
Hari ketiga jualan makanan secara online, setelah dua hari sebelumnya tidak ada satupun pembeli, akhirnya aku bisa tersenyum lega ketika ada yang memesan sepuluh kotak nasi kampung.
Yasmin sebenarnya ingin membantu meracik, tetapi aku melarang. Kali ini biar aku yang menyelesaikan sendiri. Aku sudah menanti ya selama tiga hari, jadi tidak ingin melewatkan begitu saja.
Setelah semua beres, aku bergegas mengantarkan pesanan tersebut ke kantor yang jaraknya tidak begitu jauh.
Rasanya begitu bahagia sekali saat menerima uang pembayaran. Jauh lebih bahagia ketimbang saat pertama mulai jualan.
Sampai di rumah, Yasmin kembali mengabarkan bahwa sudah ada pesanan lagi. Bahkan ia sudah duluan mulai bekerja di dapur. Kami kembali seperti semula, menjadi tim solid yang saling mendukung.
Hari ini begitu luar biasa bagiku. Setelah beberapa pekan merasa terpuruk, akhirnya aku bisa bangkit lagi. Memulai kembali usaha untuk kehidupan kami.
"Lihat ini Yas, keuntungan yang aku dapatkan. Cukup banyak kan. Semoga saja kedepannya bisa terus seperti ini." Kataku.
"Aamiin. Aku berdoa yang sama untuk mas. Semoga dari hari ke hari semakin membaik." jawab Yasmin.
Lembaran-lembaran uang kertas itu aku berikan pada Yasmin. Ia menerimanya dengan penuh rasa syukur, lalu menyimpannya untuk modal belanjaan besok.
"Yas, apa kau ingat bahwa pernikahan itu adalah ibadah yang paling lama. Seumur hidup. Saat kau bisa menerimaku apa adanya, begitu juga sebaliknya. Pernikahan ini terasa begitu indah.
Kau adalah pakaianku. Begitu juga sebaliknya. Aku ingin kita saling dukung selamanya. Apapun yang terjadi. Kau tidak boleh lagi gampang menyerah apalagi merasa rendah diri. Kau sangat istimewa bagiku, Yas." ucapku, sambil mengusap pelan kepalanya.
"Mas juga seperti itu. Aku akan selalu mendukung mas apa adanya. Semua kesalahanku yang lalu, tolong dimaafkan. Aku menyesal sudah memaksakan diri pada mas." ungkap Yasmin.
"Tidak apa, Yas. Pasti ada hikmahnya."
***
__ADS_1
Sesuai dengan apa yang sudah kami jadwalkan, aku dan Yasmin hari ibi ke rumah sakit. Yasmin akan melepas gip di kakinya.
Sejak tadi ia terlihat tegang. Tampak sekali begitu cemas. Entah apa yang dipikirkannya. Aku tidak ingin mengganggu Yasmin dengan banyak tanya. Makanya kubiarkan saja ia dalam diamnya.
"Ibu Yasmin." seorang perawat memanggil nama Yasmin. Aku segera mendorong kursi rodanya untuk masuk ke dalam ruang perawatan, lalu dokter yang ada di sana memeriksa kaki Yasmin.
"Kita akan lepas gipnya ya." kata dokter tersebut, lalu melepas perlahan gipnya. "Coba langkahkan kakinya."
Pelan-pelan Yasmin berusaha bangkit, tetapi ia ambruk ke lantai karena kakinya tidak mampu menopang berat badan Yasmin sendiri. Jelas sekali kulihat ia begitu kecewa.
"Aku tidak bisa jalan," bisik Yasmin, saat aku mendekatinya.
"Pelan-pelan Yas," aku membalas bisikannya.
"Ibu Yasmin tidak perlu sedih dulu, kakinya Bu Yasmin kaku makanya sulit untuk berjalan. Tetapi secara keseluruhan semuanya sudah membaik, hanya perlu menjalani beberapa kali terapi." ungkap dokter tersebut.
Tiga sampai empat kali, semoga kakinya sudah tidak kaku lagi." ungkap dokter.
Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, aku mendorong kursi Yasmin. Supaya ia tidak kecewa, aku berusaha memberikan semangat untuk Yasmin.
"Yas, ingatkan apa yang kukatakan tadi. Apapun yang terjadi, kita harus tetap pasrah sama Allah. Menerima semua yang sudah Dia tetapkan." Kataku, mengulang kembali nasihat tadi pagi yang sudah kuutarakan padanya.
"Iya, aku ingat mas." meski berat, Yasmin berusaha mengukir senyum untukku.
Siapa sangka, kami kembali bertemu dengan Jimmi. Tentunya pertemuan ini dijadikan oleh Jimmi sebagai waktu untuk membalas rasa sakit hatinya pada kami. Jimmi kembali merendahkan Yasmin.
"Yas ... Yas. Dulu kau memang gadis yang sangat aku cintai. Kau cantik, saliha, sempurna. Tetapi sekarang? Lihatlah, kau hanya bisa duduk di kursi roda. Cacat Yas. Dan yang lebih menyedihkan lagi, suamimu bahkan tidak bisa membawamu berobat ke tempat yang lebih baik.
__ADS_1
Sudah tahu istrinya cacat. Apa salahnya berobat ke rumah sakit besar yang bagus. Ibu malah ke rumah sakit kecil seperti ini. Ya enggak bakal sembuh-sembuh kamu, Yas. Selamanya hanya akan duduk di kursi roda." tawa Jimmi langsung pecah, membuat amarahku tersulut.
Aku hendak memberikan sebuah pukulan hadiah di wajah Jimmi, tetapi Yasmin menarik tanganku. Ia memberikan isyarat agar aku tidak melakukannya.
"Tidak apa-apa Jim. Justru saat ini aku begitu bersyukur sekali. Aku merasa sangat beruntung sebab Allah menjodohkan aku dengan mas Qret. Bukan dengan lelaki lain yang dahulu begitu mengejar-ngejar aku.
Kau tahu Jim, mas Qret sangat tulus mencintaiku. Ini buktinya, dalam kondisi yang kamu katakan cacat, tapi ia selalu setia mendampingi aku. Bahkan rela kehilangan harta berharganya untukku.
Coba aku salah pilih waktu itu, bukannya bahagia, aku pasti akan hidup dalam sengsara sebab tidak tertutup kemungkinan ia akan menbuangku. Padahal ia pernah berjanji tidak akan pernah menyakitiku, apapun yang terjadi. Iya kan Jim?" Ungkap Yasmin. Sebuah perkataan telah yang sukses membuatku tertawa geli sebab Jimmi terlihat sangat malu.
"Jim, yang namanya menikah itu harus siap menerima pasangan apa adanya. Bukan hanya mau saat ia baik saja, tapi dalam segala keadaan. Kau paham, kan?" aku bertanya padanya.
"Heh, aku tahu, kau hanya sedang berpura-pura bahagia kan Yas? Oh ya kenapa kalian tidak punya anak juga? Atau jangan-jangan Yasmin sudah tidak bisa memberimu keturunan, Qret?" Jimmi masih berusaha untuk menjatuhkan kami.
"InsyaAllah bisa Jim. Hanya saja kami sedang menikmati masa berdua ini. Aku dan Yasmin sengaja mengundur masalah momongan dulu. Selain ingin fokus pada kesehatan Yasmin, kami juga sedang menikmati bagaimana indahnya masa-masa pacaran halal. Lalu kau sendiri kapan akan menikah? Ku dengar sudah banyak gadis-gadis yang memberimu kode. Apa kau tidak tertarik untuk segera menikahi mereka. Atau jangan-jangan kau sendiri masih belum move on?" aku menantang balik Jimmi.
"Ingat Jim, kau sudah tidak punya kesempatan jadi segeralah move on atau kau akan sendiri selamanya." ungkapku.
"Qret ... Qret, aku itu punya segala-galanya, tetapi aku punya tanggungjawab yang besar, makanya masih ingin fokus pada urusan Bisnisku." kata Jimmi dengan penuh rasa percaya diri
"Baiklah, kami percaya-percaya saja." aku mengacungkan ibu jari padanya, lalu berlalu begitu saja.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku pada Yasmin saat kami berjalan melewati lorong rumah sakit
"Hm," Yasmin menjawab singkat.
"Kau tahu, aku mencintaimu apa adanya. Bagiku kau adalah segalanya. Kau adalah hadiah dari Allah yang sellau aku syukuri. Apapun keadaanmu." bisikku.
__ADS_1
"Kalau begitu peluk aku." pinta Yasmin.