
Seberat apapun masalahmu, bagaimanapun sulitnya ujian yang engkau rasakan, tetaplah melibatkan Tuhan dalam setiap langkahmu. Yakinlah bahwa Dia akan selalu menolongmu. Sebab bagiNya, hal yang berat, bahkan kau nilai mustahil, bisa saja terjadi, kecil untuk-Nya. Tidak ada yang tak mungkin bagi Allah. Kau hanya harus yakin dan berserah diri sepenuhnya pada Dia. Biarkan Allah yang menentukan semuanya, sebab takdir kita sudah selesai jauh sebelum kita dilahirkan.
Begitulah cara yang akan kupakai untuk menghadapi semua masalahku ke depannya. Termasuk tentang hutang yang sedang melilit kami. Sekarang mungkin terlihat tidak ada jalan. Tetapi kapanpun Allah menginginkan maka bisa saja aku melunasinya. Bukankah Allah maha kaya, maha segala-galanya.
Pagi ini, setelah kembali dari masjid, aku membangunkan Yasmin yang masih terlelap. Hanya perlu dua kali memanggil, ia sudah membuka matanya.
"Selamat pagi istriku tercinta." aku menyapanya sambil tersenyum, lalu menghadiahkan sebuah kecupan di keningnya. Tentu saja membuta Yasmin kebingungan sebab ialah yang selalu menanggungkan, tetapi sekarang aku yang melakukan, juga keromantisan di pagi ini.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ada cinta untukmu. Banyak." aku meraih bunga mawar yang sengaja tersembunyi di belakang badanku agar Yasmin tidak melihatnya. "Ini untukmu "
"Mas kenapa?" ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu meraih mawar pemberianku. Senyumnya langsung terukir, terlihat indah saat ia menghirup aroma mawar yang begitu harus.
"Maafkan jika selama ini aku tidak romantis, aku terlalu banyak kekurangan jika harus dihadapkan padamu, Yas."
"Mas bicara apa? Aku bersyukur punya, mas."
"Aku tidak yakin."
"Kenapa begitu?"
"Kalau kau bersyukur menjadi istriku, kau pasti sudah bahagia."
"Aku bahagia."
"Tidak. Buktinya kau tidak mempercayai aku."
__ADS_1
"Mas ...."
"Yas, apa kau yakin aku bisa keluar dari semua masalah ini? Kau tahu, aku adalah seseorang yang dahulunya berada di lembah hitam. Entah sudah berapa banyak dosa yang aku buat. Mungkin lebih banyak daripada buih di lautan.
Akan tetapi aku bersungguh-sungguh bahwa aku begitu mencintaimu. Apa kau bisa percaya itu, Yas?" tanyaku.
"Mas ...."
"Aku tahu, harusnya kalau cinta, memberikan kehidupan yang nyaman dan layak untukmu. Tapi ternyata aku tidak bisa melakukan semuanya, Yas. Maafkan aku ".
"Tidak mas. Jangan katakan seperti itu. Aku sangat bahagia kok menjadi istri mas."
"Kalau begitu bisakah kita mulai semuanya dari awal lagi? Aku ingin kita saling support, saling percaya dan selalu saling mencintai?"
"InsyaAllah bisa."
***
Entah untuk berapa lama, aku dan Yasmin hanya akan tinggal berdua di rumah ini sebab ayah Yasmin mengabari bahwa ia belum akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat sebab sudah mulai nyaman di kampung halaman. Pamannya Yasmin mengajaknya untuk berkebun, sesuatu hal yang memang digemari oleh ayah Yasmin, tetapi karena di ibu kota dan kami tidak punya lahan cukup maka hobi tersebut tidak bisa disalurkan.
Aku juga sudah mulai kembali aktif dengan urusan kedai. Kembali menghandle semuanya. Mulai dari keuangan hingga seluruh karyawan. Sebenarnya lebih berat sebab dulu ada Yasmin yang siap membantu, tetapi sekarang Yasmin tidak terlibat lagi dengan urusan kedai sebab ia masih belum nyaman keluar dari rumah, meskipun kedai itu adalah milik kami.
"Aku punya hadiah untukmu." kataku, setelah kami selesai sarapan.
"Hadiah, apa mas?" Yasmin mengerutkan keningnya.
"Kemarilah!" aku mendorong kursi roda Yasmin menuju ruang depan yang memang belum punya fungsi. Di sana sudah ada sebuah mesin jahit lengkap dengan peralatan jahitnya. Aku sengaja memberikan Yasmin hadiah tersebut sebab ingat ia begitu suka menjahit, tetapi sejak pindah ke sini, hobi itu tidak tersalurkan sebab Yasmin fokus membantuku dengan urusan kedai, sedangkan mesin jahitnya yang lama tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Ya Allah mas, apa ini?" Yasmin menatap tidak percaya, ia bahkan sampai mengusap mesin itu penuh dengan rasa sayang. Terlihat jelas Yasmin begitu bahagia. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Senyum yang sudah lama aku rindukan. "Ini mesin yang paling bagus. Mesin nomor satu. Aku saja tidak berani memimpikan punya mesin sebagus ini. Lengkap lagi." ucap Yasmin, masih sambil mengusap-usap mesin jahitnya.
"Ya, aku sengaja mencari mesin keluaran terbaru dan terlengkap untukmu. Kau tahu, aku sampai masuk beberapa grup menjahit di media sosial untuk tahu tentang mesin terkini. Lalu ketemulah mesin keluaran Belanda ini!" ungkapku, membuka rahasia mengapa selama sepekan ini aku rajin sekali online, hal yang jarang aku lakukan, sebab mencari tahu ini semua.
Sebagai orang yang awam dengan urusan jahit menjahit, aku memang harus berjuang keras untuk mendapatkan mesin yang paling baik ini. Bertanya langsung pada Yasmin juga bukan solusi terbaik, masa mau memberikan surprise malah nanya pada yang akan disurprise.
"Mas, harga mesinnya pasti mahal. Iya, kan? Apalagi mas juga membeli banyak kain seperti ini. Kain yang mas belikan ini jenisnya sangat bagus, harga permeter juga tinggi." Yasmin kini beralih pada sepuluh gulung kain yang juga kuborong.
"Jangan pikirkan masalah harganya, Yas. Inikan hadiah untuk istri tercinta, harus yang terbaik dong." kataku. Bukan tanpa alasan aku membelikan Yasmin semua ini. Aku sangat tahu betapa ia begitu kesepian, setelah kembali dari Singapura, Yasmin menolak bila diajak ke kedai. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di rumah. Sendirian.
Aku begitu tahu bagaimana kesepiannya Yasmin bila aku harus ke kedai sebab ia sendiri di rumah saat ini. Ayah Yasmin juga memutuskan tinggal sementara di kampung halaman mereka untuk mengobati rindu pada sanak saudara. Ia benar-benar tidak punya teman untuk bicara.
Sehari-hari, selama aku pergi Yasmin hanya menghabiskan waktu di perpustakaan rumah kami. Membaca buku-buku yang sebenarnya bukan hal yang disukai oleh Yasmin. Ia mengatakan tidak terlalu suka membaca.
Yasmin tidak punya pilihan lain. Makanya kuputuskan mencari kegiatan sampingan yang ia sukai agar emosi Yasmin tidak gampang tersulut. Terkadang, saat seseorang yang biasanya sibuk harus berdiam diri tanpa melakukan apapun biasanya akan memicu stres.
"Tetapi ingat Yas, aku tidak mengizinkan kau terlalu keras dengan jahitanmu ibu. Kau hanya boleh menyentuhnya saat aku tidak ada di rumah. Kalau aku sudah kembali, kau harus menghabiskan waktu bersamaku. Mengerti!" kataku.
"Tentu saja. Tapi mas ...."
"Apa lagi, Yas?"
"Apa ini benar-benar bukan pemborosan?"
"Pemborosan bagaimana?"
"Sebentar lagi kan jatuh tempo pembayaran bunga hutang,"
__ADS_1
"Yas, kita sudah bahas ini semua tadi malam dan sama-sama sepakat bahwa hutang itu adalah tanggung jawab aku. Semuanya adalah urusanku. Aku yang akan menyelesaikannya. Kau hanya perlu membantu dengan doa dan support aku terus menerus. Semangat dan ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan-kesalahan. Kau mengerti, kan?"