GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
168. Bangunlah Tuan Qret!


__ADS_3

Hari kesepuluh. Yasmin dan Jasmin masih setia menunggui Qret di rumah sakit. Yasmin selalu ada dua puluh empat jam. Ia bahkan tidak mau beranjak sedikitpun. Urusan yang mengharuskan keluar dikerjakan oleh Jasmin, ditengah kesibukannya kuliah, membuat roti hingga menerjemah.


Hari ini Yasmin terpaksa harus meninggalkan Qret sejenak sebab ia harus mengurus bagian administrasi. Ia sudah berpesan agar Jasmin tidak kemana-mana sampai ia kembali.


"Ingat Jas, jangan kemana-mana. Ibu bisa kalah jika kamu meninggalkan ayahmu!" kata Yasmin, lalu beranjak meninggalkan ruangan.


"Ayah dengarkan, ibu masih suka marah-marah dan menuduh aku tidak bisa menjaga ayah. Padahal aku berusaha kok menjaga ayah. Aku kan sayang ayah." Jasmin memegang tangan ayahnya, perlahan air matanya turun. "Tuan Qret, apa kau mendengarkan? Aku sangat merindukanmu. Rindu tuan Qret yang akan selalu ada untukku. Bangunlah tuan Qret, tetaplah jadi lelaki yang selalu aku banggakan.


Nenek juga bercerita kalau ayah adalah lelaki yang hebat. Ayah, lakukan juga sesuatu untukku, katakan pada ibu bahwa aku juga mencintainya. Aku lelah dengan persaingan ini, seolah aku tak pernah peduli pada ayah dan ibu. Aku menyayangi kalian sama. Lebih besar dari pada menyayangi diri sendiri.


Ayah, bangunlah. Dengarlah aku. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan. Apa ayah tahu, aku benar-benar lelah. Tidak, bukan berarti aku menolak untuk berbakti. Aku hanya bingung bagaimana menjelaskan pada ibu bahwa sekarang aku bekerja sebagai penjual roti.


Benar ayah, aku menjual roti, menggantikan ayah. Tahu tidak apa nama mereknya, roti hijrah. Sebagai pertanda bahwa ayah masih ada dan akan segera kembali. Nanti jika ayah sudah bangun, ayah akan lihat betapa banyaknya jenis roti yang sudah aku ciptakan. Rasanya juga tidak kalah lezat dari buatan ayah."


Jasmin menghapus sisa air mata yanhengakir di pipinya. Ia masih menggenggam tangan ayahnya. Sesuai perhitungan Jasmin, ibunya kembali setelah air mata itu surut.


"Aneh sekali," ungkap ibunya.


"Kenapa Bu?" tanya Jasmin.


"Masa tagihannya cuma satu juta."


"Lho, bukannya itu bagus? Kita tidak punya banyak hutang. Atau ibu mau tagihannya besar?"


"Ya jangan. Ibu hanya bingung saja. Ibu kira biaya inap di sini saja sudah begitu mahal. Ternyata tidak. Kalau begini rasanya ibu sedikit lega, Jas."


"Ibu sudah melunasinya?"


"Iya sudah. Tabungan kita masih ada sisa sedikit."


"Syukurlah."


"Tapi ibu bingung, Jas."


"Bingung kenapa?"


"Untuk biaya lanjutannya, bagaimana?"


"Ibu tenang saja, aku akan membantu."

__ADS_1


"Membantu bagaimana? Kau masih berpikiran untuk tidak kuliah? Jasmin, jangan berulah lagi. Ibu benar-benar lelah memikirkan ayahmu, jangan tambah beban pikiran ibu juga dengan ulah-ulahmu!"


"Iya Bu. Maafkan aku." Jasmin memutuskan kembali ke sofa, ia membuat jarak dengan ibunya yang mengambil posisi duduk di sebelah ayahnya.


Untuk menghabiskan waktu, Jasmin mulai mengerjakan terjemahan yang diberikan oleh Ren. Ia sudah bertekad akan mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Apalagi Ren juga menyatakan ada banyak teman-temannya yang menawarkan menjadi penerjemah untuk keperluan jurnal mereka.


"Aku harus semangat demi meringankan beban ibu!" tekad Jasmin dalam hatinya.


***


"Ini, semuanya sudah selesai!" kata Jasmin pada Ren. Saat mereka bertemu di taman kampus.


"Ternyata terjemahannya memang benar-benar baik " puji Ren.


"Hehehe, kalau itu jangan diragukan. Aku kan pemenang lomba bahasa Inggris nomor satu tingkat nasional!" Jasmin mulai menyombongkan diri. "Jadi sekarang pak dokter koas mau mencabut kata-kata waktu di puncak bahwa aku hanyalah seorang gadis yang tidak punya masa depan sebab sukanya main-main, hah?"


"Ckckck, baru dipuji segitu sudah sombong sekali. Oh ya, ini mau lanjut atau bagaimana? Temanku yang dosen juga tertarik minta bantuan untuk menerjemahkan beberapa bukunya. Kalau sudah selesai dengannya, aku bisa perkenalkan kamu dengan temanku yang bekerja di bidang penerjemah. Untuk fee jangan khawatir, dia biasanya membayar dengan harga cukup tinggi. Untuk kalangan penerjemah, menurutku ia paling tinggi "


"Aku mau!"


"Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Aku kan cuma bicara fakta."


"Mau sombong?"


"Tidak tidak. Aku hanya bercanda."


Jasmin melirik Hp Ren, ia sudah menyelesaikan transaksi untuk pembayaran atas kerja Jasmin barusan sehingga membuat gadis itu tersenyum puas, apalagi ada tambahan pekerjaan baru untuknya dengan gaji cukup tinggi.


"Terima kasih, lain kali kalau butuh jasaku, jangan sungkan ya!" ungkap Jasmin, ia melambaikan tangan.


"Jas, tunggu sebentar." panggil Ren.


"Apa?"


"Kamu sudah makan?"

__ADS_1


"Kenapa? O, aku tahu, kamu mau mengajakku kencan kakak kelas? Aduuh bagaimana ya? Sebenarnya aku sangat ingin, tapi aku sudah taubat. Aku tidak mau pacaran. Aku sudah janji pada Allah akan menjadi anak baik untuk ayah dan ibuku. Aku tak ingin mengecewakan mereka lagi, apalagi saat ini ibuku sedang sakit. Jadi dengan berat hati kukatakan, aku menolak tawaran kencan darimu kakak kelas."


"Kencan? GR sekali. Kau kira aku suka padamu? Aku hanya simpati. Lebih tepatnya kasihan sebab nasibmu yang menyedihkan itu. Aku tidak tega kalau ada orang yang harus mengalami putus sekolah."


"Oh ya? Berarti kau selalu menolong anak-anak yang akan putus sekolah? Hemmmm, kamu mulia sekali kakak kelas!"


"Hei, Jasmin, berhenti mengolok-olok. Maksudnya tidak begitu, tapi ...."


"Tapi apa?"


"Ahh sudahlah. Aku hanya kasihan dengan kondisi ekonomimu. Jadi ku ajak makan siang supaya bisa berhemat."


"Oh begitu. Bilang dong. Aku ambil tawaran makan siangnya kakak kelas!"


"Dasar, tadi katanya menolak, sekarang malah ngejar."


"Hehehe, aku lapar. Ayo segera!" Jasmin menarik ujung jas putih Ren, ia seperti tidak sabar ingin segera ke warung makan terdekat.


"Kita makan di sini!" kata Ren, memasuki warung makan Padang yang berada tidak jauh dari kampus mereka. "Kenapa?"


"Tidak apa-apa." jawab Jasmin.


"Kecewa karena aku hanya mengajak ke warung makan sederhana? Kau pasti mengira aku akan mentraktir ke tempat makan yang mewah dan romantis. Iya, kan?"


"Tidak."


"Ahhhh sudahlah. Jangan mengelak lagi. Kau itu tipe wanita matre, kan? Aku sudah menduganya. Terlihat dengan caramu menolak kakak kelas yang menciba mendekat. Iya, kan?"


"Bukan."


"Lalu kenapa?"


Jasmin tidak menjawab sebab air matanya lebih dulu meluncur. "Rumah makan Padang adalah favorit ayahku. Setiap ia sakit atau kehilangan selera makan, maka ayah akan meminta aku atau ibu untuk membelikan makanan untuknya. Sekarang ia tak sadarkan diri, aku tak tahu apakah ia rindu nasi Padang atau tidak?


Tentang kenapa aku menolak kakak kelas yang mendekat, kan sudah kukatakan kalau aku tak mau pacaran. Aku sudah taubat, aku ingin menjadi anak yang baik!"


"Oh ... maafkan aku Jasmin."


Berdua mereka beriringan masuk ke warung makan, memilih menu kesukaan masing-masing, lalu makan dalam diam dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2