena tidak enak pada Alifa, makanya ia berusaha untuk bersikap sewajarnya.

__ADS_1


__ADS_2