
Rancangan usaha untuk masa dpena telah selesai kubuat. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Rupanya Riana. Gadis itu tampak kurang ngerti, seperti punya banyak beban pikiran.
"Ada apa Riana?" tanyaku, sambil menatapnya. Tidak biasanya Riana seperti ini.
"Aku ingin bicara, Qret." kata Riana.
"Ya, silakan."
"Apa kau akan memutus kerja sama dengan ayah? Apa kau akan meninggalkan kami semua? Jawab Qret!"
"Bukan begitu Riana. Aku tak akan kemana-mana. Aku ada di sini. Tetapi ...."
"Tetapi hatimu tidak! Iya, kan?"
"Riana, kau tahu, dalam hidup terkadang kita diminta untuk memilih. Jika ada dua pilihan, satu sebuah keburukan, sedangkan satunya lagu baik untukmu. Lalu kau akan pilih yang mana? Kau pasti ingin yang baik, kan?"
"Setelah dua puluh tahun kita bersama? Begitu Qret?"
"Riana, aku tahu kau kecewa dengan keputusanku. Tapi aku ...."
"Qret, aku tahu ini ada hubungannya dengan Yasmin,"
"Tidak Riana. Ini tentang aku dan Tuhan,"
"Sungguh Qret, aku tidak mengerti. Aku hanya berharap agar kau pikirkan lagi. Apa kau ingat Qret, saat pertama kita bertemu. Kita berjanji akan berteman selamanya. Ingat juga apa yang sudah dilakukan ayahku untukmu. Ayah berkorban banyak mengantarkanmu menjadi pengusaha sukses. Ia bahkan sampai berjuang keras saat kau menjadi anggota gengster. Ia mati-matian mengeluarkanmu dari gegng agar kau punya masa depan. Tolong ingat itu Qret!"
Melihat wajah Riana yang begitu sedih, membuat hatiku pun sedih. Aku ingat semuanya, bagaimana perlakuan paman Rudi padaku. Ia bahkan lebih mengutamakan aku dari pada Riana. Ia menganggap ku tak hanya sekedar anak angkat, tapi anak kandung sendiri. Tidak jarang paman Rudi pasang badan untuk membelaku.
Jasa-jasa mereka tidak akan bisa ku balas meskipun semua yang kumiliki, diberikan pada mereka.
"Qret, tolonglah. Kembalilah!" Riana memohon.
"Riana, kali ini aku pun memohon padamu. Ikutlah denganku. Ayo kita berubah bersama-sama. Paman Rudi pasti akan mendengarkan kata-katamu." aku balik memohon.
"Tidak Qret ... tidak! Itu bukan dunia kita!"
"Tidak ada larangan bagi siapapun, Riana,"
"Qret, sadarlah. Kita bukan orang suci!"
"Tapi kita juga berhak menjadi orang baik. Dan itulah fitrah kita Riana,"
"Fitrah? Apalagi itu? Aku tidak paham,Qrer?"
__ADS_1
"Karena itulah belajar Riana, agar kita sama-sama paham apa yang Tuhan inginkan dari hidup kita,"
"Qret, kamu tahu, saat ayahku jadi orang baik, ibuku tetap meninggalkannya karena ayah tidak punya apa-apa. Tapi Tuhan tidak membantu kami untuk menghalangi kepergian ibu. Lalu ayah memilih jalan sendiri. Meskipun awalnya bertentangan dengan hati, tapi ternyata inilah jalan yang membuat kami bahagia."
"Benarkah kau bahagia seperti ini Riana?"
"Ya Qret. Setidaknya aku tidak harus melihat ayah frustasi setiap hari tidak punya uang dan dikejar-kejar hutang. Sekarang, kami punya segalanya, Qret!"
"Tidak Riana. Untuk apa punya segalanya kalau hati kosong,"
"Tidak, aku bahagia Qret!"
"Tapi kau tahu apa balasannya nanti!"
"Qret!"
Tangis Riana semakin pecah. Ia bahkan turun dari tempat duduknya. Kini Riana berlutut di hadapanku, sehingga membuatku merasa serba salah.
"Riana jangan!"
"Qret, tolong kembali. Aku tidak bisa kehilangan dirimu!" tangis Riana mulai berhenti, entah kenapa ia tiba-tiba jatuh tersungkur. Riana pingsan.
"Deni!" pekikku.
Orang yang ku panggil datang tergopoh-gopoh. Ia tampak kaget melihat Riana yang jatuh di lantai. Deni langsung membopong Riana, ia membawanya pulang ke rumah paman Rudi.
"Kau kenapa?" ini pertama kalinya Deni berkata keras kepadaku.
"Kau yang kenapa? Lihat, karena ulahmu Riana sampai begitu. Apa kau tahu, beberapa hari ini ia mengurung diri di kamar, terus-terusan menangis dan tidak mau makan. Dia memikirkanmu Qret. Sadarlah!"
"Aku minta maaf,"
"Maaf saja apa bisa mengembalikan Riana seperti itu? Aku sudah bekerja keras untukmu. Tapi kau tetap saja egois. Dengar Qret, mulai sekarang aku berhenti bekerja denganmu. Lebih baik aku mati kelaparan dari pada punya tuan yang tidak punya perasaan sepertimu. Kau tidak punya rasa terima kasih. Kacang lupa kulit!"
Deni pergi dari rumahku. Lagi-lagi aku ditinggalkan. Ada perasaan sedih yang luar biasa. Aku juga khawatir dengan kondisi Riana. Ada apa dengannya? Harusnya ia tidak bersikap seperti itu. Aku tidak pergi, aku tetap di sini.
***
Tuan, aku tahu anda sedang banyak masalah. Jika anda butuh seseorang untuk teman bicara, anda bisa menghubungiku.
Sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari Yasmin. Entah mengapa pesan itu tidak dapat membuatku berdegup kencang. Mungkin karena aku sedang banyak masalah. Sungguh aku masih belum bisa tenang, memikirkan kondisi Riana. Tadi aku sudah mendatangi rumahnya, tetapi paman Rudi melarang bertemu sebab Riana masih harus istirahat.
"Riana, maafkan aku ...." lirih aku berucap.
__ADS_1
Entah kenapa, ada keinginan untuk meminum minuman keras yang muncul di hatiku. Dulu, setiap ada masalah, aku selalu menyelesaikannya dengan mabuk-mabukan.
Sebotol minuman keras telah berada di atas meja. Aku memang masih menyimpannya. Perlahan minuman itu kubuka, lalu saat hendak meneguknya, tiba-tiba terbayang api yang amat panas.
"Aaaaaaa ...." aku berteriak histeris, sambil melempar botol minuman hingga pecah, berserakan di lantai.
"Aku muak!" kataku.
"Qret, ada apa?" ibu masuk tergopoh-gopoh karena mendengar teriakanku.
"Bu," panggilku.
"Ya Allah Qret, apa ini? Kamu minum?"
"Tidak Bu, Qrer takut api neraka,"
"Lalu itu apa?"
"Tadi Qret memang ingin meminumnya, tetapi tidak jadi Bu,"
"Syukurlah nak, jangan disentuh lagi." ibu menyingkirkannya dariku.
***
"Bagaimana mas Qret, salatnya sudah bisa?" tanya Heri, saat ia kembali datang untuk kesekian kalinya ke rumahku.
"Sudah lumayanlah," jawabku. Sebenarnya aku tergolong bisa lebih cepat menghafalkannya, tetapi masih ada banyak kekurangan yang ku rasa sehingga aku merasa perlu belajar lebih banyak lagi.
"Berarti sudah bisa juga jadi imam?"
"Maksudnya?"
Heri tergelak. Ia menjelaskan tentang kode yang dikirimkan oleh Yasmin, pertanda gadis itu siap menerimaku sebagai suaminya.
Tetapi apakah begitu? Atau jangan-jangan hanya guyonan Heri untuk membuatku senang.
"Saya serius mas, Yasmin tidak akan mau menerima curhatan lelaki manapun. Tetapi ia bersedia mendengarkan uneg-uneg mas. Ia ingin mengiaskan bahwa siap menjadi teman antum dalam menjalani kehidupan ini."
"Benarkah?" mataku berbinar-binar. Tetapi masih ada sedikit ragu. Aku belum begitu baik. Masih banyak kurangnya, masih harus banyak belajar.
"Ya kan bisa belajar sama-sama. Yasmin juga bisa membimbing antum. Lebih enak dibimbing istri lho, mas. Ketimbang belajar sama saya. Apalagi gurunya Yasmin."
Lagi-lagi dadaku bergetar. Benarkah? Ahhhh, sungguh indahnya jika itu benar. Tetapi aku tidak berani banyak berharap sebab sadar siapa diriku.
__ADS_1
Prak. Suara benda jatuh dan pecah. Aku dan Heri segera bangkit, lalu melihat ke teras depan. Rupanya keramik yang berada di depan yang terjatuh. Padahal tidak ada siapa-siapa di sini.
Segera ku minta pembantu untuk membersihkan bekas pecahan keramik yang berceceran di lantai. Sementara aku dan Heri kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pembicaraan.