
"Riu, tunggu sebentar!" panggil Ren, setelah ia yakin bahwa Jasmin sudah benar-benar masuk rumah.
"Kau memanggilku?" tanya Riu.
"Ya. Aku perlu bicara denganmu!" Ren menunjuk arah taman yang berada tak jauh dari rumah Jasmin. Ia ingin bicara tanpa di dengar oleh siapapun, apalagi Jasmin.
Sampai di depan taman, tanpa basa-basi, Ren mengingatkan Riu agar menjaga jarak dengan Jasmin.
"Kau tahu kan kalau Jasmin adalah istriku. Aku berhak atasnya. Termasuk mengatur siapa saja yang boleh dekat dengannya. Mulai sekarang aku melarang kau dekat-dekat dnegannya, meski hanya sekedar tegur sapa. Apalagi memberikan sandal seperti yang kau lakukan tadi. Norak sekali!" kata Ren dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
"Norak?" Riu tertawa kecil. "Biarkan saja jika kau menganggap itu norak. Tapi kalau kau punya hati pasti kau tahu kalau apa yang aku lakukan pada Jasmin adalah bentuk perhatian. Aku tidak mau dia kenapa-kenapa, makanya aku memberikan sandalku sebab aku tahu Jasmin itu gadis tomboi yang tak terbiasa menggunakan heals. Tapi ia memakainya demi kau.
Lagipula Ren, mungkin dulu aku pernah melakukan kesalahan dengan melepasnya padamu, padahal ternyata kau tak pantas untuknya sebab kau hanya memberinya penderitaan saja.
Jadi, sekarang bersiaplah. Kalau kau membuatnya menangis lagi, maka aku akan merebutnya darimu. Paham!"
"Apa maksudmu?"
"Seperti yang kau dengat bahwa aku akan kembali mendekati Jasmin."
"Apa? Hei Riu, kukira kau tahu agama, ternyata kau tak ubahnya seperti seorang berandalan. Memang ya, yang namanya keturunan preman pasti tidak jauh-jauh dari tingkah orang tuanya!"
"Apa maksudmu?" Riu mendekati Ren, ia menarik kerah baju Ren. "Kau boleh menghina aku, tapi tidak dengan orang tuaku!" Sebuah pukulah dilayangkan Riu ke pipi Ren sehingga meninggalkan jejak kemerahan.
"Aghhh," Ren meringis kesakitan. "Kau!"
"Apa? Kau masih ingin bicara lagi? Lebih baik kita baku hantam!" baru saja Riu hendak menendang Ren, tiba-tiba dari belayada yang mencekalnya. "Ayah?"
"Riu, apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukul Ren? Kau mau Jasmin marah padamu?" ucap Deni, sambil memegangi lengan anaknya. "Kalian itu kenapa?"
"Kali ini kau selamat, awas saja kalau berani mengulangi kata-katamu tadi. Kau akan kuhabisi!" ancam Riu, sembari berlaku menuju rumahnya.
__ADS_1
"Nak, kau tak apa-apa?" tanya Deni pada Ren. "Apa ini perbuatan putraku? Aku benar-benar minta maaf, nanti aku akan menasihatinya lagi. Akhir-akhir ini entah kenapa Riu memang jadi emosional, mungkin karena ia mengkhawatirkan kau dan Jasmin."
"Aku?" Ren mengerutkan keningnya.
"Ya. Bagi Riu, kebahagiaan Jasmin adalah segala-galanya. Kalau gadis itu sedih, atau menghilang seperti tadi maka akan membuatnya ikut sedih. Mungkin mereka memang tak lahir dari rahim yang sama, tapi aku tahu kedekatan antara Riu dan Jasmin hampir sama seperti istriku dan ayahnya Jasmin."
"Ya paman."
"Apa kau cemburu pada mereka? Kalau ya, kau tak perlu mengkhawatirkannya, aku paham betul mereka. Aku juga pernah berada di posisi sepertimu. Tapi aku yakin, jika yang namanya jodoh pasti tak akan kemana.
Aku mengamati kalau Jasmin itu amat mencintaimu. Ia tak akan melakukan kesalahan yang macam-macam dengan putraku. Percayalah itu!
Sudah malam, sebaiknya kau segera masuk. Jangan lupa kompres wajhanu supaya besok lebamnya hilang." kata Demi, lalu pamit pulang.
"Ahh, bagaimana mungkin aku bisa menghina paman Deni dan bibi Riana padahal aku tahu mereka adalah orang-orang baik!" Ren melangkah gontai ke dalam rumah, ia menyesali apa yang diucapkan tadi.
Sampai di dalam rumah, bekas pukulan Riu langsung jadi bahan pertanyaan Yasmin pada menantunya. Ia tampak khawatir sekali.
"Jasmin, tolong kompres pipinya Ren dengan handuk dan air hangat. Jangan sampai ia kenapa-kenapa. Ibu benar-benar takut nanti luka lebamnya tidak mau hilang!" ungkap Yasmin, sambil memberikan kompres dan air hangat ke tangan putrinya.
"Jasmin, kamu kan istrinya nak Ren, jadi kamu yang harus merawatnya." suruh Yasmin lagi pada anaknya.
"Aku nggak mau!" Jasmin meletakkan mangkok berisi air dan kompres di atas meja, lalu ia berlaku menuju kamarnya.
***
Jasmin membaringkan dirinya di atas tempat tidur, menutup swkurih tubuhnya dengan seluruh selimut. Ia sudah berniat untuk segera yg idur, tetapi matanya tak kunjung bisa terpejam sebab banyak hal yang dipikirkannya. Salah satunya tentang luka di wajah kak Ren yang ditebak oleh Jasmin adalah hasil perbuatannya Riu.
"Kenapa Riu yang begitu sabar bisa memukul kak Ren, pasti ada hal buruk yang dilakukan oleh kak Ren. Tapi apa?" Jasmin masih berpikir sekaligus menyesali kenapa ia buru-buru masuk ke rumah sehingga tidak bisa menonton perkelahian dua orang lelaki yang sama-sama berharga dalam hidupnya.
"Jasmin," suara panggilan Ren. "Jasmin, apa kau sudah tidur?"
__ADS_1
Jasmin masih menutup mulutnya sebba ia tak ingin berbicara dengan Ren, tetapi ia tak bisa mengelak sebab Ren menyibak selimutnya.
"Mau apa lagi? Kalau mau bertengkar jangan sekarang sebab aku gak ingin berurusan denganmu!" kata Jasmin.
"Aku cuma nanya, kau penasaran atau iba dengan bekas pukulan ini?".
"Nggak!"
"Ya sudah, tapi aku akan tetap cerita. Tadi Riu memukulku."
"Kau mau mengadukan Riu padaku?"
"Hmmm. Tadi aku menghina orang tuanya."
"Astagfirullah, kakak?"
"Aku menyesal Jas, aku tak bermaksud seperti itu, tadi aku kelepasan, tapi benar-benar tak ingin bicara seperti itu!"
"Aku nggak menyangka kalau kakak sejahat itu. Kakak kira lebih baik dari paman dan bibi? Mereka adalah saudara ayahku. Mereka yang sudah menolong keluarga kami. Apa kakak tahu itu?" pekik Jasmin.
"Ya,"
"Kakak nggak benar-benar tahu. Aku tak menyangka kakak seperti ini. Sekarang aku menyadari kalau ternyata kita memang bertolak belakang. Banyak hal dari kita yang saling bertentangan. Harusnya sejak awal kakak bicara padaku kalau kakak tak bisa menerima semua keluargaku apa adanya!" Jasmin masih marah-marah, ia tak bisa menahan emosinya.
"Aku tak bermaksud seperti itu, Jas. Aku tadi terpancing oleh Riu sebab ...."
"Sebab apa? Riu bukan orang yang mudah untuk berkelahi. Tapi kalau orang yang disayanginya diganggu barulah ia akan melawan. Berarti apa yang kakak lakukan sudah keterlaluan. Aku juga tidak bisa terima!"
Jasmin bangkit dari tempat tidurnya, ia hendak keluar, tapi tiba-tiba Ren menarik tangannya. "Kau mau kemana?"
"Aku tak mau berdekatan dengan manusia suci seperti kakak!"
__ADS_1
"Jas, kenapa harus bicara seperti itu?"
"Kakak sendiri yang mengatakannya secara tidak langsung. Kalau Riu anak preman, aku juga anak preman. Bahkan aku ini anaknya ketua gengster. Paham!"